Posted in

Aku melihat bekas merah di leher suamiku yang semalam diam-diam menikahi kakak iparnya. Dadaku sesak dan mual. Seketika aku muntah.”Kamu kenapa? Kamu sakit?”

Aku menepis tangannya yang hendak menyentuhku.

Membayangkan bagaimana suamiku berbagi peluh dengan Mbak Dinda benar-benar membuatku jijik.

“Apa kamu telat datang bulan?” Dia bertanya dengan wajah khawatir.

Mas Damar selalu memastikanku agar tidak lupa minum obat penunda kehamilan. Dia takut aku hamil lagi.

“Aku masih punya tanggungan dua anak Mas Dimas, kamu jangan hamil dulu,” katanya waktu itu saat aku bilang ingin punya anak lagi karena usia Dita sudah 5 tahun.

Aku pikir jika aku hamil, Mas Damar akan lebih perhatian padaku seperti awal kami menikah, tapi ternyata dia tidak menginginkan anak lagi karena sibuk dengan keluarga kakaknya. Mas Damar selalu memakai pengaman karena tidak percaya padaku.

“Aku nggak hamil. Aku pastikan nggak akan hamil lagi anak kamu,” kataku sambil meninggalkan dapur.

“Ya, baguslah. Aku juga nggak sanggup kalau kamu hamil lagi. Sudah cukup kita punya Dita dan anak-anak Mas Dimas.”

Sekarang anak Mas Dimas jadi anaknya, pantas saja dia bilang keberatan punya anak lagi. Padahal selama ini apa pernah dia peduli dengan Dita, apa pernah dia bertanya Dita minum susu apa.

Sebenarnya kami menikah karena saling cinta. Aku percaya pada Mas Damar hingga melawan orang tua karena ayah tidak merestui pernikahan kami.

Ayah sudah menjodohkanku dengan pria yang setara, tapi aku buta cinta dan malah lebih memilih Mas Damar. Ayah akhirnya merestui pernikahanku tapi aku harus menyembunyikan statusku sebagai anak orang kaya.

Hal itu membuat mertuaku selalu merendahkanku, mereka kira aku berasal dari keluarga miskin.

Aku harus bertahan dan cerai dengan lancar.

Mas Damar melewatiku dan masuk ke kamar. Aku mendengar dia bersiul. Senang sekali sepertinya dia punya istri muda.

Aku menyuapi Dita yang sedang asik bermain sendiri, sepertinya Dita juga sudah terbiasa diabaikan ayahnya hingga dia tetap asik bermain meski tidak disapa ayahnya.

Pria yang pernah kucintai setengah mati itu kini sudah berpakaian rapi mencangklong tas kerjanya. Wangi parfumnya menyengat, rambutnya tertata rapi dengan pomade berlapis.

“Al, mungkin minggu-minggu ini aku akan sering lembur. Ada kerjaan tambahan dari bos,” ujar Mas Damar sambil memasang arloji di pergelangan tangannya.

“Dita kan mau masuk sekolah, jadi aku harus cari tambahan.” Dia melanjutkan sebelum aku menanggapi.

Sejak kapan dia peduli dengan Dita, sejak aku bekerja tidak sepeser pun uang yang dia berikan padaku.

“Hmm.” Aku malas menanggapi.

“Aku kerja buat Dita, kamu jangan ngambek gitu.”

Aku benar-benar muak mendengar ucapannya. Sementara ucapannya tidak pernah sesuai dengan kenyataan. Entah dia lupa atau memang tidak merasa bersalah tidak memberikan nafkah pada kami.

“Aku berangkat dulu.”

Mas Damar mengulurkan tangannya.

“Tanganku kotor,” ucapku sembari memperlihatkan tangan yang bekas menyuapi Dita.

Sedikitpun aku tidak mau bersentuhan dengan pengkhianat ini.

“Al, kamu punya tabungan nggak? Duitku habis. Nanti kalau gajian aku ganti.”

“Nggak ada, duitku habis buat kebutuhan rumah.”

Semua kebutuhan aku yang penuhi bahkan tahun kemarin Mas Damar merayuku untuk kredit mobil alasannya agar kalau kami pergi Dita tidak kepanasan, tapi nyatanya mobil itu dipakai untuk menyenangkan kakak iparnya.

Lihat saja, aku akan berhenti membayar kriditan mobil dan cicilan rumah ini. Aku akan mengembalikan Mas Damar ke asalnya.

“Gajimu kan gede, Al. Aku butuh buat beli bensin selama seminggu ini.”

“Pinjam saja sama ibumu. Kan mereka lebih kaya dari orang tuaku.”

Kalau biasanya aku akan luluh meski tidak ikhlas, tapi kali ini tidak. Aku tidak akan mengeluarkan sepeserpun untuknya.

Dulu saat aku belum menikah, aku tidak pernah kesusahan. Ayah sudah mencukupi keperluanku. Usaha ternak dan sawah Berhektar-hektar ayah lebih dari cukup untuk biaya hidup, bahkan rumah ayah paling mewah di kampung. Itungannya aku ini anak kesayangan yang sangat kaya dengan warisan melimpah.

Mas Damar akhirnya pergi dengan wajah kesal.

Selepas kepergian Mas Damar, aku menelepon Arga–temanku. Dia yang membantuku hingga aku bisa bekerja dari rumah, mengurus toko online miliknya dengan gaji yang cukup besar.

“Ga, aku minta tolong carikan pengacara. Aku mau gugat cerai Mas Damar,” kataku setelah mendengar sapaannya di seberang sana.

“Cerai? Kamu Jangan bercanda, Al.” Suara Arga terdengar kaget. Aku memang tidak pernah menceritakan masalah rumah tangga ku pada Arga meski kami lumayan dekat.

“Aku nggak bercanda. Aku serius. Tolong carikan pengacara yang hebat agar aku bisa langsung cerai tanpa drama.”

“Al, serius? Kamu punya masalah apa dengan Damar? Bukannya selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”

“Sudah lama hubungan kami tidak baik. Mas Damar sudah menikah lagi, aku nggak mau dipoligami.”

“Serius?”

“Iya, dia nikahi kakak iparnya.”

Aku tidak akan melabrak Mbak Dinda, aku tidak akan marah pada Mas Damar, tapi aku akan ceraikan dia dan pergi dari sini. Tanpa aku beri pelajaranmu, karmanya akan berjalan. Tanpa sokonganku, apa mungkin dia bisa membayar cicilan mobil untuk gaya-gayaan itu.

“Mau cerai brutal atau cerai damai? Siapa tahu kamu mau menuntut harta gono gini?”

Aku hampir tertawa mendengarnya. Selain hutang menggunung, Mas Damar itu tidak punya apa-apa. Selama ini dia makan dari gajiku.

“Aku cuma mau hak asuh anak aja,” jawabku.

“Baiklah, aku bantu siapkan semuanya.”

“Makasih.”

Aku kembali dengan aktivitasku, tiba-tiba Ibu mengirim pesan duluan. Bertanya kapan aku bisa pulang.

“Aku masih ngurus perceraianku, Bu. Paling lambat akhir bulan ini aku pulang.”

“Kalau kamu sudah siap, kami akan menjemputmu.”

“Iya, Bu.”

Aku kembali ke kamar, mulai berkemas dengan membuang barang-barang kenangan dengan Mas Damar. Mungkin karena sudah mati rasa, melihat foto-foto itu terbakar hatiku biasa saja.

Dita menghampiriku, dia ikut membuang satu-satunya hadiah dari Mas Damar. Boneka jelek yang tidak diinginkan anaknya Mbak Dinda. Lalu diberikan ke Dita.

“Sayang,” panggilku setengah duduk. Dita menoleh ke arahku. “Bentar lagi kita pergi dari sini, kita tinggal bareng nenek kakek. Kita gak sama Ayah lagi, gak papa ‘kan?”

“Gak papa, Ayah gak suka Ita, Ita juga gak suka ayah.”

Anak ini sudah lama menyerah pada Mas Damar, jauh lebih dulu dariku.

Tiba-tiba gerbang depan terdengar terbuka, aku menoleh, Ibu mertuaku datang terburu-buru dan langsung menamparku.