Matahari sudah naik tinggi, memancarkan panas yang memang-gang tenda hajatan di depan rumah. Suara musik gamelan yang diputar lewat pengeras suara besar terdengar memekakkan telinga, bersahut-sahutan dengan riuh rendah obrolan tamu yang datang silih berganti. Namun bagiku, kemeriahan itu terasa sangat jauh. Dunia masih sama sejak subuh tadi: kepulan uap, aroma bumbu yang tajam, dan tumpukan piring kotor yang seolah tak ada habisnya.
Peluh membanjiri keningku, menetes hingga ke ujung hidung. Sesekali aku mencoba menyeka wajah dengan punggung tangan, lalu duduk sebentar di atas bangku kecil untuk meluruskan kaki yang mulai kram. Namun, baru saja pa nt atku menyentuh kayu, tatapan taj am bak se mbi lu langsung mengh ujam. Ibu Ruskinah, dengan kebaya mewahnya yang mentereng, berdiri di ambang pintu dapur sambil mend elik.
“Masih banyak piring yang belum dibilas, Num. Jangan malas-malasan, nanti tamu tidak kebagian alat makan. Malu-maluin Ibu saja!” ketu sn ya tanpa memikirkan bahwa sejak tadi aku bahkan belum sempat meneguk segelas air pun dengan tenang.
Aku menghela napas panjang, menelan kembali rasa lela h yang menyesak, lalu bangkit berdiri. Tidak ada waktu untuk sekadar mengec ek Kanza. Sejak pagi, aku membiarkan putri kecilku itu bermain di ruang tengah bersama anak-anak Mbak Lastri dan Mbak Nunung. Aku sempat membisikkan pesan padanya tadi, “Sayang, kalau Kanza lapar, minta makan sama Bude Lastri ya? Bude ada di meja prasmanan.”
Dalam benakku, sesulit apa pun perlakuan mereka padaku, mereka tidak mungkin tega pada anak kecil. Apalagi Mbak Lastri tahu betul bahwa daging rendang dan ayam goreng yang ia jaga di meja prasmanan itu dibeli dengan uwang dariku. Aku yakin, setidaknya satu piring nasi untuk keponakannya sendiri bukanlah permintaan yang berlebihan.
Waktu merambat naik menuju sore. Tamu-tamu mulai lengang, menyisakan kerabat dekat dan tetangga sekitar yang masih mengobrol santai. Aku meletakkan kain lap, merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menjemput Kanza dan memberinya makan. Perutku sendiri sudah perih, tapi rasa lapar Kanza jauh lebih utama.
Aku berjalan keluar dari area dapur yang pengap. Saat melewati koridor samping menuju area depan, langkahku terhenti. Di seberang taman kecil dekat tenda, aku melihat Mas Feri. Ia tampak rapi dengan batik barunya, namun fokusku bukan pada suamiku, melainkan pada wanita cantik yang berdiri di sampingnya. Wanita itu tampak anggun, tertawa kecil sambil sesekali menyentuh lengan Mas Feri. Siapa dia? Teman kantor? Atau kerabat jauh yang tak kukenal?

Ingin rasanya aku menghampiri dan bertanya, tapi bayangan wajah Kanza yang belum kulihat sejak pagi mengalahkan rasa penasaran itu. Mas Feri tampak sibuk melayani tamu “spesial” itu, jadi kubiarkan saja. Prioritasku adalah ana kku.
Aku mencari ke ruang tengah, lalu ke halaman samping, hingga akhirnya langkahku terhenti di sudut teras belakang yang agak gelap, dekat tumpukan kursi lipat yang belum terpakai. Di sana, seorang bocah kecil duduk meri ngkuk di atas lantai semen yang dingin.
“Kanza?” panggilku lirih.
Bahu kecil itu bergetar. Kanza mendongak, matanya sembap dan hidungnya memerah karena tangis yang ditahan. Ia langsung memeluk kakiku dengan erat, menyembunyikan wajahnya di balik dasterku yang kotor.
“Sayang, kenapa Kanza di sini? Kok sendirian? Mana sepupu-sepupu yang lain?” tanyaku panik sambil berjongkok, meren gkuh tubuh kecilnya ke pelukanku.
“Yang lain… hiks… yang lain sedang makan di dalam, Bu,” jawabnya dengan suara parau yang nyaris hilang.
Jant ungku mencelos. “Lho, lalu kenapa Kanza gak ikut makan? Ibu kan sudah bilang minta sama Bude Lastri.”
Kanza menggeleng pelan, isakannya semakin keras. “Bude Lastri gak ngebolehin, Bu. Kanza tadi lapar, Kanza mau ambil nasi sama rendang sedikit saja…”
“Gak ngebolehin gimana, sayang? Bude bilang apa?” desakku, merasakan aliran darahku mulai men di dih.
Sambil sesenggukan, Kanza menjelaskan dengan jujur yang memb ela h hatiku. “Tadi pas Kanza mau ambil piring, Bude Lastri langsung dorong tangan Kanza. Bude bilang, Kanza jangan dekat-dekat meja karena baju Kanza kotor dan bau asap. Bude bilang Kanza cuma merusak pemandangan tamu… hiks… Terus Kanza disuruh makan di belakang saja nanti kalau semua orang sudah selesai. Tapi Kanza lapar sekali, Bu…”
Duniaku serasa berhenti berputar sesaat. Merusak pemandangan?
Aku menatap Kanza. Memang, anakku hanya memakai kaos biasa yang sudah agak lusuh karena sejak pagi ikut menemaniku di dapur, sementara anak-anak Mbak Lastri memakai ga un pesta mewah. Tapi teganya wanita itu mengh ina keponakannya sendiri yang kelap aran? Padahal piring-piring mewah di atas meja itu, rendang yang aromanya menguar hingga ke sini, semuanya diba yar dengan keringat ibunya!
Amarah yang selama ini kupendam, yang kusebut sebagai ‘kesabaran demi bakti’, mendadak meledak menjadi ap i yang berkobar hebat di da daku. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, tapi karena kemarahan yang tak lagi bisa dibendung.
Mereka menghinaku, aku diam. Mereka menjadikanku babu, aku terima. Tapi saat mereka menyakiti anakku dan membiarkannya kelaparan di tengah kemewahan yang kubia yai sendiri, itu adalah tanda perang.
“Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi,” ucapku dengan suara rendah yang penuh penekanan. Aku berdiri, menggandeng tangan Kanza dengan kuat. “Ayo ikut Ibu ke depan. Kita ambil apa yang seharusnya jadi milik kita.”
Aku tidak lagi peduli pada dasterku yang bau asap atau wajahku yang kusam. Aku berjalan menuju meja prasmanan dengan langkah mantap, sementara di kepala, aku sudah tidak lagi memikirkan tentang ‘damai dan tentram’. Hari ini, mereka akan tahu bahwa seekor kucing yang paling tenang sekalipun akan mengeluarkan ca ka rnya saat anaknya diganggu.