Posted in

“SUAMIKU MEMBAWA SELINGKUHANNYA DAN ANAK MEREKA KE RUMAHKU — DAN APA YANG KULAKUKAN SETELAH ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN HIDUP MEREKA…”

“SUAMIKU MEMBAWA SELINGKUHANNYA DAN ANAK MEREKA KE RUMAHKU — DAN APA YANG KULAKUKAN SETELAH ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN HIDUP MEREKA…”

Ketika aku kembali ke townhouse milikku di Greenfield, Mandaluyong setelah tiga hari perjalanan dinas ke Cebu, bukan suamiku yang membuka pintu.

Melainkan seorang gadis kecil yang mengenakan piyama sutra berwarna krem.

Ia bersandar di kusen pintu, memegang tumbler biruku yang setiap hari kubawa ke kantor, sambil menatapku seolah aku kurir yang salah alamat.

“Cari siapa, Tante?”

Aku terpaku di lorong.

Dari dalam rumah terdengar lagu anak-anak yang diputar pelan.

Aroma sup ayam hangat menguar sampai ke pintu.

Aku menggenggam koperku lebih erat.

“…Ini rumahku.”

Gadis kecil itu tampak terkejut sesaat, tetapi segera menguasai diri.

“Oh… Tante teman Om Marco ya?”

Teman?

Aku tertawa kecil sampai bibirku bergetar.

Aku menatapnya lurus.

“Aku istrinya.”

Udara seolah membeku.

Saat itu terdengar suara seorang anak perempuan dari dalam rumah.

“Mama, siapa itu?”

Mama.

Aku mendengarnya dengan sangat jelas.

Beberapa detik kemudian, seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun berlari keluar mengenakan piyama putri berwarna merah muda dengan dua ikatan rambut.

Begitu melihat wanita itu, ia langsung memeluknya.

“Mama, aku lapar…”

Dadaku terasa diremas.

Karena jepit rambut berbentuk bintang yang dipakai anak itu…

akulah yang membelinya di bandara minggu lalu.

Bahkan belum sempat kuberikan.

Pintu dapur terbuka.

Marco keluar.

Ia mengenakan kaus rumahan abu-abu dengan lengan tergulung, tampak seperti pria biasa yang hidup bahagia bersama keluarganya.

Hanya saja…

aku bukan bagian dari keluarga itu.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.

“Celina?”

Ia tampak panik.

“Kamu pulang lebih cepat?”

Aku menatapnya lama.

Lalu bertanya perlahan.

“Apa ini?”

Marco buru-buru mendekat.

“Dengar dulu penjelasanku—”

“Aku tanya, ini apa?”

Aku hampir tertawa.

“Rumahku.”

“Kulkasku.”

“Sofa yang kupilih sendiri.”

“Bahkan anjing Samoyed itu kubesarkan sejak masih anak anjing.”

“Kenapa sekarang ada perempuan lain tinggal di sini, dan ada anak yang memanggilnya Mama?”

Wajah wanita itu langsung pucat.

Marco menarikku ke samping dan berbisik.

“Jangan bikin keributan di depan anak kecil.”

Itu lagi.

Selama tiga tahun pernikahan kami, setiap kali ada masalah, itulah yang selalu ia katakan.

Tenang saja.

Jangan terlalu emosional.

Kamu cuma terlalu banyak berpikir.

Kamu membesar-besarkan masalah.

Dulu aku mengira itu perhatian.

Baru sekarang aku sadar.

Dia bukan pria baik.

Dia hanya sangat pandai memanipulasi perasaan orang lain.

Aku melepaskan tangannya.

“Siapa dia?”

Marco terdiam beberapa detik.

“…Nina.”

“Pegawai baru di bagian pemasaran.”

Aku menoleh ke arah wanita itu.

Ia menundukkan kepala dengan ekspresi seolah sangat menyedihkan.

Mungkin dulu aku akan merasa iba.

Namun pandanganku tertuju pada meja makan.

Ada sebuah kue ulang tahun kecil.

Di atas lapisan cokelat tertulis:

“Selamat Ulang Tahun ke-5, Baby Ella.”

Lima tahun.

Padahal aku dan Marco baru empat tahun menikah.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Marco melihat arah tatapanku dan langsung pucat.

“Celina, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Bukan?”

Aku menoleh perlahan.

“Lalu bagaimana kamu menjelaskannya?”

Tepat saat itu, ibu mertuaku keluar dari kamar.

Begitu melihatku, ia langsung mengernyit.

“Kenapa pulang mendadak tanpa bilang?”

Aku tertawa sinis.

“Jadi sekarang aku harus minta izin untuk pulang ke rumahku sendiri?”

Wajahnya langsung mengeras.

“Bicara apa kamu?”

“Nina cuma menumpang sementara di sini.”

“Dia ibu tunggal. Hidupnya susah. Marco hanya membantu.”

Aku menatapnya.

“Menumpang?”

“Sampai memakai piyamaku?”

“Memakai sandalku?”

“Minum dari cangkirku?”

“Hidup seperti pemilik rumah ini?”

Ibu mertuaku tampak kesal.

“Celina, jangan selalu berpikir buruk.”

“Kamu tahu tidak betapa lelahnya Marco bekerja?”

“Bahkan Nina lebih perhatian kepadanya daripada kamu.”

Aku membeku.

Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk dadaku.

Akulah yang bekerja siang malam untuk membantu membayar cicilan bisnis gym Marco.

Saat usahanya hampir bangkrut, aku bahkan menjual mobil pertamaku untuk melunasi utangnya.

Saat ibu mertuaku dirawat di rumah sakit di Pasig, akulah yang berjaga tanpa tidur.

Namun sekarang…

akulah orang asing di rumah ini.

Tiba-tiba Ella memeluk kaki Marco.

“Papa, aku mau tiup lilin sekarang.”

Papa.

Kali ini aku mendengarnya dengan sangat jelas.

Tidak ada lagi keraguan.

Marco langsung menggendong anak itu.

Gerakannya begitu alami.

Seolah ia sudah melakukannya ribuan kali.

Aku menatapnya dan merasa tidak lagi mengenal pria itu.

“Itu anakmu?”

Marco terdiam.

Hanya satu detik.

Namun itu cukup untuk memberiku seluruh jawaban.

Ada sesuatu yang hancur di dalam diriku.

Nina mulai menangis.

“Maaf…”

“Aku tidak ingin menghancurkan keluarga kalian…”

“Tapi anakku butuh seorang ayah…”

Aku tertawa.

Bahkan tawaku sendiri terdengar menyeramkan bagiku.

“Butuh ayah?”

“Jadi dia sudah menjadi ayah anakmu bahkan sebelum kami menikah?”

Marco berusaha memegang tanganku.

“Celina, aku akan menjelaskan semuanya.”

Aku menepis tangannya dengan kasar.

Saat itu ponselku bergetar.

Pesan dari bank.

“Transfer sebesar Rp2,47 miliar telah berhasil diproses dari rekening Anda.”

Aku membeku.

Itu adalah rekening bersama kami untuk membayar cicilan rumah.

Aku segera membuka detail transaksi.

Penerima:

Nina Salvador.

Tanganku mulai gemetar.

Saat Marco melihat layar ponselku, wajahnya langsung kehilangan warna.

Aku menatapnya.

“Kamu mengambil uang kami dan memberikannya kepada dia?”

“Celina… dengarkan dulu—”

Sebelum aku sempat menjawab, ponselku kembali bergetar.

Sebuah email masuk.

Dari kantor hukum Dela Cruz & Partners.

Subjek:

“Dokumen pengalihan properti telah selesai diproses.”

Perlahan aku membuka lampirannya.

Dan seluruh tubuhku langsung membeku.

Karena pada dokumen pengalihan townhouse ini…

nama pemilik barunya bukan Marco.

Melainkan—

Nina Salvador.

…Melainkan—Nina Salvador.

Detik itu juga, gemuruh di dadaku mendadak senyap. Rasa sakit yang tadi menghujam, luruh menjadi kekosongan yang dingin. Aku menatap Marco, lalu beralih ke Nina yang masih menunduk dengan air mata buatan yang menghiasi pipinya.

Mereka mengira telah memenangkan segalanya. Rumah ini, uang di rekening, dan masa depan yang mereka curi dari keringatku.

“Celina… aku terpaksa melakukan ini karena posisi Nina terancam rentenir,” bisik Marco, suaranya gemetar. “Aku akan mengembalikannya, aku janji.”

Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat Marco mundur satu langkah karena ketakutan.

“Oke,” kataku pelan. Aku membalikkan badan, menyeret koperku keluar dari townhouse tanpa menoleh lagi.

Ibu mertuaku berteriak dari dalam, “Baguslah kalau tahu diri! Dasar wanita egois!”

Mereka mengira aku menyerah. Mereka tidak tahu, dengan melangkah keluar dari rumah itu, aku justru sedang membuka pintu neraka untuk mereka.

Langkah 1: Membekukan Aliran Darah

Malam itu juga, aku tidak pergi ke hotel. Aku pergi ke kantor pengacaraku.

Mereka lupa satu hal penting: Townhouse di Greenfield itu dibeli menggunakan nama perusahaanku (CV), bukan nama pribadi. Marco memang memiliki kuasa menandatangani dokumen operasional, tetapi secara hukum, aset properti itu milik korporasi di mana aku adalah pemilik saham mayoritas sebesar 90%. Pengalihan nama yang dilakukan Marco adalah tindakan pemalsuan dokumen dan penggelapan aset yang cacat hukum.

Aku langsung menginstruksikan bank untuk memblokir rekening bersama tersebut atas dugaan fraud (penipuan). Karena dana Rp2,47 miliar itu dikirim ke rekening pribadi Nina tanpa dasar hukum atau invoice yang sah, sistem kepatuhan bank langsung membekukan rekening Nina dalam waktu 24 jam untuk investigasi pencucian uang.

Uang itu tidak bisa mereka sentuh. Sama sekali.

Langkah 2: Meruntuhkan Fondasi

Dua hari kemudian, serangan keduaku dimulai.

Aku adalah penyokong dana utama sekaligus pemilik legal atas 60% saham bisnis gym yang dikelola Marco di Mandaluyong. Aku menarik seluruh modal, memutus kontrak sewa tempat atas nama perusahaanku, dan memerintahkan vendor untuk menarik semua alat fitnes dalam waktu 48 jam.

Tanpa modal dan alat, bisnis kebanggaan Marco hancur dalam semalam. Para staf yang panik karena gaji mereka tertahan mulai mengepung Marco.

Di saat yang sama, aku mengirimkan seluruh bukti perselingkuhan, dokumen pemalsuan, dan foto-foto kemesraan mereka ke divisi HRD perusahaan tempat Nina bekerja. Mengingat Nina adalah pegawai baru di bagian pemasaran, perilakunya yang terlibat dalam penipuan aset eksternal dan pelanggaran kode etik membuat perusahaan langsung memecatnya hari itu juga tanpa pesangon.

Langkah 3: Pengusiran yang Mengguncang Greenfield

Hari kelima adalah puncaknya.

Aku kembali ke townhouse di Greenfield. Namun kali ini, aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama tim pengacara, aparat kepolisian Mandaluyong, dan petugas juru sita pengadilan.

Pintu dibuka oleh ibu mertuaku yang langsung memekik, “Mau apa lagi kamu?! Ini rumah Nina sekarang!”

“Palsu,” jawab pengacaraku dingin, menyodorkan surat perintah penyitaan dari pengadilan atas pembatalan dokumen pengalihan aset secara hukum. “Semua orang di dalam rumah ini wajib mengosongkan tempat dalam waktu satu jam, atau akan dikeluarkan secara paksa atas tuduhan penyerobotan properti.”

Marco keluar dengan wajah kusut dan mata merah, seketika lemas melihat polisi. Nina berlari di belakangnya sambil menangis histeris, memeluk Ella yang ketakutan.

“Celina, tolong… jangan lakukan ini pada anak kecil,” ratap Marco, mengulang kalimat manipulasinya.

Aku mendekatinya, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. “Kamu yang membawa anak kecil ke dalam pusaran kejahatanmu, Marco. Bukan aku.”

Petugas mulai mengeluarkan barang-barang mereka ke pinggir jalan Greenfield. Tetangga-tetangga keluar, berbisik-bisik, dan mengambil video saat selingkuhan Marco dan ibunya yang sombong itu diusir seperti gelandangan. Semua piyama sutra, tas-tas bermerek yang dibeli dengan uangku, disita sebagai barang bukti penggelapan.

Satu bulan kemudian, putusan pengadilan keluar.

Marco dijatuhi hukuman penjara atas kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan dana korporasi. Nina dinyatakan sebagai penadah aset ilegal, kehilangan pekerjaan, dan kini dikejar utang biaya hukum yang sangat besar karena seluruh rekeningnya disita negara. Ibu mertuaku? Ia terpaksa kembali ke kampung halamannya di provinsi dengan menanggung malu yang luar biasa, hidup luntang-lantung karena tidak ada lagi uang kiriman dari menantu yang dulu ia sia-siakan.

Malam ini, aku duduk di sofa townhouse-ku yang sepi dan tenang. Anjing Samoyed-ku bersandar nyaman di kakiku. Aku menyesap kopi dari cangkirku, melihat pemandangan kota Mandaluyong dari jendela.

Mereka berniat menghancurkan hidupku dalam tiga hari.

Namun, hanya butuh waktu kurang dari seminggu bagiku untuk memastikan bahwa mereka tidak akan pernah punya kehidupan lagi untuk dijalani.