Posted in

BARU HARI KETIGA PERNIKAHAN, MEREKA MEMAKSAKU MENJADI PELAYAN DI MEJA MAKAN KELUARGA SUAMIKU. TAPI MEREKA TIDAK TAHU… AKU SUDAH MENYIAPKAN “HADIAH” YANG TIDAK AKAN BISA MEREKA HINDARI!

BARU HARI KETIGA PERNIKAHAN, MEREKA MEMAKSAKU MENJADI PELAYAN DI MEJA MAKAN KELUARGA SUAMIKU. TAPI MEREKA TIDAK TAHU… AKU SUDAH MENYIAPKAN “HADIAH” YANG TIDAK AKAN BISA MEREKA HINDARI!

Pada malam ketiga setelah pernikahan, aku—Alina Reyes—datang ke rumah keluarga suamiku di Quezon City sambil membawa sebuah keranjang hadiah mewah. Rumah itu terang benderang, dan meja makan panjang sudah penuh dengan anggota keluarga.

Di tengah meja, sebuah panci besar sinigang masih mendidih, menguarkan aroma asam yang hangat. Di sampingnya ada nampan besar udang butter garlic yang masih mengepul.

Kakak iparku, Marites Dela Cruz, yang sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun namun belum menikah, duduk santai dengan kaki di atas kursi sambil mengunyah makanan. Ia melempar kulit udang ke lantai begitu saja, seolah tidak peduli pada siapa pun di sekitarnya.

“Alina, kenapa berdiri di situ seperti patung? Cepat ke sini dan kupaskan semua udang ini!”

Aku terdiam sejenak.

Sebelum sempat menjawab, ibu mertuaku, Lourdes Dela Cruz, menyesap wine lalu berkata dengan nada angkuh.

“Di keluarga ini ada disiplin. Kalau kamu istri baru, kamu harus tahu cara melayani. Jangan pakai sarung tangan. Kupas dengan tangan kosong supaya rasanya lebih enak.”

Aku menatap tumpukan udang di atas meja.

Kulitnya tajam, masih panas, dan penuh minyak serta bawang.

Aku tahu ini bukan tradisi keluarga.

Ini penghinaan yang disengaja.

Perlahan aku menoleh kepada suamiku, Rafael Dela Cruz, pria yang pernah berjanji akan melindungiku seumur hidup.

Namun saat itu ia hanya makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Sayang, jangan mengeluh. Mama dan Kakak cuma ingin mengajarimu. Sabar sedikit saja, nanti juga selesai.”

Sesuatu meledak di dalam dadaku.

Tapi aku memilih tersenyum.

Senyuman itu membuat seluruh meja makan tiba-tiba hening.

“Baiklah. Kalau itu yang kalian inginkan.”

Aku melangkah mendekati meja.

Namun bukan udang yang kuambil.

Tanganku justru meraih pegangan panci sinigang yang masih mendidih.

Dalam sekejap, tanpa ragu sedikit pun, aku membalikkan seluruh isi panci ke atas meja makan.

“AAAAAA!”

Semua orang menjerit.

Rumah itu langsung kacau.

Kuah panas dan asam menyembur ke wajah ibu mertua dan kakak iparku. Piring-piring berjatuhan dan pecah di lantai.

“Kau gila! Kau benar-benar gila!”

Marites berteriak sambil berguling di lantai yang penuh kuah, rambutnya berantakan.

Rafael berdiri dengan wajah merah karena marah. Ia mengangkat tangan, hendak menamparku.

“Alina! Keterlaluan kamu!”

Namun aku bergerak lebih cepat.

Aku menghantam gelas ke meja hingga pecah, lalu menggenggam pecahan tajamnya dan mengarahkannya ke leher Rafael.

“Coba maju satu langkah lagi, dan kamu tidak akan berjalan keluar dari rumah ini.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Tak seorang pun berani bergerak.

Di mata Rafael, aku melihat ketakutan yang selama ini ia sembunyikan.

Aku mengusap tanganku dan berkata dengan suara dingin.

“Kalian ingin disiplin, bukan? Sekarang kalian akan belajar.”

Lalu aku berbalik dan keluar dari rumah tanpa seorang pun berani menghalangiku.

Begitu naik Grab, ponselku langsung berdering berkali-kali.

Rafael menelepon.

Aku mengangkatnya.

Begitu tersambung, amarahnya langsung terdengar.

“Alina, kau pikir semuanya selesai begitu saja? Kembali sekarang juga dan berlutut di depan ibuku!”

Aku bersandar di kursi dan menjawab dengan tenang.

“Kalau aku tidak kembali, memangnya kamu mau apa?”

Ia tertawa penuh ancaman.

“Jangan sok berani. Aku tahu semua asetmu di Makati dan sekarang semuanya ada di tanganku.”

Aku tersenyum tanpa menunjukkan sedikit pun rasa takut.

“Rafael, kamu yakin yang kamu pegang itu milikku?”

Mendadak ia terdiam.

Dari seberang telepon terdengar suara lembaran-lembaran dokumen dibalik dengan tergesa-gesa.

Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar gemetar.

“Apa ini…? Ini bukan yang kuharapkan…”

Aku memejamkan mata dan tersenyum tipis.

“Baca baik-baik dokumen itu. Aku menyiapkannya jauh sebelum menikah denganmu.”

Tiba-tiba terdengar gedoran keras dari seberang telepon, seolah seseorang hendak merobohkan pintu.

“Rafael Dela Cruz! Keluar sekarang dan bayar utangmu!”

Suara itu menggema.

Aku mendengar jeritan para wanita di dalam rumah.

Aku mendengar napas Rafael yang mulai tidak teratur.

“Alina… apa yang sudah kau lakukan padaku…?”

Aku membuka mata dan memandangi lampu-lampu kota di luar jendela.

Dengan suara dingin aku menjawab:

“Aku hanya mengganti aturan permainannya.”

Di seberang telepon, gedoran pintu semakin keras.

Teriakan Rafael berubah menjadi suara penuh kepanikan dan ketakutan.

Namun ia belum tahu.

Orang-orang yang menunggu di balik pintu itu bukan sekadar penagih utang biasa.

Dan apa yang menantinya malam itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia hindari.

Di luar jendela mobil Grab, lampu-lampu Quezon City berpendar kabur di bawah rintik hujan, kontras dengan badai yang baru saja kukobarkan di dalam rumah megah keluarga Dela Cruz.

“Alina… tolong aku… siapa mereka?!” Suara Rafael di telepon kini naik satu oktav, dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Di latar belakang, aku bisa mendengar suara pecahan kaca dan teriakan histeris Marites yang ketakutan.

“Ingat keranjang hadiah mewah yang kubawa tadi, Rafael?” tanyaku dengan nada sedatar cermin. “Aku sengaja meninggalkan amplop merah di dalamnya. Itu bukan sekadar dokumen pengalihan aset seperti yang kau rencanakan untuk menjebakku.”

Napas Rafael memburu. “A-apa maksudmu?”

Hadiah yang Sesungguhnya

“Selama sebulan bermanis-manis sebelum pernikahan kita, kau pikir aku buta?” Aku memotong kalimatnya tanpa ampun. “Aku tahu kau menikahiku hanya untuk menutupi utang judi kasinonggo milikmu di Pasay, dan kau berniat memakai seluruh aset perusahaanku sa Makati untuk melunasinya.”

Aku membiarkan jeda sejenak, menikmati suara pintu depan rumahnya yang kini jebol dihantam dari luar.

“Dokumen yang kau pegang saat ini adalah Surat Perjanjian Pengakuan Utang Beragun Rumah,” lanjutku. “Seminggu lalu, aku membeli semua piutangmu dari lintah darat terbesar di Binondo. Dan tebak apa? Aku sudah membaliknamakan sertifikat rumah Quezon City atas namaku sebagai jaminan murni, karena kau memalsukan tanda tangan ibumu untuk pinjaman sebelumnya.”

“Kau… kau menjebakku!” raung Rafael.

“Bukan menjebak, sayang. Hanya melakukan due diligence,” ralatku dengan senyum sinis. “Orang-orang di depan pintumu malam ini adalah pihak debt collector legal yang sudah kuinstruksikan untuk mengosongkan rumah itu malam ini juga. Karena keluarga Dela Cruz sudah dinyatakan gagal bayar.”

Pengosongan Paksa

Dari seberang telepon, suara interaksi di dalam rumah terdengar jelas. Angkuh dan sombongnya Lourdes Dela Cruz runtuh seketika saat terdengar suara baritono seorang pria yang membacakan surat perintah eksekusi sita.

“Ini rumah saya! Kalian tidak berhak!” jerit Lourdes, suaranya melengking tinggi, jauh dari nada elegan saat ia menyuruhku mengupas udang dengan tangan kosong beberapa menit lalu.

“Maaf, Madam. Rumah ini sudah sah menjadi milik Alina Reyes. Dan kami diperintahkan untuk mengeluarkan Anda sekeluarga malam ini juga,” jawab suara berat di sana.

Marites berteriak histeris saat barang-barang branding-nya mulai dimasukkan ke dalam boks plastik besar. Keluarga yang beberapa menit lalu memperlakukanku bak pelayan rendahan, kini diusir dari istana mereka sendiri seperti tikus kelaparan.

Skakmat

“Alina, kumohon… kita bisa bicarakan ini. Aku suamiku!” Rafael mulai mengiba, suaranya serak dan hancur. “Jangan lakukan ini sa pamilya ko (pada keluargaku)…”

“Suami?” Aku terkekeh geli. “Suami yang membiarkan istrinya dihina di meja makan pada hari ketiga pernikahan? Hubungan kita sudah selesai sejak kuah sinigang itu membasahi wajah ibumu, Rafael.”

Aku menarik napas dalam, merasakan kebebasan yang luar biasa mutlak.

“Besok pagi, pengacaraku akan mengantarkan surat gugatan cerai sekaligus pembatalan pernikahan atas dasar penipuan finansial. Nikmati malam terakhirmu bersama disiplin yang sangat dibanggakan ibumu… di jalanan.”

Tanpa menunggu jawabannya, aku mematikan sambungan telepon. Aku memblokir nomornya, nomor ibunya, dan nomor kakaknya.

Aku bersandar pada kursi mobil, menatap sopir Grab yang sesekali melirikku dari kaca spion dengan pandangan kagum sekaligus ngeri. Aku hanya tersenyum tipis padanya, lalu mengeluarkan ponsel sekali lagi untuk memesan penerbangan pertama ke Paris besok pagi.

Mereka ingin aku melayani di meja makan? Aku sudah melayani mereka dengan hidangan terbaik: sebuah realitas pahit yang harus mereka telan habis tanpa sisa.