Posted in

Tiba-tiba Ibuku Menelepon ke Fasilitas Riset Rahasia Tempatku Bekerja, Memaksaku Pulang untuk Bertemu dengan Seorang Pria yang Ingin Mereka Perkenalkan.**

Tiba-tiba Ibuku Menelepon ke Fasilitas Riset Rahasia Tempatku Bekerja, Memaksaku Pulang untuk Bertemu dengan Seorang Pria yang Ingin Mereka Perkenalkan.**

Menurut mereka, keluarganya sangat terkenal di daerah kami, kaya raya, bahkan memiliki jaringan pusat perbelanjaan terbesar di provinsi itu.

Sebelum aku berangkat, atasanku berulang kali mengingatkan:

“Jangan sampai identitasmu yang sebenarnya terbongkar.”

Aku hanya mengangguk tenang.

Lagipula, aku pulang hanya untuk menenangkan hati kedua orang tuaku.

Pesawat lepas landas tepat waktu.

Aku baru saja menemukan kursi dekat jendela ketika seseorang tiba-tiba mendorongku dari belakang.

“Geser.”

Suara perempuan yang tajam terdengar di kabin.

Saat menoleh, aku melihat seorang wanita berpakaian mewah, mengenakan kacamata hitam gelap, diikuti dua pria berjas yang membawa banyak tas.

Dia melirik nomor kursiku, lalu tanpa basa-basi melemparkan sebuah amplop tebal berisi uang ke sandaran tangan kursi.

“Aku mau kursi ini. Ambil uangnya dan pergi.”

Aku mengernyit.

“Maaf, tapi kursi ini memang milikku.”

Mendengar itu, dia tertawa meremehkan.

“Milikmu?”

Perlahan dia melepas kacamata hitamnya.

Tatapannya penuh kesombongan.

“Kakakku adalah salah satu investor terbesar maskapai ini.”

“Di kota ini, tidak ada yang berani menentang keluarga Santiago.”

Aku sedikit tertegun.

**Keluarga Santiago?**

Kebetulan yang menarik.

Pria yang akan diperkenalkan orang tuaku kepadaku…

juga bermarga **Santiago**.

Melihat aku terdiam, dia semakin sombong.

“Ada apa?”

“Takut sekarang?”

“Dengarkan. Mood-ku sedang buruk. Kalau kamu masih tidak mau pindah, aku akan memastikan kamu diturunkan dari pesawat ini.”

Aku menatap amplop uang di sampingku lalu menjawab dengan dingin.

“Hanya karena kamu kaya bukan berarti kamu bisa melakukan apa saja.”

“Kamu sudah mencoba merebut kursiku, sekarang malah ingin mengusirku?”

Wajahnya langsung berubah gelap.

“Kamu tahu tidak sedang bicara dengan siapa?”

Pria di belakangnya ikut menyela.

“Nona, lebih baik Anda diam saja. Tidak ada keuntungan melawan keluarga Santiago.”

Perlahan para penumpang lain mulai memperhatikan keributan kami.

Bisik-bisik segera terdengar.

“Bukankah dia adik dari pemilik perusahaan besar itu?”

“Kudengar sifatnya memang buruk.”

“Kasihan wanita yang duduk di sana…”

Namun bagiku, semua ini justru terasa lucu.

Sejak kecil sampai sekarang, sangat jarang ada orang yang berani merebut barang milikku lalu mengancamku di saat yang sama.

Perlahan aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau begitu…”

“Aku juga ingin tahu apakah keluarga Santiago memang bersikap seperti ini.”

Setelah mengatakan itu, aku langsung menelepon pria yang dikenalkan orang tuaku.

Butuh beberapa saat sebelum dia mengangkat telepon.

Ketika akhirnya suaranya terdengar, nadanya dingin dan jelas sedang sibuk.

“Siapa ini?”

Aku menjawab dengan tenang.

“Apakah kamu mengenal seorang wanita yang mengaku anggota keluarga Santiago dan sedang mencoba memaksaku turun dari pesawat?”

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan di seberang sana.

Namun tepat pada saat itu…

Wajah wanita di depanku tiba-tiba berubah.

Karena ponselnya berdering bersamaan.

Begitu melihat nama penelepon, ekspresinya langsung membeku.

“K-Kakak?”

Seluruh kabin mendadak sunyi.

Dengan tangan gemetar dia menjawab panggilan itu.

Dan pada detik berikutnya, suara marah seorang pria terdengar dari speaker ponselnya—cukup keras hingga aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku mau tanya satu hal.”

“Apakah wanita yang duduk di depanmu memakai kemeja putih dan jam tangan perak?”

Senyum angkuh di wajahnya langsung menghilang.

Sementara aku…

perlahan mengangkat kepalaku menatapnya.

Lalu tersenyum.

Wajah wanita itu mendadak pucat pasi. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi kesombongan kini berubah menjadi ketakutan yang amat sangat. Ponsel di tangannya bergetar hebat saat suara kakaknya kembali menggelegar dari seberang telepon.

“Jawab aku, Siska! Apakah dia memakai kemeja putih dan jam tangan perak?!”

“I-iya, Kak…” suara wanita itu mencicit, hampir tak terdengar. “Kenapa Kakak bisa tahu? Dia hanya penumpang biasa yang—”

“Tutup mulutmu!” bentak kakaknya, memotong kalimat Siska dengan nada yang dipenuhi kepanikan luar biasa. “Kau tahu siapa yang baru saja kau usir?! Dia adalah tamu paling terhormat yang sudah berbulan-bulan diusahakan oleh Ayah dan Ibu untuk ditemui! Bahkan demi bisa memperkenalkannya pada keluarga kita, Ayah sampai harus meminta bantuan dari petinggi militer!”

Mendengar hal itu, dua pengawal berjas di belakang Siska langsung saling pandang dengan wajah tegang. Seluruh kabin pesawat yang tadinya berbisik-bisik kini benar-benar senyap. Semua mata tertuju pada Siska yang tubuhnya mulai lemas.

“K-Kak… tapi dia hanya…” Siska menatapku dengan pandangan tidak percaya. Jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tanganku bukanlah jam tangan mewah bermerek, melainkan perangkat komunikasi taktis terenkripsi dari fasilitas riset rahasia negara—sesuatu yang uang pun tidak akan pernah bisa membelinya.

Suara pria di telepon beralih menjadi memohon, dan kali ini dia berbicara langsung kepadaku melalui panggilan di ponselku yang masih terhubung.

“Nona… mohon maafkan kelancangan adik saya. Saya, Tio Santiago. Saya bersumpah tidak tahu dia akan berada di penerbangan yang sama dengan Anda, apalagi berbuat sebodoh ini. Tolong jangan batalkan pertemuan kita. Keluarga kami sangat mengharapkan kehadiran Anda.”

Aku menatap Siska yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Amplop tebal berisi uang yang tadi dilemparkannya ke sandaran tanganku kini buru-buru dia ambil kembali dengan tangan gemetar.

“Keluarga Santiago ternyata sangat berkuasa, ya?” ujarku tenang, namun dingin. “Sampai-sampai bisa menurunkan penumpang sesuka hati.”

“Tidak, Nona! Saya mohon…” Siska menyela dengan suara bergetar, egonya runtuh sepenuhnya. “Saya minta maaf. Saya yang bodoh, saya yang tidak tahu sopan santun. Tolong jangan beri tahu Ayah… saya mohon.”

Aku menghela napas pelan, lalu berbicara ke ponselku. “Tuan Santiago, kurasa pertemuan kita sebaiknya dijadwalkan ulang. Suasana hatiku sedang kurang baik untuk membicarakan perjodohan atau apa pun yang direncanakan orang tua kita.”

“Nona, tolong—”

Sebelum Tio sempat menyelesaikan kalimatnya, aku sudah mematikan sambungan telepon. Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, lalu menatap Siska dan kedua pengawalnya yang masih berdiri mematung di lorong kabin.

“Sekarang,” kataku sambil memperbaiki posisi dudukku ke arah jendela. “Bisa tolong tinggalkan aku sendiri? Penerbangan ini cukup panjang dan aku butuh istirahat.”

Tanpa babibu lagi, Siska dan kedua pengawalnya segera mundur teratur dengan wajah pucat dan kepala tertunduk, menjauh ke barisan kursi paling belakang tanpa berani bersuara lagi. Para penumpang lain yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa tertegun, menyadari bahwa wanita kemeja putih di depan mereka bukanlah orang sembarangan.

Aku menatap keluar jendela, melihat hamparan awan yang mulai terlihat saat pesawat mulai bergerak di landasan pacu.

Aku tersenyum tipis mengingat pesan atasanku sebelum berangkat. “Jangan sampai identitasmu yang sebenarnya terbongkar.”

Setidaknya, aku tidak membongkar bahwa aku adalah kepala periset teknologi militer strategis negara. Aku hanya menunjukkan pada keluarga Santiago, bahwa di atas langit yang mereka kuasai, masih ada langit yang jauh lebih tinggi.