IBU MERTUAKU MEMAKSAKU MEMAKAN SISA MAKANAN DI DAPUR GELAP, SEMENTARA PARA TAMU KAYANYA MENIKMATI HIDANGAN MEWAH DI LUAR. IA MENGIRA BISA MEMPERMALUKANKU KARENA LATAR BELAKANGKU. NAMUN KETIKA TAMU TERPENTING MEREKA—SEORANG MILIARDER YANG DITAKUTI BANYAK ORANG—DATANG DAN BERTERIAK, “DI MANA ANAKKU?!”, KEKAYAAN DAN KEHORMATAN KELUARGA SUAMIKU LANGSUNG RUNTUH DALAM SEKEJAP.**
## Budak di Rumah Sendiri
Namaku Clara, 26 tahun.
Sudah tiga tahun aku menikah dengan suamiku, Troy. Saat pertama kali bertemu dengannya, aku memperkenalkan diri sebagai gadis sederhana dari desa, seorang yatim piatu yang tidak memiliki keluarga.
Ia mencintaiku.
Namun setelah kami pindah ke mansion keluarganya, hidupku berubah menjadi mimpi buruk.
Keluarga Imperial adalah pemilik perusahaan sepatu besar. Ibu mertuaku, Doña Victoria, adalah wanita sombong yang memuja uang dan status sosial.
“Kau tidak memberi kontribusi apa pun di rumah ini, Clara! Dasar orang miskin!” bentaknya hampir setiap hari.
Ia memperlakukanku seperti pelayan.
Aku diusir dari kamar utama, dipaksa membersihkan seluruh mansion, dan harus melayani kebutuhan keluarga mereka.
Lalu bagaimana dengan Troy?
Ia berubah menjadi pengecut yang selalu tunduk kepada ibunya.
Yang tidak mereka ketahui, statusku sebagai “yatim piatu miskin” hanyalah penyamaran.
Aku adalah Clara Sterling, putri tunggal sekaligus pewaris Don Alejandro Sterling, miliarder paling kaya dan berpengaruh di Asia.
Aku meninggalkan kehidupan mewah keluargaku karena ingin menemukan seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan karena nama belakangku.
Aku mengira Troy adalah orang itu.
Namun keluarganya membuktikan bahwa hati mereka telah membusuk oleh keserakahan.
## Penghinaan di Pesta Mewah
Suatu malam, Doña Victoria mengadakan pesta makan malam besar.
Malam itu sangat penting karena perusahaan keluarga Imperial sedang berada di ambang kebangkrutan.
Mereka menunggu kedatangan Don Alejandro Sterling, miliarder yang mereka harapkan akan memberikan investasi sebesar **Rp1,5 triliun** untuk menyelamatkan bisnis mereka.
Sementara para politikus, pengusaha, dan miliarder menikmati anggur mahal di ruang makan megah, aku ditinggalkan sendirian di dapur.
Doña Victoria masuk dengan gaun berkilauan yang mewah.
“Hei, orang miskin!” katanya dengan nada menghina.
Ia mengambil sepiring kecil berisi sisa tulang ikan dan nasi dingin, lalu membantingnya di atas meja kecil dekat tempat sampah.
“Makan di sini saja! Jangan sekali-kali keluar dari dapur ini selama para tamu VIP masih ada! Kalau Don Alejandro melihatmu, dia mungkin akan mengira kami memelihara pengemis di rumah ini. Melihatmu saja sudah membuatku muak!”
Tak lama kemudian, Troy ikut masuk.
“Sayang, turuti saja Mama. Jangan mempermalukan kami malam ini. Kami sangat membutuhkan uang dari miliarder itu.”
Aku menatap mereka berdua.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku.
Aku duduk di sudut dapur yang gelap.
Bukan untuk memakan makanan sisa itu.
Melainkan untuk mengambil ponselku.
Lalu aku mengirim sebuah pesan singkat ke nomor pribadi yang hanya diketahui segelintir orang.
> Dad. I’m ready to come home.
## Mansion yang Berguncang
Tiga puluh menit kemudian, suara tepuk tangan dan sorak-sorai terdengar dari ruang makan utama.
Tamu yang mereka tunggu akhirnya tiba.
Para pelayan berlarian.
Musik berhenti.
Semua orang berdiri menyambut kedatangan sang miliarder.
Doña Victoria tersenyum lebar.
Troy bahkan sudah membayangkan bagaimana investasi raksasa itu akan menyelamatkan perusahaan keluarganya.
Namun beberapa detik kemudian…
Terdengar suara langkah kaki yang berat.
Lalu sebuah teriakan menggema ke seluruh mansion.

**”DI MANA ANAKKU?!”**
Suasana langsung membeku.
Tidak seorang pun berani bernapas.
Dan pada saat itu, dunia keluarga Imperial mulai runtuh sedikit demi sedikit…
Sang Singa Mencari Putrinya
Doña Victoria terpaku di tempatnya. Senyum palsu yang sudah ia persiapkan sejak sore mendadak kaku. Di ambang pintu ruang makan, Don Alejandro Sterling berdiri dengan setelan jas hitam legam, dikelilingi oleh belasan pengawal bersenjata yang langsung menutup semua akses keluar-masuk mansion.
Aura pria tua itu begitu menekan, membuat para pengusaha dan politikus yang hadir di pesta itu menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung sepasang mata sang elang bisnis Asia.
“D-Don Alejandro…” Troy maju dengan kaki gemetar, mencoba mencairkan suasana. “Selamat datang di kediaman kami. Maaf, apa maksud Anda dengan… anak Anda? Kami tidak tahu kalau Anda membawa putra atau putri Anda ke sini.”
Don Alejandro tidak memedulikan uluran tangan Troy. Ia melangkah maju, memukul meja makan panjang berlapis taplak sutra itu dengan tongkat berhulu emas miliknya.
BRAAAK!
“Jangan berlagak bodoh di depanku, Keparat!” raung Don Alejandro, suaranya menggelegar bagai petir yang meruntuhkan langit-langit mansion. “Asistenku melacak sinyal ponsel putri tunggalku, Clara Sterling, dan koordinatnya berhenti tepat di rumah busuk ini! Di mana dia?!”
Mendengar nama “Clara”, Doña Victoria tertawa hambar, mencoba menepis rasa takut yang mulai merayap di tengkuknya. “Don Alejandro, Anda pasti salah paham. Tidak ada Clara Sterling di sini. Satu-satunya Clara di rumah ini hanyalah seorang pembantu yatim piatu miskin dari desa yang kebetulan dinikahi anak saya karena kasihan. Dia sekarang sedang membersihkan sampah di dapur—”
“TUTUP MULUTMU, WANITA JALANG!”
Satu bentakan dari Don Alejandro membuat Doña Victoria tersentak mundur hingga menabrak pelayan di belakangnya. Wajah miliarder tua itu merah padam menahan murka yang tak terbendung.
“Putriku sengaja menyembunyikan identitasnya untuk mencari cinta sejati, dan kau… kau menyebut pewaris tunggal seluruh kekayaan Sterling Group sebagai pembantu?!”
Kembalinya Sang Pewaris
Sebelum Doña Victoria atau Troy sempat mencerna kebenaran yang mengerikan itu, pintu dapur yang gelap perlahan terbuka.
Aku melangkah keluar.
Tanpa celemek pelayan, tanpa kepala yang menunduk. Aku berjalan dengan punggung tegak, dagu terangkat, dan tatapan mata yang dingin menembus langsung ke dalam jiwa dua orang yang selama tiga tahun ini menginjak-injak harga diriku.
“Clara…?” Troy berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Matanya melebar, menatapku seolah melihat monster yang bangkit dari kubur.
“Dad,” panggilku tenang.
Begitu melihatku, sorot mata Don Alejandro yang tadinya sekeras baja langsung melunak, dipenuhi rasa bersalah dan kerinduan yang mendalam. Ia berlari kecil menghampiriku, mengabaikan statusnya sebagai orang paling ditakuti di benua ini, lalu memelukku erat.
“Maafkan Daddy, Clara… Maafkan Daddy karena membiarkanmu hidup menderita di tempat terkutuk ini,” bisik ayahku dengan suara barau menahan tangis.
Namun ketika mata ayahku menangkap noda minyak di gaun sederhanaku, dan aroma dapur yang melekat pada tubuhku, rahangnya kembali mengeras. Ia menatap ke arah dapur yang gelap, lalu melihat piring kecil berisi sisa tulang ikan yang masih tergeletak di meja sudut dapur yang terlihat dari luar.
“Kalian…” Don Alejandro berbalik, menunjuk tepat ke wajah Doña Victoria dan Troy. “Kalian memberi makan putriku… sisa makanan?!”
Kehancuran Total Keluarga Imperial
“Clara! Sayang! Tolong katakan ini tidak benar!” Troy langsung merangkak di atas lantai, bersujud di depan sepatuku, mencoba meraih kakiku dengan air mata yang mulai bercucuran. “Aku suamimu, Clara! Aku mencintaimu! Aku tidak tahu kalau kau putri Don Alejandro! Maafkan ibuku, dia hanya tidak tahu!”
Aku mundur selangkah, menatap Troy dengan pandangan jijik yang teramat sangat.
“Kau mencintaiku, Troy? Di mana cintamu saat ibumu mengusirku dari kamar utama? Di mana cintamu saat kau membiarkanku kelaparan sementara kau minum anggur mahal di luar?” tanyaku, suaraku bergema dingin di tengah keheningan ratusan tamu yang menonton dengan ngeri.
“Kau membiarkanku menjadi budak di rumahmu sendiri demi uang Rp1,5 triliun dari ayahku. Sekarang, nikmatilah hasil dari keserakanmu.”
Doña Victoria menjatuhkan dirinya ke lantai marmer, merangkak mendekati ayahku dengan wajah yang dipenuhi keputusasaan. “Don Alejandro, saya mohon! Perusahaan kami di ambang kebangkrutan! Jika Anda tidak memberikan investasi itu, kami akan kehilangan segalanya! Kami akan memperlakukan Clara seperti ratu, saya bersumpah!”
Don Alejandro tersenyum sinis, sebuah senyuman yang menandakan hukuman mati bagi bisnis keluarga Imperial.
“Investasi?” ayahku tertawa dingin. “Mulai detik ini, jangankan Rp1,5 triliun, satu peser pun uang dari Sterling Group tidak akan pernah menyentuh perusahaan sepatumu yang tidak berharga itu!”
Ayahku menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri di dekat pintu. “Hubungi seluruh bank mitra, tarik semua lini kredit keluarga Imperial. Hubungi pemasok bahan baku mereka, putuskan kontrak malam ini juga. Dan beli seluruh surat utang mereka, seret mereka ke pengadilan niat atas pasal pailit besok pagi!”
“Baik, Tuan Sterling,” jawab sang asisten tegas, langsung mengetikkan perintah di tabletnya.
“Clara, jangan!!! Aku mohon, jangan hancurkan keluargaku!” jerit Troy histeris, menjambak rambutnya sendiri saat menyadari bahwa dalam hitungan jam, ia akan berubah dari seorang direktur kaya menjadi gelandangan yang terlilit utang ribuan triliun.
“Ayo pergi, Clara. Tempat ini terlalu kotor untuk seorang Sterling,” kata Ayah sambil merangkul pundakku dengan penuh kasih sayang.
Aku berbalik, melangkah di atas hamparan karpet merah mansion bersama ayahku. Di belakangku, para tamu VIP berbondong-bondong pergi meninggalkan rumah itu, memutus semua hubungan bisnis dengan keluarga Imperial agar tidak ikut tertelan dalam pusaran kehancuran.
Doña Victoria pingsan di lantai marmer, sementara Troy terus menangis meraung-raung meratapi kebodohannya. Mereka ingin mempermalukanku karena latar belakangku, namun malam ini, mereka harus menerima kenyataan bahwa kesombongan mereka telah melenyapkan seluruh dunia yang mereka miliki.