Langkah kakiku menghe ntak lantai keramik rumah Ibu Ruskinah dengan ritme yang berat dan penuh tuntutan. Aku tidak lagi berjalan sebagai menantu yang penurut, melainkan sebagai seorang ibu yang hatinya baru saja dicab ik-cab ik. Kanza mengekor di belakangku, jemari kecilnya mence ngkeram erat pinggiran dasterku yang masih basah oleh bekas cucian piring.
Di tengah ruang utama, Mbak Lastri sedang berdiri dengan anggun di balik meja prasmanan, memegang sendok besar sambil tertawa lebar melayani seorang tamu jauh. Wajahnya yang dipoles riasan tebal itu tampak sangat kontras dengan pemandangan Kanza yang sembap.
“Kenapa Mbak gak ngasih Kanza makan?” tanyaku, suaraku rendah namun tajam, memotong gelak tawa yang sedang berlangsung.
Mbak Lastri tersentak. Ia meletakkan sendok besarnya dengan denting yang keras, lalu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan j ijik. “Apa maksud kamu sih, Num? Datang-datang nanya sinis begitu. Gak sopan sekali depan tamu!”
“Aku tanya, kenapa anakku tidak kalian beri makan? Mbak lupa, nasi dan semua hidangan mewah di depan Mbak ini dibeli pakai uwang siapa? Ini semua atas jerih payahku!” suaraku mulai naik satu oktav, mengundang pasang mata di sekitar kami untuk menoleh.
Wajah Mbak Lastri memerah, bukan karena malu, tapi karena murka rahasianya terbongkar di depan orang lain. Ia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Kanza yang ketakutan di balik punggungku.
“Heh, bo cah! Kamu sedang memfit nah Bude, ya? Kamu itu sudah makan berkali-kali, kan? Bude cuma bilang tahan dulu, jangan rakus, nanti baru ambil lagi kalau sudah sepi. Jadi anak kecil kok lic ik begitu, pinter banget men gadu!”
Kanza semakin meringkuk, tubuhnya gemetar hebat. “Aku… aku tidak bohong. Kanza belum makan dari pagi, Bude…” bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan isak tangis.
Aku mendengus kuat, tawa sinis keluar dari mulutku. Rasanya perih sekali melihat anakku dituduh berbohong oleh orang dewasa yang seharusnya melindunginya. “Hanya sepiring nasi saja aku dan anakku tidak berhak ya di sini? Padahal aku yang keluar uwang puluhan jut a untuk sapi dan katering ini?”
“Apa sih kamu, Num! Kamu lebih percaya pada dongeng anakmu ini?” Mbak Lastri berkacak pinggang, suaranya kini melengking tinggi hingga musik gamelan pun tak mampu menutupinya. “Tidak heran, baik kamu dan anakmu sama-sama licik. Memang keturunan orang gak bener, ya begini hasilnya!”
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih, men usuk telapak tanganku sendiri. Hinaan untukku bisa kutelan, tapi menyebut ana kku licik adalah batas yang tak boleh dilalui.
“Hanum! Kamu sedang apa sih? Bukannya kerja di belakang, malah buat keributan di sini!”
Suara bariton yang ta jam itu milik Ibu Ruskinah. Beliau muncul dari kerumunan dengan wajah yang kaku karena menahan m alu. Di belakangnya, Wida menyusul dengan gaun pengantinnya yang menjuntai indah—gaun yang sisa ci cilannya baru saja kul unasi bulan lalu.
“Aduh Mbak Hanum, jangan malu-maluin dengan bikin keributan deh. Ini hari pernikahanku, hari bahagiaku! Baiknya Mbak balik ke dapur sekarang, cuci itu piring-piring kotor daripada bikin rusuh,” timpal Wida dengan nada meren dahkan, seolah aku adalah pelayan sew aan yang sedang mo gok kerja.

“Ayo Num, jangan keras kepala. Balik ke belakang!” Mbak Nunung tiba-tiba muncul dan mencengkeram lenganku, hendak menyeretku menjauh dari meja prasmanan.
Aku menepis tangan Mbak Nunung dengan sentakan kasar hingga ia terhuyung. Pandanganku beralih ke sekeliling. Di sana ada Mas Feri, suamiku, yang hanya berdiri mematung di kejauhan bersama wanita cantik tadi. Ia melihatku, ia melihat Kanza menangis, tapi ia diam saja. Ia memilih untuk menjaga “ketenangan” keluarga besarnya daripada membela martabat anak istrinya.
Detik itu, sesuatu di dalam da daku patah. Sesuatu yang selama ini kusebut sebagai pengabdian, han cur berkeping-keping menjadi debu. Jadi, mereka sama sekali tidak ingin menghargaiku, ya? Bahkan anakku, d arah da ging mereka sendiri, dianggap sebagai sam pah yang merusak pemandangan?
Kesabaranku sudah mencapai titik nadir. Emosiku meluap, mendidih, dan naik sampai ke ub un-ubu n. Kepalaku terasa panas dan pandanganku memerah.
“Oh, jadi kalian mau aku tahu tempatku?” suaraku kini terdengar tenang, namun dingin seperti es.
Tanpa aba-aba, tanganku menyambar ujung kain satin mahal yang melapis meja prasmanan utama. Kain itu berwarna putih bersih, di atasnya berderet pemanas tembaga berisi rendang premium, ayam bumbu, dan segala hidangan yang aromanya sangat menggoda.
“Karena kalian bilang ana-kku tidak pantas makan dari sini, maka tidak ada satu pun dari kalian yang boleh menikmatinya!”
Dengan satu sentakan kuat yang bersumber dari seluruh kemarahan yang kupendam bertahun-tahun, aku menarik kain pelapis meja itu sekuat tenaga.
BRAKKKK! PRANGGG!
Suara bent-uran logam dan porselen pecah memenuhi ruangan. Seluruh piring saji tergu-ling. Kuah rendang yang hitam pekat dan berminyak tumpah ruah, menciprat ke mana-mana—mengenai kebaya mahal Ibu Ruskinah, menya mbar gaun putih Wida, dan membasahi sepatu kulit Mbak Lastri. Daging-daging yang kumasak dengan peluh itu kini berserakan di atas lantai, bercampur dengan peca han kaca.
Keheningan yang mencekam mendadak menyergap ruangan itu. Ibu Ruskinah mematung dengan mulut menganga, menatap noda rendang yang mengotori dada kebayanya. Wida menj erit histeris melihat gaun pengantinnya rusak total.
Aku berdiri tegak di tengah kehancuran itu, menggandeng tangan Kanza yang kini berhenti menangis karena terkejut. Aku menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang tak lagi mengandung rasa takut.
“Silakan makan dari lantai kalau kalian merasa sangat terhormat,” ucapku pe das. “Mulai detik ini, tidak akan ada lagi uwang atau tenaga dariku untuk keluarga ini. Kita selesai.”