Pagi-pagi sekali, kediaman Mas Pram sudah riuh oleh suara Ibu Wulan yang sibuk mengarahkan asisten rumah tangga untuk membersihkan ruang tamu. Aroma pengharum ruangan beraroma mawar yang sangat kuat memenuhi udara, seolah-olah akan ada kunjungan kenegaraan.
Aku hanya memperhatikan dari dapur sambil menyiapkan botol susu dan perlengkapan imunisasi Eliana. Aku sengaja memakai setelan blus satin warna nude dan celana kain yang rapi namun tetap simpel.
“Devi, Kamu sudah dengar, kan? Siska sebentar lagi datang. Tolong, jangan buat malu. Pastikan Eliana wangi dan jangan sampai rewel. Siska itu orangnya sangat bersih, dia tidak suka bau termasuk bau bayi yang belum mandi!” teriak Ibu Wulan dari ruang tengah.
Aku berjalan keluar sambil menggendong Eliana yang sudah cantik memakai baju terusan rajut tipis. “Eliana sudah mandi sejak subuh tadi, Bu. Kalau rewel, itu tergantung siapa yang menggendongnya. Bayi punya insting kuat terhadap orang baru.”
Belum sempat Ibu Wulan membalas, suara klakson mobil terdengar di depan. Seorang wanita dengan gaun selutut yang sangat modis, rambut dicat kecokelatan, dan kacamata hitam bertengger di kepalanya masuk dengan penuh percaya diri. Dialah Siska.
“Tante Wulan …,” seru Siska manja, memeluk Ibu Wulan dengan akrab.
“Aduh, Siska sayang! Kamu cantik sekali. Sayangnya Pram sudah berangkat ke kantor, tapi dia bilang dia akan usahakan pulang makan siang nanti untuk menyambutmu,” bohong Ibu Wulan. Aku tahu persis tadi Mas Pram bilang padaku bahwa dia akan rapat sampai sore.
Mata Siska kemudian beralih padaku, atau lebih tepatnya pada Eliana. “Oh, ini anaknya Dewi ya? Lucu sekali ….”
Siska melangkah mendekat. Aroma parfumnya menyengat, yang terlalu berat untuk penciuman bayi. Benar saja, Eliana mulai menggeliat tidak nyaman di gendonganku, hidung kecilnya kembang kempis.
“Sini, biar aku gendong. Aku kangen banget sama anak sahabatku ini.”
Siska mengulurkan tangan tanpa permisi.
“Maaf, Mbak Siska. Eliana baru saja minum susu, biasanya dia suka gumoh kalau langsung berpindah tangan. Parfum Mbak juga sepertinya terlalu kuat wanginya,” ucapku dengan nada sopan tapi tegas.
Wajah Siska berubah kaku. Senyumnya goyah.
“Eh, kamu kurang ajar sekali melarangku. Emangnya kamu siapa? Baby sitter baru?”
Aku tak menjawab, membiarkan Ibu Wulan tertawa sinis.
“Ini Devi, adiknya Dewi. Kamu tahu kan soal wasiat itu … Jadi dia yang ‘menggantikan’ peran Dewi sekarang.”
Istilah ‘menggantikan’ yang ditekankan Ibu Wulan sangat jelas maksudnya, bahwa aku hanya pemeran pengganti yang tidak punya nilai lebih.
Siska menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
“Oh, adiknya. Pantesan … wajahnya agak mirip, tapi vibe-nya beda banget ya. Dewi itu dulu lembut dan elegan, nggak kaku begini.”
“Terima kasih atas pujiannya, Mbak Siska. Lembut atau kaku itu soal perspektif. Yang penting bagi Eliana adalah kenyamanan dan keamanan, bukan sekadar penampilan luar,” balasku tenang. Aku langsung berbalik menuju dapur untuk mengambil tas bayi.
Satu jam berlalu. Ibu Wulan dan Siska terus mengobrol di ruang tamu, memuji-muji masa lalu Pram dan Dewi seolah aku tidak ada di sana. Aku tetap tenang, duduk di sudut sofa sambil menimang Eliana.
Tiba-tiba, Siska berdiri dan mendekatiku lagi.
“Devi, aku mau coba gendong Eliana sebentar saja. Aku sudah bawa kado baju dari Australia, aku mau lihat apa ukurannya pas.”
Siska tidak menunggu persetujuanku. Dia langsung meraih ketiak Eliana. Karena tidak ingin terjadi tarik-menarik yang bisa membahayakan bayi, aku terpaksa melepaskannya.

Begitu berpindah tangan, Eliana langsung terbangun. Matanya terbuka lebar, menatap wajah Siska yang penuh riasan tebal. Sedetik kemudian …
“Oeeekk! Oeeekk!”
Eliana menangis kencang. Tubuhnya menegang, kakinya menendang-nendang. Siska yang tidak terbiasa menggendong bayi tampak panik. Posisi gendongannya salah, dia memegang Eliana seperti memegang boneka.
“Aduh, kok nangis? Cup, cup … Eliana sayang, ini Aunty Siska,” ujar Siska sambil menggoyang-goyangkan tubuh Eliana dengan kasar.
“Mbak, tolong jangan digoyang begitu, dia baru makan,” peringatku.
Tapi terlambat.
Cairan putih susu keluar dari mulut Eliana, tepat mengenai dada gaun desainer milik Siska yang berwarna cerah. Eliana gumoh dalam jumlah cukup banyak.
“Aaaaarrgghh!!! Gaun aku! Ini limited edition!” teriak Siska histeris. Dia hampir saja menjatuhkan Eliana karena refleks ingin menjauhkan cairan itu dari bajunya.
Untungnya, tanganku dengan sigap langsung menyambar tubuh Eliana sebelum terjadi hal buruk. Aku mendekap Eliana erat, menepuk-nepuk punggungnya dengan tenang. Seketika, tangis Eliana mereda menjadi isakan kecil saat mencium aromaku.
“Devi! Kamu lihat apa yang dilakukan anak ini? Gaun Siska jadi kotor!” bentak Ibu Wulan panik.
“Sudah saya bilang tadi, Mbak Siska. Eliana baru minum susu. Dia tidak suka parfum yang terlalu tajam. Kamu juga gendongnya salah,” kataku sambil mengelap sisa gumoh di bibir Eliana dengan tissue.
“Kamu pasti sengaja nggak kasih tahu supaya aku kena gumohnya!”
“Sengaja? Saya tadi sudah melarang Mbak, tapi Mbak yang memaksa. Di rumah ini, kepentingan bayi adalah nomor satu. Kalau Mbak lebih mengkhawatirkan harga gaun daripada kenyamanan bayi yang Mbak gendong, mungkin Mbak memang tidak cocok berada di dekat Eliana.”
“Kurang ajar!” Ibu Wulan hendak melayangkan tangannya, tapi terhenti saat suara pintu depan terbuka.
Mas Pram berdiri di sana. Wajahnya gelap. Dia menatap pemandangan di hadapannya. Siska yang kotor dan marah, ibunya yang beringas, dan aku yang berdiri tenang memeluk Eliana.
“Ada apa ini?”
Suara Mas Pram menggelegar. Sungguh, aku tak menyangka jika mas Pram pulang secepat ini. Aku pikir dia pulang sore. Apa karena kedatangan Siska?
“Pram, Lihat! anakmu mengotori baju Siska!” adu Ibu Wulan.
Mas Pram melangkah mendekat. Dia tidak melihat ke arah Siska atau Ibunya. Matanya tertuju pada Eliana yang matanya masih sembab.
“Eliana kenapa?”
“Tadi digendong sama mbak Siska, Mas. Eliana kaget dan gumoh,” jawabku singkat. “Sekarang kami mau berangkat ke rumah sakit untuk imunisasi. Mas mau ikut atau … mau menemani tamu istimewa Ibu ini?”
Pramuja menatap Siska yang sedang sibuk mengelap bajunya dengan tisu basah sambil mengomel. Tatapan Mas Pram tampak dingin dan tidak simpatik.
“Siska, maaf atas bajumu yang kotor. Lain kali, kalau takut bajumu kotor karena muntahan bayi, lebih baik jangan coba-coba menggendong anakku,” ucap Mas Pram datar. “Ibu, tolong antar Siska ke kamar tamu untuk bersih-bersih. Aku akan mengantar Devi dan Eliana ke dokter.”
“Tapi Pram, Siska baru saja sampai!” keluh Ibu Wulan.
“Eliana lebih penting, Bu.” Mas Pram mengambil tas bayi dari tanganku. “Ayo, Devi. Kita berangkat sekarang.”
Aku berjalan melewati Siska yang mematung dengan wajah malu luar biasa. Di depan pintu, aku sempat menoleh sedikit dan memberikan senyuman tipis, senyuman kemenangan yang hanya bisa dilihat oleh Siska.
Di dalam mobil, suasana sangat hening. Mas Pram fokus menyetir, sementara aku duduk di sampingnya sambil memastikan Eliana tertidur kembali.
“Terima kasih sudah membelaku di depan mereka,” ucapku memecah kesunyian.
Mas Pram terdiam sejenak. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. “Aku tidak membelamu. Aku hanya melakukan apa yang benar bagi anakku.”
“Tetap saja, itu berarti Mas mulai sadar siapa yang benar-benar peduli pada Eliana dan siapa yang hanya ingin mencari perhatian.”
Mas Pram melirikku sekilas. “Kamu tajam sekali bicaranya, Devi. Apa kamu tidak takut Ibu akan semakin membencimu?”
“Benci itu pilihan beliau, Mas. Tugasku bukan untuk dicintai semua orang, tapi untuk memastikan tidak ada yang meremehkan posisiku di rumah itu. Termasuk Mas sendiri.”
Pramuja tidak membalas. Tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang mulai retak dari dinding es di antara kami.
Sesampainya di rumah sakit, Mas Pram tidak membiarkanku berjalan sendirian. Dia berjalan di sampingku, sesekali tangannya melindungi pundakku saat kami berpapasan dengan orang lain di lorong yang ramai.
Saat menunggu antrean dokter, seorang perawat menghampiri kami. “Bapak dan Ibu Pramuja? Silakan masuk, bayinya sudah ditunggu dokter.”
Ibu Pramuja.
Mendengar sebutan itu, jantungku berdesir. Aku melirik Mas Pram, berharap dia akan mengoreksi panggilan itu. Namun, dia hanya diam dan melangkah masuk, seolah menerima bahwa aku adalah istrinya, bukan sekadar pengganti.
Di dalam ruang dokter, saat Eliana disuntik dan menangis keras, Mas Pram spontan menggenggam tanganku. Genggamannya sangat erat, seolah dia juga merasakan sakit yang dirasakan Eliana. Aku menatap tangannya yang kekar melingkari jemariku.
Di detik itu, aku bersumpah. Siapa pun wanita yang dibawa Ibu Wulan, entah itu Siska atau siapa pun, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang sudah menjadi tanggung jawabku.