SEORANG MAHASISWI MISKIN MENERIMA UANG SETIAP HARI DARI TRANSFER “SALA NOMOR” DI GCASH YANG DIA GUNAKAN UNTUK BISA LULUS—NAMUN SAAT IA MENCARI PENGIRIM ITU UNTUK BERTERIMA KASIH, TERUNGKAP FAKTA YANG TAK TERDUGA
Di sebuah kos sempit, gelap, dan bising di pusat Cebu, Carla hampir tidak bisa tidur. Sebagai mahasiswa keperawatan tahun ketiga sekaligus yatim piatu yang bekerja paruh waktu di restoran cepat saji, hidupnya terasa seperti akan runtuh.
Besok adalah batas terakhir pembayaran ujian akhir, dan ia masih kekurangan 5.000 peso Filipina (sekitar Rp1,4 juta). Jika tidak membayar, ia tidak bisa mengikuti ujian dan kelulusannya akan tertunda.
Saat menangis diam-diam dan menatap langit-langit kosong, tiba-tiba ponsel lamanya menyala. Sebuah notifikasi dari GCash masuk berisi 5.000 peso Filipina (±Rp1,4 juta) dari nomor tidak dikenal.
Pesannya hanya berbunyi:
“Untuk uang kuliahmu, Nak. Belajarlah dengan baik.”
Carla sangat terkejut dan cemas karena ia tahu tidak punya keluarga yang mampu mengirim uang sebesar itu. Ia langsung membalas:
“Halo po. Sepertinya ini salah nomor. Akan saya kembalikan uangnya.”
Namun malam berlalu tanpa jawaban. Keesokan paginya, ia mencoba menelepon nomor itu, tetapi selalu tidak aktif.
Karena terdesak, Carla akhirnya menggunakan uang itu untuk membayar ujian. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari pengirim misterius itu suatu hari nanti untuk mengganti uangnya.
Yang lebih aneh, keesokan harinya ia kembali menerima 500 peso Filipina (sekitar Rp140 ribu).
“Untuk uang jajan sekolahmu, Nak,” begitu isi pesannya.
Setiap hari setelah itu, uang terus masuk.
Carla pun menjadikan kebiasaan untuk mengirim pesan ke nomor tersebut setiap hari, meski tidak pernah dibalas. Ia menceritakan hal-hal kecil tentang hidupnya.

“Aku mendapat nilai tertinggi di kelas hari ini.”
“Aku membeli sepatu baru untuk praktik, terima kasih banyak.”
“Aku lelah di rumah sakit hari ini, tapi aku akan kuat.”
Ia merasa seolah memiliki orang tua sungguhan yang diam-diam mendukungnya. Berkat sponsor misterius itu, Carla bisa fokus pada studinya.
Berkat dukungan misterius itu, Carla tidak hanya berhasil bertahan, tetapi juga berkembang pesat. Dua tahun berlalu, dan hari yang dinantikannya akhirnya tiba. Carla lulus dengan predikat magna cum laude dan berhasil melewati ujian lisensi papan atas untuk menjadi perawat resmi di salah satu rumah sakit terbesar di Cebu.
Selama dua tahun itu pula, transferan dari GCash tersebut tidak pernah absen. Totalnya sudah mencapai ratusan ribu peso—sebuah utang budi yang teramat besar bagi seorang anak yatim piatu.
Malam setelah pelantikan profesinya, Carla duduk di tempat tidur lamanya. Uang masuk lagi untuk terakhir kalinya: 2.000 peso. “Selamat atas kelulusanmu, perawat keperanggaan Ibu. Sekarang kamu sudah bisa mandiri.”
Air mata Carla tumpah. Ia bertekad, sekarang setelah ia memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang baik, ia harus menemukan orang ini. Ia ingin mengembalikan uangnya, atau setidaknya, memeluk orang tersebut dan mengucapkan terima kasih secara langsung.
Carla membawa nomor telepon itu ke kantor pusat perusahaan telekomunikasi dan layanan GCash di Cebu, memohon bantuan dari seorang teman yang bekerja di sana untuk melacak identitas pemilik nomor terdaftar.
Setelah meyakinkan temannya bahwa ini bukan untuk niat jahat, temannya akhirnya setuju dan mengetikkan nomor tersebut ke sistem.
“Carla, pemilik nomor ini terdaftar atas nama Elena Santos,” kata temannya sambil menatap layar komputer.
“Elena Santos?” Carla mengernyitkan dahi. Nama itu terasa sangat asing di telinganya. “Di mana alamatnya? Apakah dia seorang wanita kaya?”
Temannya menggelengkan kepala, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat muram dan bingung. “Tidak, Carla. Alamatnya terdaftar di sebuah desa kecil di pinggiran Cebu. Tapi… ada yang aneh dengan sistem ini.”
“Aneh kenapa?” jantung Carla mulai berdegup kencang.
“Kartu SIM dan akun GCash ini terdaftar sejak tiga tahun lalu. Dan aktivitas pengirimannya dilakukan secara otomatis melalui sistem penjadwalan perbankan (scheduled transfer). Tapi… pemilik akun ini, Elena Santos, tercatat telah meninggal dunia dua tahun lalu, tepat satu bulan setelah transferan pertama yang kamu terima.”
Dunia seakan berputar bagi Carla. “Meninggal? T-tapi tidak mungkin! Aku baru saja menerima pesan dan transferan tadi malam!”
Temannya membalikkan layar monitor agar Carla bisa melihatnya. Di sana tertera data kematian resmi yang terintegrasi dengan sistem. Elena Santos meninggal karena kanker rahim stadium akhir di Rumah Sakit Umum Cebu.
Carla membekap mulutnya. Rumah Sakit Umum Cebu? Itu adalah tempat yang sama di mana Carla melakukan praktik kerja lapangan (internship) tingkat tiganya dulu.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang mengalir deras, Carla langsung pergi ke rumah sakit tersebut. Menggunakan aksesnya sebagai alumni dan perawat baru, ia meminta bantuan bagian arsip untuk mencari rekam medis mendiang Elena Santos dari dua tahun lalu.
Ketika berkas itu dibuka, seketika seluruh pertahanan Carla runtuh.
Di dalam berkas tersebut, ada foto pasien. Carla langsung mengenali wajah itu. Dia bukan orang asing, melainkan Aling Elena, seorang wanita paruh baya tunawisma yang sering duduk di depan gerbang kampus Carla untuk menjual kerupuk kulit (chicharon).
Carla teringat, pada tahun kedua kuliahnya, Aling Elena sering batuk darah dan terlihat sangat lemas. Carla, dengan ilmu keperawatannya yang masih minim namun memiliki hati yang tulus, sering membelikan wanita itu makanan hangat, membersihkan lukanya, bahkan mengantarkannya ke klinik gratis ketika Aling Elena pingsan di jalanan. Carla merawatnya seperti ibunya sendiri, tanpa pernah mengharapkan imbalan apa pun.
Arsiparis rumah sakit kemudian menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil yang terselip di dalam rekam medis. “Nona Carla, sebelum Nyonya Elena meninggal, dia meninggalkan ini di bagian administrasi sosial. Dia berpesan jika ada mahasiswa keperawatan bernama Carla yang mencari, tolong berikan ini padanya.”
Carla membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada sebuah surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang lemah dan tidak rapi:
“Untuk perawat kecilku, Carla…
Saat kamu membaca surat ini, Ibu mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maafkan Ibu karena telah berbohong kepadamu bahwa ini adalah ‘salah nomor’.
Ibu tidak punya keluarga, dan penyakit ini perlahan menggerogoti tubuh Ibu. Sebelum Ibu tahu hidup Ibu tinggal sebentar, Ibu mendapat uang kompensasi ganti rugi tanah dari pemerintah atas gubuk tua Ibu di desa sebesar 300.000 peso.
Ibu tidak butuh uang itu untuk pengobatan, karena Ibu tahu Ibu tidak akan selamat. Ibu sempat bingung harus dikemanakan uang ini. Sampai akhirnya, Ibu melihatmu menangis di depan gerbang kampus malam itu, kebingungan mencari uang kuliah.
Kamu adalah satu-satunya orang asing yang memperlakukan wanita tua tunawisma ini seperti manusia. Kamu membersihkan luka-lukaku, menyuapiku saat aku sakit, dan memberiku kehangatan seorang anak yang tidak pernah kurasakan seumur hidupku.
Ibu meminta bantuan petugas sosial di rumah sakit untuk memasukkan semua uang itu ke akun GCash, dan mengatur pengiriman otomatis setiap hari agar kamu bisa menyelesaikan kuliahmu. Ibu tahu kamu terlalu jujur dan pasti akan mengembalikannya jika tahu ini dari Ibu, makanya Ibu berpura-pura salah nomor.
Setiap hari di sisa hidup Ibu yang singkat, Ibu selalu membaca pesan-pesanmu. ‘Aku mendapat nilai tertinggi’, ‘Aku membeli sepatu baru’… itu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup Ibu. Ibu pergi dengan tenang karena tahu uang itu berada di tangan orang yang tepat.
Jadilah perawat yang hebat, Carla. Ibu selalu mengawasimu dari atas sini.”
Carla mendekap surat itu ke dadanya, menangis sejadi-jadinya di lorong rumah sakit yang sepi.
Ternyata, pengirim misterius itu bukanlah seorang jutawan yang dermawan, melainkan seorang wanita tunawisma yang miskin harta namun memiliki jiwa yang luar biasa kaya. Kebaikan kecil yang Carla tabur di jalanan dua tahun lalu, telah kembali kepadanya sebagai mukjizat yang menyelamatkan masa depannya.