Posted in

SEMUA ORANG PERCAYA SUAMIKU TINGGAL DI KANADA—TETAPI SUATU MALAM, PUTRIKU YANG BERUSIA EMPAT TAHUN BERBISIK: “MA… AYAH TINGGAL DI BALIK DINDING ITU DAN DIA MENANGIS SAAT IBU TIDAK ADA.”**

SEMUA ORANG PERCAYA SUAMIKU TINGGAL DI KANADA—TETAPI SUATU MALAM, PUTRIKU YANG BERUSIA EMPAT TAHUN BERBISIK: “MA… AYAH TINGGAL DI BALIK DINDING ITU DAN DIA MENANGIS SAAT IBU TIDAK ADA.”**

Malam itu hujan turun deras di Quezon City.

Suara hujan yang menghantam atap seng tua rumah kami terdengar seperti ketukan yang tak henti-hentinya di tengah malam. Aku baru saja menidurkan putriku, Mia, ketika ponselku tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan dari suamiku, Daniel.

*”Aku sedang sibuk meeting dengan klien di Toronto malam ini. Mungkin beberapa hari lagi baru kita bisa video call.”*

Pesan itu disertai foto secangkir kopi di samping laptop, dengan jendela yang dipenuhi salju tebal di latar belakang.

Aku menatap foto itu cukup lama sebelum menghela napas.

Sudah tiga tahun kehidupan pernikahan kami seperti ini.

Panggilan telepon dengan perbedaan waktu.

Janji yang terus berulang, *“Aku akan pulang suatu hari nanti.”*

Dan kiriman hadiah dari Kanada.

Teman-temanku sering mengatakan bahwa aku beruntung memiliki suami yang rajin dan sukses di luar negeri, yang setiap bulan mengirim lebih dari **Rp27 juta** untuk aku dan anak kami.

Tetapi tidak seorang pun tahu bahwa sudah hampir satu tahun aku tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas saat video call.

Daniel selalu punya alasan.

Katanya sinyal buruk.

Kameranya rusak.

Sedang berada di kantor.

Atau terlalu lelah.

Kadang aku curiga dia memiliki wanita lain di Kanada.

Kadang aku berpikir mungkin dia sudah mempunyai keluarga baru di sana.

Namun setiap kali melihat Mia tersenyum sambil memeluk ponsel dan berteriak, “Ayah!”, aku memaksa diriku untuk percaya bahwa jaraklah satu-satunya masalah kami.

Sampai malam itu.

Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena suara sandal yang menyeret pelan di lorong rumah.

Aku membuka mata.

Pintu kamar sedikit terbuka.

Di sana berdiri Mia.

Memeluk boneka beruang tuanya.

Rambutnya berantakan.

Dan matanya tertuju ke dinding di ujung lorong.

“Ma…” katanya pelan.

Aku langsung duduk.

“Mia? Kenapa sayang? Kamu mimpi buruk?”

Ia menggeleng perlahan.

Lalu menunjuk ke arah dinding.

Dinding tua yang memisahkan rumah kami dengan bangunan kosong di sebelah.

“Mama…”

Suaranya nyaris seperti bisikan.

“Ayah tinggal di balik dinding itu.”

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Aku mencoba tersenyum.

“Maksudnya apa? Ayah kan di Kanada.”

Mia menggeleng lagi.

Tidak seperti anak kecil yang sedang bercanda.

Wajahnya justru terlihat sangat serius.

“Ayah ada di sana.”

Ia menunjuk sekali lagi.

“Kalau Mama pergi ke pasar atau kerja, Ayah suka menangis.”

Darahku terasa dingin.

Aku menatap putriku beberapa detik tanpa mampu berkata apa-apa.

“Mia, siapa yang bilang begitu?”

“Papa sendiri.”

“Papa datang ke sini?”

Anak itu menggigit bibirnya.

Lalu memeluk boneka beruangnya lebih erat.

“Papa bilang jangan cerita sama Mama…”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Di luar, hujan semakin deras.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mempercayai semua cerita Daniel tentang kehidupan barunya di Kanada, aku mulai bertanya-tanya…

**Jika suamiku benar-benar berada ribuan kilometer jauhnya, lalu siapa yang selama ini berbicara dengan Mia?**

Malam itu, aku tidak bisa kembali tidur. Kalimat Mia terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.

Begitu fajar menyingsing dan hujan mereda menjadi gerimis tipis, aku memutuskan untuk menyelidiki. Bangunan di sebelah rumah kami adalah bekas gudang tua milik keluarga Daniel yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan dan digembok dari luar.

Aku menunggu sampai Mia dijemput oleh ibuku untuk pergi ke taman. Begitu rumah sepi, aku mengambil sebuah senter besar dan linggis dari gudang belakang.

Aku berjalan ke lorong tempat Mia berdiri semalam. Aku mendekatkan telingaku ke dinding kayu tua yang berbatasan langsung dengan gudang kosong itu.

Sunyi.

Namun ketika aku mengetuk dinding itu perlahan, ada sesuatu yang aneh. Suaranya terdengar nyaring di bagian bawah dekat lantai—seolah dinding itu tidak sepadat kelihatannya. Aku berlutut, meraba sambungan kayu, dan jantungku hampir copot saat menyadari bahwa dua bilah papan kayu di bagian paling bawah bisa digeser.

Itu adalah sebuah celah rahasia yang sengaja dibuat, cukup besar untuk dilewati tubuh seorang anak kecil, atau untuk menyelipkan sesuatu. Di balik celah itu, kegelapan gudang tua menganga.

Keberanian yang dipicu oleh rasa takut dan amarah membuatku melangkah keluar rumah. Aku berjalan memutari gang sempit menuju pintu depan gudang tua itu. Gembok besar di pintu depan memang berkarat, tetapi saat aku menyentuhnya, gembok itu langsung terbuka. Seseorang telah merusaknya agar terlihat seperti terkunci dari luar.

Aku mendorong pintu besi yang berat itu. Suara deritannya memotong keheningan pagi.

Aroma debu, kelembapan, dan sesuatu yang familiar—aroma minyak rambut yang selalu dipakai Daniel—langsung menusuk hidungku. Aku menyalakan senter, mengarahkan tal cahayanya membelah kegelapan gudang.

Di sudut paling belakang, tepat di balik dinding yang berbatasan dengan lorong rumahku, aku menemukan sebuah ruang darurat yang disekat dengan terpal plastik.

Di dalamnya ada sebuah kasur lipat tipis, sebuah meja kecil, dan sebuah laptop yang masih menyala. Di atas meja, ada beberapa botol air mineral, tumpukan mi instan, dan selembar foto ukuran besar: foto salju tebal di jendela Toronto—foto yang sama dengan yang dikirimkan Daniel tadi malam lewat pesan singkat.

Di samping laptop itu, ada sebuah mikrofon penahan bising dan beberapa dokumen medis.

“Daniel…?” bisikku, suaraku bergetar di dalam ruangan yang dingin itu.

Tiba-tiba, terdengar suara batuk yang berat dan kering dari sudut tergelap di balik tumpukan kardus. Seorang pria perlahan muncul ke arah cahaya senterku.

Tubuhnya sangat kurus, jauh berbeda dengan sosok suamiku yang gagah tiga tahun lalu. Wajahnya pucat, matanya cekung, dan rambutnya mulai rontok. Ia mengenakan jaket tebal, duduk di atas kursi roda tua.

Itu Daniel. Suamiku.

“R-Reina…” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Ia mencoba memutar kursi rodanya untuk bersembunyi, namun ia terlalu lemah.

“Apa… apa artinya semua ini, Daniel?!” tangisku pecah seketika. Linggis di tanganku terjatuh ke lantai beton dengan suara dentangan yang keras. “Kanada? Toronto? Uang Rp27 juta setiap bulan? Kamu membohongiku selama tiga tahun?!”

Daniel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya mulai terguncang hebat. Ia menangis tanpa suara, persis seperti apa yang dibisikkan Mia semalam.

“Maafkan aku, Reina… Maafkan aku,” isaknya.

Dengan tangan gemetar, Daniel menunjuk ke arah dokumen medis di atas meja. Aku melangkah maju dengan kaki yang terasa berat seperti timah, lalu mengambil kertas-kertas tersebut. Itu adalah laporan medis dari rumah sakit kanker setempat.

DIAGNOSIS: KANKER KELENJAR GETAH BENING (STAGE IV).

STATUS: PALIATIF.

Duniaku rasanya runtuh seketika.

“Tiga tahun lalu, tepat sebelum aku berangkat ke Kanada, hasil tes ini keluar,” kata Daniel sambil menyeka air matanya. “Dokter bilang usiaku tidak lama lagi. Aku tahu, jika aku tetap tinggal dan berobat, seluruh tabungan kita akan habis untuk biaya rumah sakit yang sia-sia, dan kamu akan menghabiskan sisa hidupmu merawat pria yang sekarat.”

Daniel menarik napas dengan payah. “Jadi, aku membatalkan kontrak kerjaku di Kanada. Aku menggunakan uang asuransi penyakit kritisku yang cair untuk diinvestasikan ke saham atas namamu, yang secara otomatis mengirimkan Rp27 juta setiap bulan ke rekeningmu, seolah-olah itu adalah uang kiriman dari luar negeri.”

“Lalu kenapa kamu bersembunyi di sini?!” tanyaku dengan dada yang sesak oleh rasa sakit yang luar biasa.

“Karena aku tidak sanggup pergi jauh darimu dan Mia,” bisik Daniel lirih. “Aku ingin menghabiskan sisa waktu singkatku sedekat mungkin dengan kalian. Dari balik dinding ini, aku bisa mendengar suara tawa Mia saat bermain. Aku bisa mendengar suaramu saat memasak. Itu satu-satunya hal yang membuatku tetap bertahan hidup.”

Daniel menceritakan bahwa beberapa bulan terakhir, kondisinya semakin memburuk dan ia tidak bisa lagi keluar mencari makan. Mia secara tidak sengaja menemukan celah dinding itu beberapa minggu lalu saat mencari mainannya yang menggelinding. Sejak hari itu, setiap kali aku pergi bekerja, Mia akan merangkak masuk, membawakan biskuit atau sisa rotinya, dan menemani ayahnya yang semakin lemah tanpa pernah menceritakannya padaku karena ia takut ayahnya akan “pergi ke Kanada lagi”.

Aku menatap suamiku yang egois namun teramat sangat mencintai kami itu. Kemarahanku menguap, digantikan oleh rasa duka dan cinta yang teramat dalam.

Aku berlari menghampirinya, berlutut di depan kursi rodanya, dan memeluk tubuhnya yang kurus kering itu dengan erat.

“Bodoh… kamu bodoh, Daniel,” tangisku di dadanya. “Aku tidak butuh uang dari Kanada. Aku butuh kamu. Kami butuh kamu.”

Hujan kembali turun di luar, tetapi di dalam gudang tua yang dingin itu, rahasia tiga tahun akhirnya runtuh. Hari itu juga, aku membawa Daniel kembali ke balik dinding—bukan sebagai bayangan yang menangis di dalam kegelapan, melainkan sebagai seorang suami dan ayah yang akan menghabiskan sisa harinya di tempat yang seharusnya: di dalam dekapan hangat keluarganya.