Posted in

Saat aku sedang melakukan perjalanan dinas ke Cebu, mertuaku diam-diam mengambil kartu bank milikku yang berisi sepuluh juta peso Filipina (sekitar Rp2,8 miliar) dan mengajak adik iparku untuk mencari rumah bagi pernikahannya.

Saat aku sedang melakukan perjalanan dinas ke Cebu, mertuaku diam-diam mengambil kartu bank milikku yang berisi sepuluh juta peso Filipina (sekitar Rp2,8 miliar) dan mengajak adik iparku untuk mencari rumah bagi pernikahannya.

Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Tapi yang tidak mereka ketahui…
Aku sudah lebih dulu memblokir kartu itu.

Dan ketika mereka gagal melakukan pembayaran, dia menelponku sebanyak seratus dua belas kali berturut-turut.

Saat itu aku sedang sibuk di konferensi industri selama tiga hari di Makati ketika tiba-tiba ponselku bergetar di atas meja.

Notifikasi dari smart camera di ruang tamu rumah kami.

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Kupikir itu Marco yang baru pulang kerja.

Tapi beberapa detik kemudian, ada notifikasi baru lagi.
Kali ini dari ruang kerja (study room) milikku.

Dadaku langsung berdebar.

Ruang kerja itu adalah ruang paling pribadi milikku. Di sana tersimpan semua file pekerjaan dan dokumen penting pribadiku.

Sejak dulu aku selalu menegaskan:
kalau tanpa izinku, tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke ruangan itu.

Dan selama ini, Marco tidak pernah melanggarnya.

Aku langsung membuka live feed kamera.

Hanya beberapa detik loading, tapi rasanya seperti satu abad.

Begitu video muncul jelas, wajah yang sangat kukenal langsung terlihat.

Mertuaku, Teresa Villanueva.

Dia sedang mengobrak-abrik meja kerjaku diam-diam, gerakannya cepat dan yakin, jelas sedang mencari sesuatu.

Itu bukan “bersih-bersih” biasa.

Seluruh tubuhku langsung dingin.

Apa yang sebenarnya dia rencanakan?

Tepat saat itu, Marco menelepon.
Seolah sangat tepat waktu.

— Halo sayang, kamu sibuk?

Suaranya dibuat-buat tenang, seperti sedang mengamati reaksiku.

Aku mengecilkan jendela kamera dan menjawab dengan tenang:

— Baru selesai seminar. Ada apa?

— Tidak apa-apa. Mama lagi di rumah kita. Katanya agak berantakan, jadi dia sekalian bersih-bersih.

Aku tersenyum dingin sambil melihat di layar bahwa Teresa sudah membuka laci pertama mejaku.

— Oh ya? Kita kan punya cleaning service. Kenapa Mama harus repot?

— Ah kamu tahu sendiri dia, tidak bisa diam. Lagi pula dia bilang Angela sedang mencari rumah untuk pernikahannya. Sekarang harga properti mahal sekali.

Marco tiba-tiba mengalihkan pembicaraan ke adik perempuannya, Angela.

Aku menatap monitor.

Karena tidak menemukan yang dicari di laci pertama, Teresa membuka laci kedua.

— Dia pasti akan menemukan rumah yang cocok, jangan terburu-buru.

Suaraku terdengar dingin.

— Iya sih… tapi dia sudah menemukan proyek apartemen yang dia suka. Lokasinya bagus, unitnya juga bagus. Tapi… uang DP-nya masih kurang.

Suara Marco terdengar pelan, hampir berbisik.

Aku bisa merasakan kegugupannya meskipun aku tidak melihatnya langsung.

Di kamera, Teresa berhenti di laci ketiga.

Laci yang terkunci.

Dia mengeluarkan kunci dari sakunya.

Itu kunci cadanganku.

Biasanya aku menyimpannya di kotak penyimpanan dekat pintu masuk.

Artinya…

Mereka sudah merencanakannya sejak lama.

— Kurangnya berapa?

Tanyaku pelan sambil mengusap meja.

— Ah… kita bahas nanti saja saat kamu pulang. Fokus saja dulu kerjaanmu.

Dia seperti ingin cepat mengakhiri percakapan.

— Tunggu.

Dia terdiam.

— Kamu sekarang bersama Mama?

— T-tidak. Aku masih di kantor. Sebentar lagi pulang.

Sisa kehangatan di hatiku benar-benar hilang.

Di layar, aku melihat Teresa berhasil membuka laci itu.

Dan dari dalam sana…

Dia mengeluarkan card holder biru gelap milikku.

Di dalamnya ada kartu bank yang berisi sepuluh juta peso Filipina (sekitar Rp2,8 miliar).

Itu adalah tabunganku sebelum aku menikah.

Satu-satunya “keamanan terakhir” yang ditinggalkan orang tuaku untukku.

Setelah aku menutup telepon, darahku terasa membeku.

Aku menatap layar saat Teresa dengan hati-hati mengeluarkan kartu itu, mengangkatnya ke arah cahaya, lalu cepat memasukkannya ke saku.

Setelah itu, dia mengembalikan dompetnya dan mengunci kembali laci tersebut.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Dia bahkan mengelap meja agar terlihat rapi kembali.

Gerakannya sangat bersih.

Seperti bukan pertama kalinya dia melakukan ini.

Aku hampir muntah karena marah.

Soal kartu itu, hanya aku dan Marco yang tahu.

Saat bisnisnya pernah mengalami masalah arus kas, aku sempat membantunya dan memberitahukan password kartu itu.

Dia tidak pernah menggunakannya saat itu.

Tapi sekarang…

Ternyata dia memberitahukan rahasia itu ke keluarganya.

Aku menarik napas dalam dan memaksa diri tetap tenang.

Tidak ada gunanya marah sekarang.

Lebih baik membiarkan mereka mengungkap semuanya sendiri.

Aku membuka aplikasi bank dan mengecek saldo.

Masih utuh.

Mereka belum sempat menggunakannya.

Aku tidak langsung memblokir kartu itu.

Aku butuh bukti yang tidak bisa mereka sangkal.

Aku menyimpan rekaman CCTV itu, mengenkripsinya, lalu mengunggahnya ke cloud storage.

Setelah itu, aku menelepon Marco.

— Halo, sayang…

— Halo, sayang… ada apa? Kamu sudah selesai konferensi? Suara Marco terdengar agak gugup, mungkin terkejut karena aku meneleponnya kembali begitu cepat.

“Marco, aku baru ingat,” kataku dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar lelah dan penuh percaya diri. “Uang DP untuk Angela… kalau memang mendesak, pakai saja dulu tabunganku yang di laci kerja. Di dalam card holder biru ada kartu bank. PIN-nya masih sama dengan yang dulu kuperlihatkan padamu. Anggap saja ini pinjaman untuk adikmu.”

Di seberang telepon, keheningan sempat tercipta selama beberapa detik. Aku bisa mendengar helaan napas lega yang tertahan dari Marco.

“K-kamu serius, Sayang? Terima kasih banyak! Kamu memang istri yang paling pengertian. Aku akan bicarakan ini nanti dengan Mama,” jawabnya dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat manis dan penuh sanjungan.

“Iya, tidak apa-apa. Gunakan saja dulu. Aku harus kembali ke aula konferensi sekarang, ya.”

Begitu telepon ditutup, senyum dingin tersungging di bibirku.

Aku langsung membuka aplikasi perbankan seluler di ponselku. Dengan beberapa ketukan cepat, aku memindahkan seluruh saldo sepuluh juta peso itu ke rekening pribadiku yang lain di bank berbeda, lalu melakukan pemblokiran total pada kartu yang dipegang Teresa dengan alasan “kartu hilang”.

Umpan sudah dipasang. Sekarang, waktunya menonton pertunjukan.

Tiga hari kemudian, di tengah hiruk-gila konferensi hari terakhirku di Makati, ponselku yang diletakkan di atas meja mulai bergetar.

Layar ponselku menyala. Nama Teresa Villanueva tertera di sana.

Aku membiarkannya.

Satu menit kemudian, panggilan masuk lagi. Kali ini dari Marco. Lalu dari Angela. Panggilan itu masuk bergantian seperti air bah yang tidak ada habisnya. Seratus dua belas panggilan tak terjawab dalam waktu beberapa jam, disertai puluhan pesan teks yang awalnya bernada panik, berubah menjadi menuntut, hingga akhirnya penuh makian.

“Kenapa kartunya tidak bisa digunakan?!”

“Kamu menipu kami ya? Di mana kamu menyembunyikan uangnya?!”

“Angkat teleponnya! Angela sudah mempermalukan keluarga kita di depan pihak developer apartemen!”

Aku tidak membalas satu pun. Aku menyelesaikan konferensiku dengan tenang, menikmati makan malam mewah di Makati, lalu memesan penerbangan malam kembali ke rumah kami.

Begitu aku membuka pintu rumah, atmosfer di dalam ruang tamu terasa begitu pekat dan panas.

Teresa duduk di sofa utama dengan wajah merah padam menahan amarah, sementara Angela menangis sesenggukan di sampingnya. Marco berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Begitu mereka melihatku masuk, ketiga pasang mata itu langsung tertuju padaku dengan tatapan menghujat.

“Dari mana saja kamu?! Kenapa baru pulang dan kenapa tidak mengangkat telepon?!” bentak Teresa, langsung berdiri dan menunjuk wajahku tanpa basa-basi. “Kamu tahu betapa malunya kami di kantor pemasaran apartemen? Kartumu itu ditolak! Petugas bank bilang kartunya sudah diblokir karena dilaporkan hilang!”

Aku meletakkan koperku dengan tenang, lalu menatap mereka satu per satu. “Oh, kartu itu? Memang sudah kublokir.”

“Kamu sengaja mempermainkan kami?!” teriak Angela histeris. “Katanya kamu mengizinkan Mas Marco memakai uang itu untuk DP apartemenku! Tapi kenapa kamu memblokirnya? Kamu sengaja ingin membuatku dipermalukan di depan calon mertuaku, kan?!”

Marco melangkah mendekat, wajahnya tampak sangat kecewa—atau lebih tepatnya, kecewa karena rencananya gagal. “Sayang, keterlaluan sekali. Kalau kamu tidak berniat meminjamkannya sejak awal, bilang saja. Kenapa harus memberi harapan palsu dan membuat Mama dan Angela menanggung malu?”

Aku menatap Marco, pria yang berjanji akan melindungiku di altar pernikahan, namun justru menjadi orang yang menyerahkan ‘kunci’ keamananku kepada keluarganya.

“Aku meminjamkannya?” Aku terkekeh sinis, membuat mereka bertiga tersentak. “Marco, coba ingat-ingat lagi kronologinya. Kapan aku meneleponmu dan memberikan izin itu?”

“T-tiga hari lalu, setelah aku meneleponmu…” suara Marco tiba-tiba melemah.

“Benar. Tiga hari lalu,” kataku sambil berjalan menuju televisi besar di ruang tamu. Aku menghubungkan ponselku ke layar TV via screen mirroring. “Tapi Ibu yang terhormat ini… sudah mengambil kartu itu dari laci terkunci di ruang kerjaku sebelum panggilan telepon itu terjadi.”

Aku menekan tombol play.

Layar TV berukuran besar itu langsung menampilkan rekaman CCTV dengan kualitas 4K yang sangat jernih. Di sana terlihat jelas bagaimana Teresa menyelinap masuk ke ruang kerjaku, menggunakan kunci cadangan curian, mengobrak-abrik laciku seperti seorang pencuri profesional, lalu memasukkan kartu bank biruku ke dalam sakunya.

Wajah Teresa seketika memucat, berubah dari merah padam menjadi seputih kertas. Angela menghentikan tangisannya, mulutnya ternganga shock.

“M-Mama… hanya ingin bersih-bersih…” cicit Teresa, suaranya gemetar hebat saat melihat dirinya sendiri di layar TV sedang mengelap meja untuk menghilangkan jejak.

“Bersih-bersih sampai ke dalam laci ketiga yang terkunci? Bersih-bersih sambil membawa kabur aset pra-nikahku senilai sepuluh juta peso?” tanyaku dengan nada sedingin es. “Itu bukan bersih-bersih, Teresa Villanueva. Itu namanya pencurian dengan pemberatan.”

“Sayang, tolong dengarkan dulu…” Marco mencoba memegang tanganku, wajahnya dipenuhi kepanikan yang luar biasa. “Mama tidak bermaksud begitu, kami hanya mendesak—”

“Diam, Marco!” bentakku, membuat suaraku menggema di seluruh ruangan. “Kamu yang memberitahu mereka tentang kartu itu. Kamu yang memberikan kunci cadanganku. Kamu mengkhianati kepercayaanku demi memuaskan gengsi keluargamu!”

Aku mengambil sebuah map dokumen dari dalam tas kerjaku dan melemparkannya ke atas meja kaca di depan mereka. Logo firma hukum terkenal di Manila tercetak jelas di bagian depan.

“Apa ini?” tanya Angela dengan suara bergetar.

“Surat gugatan cerai untuk Marco, dan surat laporan kepolisian atas tindakan pencurian serta penyusupan tanpa izin untuk Teresa Villanueva,” jawabku lugas.

Teresa langsung terduduk lemas di sofa, matanya terbelalak penuh ketakutan. “C-cerai? Laporan polisi? Kamu tidak bisa melakukan ini! Kita ini keluarga!”

“Keluarga tidak mencuri dari satu sama lain,” ujarku sambil menatap Marco yang kini berlutut di depanku, memohon-mohon dengan air mata yang mulai mengalir. Tapi hatiku sudah mati rasa. Sisa-sisa cinta yang kupunya untuknya telah menguap bersama dengan setiap detak rekaman CCTV yang kulihat di Makati.

“Aku memberi kalian waktu dua puluh empat jam untuk mengemas barang-barang kalian dan keluar dari rumah atas namaku ini,” kataku sambil menarik koperku kembali, melangkah menuju kamar utama tanpa menoleh lagi.

“Jika besok malam kalian masih ada di sini, biarkan polisi yang mengemas barang-barang kalian di sel tahanan.”

Pintu kamar kukunci rapat dari dalam. Di luar, aku bisa mendengar suara pertengkaran hebat antara Marco, ibunya, dan adiknya yang saling menyalahkan atas keserakahan mereka sendiri.

Aku bersandar di balik pintu, menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya setelah tiga hari yang melelahkan, aku merasakan kebebasan yang mutlak. Mereka mengira bisa merampas apa yang ditinggalkan orang tuaku untukku, tetapi mereka lupa: aku adalah wanita yang membangun karierku sendiri dari nol. Dan tidak akan kubiarkan siapa pun menginjak-injak hargadiriku.