Saat ma lam pertama, dia justru ….
“Apa yang kulakukan sudah tepat. Itu yang terbaik.”
Aku menatap pantulan diriku di cermin rias kayu jati yang terlihat kusam. Di ka marku ini, aroma tembakau yang sedang dijemur di halaman depan terci um pekat, membuatku ingin segera berangkat ke ibukota.
“Nduk, coba pikirkan lagi keputusanmu,” bisik Ibu di atas kereta kuda tadi. Dia menggenggam tanganku, mencoba mengubah keputusanku.
“Puspa sudah bulat, Bu,” balasku sambil melepaskan diri dan menatap lurus ke depan. “Di desa ini, nggak ada yang bisa diharapkan meskipun aku jadi istri seorang juragan.”
Butuh satu jam untuk meninggalkan kediaman keluarga Pramoda. Isak tangis Ibu yang menya yat hati, meratapi nasib keluarga kami, masih tak kunjung berhenti.
Tapi aku? Sedikit pun keyakinanku takkan goyah.
“Maafkan mbakmu ini, Sukma,” bisikku pada bayangan adikku yang seolah melintas di beningnya kaca. Meski dia tak berucap sepatah pun kata, aku yakin dia sebenarnya tidak ingin menjadi istri juragan Jagatnata.

“Cukup, Puspa!” Aku menggeleng tegas dan bangkit, menghem pas rasa bersalah yang tebersit di hati kecilku. Tanganku bergerak cepat memasukkan beberapa po tong baju ke dalam tas. Tidak ada gunanya lagi berdiam diri di tempat ini. Aku harus segera pergi.
Berbohong bahwa aku tidak lagi pera wan adalah satu-satunya cara yang bisa kupakai untuk memutus diriku dari tradisi bu suk ini.
Aku tahu betul karakter Jagatnata. Pria itu adalah perwujudan dari batu karang yang keras, dingin, dan menuntut kesempurnaan mutlak. Baginya, istri haruslah mahkota tanpa cela.
Sekali aku mengaku sebagai ‘barang bekas’, dia akan merasa terhi na bahkan untuk sekadar membayangkan kulitku menyen tuh kulitnya.
“Sejak kecil, aku mau jadi Dokter. Aku ingin berdiri di bawah lampu operasi yang benderang, menyelamatkan nyawa, bukan menghamba sepanjang masa pada suami dan keluarganya. Itu nggak boleh terjadi!”
Aku tidak mau menjadi pajangan di rumah Joglo keluarga Pramoda yang mencekam itu. Aku tidak mau menghabiskan masa mudaku hanya untuk melayani suami yang sepanjang hari mengurus daun tembakau.
Jiwaku yang bebas pun tak akan cocok jika dipaksa ‘manut’ seperti para abdi dalem yang gerak-geriknya diatur tata krama abad pertengahan.
“Pikirkan baik-baik. Lima ratus ju ta, penja ra, atau dia.”
Bisikan bernada ancaman itu kembali terngiang di telingaku. Aku ingin dia muak dan membatalkan niatnya melamarku. Siapa sangka, Sukma harus menanggung akibatnya.
“Lima ratus ju ta … mustahil untuk mengumpulkannya dalam waktu satu bulan,” gumamku lirih.
Itu angka yang sangat besar untuk ukuran keluarga kami. Tapi aku juga tahu, keluarga Pramoda tidak akan memenjarakan Bapak dan Ibu. Mereka terlalu terhormat untuk melakukan itu. Mereka hanya butuh pengganti. Dan Sukma adalah jalan keluar terakhirnya.
Ting!
Pesan masuk di ponselku. Dari teman kuliah di Jakarta.
[Pus, jadwal koas minggu depan sudah keluar. Kamu masuk divisi bedah.]
Jan tungku berdegup kencang. Inilah hidupku yang sebenarnya. Da rah, pi sau bedah, dan hiruk pikuk kota. Bukan aroma melati dan asap menyan yang menyelimuti rumah keluarga Pramoda.
Mataku menangkap tumpukan buku kedokteranku. Semua itu dibe li menggunakan u ang keluarga Pramoda.
Hanya tinggal selangkah lagi, aku ingin berjalan di koridor rumah sa kit modern di Jakarta, memakai jas putih, bukan kebaya ketat yang membuatku sulit bernapas. Aku tidak mungkin menyerah begitu saja.
Jika aku menikah dengan Jagatnata, mimpiku paling jauh hanya akan mentok di klinik kecil di pinggir desa, melayani pasien yang memba yarku dengan doa dan u ang receh yang tak seberapa.
Pandanganku beralih ke arah jendela yang menghadap ke halaman. Di sana, terlihat Sukma sedang membantu Bapak membalik tembakau yang sudah setengah kering.
Adikku itu… dia berbeda sekali sifatnya denganku. Dia lembut, penurut, dan tidak pernah punya nyali untuk melihat apa yang ada di balik batas cakrawala desa ini.
“Kamu cocok hidup selamanya di desa ini, Sukma, tapi akun nggak!” bisikku lirih, hanya terdengar oleh sepasang telingaku sendiri.
Baginya, pengabdian adalah segalanya. Dia akan sanggup menahan dinginnya tatapan Jagatnata, termasuk ketus sikapnya. Dia pasti akan baik-baik saja.
Sukma adalah gadis desa yang ‘cukup’ dengan apa yang ada di depan mata. Sementara aku? Aku adalah badai yang butuh ruang luas untuk bergerak. Jika dipaksa tinggal, aku tak segan untuk menghan curkan segalanya.
“Jangan sampai ada yang tertinggal. Semua berkas penting sudah masuk. Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari menyentuh pucuk pohon tembakau, aku harus sudah pergi.”
Aku akan meninggalkan kehan curan ini.
Biarlah Sukma yang menjadi ‘persembahan’ untuk menebus setiap rupiah yang sudah kutelan.
Aku egois?
Memang. Tapi di dunia yang dipimpin pria-pria kaku seperti Jagatnata dan Romo Rakai, wanita tanpa ego tidak akan pernah punya suara.
“Selamat berjuang mela yani juragan Jagatnata, Sukma,” gumamku sambil memejamkan mata.
“Suatu hari nanti, aku pasti akan mene busmu. Bersabarlah sedikit lebih lama, setidaknya kamu bisa tinggal di rumah mewahnya tanpa takut keba sahan saat hujan.”