**SEORANG POLISI MELIHAT SEORANG ANAK BERJALAN SENDIRIAN DI TENGAH GELAP DAN HUJAN DI JALAN TOL — IA SEGERA MENYELAMATKANNYA DAN MEMBAWANYA KE KANTOR POLISI, TETAPI JANTUNGNYA HAMPIR BERHENTI SAAT MELIHAT DATA DI DATABASE**
Malam itu hujan turun sangat deras.
Hampir tidak ada kendaraan yang melintas di sepanjang Jalan Tol Tarlac–Pangasinan–La Union. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gerakan berulang wiper mobil patroli milik Polisi Dante Morales saat ia dengan hati-hati berpatroli di jalan yang gelap.
Sudah dua puluh tahun ia menjadi polisi.
Ia sudah melihat banyak hal.
Kecelakaan.
Mobil mogok.
Pelancong yang tersesat.
Namun ia tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi salah satu malam terpenting dalam seluruh kariernya.
Sekitar pukul dua dini hari, ia melihat bayangan aneh di tepi jalan tol.
Awalnya ia mengira itu hanyalah seekor anjing.
Namun ketika lampu depan mobil menerangi area tersebut, matanya langsung membelalak.
Seorang anak.
Berjalan sendirian.
Di tengah hujan.
Di tengah kegelapan.
Ia segera menghentikan kendaraan patroli dan keluar meskipun hujan turun sangat deras.
“Nak!” teriaknya.
Anak itu menoleh.
Tubuhnya kurus.
Basah kuyup.
Kakinya penuh lumpur.
Dan rasa lelah serta ketakutan terlihat jelas di wajahnya.
Dante segera menghampiri anak itu.
“Jangan takut. Saya polisi.”
Anak itu tidak menjawab.
Ia hanya gemetar sambil menatap Dante.
Dengan perlahan, Dante menyelimuti tubuh anak itu dengan jas hujannya.
“Ayo ikut saya dulu, ya? Kamu bisa kedinginan kalau tetap di sini.”
Anak itu mengangguk pelan.
Setibanya di kantor polisi, petugas dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak segera menanganinya.
Ia diberi pakaian kering.
Makanan hangat.
Dan selimut.
Saat anak itu sedang makan sup hangat, Dante memperhatikan sesuatu yang aneh di belakang telinga kanannya.
Sebuah tanda lahir berbentuk hati.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
Seolah-olah ia pernah melihatnya sebelumnya.
Ia mendekati anak itu.
“Siapa namamu?”
Anak itu tetap diam.
Dante mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen.
“Bisa kamu tulis?”
Dengan lambat, anak itu menuliskan tiga huruf.
T – I – M.
“Tim?”
Anak itu mengangguk.

Dante tidak bisa menjelaskan alasannya, tetapi tiba-tiba ia merasa gugup.
Ia segera duduk di depan komputer di kantor polisi.
Ia membuka database orang hilang.
Selama beberapa menit ia mencari data…
…hingga akhirnya, sebuah profil muncul di layar. Saat membaca baris demi baris informasi di database tersebut, jantung Dante terasa berhenti berdetak. Nafasnya tercekat.
Di layar komputer, terpampang foto seorang bayi laki-laki dengan keterangan:
NAMA: TIMOTHY MORALES
STATUS: DINYATAKAN HILANG (DUGAAN PENCULIKAN)
TANGGAL KEJADIAN: 14 MEI 2011
CIRI KHUSUS: TANDA LAHIR BERBENTUK HATI DI BELAKANG TELINGA KANAN.
Dante menatap foto bayi itu, lalu beralih menatap anak laki-laki yang sedang memegang mangkuk sup di sudut ruangan. Tanda lahir itu. Nama itu.
Tim adalah putranya sendiri. Putranya yang diculik dari ayunan bayinya lima belas tahun lalu.
Selama belasan tahun, Dante dan istrinya hidup dalam duka yang tak berkesudahan. Mereka telah mencari ke seluruh pelosok negeri, mengikuti ratusan petunjuk palsu, hingga akhirnya keputusasaan memaksa mereka untuk mencoba “mengikhlaskan” dan menganggap Tim mungkin sudah tiada. Dante mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada patroli malam di jalan tol, berharap kerja kerasnya bisa mengalihkan rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Ternyata takdir punya cara yang luar biasa misterius. Di malam yang paling gelap dan di jalan tol yang paling sepi, alam semesta justru menuntun Dante untuk menemukan darah dagingnya sendiri.
Air mata yang sudah lima belas tahun ia bendung akhirnya tumpah. Dengan tangan yang gemetar hebat, Dante berdiri dari kursinya. Ia berjalan perlahan mendekati anak itu, berusaha tidak mengejutkannya.
Dante berlutut di depan Tim, menyamakan tinggi badannya. Ia mengeluarkan sebuah dompet tua dari saku seragamnya, lalu membuka lipatan foto kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi—foto bayi Tim.
“Tim…” suara Dante bergetar, serak oleh emosi. “Kamu… kamu sudah pulang, Nak.”
Anak laki-laki itu memandang foto di tangan Dante, lalu menatap mata polisi di hadapannya. Meskipun ingatan masa bayinya telah hilang, ada ikatan batin yang kuat yang tidak bisa dibohongi. Untuk pertama kalinya malam itu, setitik air mata jatuh di pipi kurus Tim, dan ia perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Dante.
Hujan di luar masih turun dengan deras, namun di dalam kantor polisi yang dingin itu, pencarian panjang seorang ayah akhirnya resmi berakhir.