Posted in

ROOMMATE-KU MEMAMERKAN GELANG YANG DIA CURI DARIKU… DIA TIDAK TAHU BAHWA SATU NOTIFIKASI KEAMANAN SAJA AKAN MENGHANCURKAN SELURUH AKHIR PEKAN YANG SEDANG DIBANGGAKANNYA

**ROOMMATE-KU MEMAMERKAN GELANG YANG DIA CURI DARIKU… DIA TIDAK TAHU BAHWA SATU NOTIFIKASI KEAMANAN SAJA AKAN MENGHANCURKAN SELURUH AKHIR PEKAN YANG SEDANG DIBANGGAKANNYA**

Namaku Angela Del Rosario, delapan belas tahun, mahasiswa baru di Universitas St. Gabriel di Manila.

Sejak awal kuliah, aku sudah tahu bahwa aku ingin menjalani kehidupan yang tenang.

Aku tidak ingin dikenal karena bisnis keluargaku.

Aku tidak ingin memiliki teman yang mendekat hanya karena keluargaku kaya.

Aku ingin merasakan kehidupan mahasiswa yang normal.

Karena itu, barang-barangku sederhana, pakaianku biasa saja, dan aku memilih tinggal di asrama kampus daripada di apartemen mewah yang ditawarkan Ayah.

Pada hari aku pindah ke asrama, Ibu menyerahkan sesuatu sebelum pergi.

Sebuah kotak beludru kecil.

Ketika kubuka, di dalamnya terdapat gelang yang sangat indah dari merek desainer mewah yang bahkan belum diluncurkan ke pasar.

“Hadiah masuk kuliah lebih awal,” katanya sambil tersenyum.

“Hanya ada satu prototipe yang dibuat. Gelang ini memiliki sistem keamanan dan fitur pelacakan. Jika ada yang mencoba melepas atau membukanya tanpa izin, sistem akan langsung mengirim peringatan.”

Saat itu aku tertawa.

Rasanya berlebihan memiliki sistem keamanan untuk sebuah gelang.

Tetapi karena itu hadiah dari Ibu, aku tetap memakainya dan mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya adalah hari orientasi mahasiswa baru.

Di situlah aku mengenal lebih dekat teman sekamarku, Danica Villareal.

Kesan pertamaku, dia tampak ramah.

Murah senyum.

Mudah bergaul.

Suka bercerita.

Namun semakin lama aku mendengarkannya, semakin kusadari bahwa hampir semua ceritanya berkisar tentang uang, merek-merek mewah, resor pribadi, dan koneksi keluarganya dengan berbagai pengusaha terkenal.

Aku tidak terlalu memikirkannya.

Sampai orientasi selesai.

Tiba-tiba Danica berdiri di tengah kelas dan mengangkat kunci sebuah mobil sport.

“Teman-teman,” katanya dengan suara lantang sambil tersenyum, “akhir pekan ini kita pergi liburan. Aku yang bayar vila, makanan, transportasi, dan semua aktivitas. Kalian tinggal bersenang-senang saja.”

Seluruh kelas langsung bersorak.

Ada yang bertepuk tangan.

Ada yang berteriak kegirangan.

Bahkan ada yang bercanda ingin diadopsi olehnya.

Dalam hitungan menit, Danica seperti menjadi ratu angkatan.

Sementara aku tetap duduk diam di belakang.

Sampai dia menghampiriku.

“Angela,” katanya sambil tersenyum, “ikut juga ya. Kita kan teman sekamar. Sayang kalau kamu tidak ikut.”

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.

Di pergelangan tangannya ada gelangku.

Persis sama.

Termasuk goresan kecil di sampingnya.

Termasuk nomor seri yang terukir di bagian bawah.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Karena aku sangat yakin itu gelang milikku.

Namun aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku tidak membuat keributan.

Aku juga tidak menuduhnya.

Aku hanya menatapnya dengan tenang.

“Memangnya gelangmu itu bagus ya?” tanyaku.

Dia sempat terdiam sesaat sebelum tersenyum.

“Hadiah ulang tahun dari Daddy.”

Teman-teman sekelas langsung kagum.

“Wah, keren banget!”

“Limited edition ya?”

“Danica, kamu benar-benar sultan!”

Sementara itu, aku diam-diam berjalan keluar kelas.

Begitu sampai di lorong kampus, aku langsung menelepon Kak Marco.

Dan di situlah aku memulai rencanaku…

membiarkan Danica menghancurkan pertunjukannya sendiri.

“Kak Marco,” panggalku begitu sambungan telepon terhubung. “Aset prototipe gelang dari Ibu yang sedang kupakai… ada yang mengambilnya.”

Di seberang telepon, suara Kak Marco yang biasanya santai langsung berubah menjadi sedingin es. “Siapa? Perlu Kakak kirim tim pengaman kampus ke sana sekarang?”

“Jangan dulu, Kak,” ujarku sambil bersandar di dinding lorong, menatap Danica yang masih dikerumuni teman-teman sekelas melalui celah pintu. “Dia teman sekamarku. Namanya Danica Villareal. Dia baru saja mengumumkan akan mentraktir seluruh angkatan liburan akhir pekan ini di sebuah vila mewah untuk memamerkan posisinya… dan gelang itu.”

Kak Marco terkekeh meremehkan. “Villareal? Bisnis beton kelas menengah itu? Berani-beraninya. Jadi, apa maumu, Angela?”

Aku tersenyum tipis. “Aktifkan pelacakan GPS-nya secara konstan, tapi jangan kunci gelangnya sekarang. Biarkan dia membawa semua orang ke vila itu esok hari. Aku ingin sistem keamanannya meledak tepat di puncak pertunjukannya.”

“Dimengerti. Akses sistem back-end kuserahkan padamu.”

Akhir Pekan di Vila Impian

Keesokan harinya, suasana keberangkatan sangat meriah. Dua bus pariwisata mewah yang disewa Danica siap mengangkut hampir seluruh mahasiswa baru angkatan kami menuju sebuah resor privat mewah di daerah Tagaytay. Danica berdiri di pintu bus, menyambut semua orang bagai seorang pelindung yang dermawan.

Pergelangan tangan kanannya sengaja diangkat tinggi-tinggi, membiarkan gelang prototipe emas putih bertahtakan berlian itu berkilau tertimpa cahaya matahari.

“Angela! Ayo masuk, jangan malu-malu,” sapa Danica dengan nada merendahkan yang dibungkus keramahan saat aku berjalan melewati pintu bus.

“Terima kasih, Danica. Gelangmu benar-benar berkilau hari ini,” kataku tenang.

Dia membusungkan dadanya bangga. “Tentu saja. Daddy memesannya khusus dari Paris. Tidak semua orang bisa menyentuh barang seperti ini.”

Aku hanya tersenyum dan berjalan ke kursi paling belakang.

Pesta Berubah Menjadi Petaka

Sabtu malam adalah puncak acara. Danica menggelar pesta kolam renang dengan DJ dan prasmanan mewah. Di bawah lampu sorot, Danica berdiri di atas podium kecil di tepi kolam, memegang mikrofon untuk memberikan sambutan. Semua orang bertepuk tangan, memujanya seolah dia adalah pusat semesta.

Aku berdiri di sudut yang gelap, memegang segelas jus, dan mengeluarkan ponselku. Aku membuka aplikasi keamanan khusus keluarga Del Rosario. Di layar, titik merah berkedip tepat di posisi Danica, menunjukkan status: Stolen Asset Detected.

Aku menggeser tombol di layar: [ACTIVATE ANTI-THEFT PROTOCOL & REPORT]

Tepat saat Danica berteriak, “Mari kita mulai pestanya—”, sebuah suara alarm bervolume tinggi dan melengking tiba-tiba berbunyi.

BEEP! BEEP! BEEP!

Semua orang tersentak. DJ menghentikan musiknya. Sumber suara itu bukan dari pengeras suara pesta, melainkan dari pergelangan tangan Danica.

Gelang mewah itu tiba-tiba mengunci diri dengan sangat ketat hingga membuat Danica memekik kesakitan. Tidak hanya itu, lampu LED merah kecil tersembunyi di dalam jalinan berliannya mulai berkedip cepat, dan sebuah suara komputerik yang lantang keluar dari sensor kecil gelang tersebut:

“Peringatan Keamanan. Aset Prototipe Del Rosario Luxury Corp Nomor Seri DR-0091 telah dipindahkan tanpa izin. Sistem terkunci. Pihak berwajib dan tim pengamanan terdekat telah dialokasikan ke koordinat ini.”

Suara itu menggema di seluruh area resor yang mendadak hening.

“A-apa ini?! Mati! Bagaimana cara mematikannya?!” Danica panik, wajahnya memucat seketika saat dia mencoba menarik gelang itu, tetapi sistem pengunci hidrolik mikronya tidak akan terbuka tanpa sidik jari ibuku atau pemindai wajahku.

Sebelum ada yang sempat mencerna apa yang terjadi, suara raungan sirine polisi memecah keheningan malam. Tiga mobil patroli bersama dua SUV hitam berlogo Del Rosario Security menerobos gerbang resor.

Ratu yang Jatuh

Belasan petugas keamanan bertubuh tegap dan polisi bersenjata langsung mengepung area kolam renang. Di depan mereka, berdiri Kak Marco yang mengenakan setelan jas rapi, menatap Danica dengan pandangan menjijikkan.

“Siapa di antara kalian yang bernama Danica Villareal?” tanya komandan polisi dengan tegas.

“S-saya… Ada apa ini? Ini salah paham! Ini gelang saya!” jerit Danica, air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang tebal.

“Gelang Anda?” Kak Marco melangkah maju, memancarkan aura otoritas yang membuat seluruh mahasiswa mundur ketakutan. “Gelang itu adalah prototipe berharga jutaan peso yang bahkan belum dirilis ke publik oleh perusahaan keluarga kami. Dan adikku, Angela, adalah pemilik sahnya.”

Mendengar nama “Del Rosario” dan melihat Kak Marco, beberapa anak langsung berbisik heboh. Mereka sadar siapa yang sedang berdiri di depan mereka—pewaris salah satu konglomerat terbesar di Filipina.

Kak Marco menoleh ke arahku yang sedang berjalan keluar dari kegelapan.

“Angela…” Danica menatapku dengan mata terbelalak, seluruh tubuhnya gemetar hebat. “Kamu… kamu…”

Aku berjalan mendekat, lalu mengarahkan wajahku ke arah sensor gelang di tangannya. Klik. Bunyi mekanis terdengar, dan gelang itu terlepas dengan sendirinya, jatuh tepat ke telapak tanganku.

“Aku sudah bertanya kemarin apakah gelang ini bagus, Danica,” kataku dengan nada sedingin es, cukup keras untuk didengar oleh seluruh angkatan yang kini menatap Danica dengan pandangan jijik dan tidak percaya. “Kamu bilang ini hadiah dari Daddy-mu di Paris. Ternyata, ‘Daddy’ yang kamu maksud adalah laci meja riasku di kamar asrama.”

“Angela, maafkan aku! Aku hanya ingin meminjamnya! Aku hanya ingin terlihat keren!” Danica berlutut di lantai beton, menangis histeris di depan semua orang yang beberapa menit lalu memujanya.

“Bawa dia,” perintah komandan polisi. Danica langsung diborgol dan diseret keluar dari resor di hadapan seluruh teman sekelasnya yang kini menatapnya dengan pandangan penuh cemooh. Pertunjukan besarnya telah berubah menjadi sebuah penghinaan publik yang paling memalukan.

Kak Marco menatap seluruh mahasiswa yang membeku, lalu melihat ke arahku sambil tersenyum. “Jadi, liburan akhir pekan ini selesai, Nona Muda?”

Aku memakai kembali gelangku, menatap sisa pesta yang hancur, lalu menjawab sambil berlalu, “Belum. Vila ini sudah dibayar, kan? Biarkan teman-teman menikmati sisa malam ini atas nama Danica yang malang. Aku akan pulang menggunakan mobilmu, Kak.”