Posted in

LIMA TAHUN AKU MENJADI BURUH DI BAWAH TERIK MATAHARI ARAB SAUDI DEMI MEMBANGUN MANSIUN IMPAN KAMI. AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR UNTUK MEMBERIKAN KEJUTAN, TETAPI SAAT TIBA, AKU MENDAPATI ISTRI DAN ANAKKU KURUS KERING SERTA MEMAKAN SAMPAH DI BELAKANG RUMAHKU, SEMENTARA IBU DAN ADIKKU HIDUP BERMEWAH-MEWAH DI DALAM! SAAT ITULAH, SEEKOR MONSTER TERBANGUN DI DALAM HATIKU.*

*LIMA TAHUN AKU MENJADI BURUH DI BAWAH TERIK MATAHARI ARAB SAUDI DEMI MEMBANGUN MANSIUN IMPAN KAMI. AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR UNTUK MEMBERIKAN KEJUTAN, TETAPI SAAT TIBA, AKU MENDAPATI ISTRI DAN ANAKKU KURUS KERING SERTA MEMAKAN SAMPAH DI BELAKANG RUMAHKU, SEMENTARA IBU DAN ADIKKU HIDUP BERMEWAH-MEWAH DI DALAM! SAAT ITULAH, SEEKOR MONSTER TERBANGUN DI DALAM HATIKU.**

### Janji di Tengah Gurun

Namaku Dante, 35 tahun, seorang Senior Engineer. Selama lima tahun aku bekerja di Arab Saudi. Aku bertahan menghadapi panas gurun yang membakar, kelelahan yang hampir menghancurkan tubuhku, dan kerinduan yang mendalam kepada istriku, Maya, serta putra kami, Leo, yang baru berusia satu tahun ketika aku meninggalkan mereka.

Karena Maya sudah yatim piatu dan tidak memiliki keluarga lain, ibuku, Doña Carmela, memintanya untuk tinggal bersama mereka sementara waktu.

“Jangan khawatir, Nak. Aku dan adikmu, Valerie, yang akan menjaga istri dan anakmu. Aku akan memperlakukannya seperti seorang putri sungguhan,” janji manis ibuku saat itu.

Setiap bulan aku mengirim **Rp45.000.000** ke rekening Ibu untuk kebutuhan mereka sekaligus melanjutkan pembangunan rumah mewah tiga lantai yang menjadi impian kami. Setiap kali aku menelepon, Ibu selalu mengatakan bahwa Maya sedang tidur atau sedang keluar, sehingga aku jarang sekali bisa berbicara langsung dengan mereka. Karena terlalu lelah bekerja, aku percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

### Kepulangan yang Dirahasiakan

Ketika kontrakku berakhir, aku memutuskan pulang tanpa memberi tahu siapa pun. Aku ingin melihat ekspresi terkejut dan bahagia di wajah keluargaku.

Aku membawa cokelat mahal, perhiasan, dan berbagai mainan untuk Leo, yang kini sudah berusia enam tahun.

Pukul delapan malam ketika aku tiba di rumah mewah kami di Alabang. Gerbang besar terbuka lebar dan banyak mobil mewah terparkir di halaman. Dari dalam terdengar musik keras, gelak tawa, dan suara orang-orang yang sedang berpesta.

Ibu dan Valerie ternyata sedang mengadakan pesta besar!

Agar tidak langsung terlihat, aku memutuskan masuk melalui halaman belakang menuju dapur belakang untuk mengejutkan istriku terlebih dahulu, yang kukira sedang beristirahat di kamarnya.

Namun pemandangan yang kulihat di halaman belakang yang gelap itu membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

### Sang Ratu dan Sang Pangeran di Tumpukan Sampah

Tas-tas yang kubawa terjatuh dari tanganku.

**BRAK!**

Di samping tong-tong sampah besar, di bawah gerimis malam yang dingin, duduk istriku.

Maya.

Tubuhnya sangat kurus, hanya tinggal kulit dan tulang. Rambutnya kusut. Ia mengenakan daster tua yang sudah lusuh dan robek di sana-sini.

Di pelukannya ada Leo, putraku. Ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan yang tipis dan berlubang. Tubuh kecilnya menggigil karena kedinginan, sementara tangisnya pecah karena rasa lapar yang tak tertahankan.

Di tangan Maya terdapat sebuah piring plastik kotor.

Sambil menangis, ia memungut sisa tulang ayam dan nasi basi yang jelas-jelas diambil dari sampah para tamu pesta di dalam rumah.

“Makanlah, Nak… maafkan Mama. Hanya ini yang bisa Mama dapatkan. Cobalah telan sedikit supaya perutmu tidak terlalu sakit,” bisik Maya sambil menangis dan menyuapi anak kami yang tak berdosa.

Dadaku terasa seperti dihantam ledakan granat.

Kakiku lemas.

Aku jatuh berlutut ke lumpur.

“M-Maya…?” panggilku dengan suara serak yang bergetar menahan tangis.

Wanita itu tersentak. Mendengar suara yang begitu familier, ia perlahan mendongak. Begitu matanya yang cekung dan redup menangkap sosokku, piring plastik di tangannya terlepas, menumpahkan makanan basi itu ke tanah.

“Mas… Dante…?” bisiknya lirih, seolah sedang melihat hantu. Air matanya seketika luruh, membasahi pipinya yang kempot.

“Papa?” Leo kecil memandangku dengan tatapan tak percaya. Ia tidak ingat wajahku secara langsung, tetapi ia mengenali suaraku dari rekaman-rekaman lama yang selalu ia dengar.

Aku merangkak di atas lumpur, merengkuh kedua rapuh itu ke dalam pelukanku. Tubuh Maya begitu ringan, seolah aku sedang memeluk seonggok ranting kering. Kulit Leo terasa dingin dan bergetar hebat.

“Maafkan aku… Demi Allah, maafkan aku, Maya! Leo!” raungku dalam tangis yang menyayat hati. “Lima tahun aku memeras keringat, mengira kalian hidup bahagia… Ternyata bajingan-bajingan di dalam sana memperlakukan kalian seperti ini!”

Maya menangis histeris di dadaku, meluapkan penderitaan bertahun-tahun yang ia pendam sendiri. “Mereka mengambil semua uangmu, Mas… Handphone-ku disita. Aku dipaksa menjadi pembantu, dipukuli jika mengeluh, dan jika aku mencoba kabur, mereka mengancam akan membunuh Leo…”

Mendengar kata “dipukuli”, seisi dadaku mendadak terbakar. Tangisku berhenti seketika. Kesedihan yang mendalam itu menguap, digantikan oleh cairan hitam pekat bernama murka.

Sesuatu yang mengerikan telah bangkit di dalam diriku. Rasa hormatku sebagai seorang anak dan kasih sayangku sebagai seorang kakak mati total malam itu juga.

Aku berdiri. Pandanganku menggelap, hanya menyisakan bayangan merah penuh dendam. Aku melepaskan jaket tebal yang kukenakan dan membalutkannya ke tubuh Leo yang menggigil.

“Maya, pegang tangan Leo. Ikut aku ke dalam,” kataku dengan nada suara yang begitu dingin, datar, dan tak bernyawa.

Pengadilan Berdarah Hangat

Aku melangkah ke arah pintu belakang, menendangnya hingga engselnya hancur dan terlepas dari dinding.

BRAAAK!

Suara hantaman keras itu langsung menghentikan musik dan gelak tawa di dalam ruang tengah yang megah. Puluhan tamu undangan yang berpakaian mewah berbalik, menatapku dengan wajah terkejut dan bingung.

Di ujung ruangan, di atas sofa kulit mahal yang kubeli dengan uang hasil keringatku di Saudi, duduk Doña Carmela dan Valerie. Ibuku mengenakan gaun sutra dengan leher berhias kalung berlian berkilau, sementara adikku sedang memegang segelas sampanye dengan jemari penuh cincin emas.

Begitu matanya bertemu denganku, wajah ibuku langsung pucat pasi. Gelas di tangan Valerie jatuh dan pecah berkeping-keping.

“D-Dante?! K-Kapan kamu pulang, Nak?” tanya ibuku terbata-bata, mencoba memasang senyum manis palsunya yang dulu selalu berhasil menipuku.

Aku tidak menjawab. Aku terus melangkah maju, menuntun Maya yang kurus kering dan Leo yang ketakutan ke tengah-tengah aula pesta. Kontras di antara kami begitu mengerikan: aku yang kotor penuh lumpur, anak-istriku yang seperti gelandangan kelaparan, berhadapan dengan kemewahan menjijikkan yang dibangun di atas darah kami.

“Kalian semua, KELUAR!” bentakku pada para tamu dengan suara menggelegar yang menggetarkan kaca-kaca jendela. “Keluar dari rumahku sekarang juga, atau aku tidak akan segan-segan menggunakan kekerasan!”

Melihat amarah yang terpancar dari mataku yang memerah, para tamu undangan langsung ketakutan. Mereka berhamburan lari keluar meninggalkan rumah, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan.

Monster yang Menuntut Balas

Sekarang, hanya ada kami berlima.

“Dante, dengarkan Ibu dulu! Perempuan sialan itu pasti memfitnah kami! Dia yang malas, dia yang tidak mau makan—”

PLAK!!!

Satu tamparan keras mendarat di wajah Valerie hingga ia tersungkur ke lantai, sudut bibirnya berdarah. Aku tidak pernah memukul wanita, tetapi mahluk di depanku ini bukan wanita, dia adalah parasit.

“Dante! Aku ini ibumu! Berani-beraninya kamu—”

“Ibu?!” potongku, suaraku meninggi bagai petir. Aku berjalan mendekati Doña Carmela, mencengkeram kerah gaun mahalnya, dan memaksanya melihat ke arah Maya dan Leo. “Ibu macam apa yang membiarkan cucu kandungnya memakan sampah?! Ibu macam apa yang menyiksa menantunya yang yatim piatu?!”

Aku merenggut paksa kalung berlian di leher ibuku hingga putus, lalu merampas tas bermerek milik Valerie.

“Rumah ini, mobil di depan, berlian ini, semua dibeli dengan uangku! Mulai detik ini, tidak ada satu peser pun dari keringatku yang boleh menyentuh kulit kalian yang menjijikkan!”

Aku berjalan ke arah meja makan pesta yang penuh dengan makanan mewah: kambing guling, kue-kue mahal, dan buah-buahan segar. Aku menarik taplak mejanya, membuat semua makanan itu tumpah ruah dan hancur di lantai.

“Kalian suka melihat istri dan anakku kelaparan?” aku menunjuk ke arah tumpukan makanan yang hancur di lantai bercampur pecahan piring. “Sekarang, giliran kalian. Berlutut, dan makan itu dari lantai!”

“Dante, kamu gila!” jerit ibuku histeris.

“Ya, aku gila! Kalian yang membuatku menjadi monster!” raungku. Aku mengeluarkan ponselku, menghubungi pengacara pribadi dan pihak kepolisian yang kukenal.

“Halo, Pak? Saya ingin melaporkan kasus penganiayaan berat, penyekapan, dan penggelapan dana yang dilakukan oleh Carmela dan Valerie. Saya punya bukti fisik kondisi istri dan anak saya saat ini. Tolong datang ke rumah saya di Alabang sekarang.”

Aku menutup telepon, lalu menatap dua wanita yang kini gemetar ketakutan di lantai.

“Besok, pengacaraku akan memproses balik kepemilikan semua aset atas namamu, Ibu. Rumah ini akan kusita, semua rekening yang kuisi akan kubekukan. Kalian akan keluar dari sini hanya dengan baju yang melekat di badan, dan kalian akan melanjutkan sisa hidup kalian di balik jeruji besi.”

Aku berbalik, memunggungi tangisan dan permohonan ampun yang terlambat dari mereka. Monster di dalam hatiku belum sepenuhnya tenang, tetapi malam ini, ia telah berhasil merebut kembali apa yang menjadi miliknya.

Aku berlutut di depan Maya dan Leo, menggendong putra kecilku, dan merangkul pinggang istriku dengan lembut.

“Mari kita pergi dari tempat terkutuk ini, Maya. Kita ke rumah sakit sekarang. Mulai malam ini, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyakiti kalian lagi. Aku bersumpah.”