Posted in

“Om Evan sudah pulang, Ma?” tanya Mesya, sang putri kecil, sesaat setelah Arini melangkah masuk ke dalam rumah.”Sudah, Sayang. Baru saja pergi .”jawab Arini lembut, mencoba menetralkan sisa-sisa kegugupannya akibat godaan Evan tadi.

Namun, pertanyaan selanjutnya dari Mesya membuat gerakan Arini membeku.

“Ma… beneran Om Evan akan jadi Papaku?” tanya bocah itu lagi. Ia mendekat, lalu menatap sang mama dengan mata bulat yang berbinar penuh harap, seolah jawaban Arini adalah kunci menuju kebahagiaan yang selama ini ia impikan.

Arini terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu menepuk ruang kosong di sofa di sampingnya. “Mesya mau kalau Om Evan jadi Papa Mesya?” tanyanya pelan saat sang putri sudah duduk manis di dekatnya.

“Mau, Ma…” jawab Mesya tanpa ragu. Kepalanya mengangguk mantap. “Biar aku punya Papa sendiri, dan nggak perlu berebut lagi sama Kak Sisil.”

Deg.

Hati Arini seketika mencelos. Rasanya bak dihantam palu godam yang sangat berat, meninggalkan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia tak pernah menyangka jika selama ini, di balik senyum polos putrinya, tersimpan rasa iri dan luka karena harus berbagi kasih sayang ayah dari saudara tiri seayah itu.

Arini membawa Mesya ke dalam pelukannya, mendekap tubuh mungil itu dengan sangat erat. Air mata nyaris saja tumpah, namun ia sekuat tenaga menahannya. Kalimat sederhana Mesya barusan menjadi tamparan keras bagi Arini—sebuah pengingat bahwa keputusan yang akan ia ambil bukan lagi hanya tentang perasaannya pada Evan, melainkan tentang masa depan dan kebahagiaan malaikat kecilnya ini.

“Maafin Mama ya, Sayang…” bisik Arini lirih di sela rambut Mesya, sementara pikirannya kini tertuju pada rencana akhir pekan nanti. Harapannya untuk diterima oleh Mila kini bukan lagi sekadar keinginan, melainkan sebuah keharusan demi menebus segala kekurangan yang dirasakan putrinya selama ini.

Mesya mendongak, menatap ibunya dengan dahi berkerut bingung. “Kenapa Mama minta maaf?”

Arini mengusap pipi gempal putrinya, merasakan kehangatan yang justru membuat dadanya semakin perih. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya berkaca-kaca.

“Karena Mama egois, Sayang. Mama terlalu takut sampai mengorbankan kebahagiaan Mesya,” ucap Arini dengan suara yang sedikit serak. Ia menyadari bahwa selama ini ketakutannya akan penolakan orang lain telah membuat Mesya merasa ‘kurang’ dibandingkan teman-temannya.

Ia merapikan poni Mesya yang sedikit berantakan. “Kalau suatu saat nanti Mesya rindu atau ingin bertemu Papa, bilang saja ya? Nanti Mama antar.”

Mesya hanya bergumam pelan, “Hmmm…”, seolah sedang menimbang-nimbang tawaran itu dalam pikiran kecilnya. Namun, binar di matanya menunjukkan bahwa kehadiran Evan sudah cukup untuk mengisi ruang kosong di hatinya.

“Sekarang, ayo kita bobo siang dulu supaya nanti sore badannya segar,” ajak Arini, berusaha mengalihkan suasana agar tidak semakin melankolis.

“Iya, Ma,” jawab Mesya patuh.

Sementara itu, di kediaman Rohana, suasana terasa jauh dari kata tenang.

Di dalam kamarnya, Maya terus melangkah mondar-mandir dengan raut wajah tegang. Keringat dingin sesekali muncul di pelipisnya. Pikirannya buntu, berputar-putar mencari celah dan siasat agar Arka tidak benar-benar melaksanakan ancamannya untuk mengusir dirinya dari rumah itu.

“Ma… kenapa sih mondar-mandir terus? Aku pusing melihatnya!” seru Sisil kesal. Sang putri yang sedang duduk di tepi ranjang itu melempar ponselnya sembarang, merasa terganggu dengan kegelisahan ibunya.

Maya mendadak berhenti, lalu menoleh dengan telunjuk menempel di bibir. “Sstt… Diam, Sisil! Mama sedang memikirkan cara supaya kita tidak diusir oleh Papamu!”