PENERBANGANKU DIBATALKAN, JADI AKU PULANG SATU HARI LEBIH AWAL UNTUK MEMBERI KEJUTAN KEPADA SUAMIKU. NAMUN SAAT MENDENGAR TAWANYA DARI KAMAR KAMI DAN MELIHAT WANITA YANG BERSAMANYA… HATIKU SEAKAN HANCUR. PADA DETIK ITU, AKU BERJANJI PADA DIRIKU SENDIRI: MALAM INI, AKAN ADA SESEORANG YANG KEHILANGAN SEGALANYA.**
### Perjalanan yang Dibatalkan
Namaku Clara Vanguard, tiga puluh tahun. Sebagai CEO sebuah perusahaan real estat internasional besar, aku sering bepergian ke luar negeri. Namun, sesibuk apa pun aku, aku selalu memastikan semua kebutuhan suamiku, Troy, terpenuhi.
Saat bertemu Troy lima tahun lalu, dia hanyalah seorang arsitek yang sedang berjuang membangun karier. Akulah yang mendanai perusahaannya dan memberinya klien hingga ia berhasil meraih kesuksesan. Aku membelikannya sebuah mansion mewah dan beberapa mobil premium.
Ada juga sahabat terbaikku, Stella. Sejak masa kuliah, akulah yang melunasi utang-utangnya dan membantu membangun kariernya. Aku menganggap mereka berdua sebagai orang-orang paling penting dalam hidupku.
Suatu malam, aku seharusnya terbang ke London untuk menghadiri konferensi bisnis selama seminggu. Namun, karena masalah serius pada mesin pesawat, penerbanganku dibatalkan pada menit-menit terakhir.
Alih-alih kesal, aku justru tersenyum. Aku menganggapnya sebagai kesempatan sempurna untuk memberi kejutan kepada Troy. Tanpa memberi kabar apa pun, aku pulang ke mansion sekitar pukul sebelas malam.
### Tawa di Tengah Kegelapan
Seluruh rumah begitu sunyi. Para pelayan ternyata telah diberi cuti lebih awal oleh Troy. Dengan koper di tangan, aku menaiki tangga besar perlahan-lahan, tidak sabar untuk memeluk suamiku.
Namun saat mendekati kamar utama kami, aku mendengar musik, suara-suara samar, dan tawa yang sangat kukenal.
“Hahaha! Sayang, kamu memang luar biasa!”
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Itu suara Stella.
Sahabat terbaikku.
Apa yang dia lakukan di kamarku selarut ini?
Aku mengintip melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. Pemandangan yang kulihat terasa seperti pisau tajam yang ditusukkan ke dadaku lalu diputar berulang kali.
Di atas ranjangku sendiri, dua orang yang paling kupercayai sedang berciuman dan tertawa bersama. Mereka menikmati sampanye mahal yang kubeli saat perjalanan ke Paris.

“Syukurlah istrimu yang bodoh itu sudah pergi,” bisik Stella manja sambil memeluk Troy. “Aku sudah bosan menunggu, Troy. Kapan kamu akan mengusirnya dari sini? Aku ingin kita hidup bersama.”
Troy menyeringai sambil meneguk minumannya.
“Sedikit lagi, sayang. Tadi pagi aku berhasil membuat Clara menandatangani dokumen itu. Dia mengira itu dokumen ekspansi perusahaan, padahal sebenarnya surat kuasa pengalihan aset. Aku sudah memindahkan **Rp150 miliar** dari rekeningnya ke rekening luar negeri kita di Swiss. Besok pagi kita akan membawa kabur uang itu dan meninggalkannya tenggelam dalam utang!”
Darahku mendadak dingin, membeku dalam pembuluh darahku. Rasa sakit yang beberapa detik lalu sempat meremukkan dada, kini menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang murni dan kalkulatif.
Mereka mengira aku bodoh? Mereka mengira sang CEO Vanguard Group bisa ditipu hanya dengan trik murahan?
Aku mundur selangkah demi selangkah dengan sangat tenang. Suara tawa menjijikkan mereka memudar di balik pintu kamar, digantikan oleh detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran mereka sendiri. Aku tidak membanting pintu. Aku tidak berteriak histris. Menghadapi tikus yang mencoba merampok rumahmu, kamu tidak mengamuk—kamu mengunci semua pintu dan membakar mereka di dalam.
Malam ini, aku akan mengambil kembali semua yang telah kuberikan.
Pukul 23.30: Serangan Balik Dimulai
Aku duduk di dalam mobil Rolls-Royce-ku yang terparkir di luar gerbang mansion, dengan laptop menyala di pangkuanku. Jari-jariku menari di atas kibor dengan kecepatan yang mematikan.
Sebagai seorang CEO, aku tidak pernah menandatangani apa pun tanpa memeriksa enkripsi dan verifikasi ganda pada sistem keuanganku. Dokumen yang Troy berikan tadi pagi memang surat kuasa, tapi yang tidak dia ketahui adalah: rekening yang dia akses adalah akun tiruan (decoy) yang sengaja kupasang untuk mendeteksi kecurangan internal.
“Halo, Julian?” aku menghubungi kepala firma hukum dan keamanan siber pribadi Vanguard Group. “Aktifkan Protokol Pembekuan Darurat untuk seluruh aset atas nama Troy Alexander dan Stella Wijaya. Sekarang.”
“Baik, Ibu Clara. Bagaimana dengan dana Rp150 miliar yang sedang ditransfer?”
Aku tersenyum dingin di kegelapan malam.
“Biarkan transfernya berjalan ke rekening Swiss itu. Lalu, gunakan otoritas hukumku untuk mengunci rekening tujuan tersebut atas tuduhan pencucian uang dan penipuan korporasi. Begitu uang itu masuk, mereka tidak akan bisa menyentuhnya satu sen pun, dan sistem akan langsung melaporkan mereka ke Interpol.”
Tidak butuh waktu lama bagi tanganku yang lain untuk menghancurkan hidup Stella. Aku mengirimkan satu email masal ke seluruh jajaran direksi dan investor di perusahaan tempat Stella bekerja—yang 60% sahamnya adalah milikku. Email itu berisi seluruh bukti transfer ilegal, rekaman audit internal tentang dana yang pernah dia korupsi, beserta surat pemecatan tidak hormat yang berlaku detik itu juga.
Pukul 01.00 Dini Hari: Pengusiran
Aku melangkah kembali ke dalam mansion. Kali ini, langkah kakiku sengaja kubuat menggema keras di atas lantai marmer.
Saat aku membuka pintu kamar utama dengan sentakan kasar, musik romantis yang tadi berputar langsung terasa mencekam. Troy dan Stella tersentak kaget, melompat dari ranjang dengan wajah pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.
“Clara?! K-kamu… bukankah kamu harusnya di London?!” gagap Troy, mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Stella di sampingnya gemetar hebat, matanya melebar panik.
“Penerbanganku dibatalkan, Troy. Dan beruntung sekali, karena aku bisa pulang tepat waktu untuk menyaksikan pertunjukan komedi kalian,” kataku, melipat tangan di dada dengan tenang.
Troy mencoba memaksakan senyum, melangkah mendekat. “Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat… Stella hanya—”
“Hanya membantumu memeriksa rekening Swiss?” potongku tajam.
Mendengar kata ‘rekening Swiss’, wajah mereka berdua kehilangan seluruh warna darahnya. Troy langsung menyambar ponselnya di atas nakas, mencoba memeriksa saldo. Detik berikutnya, ponsel itu terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai.
“Bagaimana bisa… rekeningnya… dibekukan?!” bisik Troy frustrasi.
Ponsel Stella kemudian berbunyi. Sebuah notifikasi email. Saat membacanya, Stella jatuh terduduk di lantai, menangis histeris. “Clara, tolong! Aku dipecat… namaku masuk daftar hitam industri! Aku tidak punya apa-apa lagi!”
Akhir dari Segalanya
Aku menatap mereka berdua dengan tatapan jijik yang paling dalam. Dua parasit yang kuhidupi dengan keringatku sendiri.
“Mansion ini, mobil-mobil di garasi, dan perusahaan arsitekturmu, Troy… semuanya dibeli atas nama perusahaan indukku. Dan malam ini, aku telah mencabut semua fasilitas itu. Besok pagi, kurator dan tim hukumku akan menyita kantormu karena pelanggaran kontrak dan penipuan,” ujarku dengan nada dingin tanpa emosi.
“Clara, maafkan aku! Aku khilaf, aku mencintaimu, Clara! Tolong jangan lakukan ini!” Troy berlutut di depanku, memohon sambil menangis, mencoba meraih kakiku.
Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya seolah dia adalah sampah beracun.
“Jangan mengotori sepatuku, Troy. Di luar, polisi dan pihak imigrasi sudah menunggu. Kalian berdua dilaporkan atas konspirasi penipuan finansial tingkat tinggi. Selamat menikmati sisa malam kalian di sel tahanan.”
Dua menit kemudian, petugas keamanan rumahku bersama aparat kepolisian masuk ke dalam kamar, menyeret Troy dan Stella yang hanya bisa menangis dan memohon ampun dengan pakaian seadanya.
Saat mansion mewah itu kembali sunyi, aku berjalan ke balkon, menghirup udara malam yang segar. Hatiku tidak lagi hancur. Malam ini, aku kehilangan seorang suami pengkhianat dan seorang sahabat palsu. Namun mereka? Mereka kehilangan karier, reputasi, kebebasan, dan seluruh masa depan mereka.
Sesuai janjiku, malam ini… mereka kehilangan segalanya.