Aku Kan Belum Menikahimu,” Kata Pria yang Sudah Kurawat Selama Tujuh Tahun—Karena Itu, Aku Meninggalkan Kedua Orang Tuanya yang Terbaring Sakit dan Terbang ke Dubai Keesokan Harinya**
*”Aku kan belum menikahimu, Lea. Jangan bertingkah seolah-olah kamu bagian dari keluarga kami.”*
Itulah yang dikatakan Marco kepadaku saat aku masih memegang popok basah milik ayahnya.
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Setelah tujuh tahun hidup bersamanya, dan satu tahun penuh merawat kedua orang tuanya yang terbaring sakit, akhirnya aku memahami satu hal: ternyata aku tidak pernah dicintai sebagai pasangan hidup.
Aku hanya dimanfaatkan sebagai pengasuh tanpa bayaran.
Rumah kecil kami di Sampaloc selalu dipenuhi aroma obat-obatan, urine, dan keringat yang menempel di udara.
Pukul lima pagi aku sudah bangun. Aku merebus air, memasak bubur, membersihkan luka di punggung Pak Ben, dan mengganti popok Bu Cora.
Mereka bukan mertua kandungku. Aku dan Marco bahkan belum menikah. Namun karena kami sudah hidup bersama selama tujuh tahun, aku juga memanggil mereka Mama dan Papa.
Ketika Pak Ben terkena stroke, separuh tubuhnya tidak lagi bisa bergerak. Empat bulan kemudian, Bu Cora mengalami komplikasi diabetes. Kakinya melemah, satu matanya kehilangan penglihatan, dan ia tidak lagi mampu bangun sendiri dari tempat tidur.
Marco adalah anak tunggal mereka.
Tetapi akulah yang menjadi tangan, kaki, perawat, juru masak, tukang cuci, dan pembantu bagi seluruh keluarga itu.
Setiap pagi, sebelum sempat makan, aku harus lebih dulu menyuapi mereka berdua. Aku memberikan obat, membersihkan tubuh mereka, merapikan tempat tidur, mencuci seprai, membeli sayuran di pasar, memasak, mencuci piring, dan terkadang terjaga semalaman ketika salah satu dari mereka demam.
Lalu Marco?
Dia pulang kerja, melepas sepatu di ruang tamu, menyalakan televisi, lalu berbaring seolah-olah dialah orang yang paling lelah di dunia.

“Lea, masih ada air minum?”
“Lea, tolong suapi Mama dulu.”
“Lea, kantong urine Papa sepertinya sudah penuh.”
“Lea, kenapa tidak ada ikan goreng?”
Malam itu menjadi malam terakhir aku menyentuh kantong urine Pak Ben atau mencuci seprai Bu Cora.
Kata-kata Marco seperti sebuah palu yang menghantam dinding kaca ilusi yang kubangun sendiri selama tujuh tahun. Sakit, tapi seketika menjernihkan pandanganku.
Saat Marco tertidur lelap—mendengkur tanpa beban di sofa depan televisi—aku masuk ke kamar kami. Aku tidak menangis. Air mataku sudah habis menguap bersama rasa lelah yang menumpuk bertahun-tahun. Dengan tenang, aku menarik koper tua dari bawah tempat tidur. Aku tidak membawa banyak barang, hanya pakaian secukupnya, dokumen penting, dan sebuah paspor serta visa kerja ke Dubai yang sebenarnya sudah kuterima satu bulan lalu, namun terus kusimpan di dasar laci karena rasa bersalah.
Aku menatap paspor itu. Kontrak sebagai manajer operasional di sebuah perusahaan logistik di Dubai. Gaji yang ditawarkan berkali-kali lipat dari apa yang bisa kubayangkan, lengkap dengan fasilitas tempat tinggal. Selama ini, aku menolaknya demi Marco, demi “keluarga” yang kukira memilikiku.
Betapa bodohnya aku.
Pukul 04.30 Pagi
Biasanya, jam begini aku sudah berkutat dengan kompor dan air hangat. Namun pagi ini, aku memakai sepatu terbaikku. Aku berjalan ke kamar Pak Ben dan Bu Cora yang masih tertidur. Dalam hati, aku membisikkan kata maaf sekaligus selamat tinggal. Aku menyayangi mereka, tapi aku bukan martir. Aku tidak bisa mati perlahan hanya untuk menghidupkan ego anak laki-laki mereka.
Di meja makan, aku meninggalkan sebuah amplop berisi sisa uang belanja minggu ini, kunci rumah, dan selembar memo pendek untuk Marco:
“Kamu benar, Marco. Aku memang belum menikahimu. Dan karena aku bukan bagian dari keluargamu, tugasku di rumah ini sudah selesai. Mulai hari ini, silakan jadi anak yang berbakti dengan tanganmu sendiri.”
Aku menutup pintu rumah di Sampaloc itu tanpa menoleh lagi.
Bandara Internasional Ninoy Aquino, Pukul 10.00 Pagi
Ponselku mulai bergetar gila-gilaan tepat saat aku sedang mengantre di imigrasi. Nama Marco berkedip berkali-kali di layar. Aku membiarkannya pada panggilan kelima sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Lea! Kamu di mana?! Mama mengompol dan Papa belum makan obat! Kenapa rumah berantakan sekali? Kamu sengaja mau menyiksa orang tuaku?!” Suara Marco terdengar panik, melengking, dan penuh amarah yang egois. Di latar belakang, aku bisa mendengar lamat-lamat suara Bu Cora yang memanggil namaku.
Aku menghirup napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dadaku tidak terasa sesak.
“Aku di bandara, Marco. Sebentar lagi pesawatku terbang ke Dubai,” jawabku dengan nada paling tenang yang pernah kumiliki.
Keheningan panjang langsung menyergap di seberang telepon. Marco syok. “D-Dubai? Jangan bercanda! Lalu siapa yang mau mengurus Mama dan Papa? Aku harus bekerja, Lea! Kamu egois sekali!”
Aku tersenyum tipis, menahan tawa getir yang menggelitik tenggorokanku.
“Bukankah kamu sendiri yang bilang? Aku bukan bagian dari keluarga kalian. Mengurus mereka adalah kewajibanmu sebagai anak kandung, bukan tugasku sebagai orang asing,” kataku tegas. “Gunakan uang gajimu untuk menyewa perawat profesional. Atau kalau tidak, berhentilah bekerja dan urus mereka sendiri, sepertiku dulu.”
“Lea, maaf… aku tidak bermaksud bicara begitu kemarin! Lea, tolong kembali, kita bisa bicarakan soal pernikahan—”
“Sudah terlambat, Marco. Aku sudah telanjur sadar.”
Aku langsung mematikan sambungan telepon. Tanpa ragu, aku mengeluarkan kartu SIM dari ponselku, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.
Penerbangan di Atas Awan
Saat pesawat Emirates yang kutumpangi lepas landas, meninggalkan daratan Manila di bawah sana, aku menatap keluar jendela. Menatap langit biru yang bersih, bebas dari aroma obat-obatan dan keputusasaan.
Tujuh tahunku memang hilang, terkubur di sebuah rumah kecil di Sampaloc. Namun, sisa hidupku baru saja dimulai. Aku tidak lagi berjalan di belakang seseorang sebagai bayangan tanpa bayaran. Aku terbang ke depan, menjemput takdirku sendiri sebagai wanita yang berharga.