Pagi buta, pukul lima, telepon dari ibu tiba-tiba masuk.
“Anak, paman jauhmu dari Ilocos tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit karena sakit parah.”
“Semua jadwal di rumah sakit Manila penuh. Kamu bisa bantu, kan?”
Aku menguap pelan sebelum menjawab.
“Nah, besok aku sudah jadwal operasi, Bu.”
“Dari mana aku harus cari tenaga lagi untuk urus orang lain?”
Beberapa menit kemudian, dia menelepon lagi.
“Keadaan pamanmu makin parah.”
“Kenapa kamu tidak bicara dengan doktermu saja? Serahkan saja slot dan ranjangmu untuk dia.”
Setengah jam kemudian, teleponku terus berdering tanpa henti.
“Tidak bisa begini, ini soal nyawa!”
“Aku sudah bicara dengan perawat, kamu akan dipulangkan sukarela.”
“Keluarga pamanmu sudah menuju ke sana!”
“Kamu masih muda, kamu bisa tahan!”
“Bu! Aku juga pasien kanker stadium 4!”
“Tempat tidur ini aku tunggu setengah tahun untuk bisa punya kesempatan hidup!”
Aku mematikan ponsel dan kembali tidur.
Keesokan harinya, 99+ panggilan tak terjawab memenuhi layar.
Dan sebelum aku sempat bereaksi, pintu ruang rawatku didobrak.
Brak!
Tiang infus bergoyang keras.
Ibuku, Luzviminda Santos, masuk bersama paman jauhku dan anaknya, Mark.
“Anak tidak tahu diri! Kenapa tidak angkat telepon?!”
“Pengen ibu mati karena khawatir?!”
Dia langsung menarik selimutku.
“Bu, apa yang kalian lakukan?! Aku masih pakai infus!”
Aku menahan jarum di tanganku.

“Infus apa?! Bangun!”
Dia menarikku dari ranjang.
“Pamanmu butuh ranjang ini!”
Mark berdiri sambil mengunyah permen karet, melihat ruangan VIP itu dengan santai.
“Wah, kaya juga ya sepupuku. VIP room.”
“Pasti mahal banget ini.”
Tarikan ibuku membuat jarum infus tercabut sedikit. Darah mengalir kembali ke selang.
“Bu! Ini nyawaku dipertaruhkan!”
“Diam! Kamu cuma cari alasan!”
Tiba-tiba—
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipiku.
“Althea, sekarang kamu bahkan berani bohong?”
“Mana mungkin kamu kanker di umur 25?!”
“Yang aku lihat kamu cuma pelit dan tidak mau bantu keluarga!”
Mark langsung naik ke ranjangku.
“Kasur ini lebih nyaman daripada rumah kita di kampung.”
Aku jatuh ke lantai saat mereka merampas semua barang medis dan dokumenkku.
“Berhenti! Itu obatku!”
Tapi Mark menendangku.
“Cuma sampah obat!”
Bagian 2
Aku duduk di lantai koridor rumah sakit.
Orang-orang mulai berbisik.
Di tanganku, laporan medis terjatuh:
“Tumor lambung ganas stadium 4.”
Tanganku gemetar.
Air mataku jatuh.
Lalu seorang wanita muncul—Vanessa.
“Kamu masih drama juga ya?”
Dia menendang laporan medis itu.
“Jangan sok sakit pakai kertas palsu.”
“Punya sugar daddy ya di Manila?”
“Dokter itu pacarmu kan?”
Orang-orang mulai berbisik:
“Pantas diusir keluarga…”
“Katanya sakit, tapi kelihatan sehat…”
Aku berdiri dengan susah payah.
“Jaga mulutmu!”
“Ini dokterku! Aku benar-benar kanker!”
Aku melempar laporan itu ke wajahnya.
Brak!
Pintu terbuka.
Ibuku keluar.
Dan bukannya membelaku…
dia mendorongku.
“Althea! Kamu memalukan!”
“Dia hanya cemburu pada Mark!”
“Vanessa, jangan pedulikan dia.”
Aku menatap ibuku.
“Bu… terakhir kali aku tanya.”
“Kalian benar-benar tidak percaya aku sakit?”
Dia menghindari tatapanku.
“Berhenti drama.”
Tiba-tiba langkah kaki cepat terdengar.
“ALTHEA!”
Dokterku, Dr. Gabriel, berlari masuk.
“Siapa yang memindahkan pasien ini?!”
“Dia dalam kondisi sangat kritis!”
Dia menunjukkan hasil lab.
“Leukositnya hampir nol!”
“Infeksi sedikit saja bisa membunuhnya!”
Tapi Vanessa tertawa.
“Dokter sekarang pintar sekali menakut-nakuti orang.”
Dokter menatap mereka tajam.
“Ini bukan ancaman.”
“Ini kematian yang kalian dorong sendiri.”
Ibuku mulai gemetar melihat laporan itu.
Untuk pertama kalinya…
dia tidak langsung berteriak.
Tapi Vanessa masih berkata pelan:
“Mark juga sakit di dalam… ayo kita lihat dia dulu.”
Dan di saat itu…
aku sadar sesuatu.
Bukan penyakitku yang paling menyakitkan.
..Bukan penyakitku yang paling menyakitkan. Melainkan kenyataan bahwa di mata ibuku sendiri, nyawaku tidak lebih berharga daripada harga diri dan pujian dari keluarga jauhnya.
Kesadaran itu menghantamku bersamaan dengan rasa dingin yang luar biasa yang mulai menjalar dari ujung jari kaki hingga ke dadaku. Pandanganku kabur, dan suara di sekitarku perlahan mendengung seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal.
“Althea…” Ibuku melangkah maju, tangannya yang tadi menampar dan mendorongku kini gemetar. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di matanya saat melihat darah segar mulai merembes dari bekas jarum infus di tanganku yang membiru. “Althea, kamu… kamu beneran…?”
“Sudah terlambat, Bu,” bisikku. Suaraku hampir habis, sekecil hembusan angin.
Aku tidak lagi merasakan marah. Hanya ada rasa hampa yang teramat sangat. Aku menepis pelan tangan ibuku yang mencoba meraih bahuku—sebuah penolakan terakhir yang membuat wajahnya seketika pucat pasi.
Tiba-tiba, tubuhku limbung. Sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, aku merasakan sepasang lengan kekar menangkapku. Suara Dr. Gabriel terdengar menggelegar, memanggil tim medis darurat.
“Panggil sekuriti! Usir orang-orang ini dari koridor! Siapkan ruang ICU sekarang!”
Itu adalah hal terakhir yang kuingat sebelum semuanya menjadi gelap gulita.
Tiga Hari Kemudian
Kehangatan sinar matahari Manila menembus jendela kamar ICU. Ketika aku membuka mata, bau antiseptik yang menyengat menyambutku, ditemani bunyi ritmis dari bedside monitor di sebelah ranjang.
Aku masih hidup.
Di kursi sudut ruangan, Dr. Gabriel sedang membaca sebuah berkas. Begitu menyadari aku bergerak, dia langsung berdiri dan memeriksa kondisiku.
“Kamu melewati masa kritis, Althea. Infeksinya hampir menyebar ke darah karena luka terbuka di tanganmu kemarin,” ucapnya dengan nada lega yang tak bisa disembunyikan.
“Ibuku…?” tanyaku, tenggorokanku terasa kering.
Dr. Gabriel menghela napas panjang, lalu menyerahkan sebuah dokumen hukum kepadaku.
“Setelah kamu pingsan, pihak rumah sakit bertindak tegas. Kami menuntut mereka atas tindakan membahayakan nyawa pasien dan perusakan fasilitas medis. Rekaman CCTV koridor sangat jelas,” jelas Dr. Gabriel.
Dia kemudian menceritakan apa yang terjadi selama aku koma. Begitu polisi datang, Mark dan Vanessa langsung panik dan saling tuduh. Paman jauhku dipindahkan ke bangsal umum kelas terendah karena terbukti kondisinya tidak se-darurat itu—dia hanya mengidap maag kronis yang dibesar-besarkan agar bisa menikmati fasilitas kamar VIP gratis milikku.
Yang paling tragis adalah ibuku. Ketika pengacara rumah sakit menunjukkan seluruh rekam medis stadium 4 milikku dan menjelaskan bahwa tindakan egoisnya hampir membunuh putri kandungnya sendiri, ibuku histeris. Dia memohon-mohon di depan kamar ICU, menangis hingga suaranya habis, menyadari bahwa demi keponakan yang bahkan tidak peduli padanya, dia telah membuang anak yang bertaruh nyawa sendirian di kota ini.
“Mereka semua sudah diusir dari rumah sakit ini dan sekarang menghadapi tuntutan hukum. Ibumu ada di luar, dia memohon untuk menemuimu hanya untuk meminta maaf,” kata Dr. Gabriel lembut. “Semua keputusan ada di tanganmu, Althea. Kamu butuh ketenangan untuk jadwal operasimu yang tertunda.”
Aku menatap langit-langit kamar. Air mataku menetes, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena perasaan lega yang teramat sangat. Beban berat yang selama ini kupikul untuk menyenangkan ibuku, seketika menguap.
“Dokter,” panggilku pelan namun mantap. “Tolong katakan pada ibuku… aku sudah memaafkannya sebagai seorang anak.”
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar mengisi paru-paruku.
“Tapi katakan juga padanya, Althea yang selalu bisa dia injak dan dia korbankan… sudah mati di koridor rumah sakit tiga hari lalu. Mulai hari ini, aku tidak punya keluarga lagi. Aku hanya ingin fokus bertahan hidup untuk diriku sendiri.”
Dr. Gabriel tersenyum tipis, mengangguk penuh hormat, lalu melangkah keluar untuk menyampaikan pesanku.
Saat pintu ICU tertutup, aku melihat ke luar jendela. Langit Manila begitu cerah. Untuk pertama kalinya dalam setengah tahun terakhir, aku tersenyum. Aku tahu jalan di depanku untuk melawan kanker ini masih panjang dan menyakitkan, tetapi setidaknya sekarang, aku bertarung tanpa ada lagi parasit yang menggelayuti pundakku. Aku bebas.