Posted in

SETELAH AYAH KAMI MENINGGAL, SAUDARA-SAUDARAKU TANPA BELAS KASIH MELEMPARKAN PAKAIANKU KE JALAN DAN BERTERIAK, “KAMU TIDAK BERHAK ATAS HARTA AYAH!” AKU PERGI DALAM DIAM. NAMUN PADA HARI PEMBACAAN WASIAT, SEORANG PENGACARA MELETAKKAN SEBUAH AMPLOP MERAH DI DEPANKU. SAAT AKU MEMBUKANYA, SELURUH RUANGAN MEMBISU DALAM KETAKUTAN DAN KETERKEJUTAN YANG LUAR BIASA.

SETELAH AYAH KAMI MENINGGAL, SAUDARA-SAUDARAKU TANPA BELAS KASIH MELEMPARKAN PAKAIANKU KE JALAN DAN BERTERIAK, “KAMU TIDAK BERHAK ATAS HARTA AYAH!” AKU PERGI DALAM DIAM. NAMUN PADA HARI PEMBACAAN WASIAT, SEORANG PENGACARA MELETAKKAN SEBUAH AMPLOP MERAH DI DEPANKU. SAAT AKU MEMBUKANYA, SELURUH RUANGAN MEMBISU DALAM KETAKUTAN DAN KETERKEJUTAN YANG LUAR BIASA.

Korban Keserakahan

Namaku Gabriel, 28 tahun.

Selama lima tahun terakhir, aku merawat ayahku, Don Arturo, yang terbaring sakit. Akulah yang membersihkan tubuhnya, menyuapinya makan, dan berjaga semalaman di rumah sakit.

Sementara itu, kedua kakakku, Anton dan Stella, hidup mewah di luar negeri menggunakan uang perusahaan keluarga.

Ketika Ayah meninggal dunia, mereka bahkan tidak meneteskan air mata di pemakaman.

Yang mereka tunggu hanyalah warisan.

Begitu upacara pemakaman selesai dan kami kembali ke mansion keluarga, aku menemukan koper-koperku sudah berada di luar gerbang.

Saat itu hujan turun sangat deras.

“Kak Anton? Kak Stella? Apa maksud semua ini?” tanyaku kebingungan.

Anton menyeringai sambil menyeruput anggur di balkon.

“Pergi dari sini, Gabriel! Sandiwaramu sebagai anak baik sudah berakhir!” katanya. “Kamu tidak akan mendapatkan satu rupiah pun dari harta Ayah karena kamu hanyalah anak angkat!”

“Benar!” teriak Stella dengan nada menghina. “Ayah hanya memungutmu dari tempat sampah! Kami darah dagingnya yang asli! Jadi kamu tidak punya hak atas perusahaan, uang, maupun mansion ini! Pergi!”

Aku menangis dan memohon.

Bukan karena uang.

Aku baru saja kehilangan ayahku, dan sekarang orang-orang yang selama ini kuanggap keluarga juga mengusirku.

Namun mereka bahkan mengancam akan melepaskan anjing penjaga jika aku tidak segera pergi.

Dengan tubuh basah kuyup oleh hujan, aku akhirnya berjalan meninggalkan rumah itu hanya dengan pakaian lamaku.

Hari Pembacaan Wasiat

Sebulan kemudian, aku menerima surat resmi dari firma hukum keluarga.

Aku diminta hadir dalam pembacaan Wasiat Terakhir Ayah.

Pertemuan itu diadakan di ruang rapat mewah sebuah gedung perkantoran.

Anton dan Stella sudah duduk di sana.

Mereka mengenakan pakaian bermerek mahal, perhiasan berlian, dan terlihat seperti sedang merayakan kemenangan.

Saat melihatku masuk dengan kemeja sederhana, mereka langsung menertawakanku.

“Mengapa pengemis itu masih ada di sini, Pak Fernandez?” sindir Stella sambil memandangku dengan jijik. “Jangan sampai dia mengotori kursi-kursi mahal ini.”

“Semua nama yang tercantum dalam wasiat wajib hadir, Bu,” jawab pengacara itu dengan tenang.

Pembacaan wasiat pun dimulai.

Menurut dokumen tersebut, mansion keluarga diwariskan kepada Anton.

Seluruh uang tunai di bank-bank lokal serta koleksi mobil mewah diberikan kepada Stella.

Keduanya langsung bersorak gembira.

Mereka bahkan saling melakukan high five di depanku.

“Aku sudah bilang, Stella!” kata Anton sambil tertawa keras. “Kita yang akan mewarisi semuanya!”

Lalu ia menoleh kepadaku dengan senyum mengejek.

“Bagaimana sekarang, Gabriel? Sepertinya Ayah yang sangat kamu cintai itu melupakanmu. Mungkin aku bisa memberimu uang receh untuk ongkos pulang?”

Aku menundukkan kepala.

Aku memang tidak mengejar harta.

Tetapi tetap terasa menyakitkan membayangkan bahwa Ayah tidak meninggalkan satu pesan pun untukku setelah semua yang telah kulakukan.

Aku hampir berdiri untuk meninggalkan ruangan ketika tiba-tiba Pak Fernandez menghantam meja dengan telapak tangannya.

“Pembacaan wasiat belum selesai,” katanya dingin.

Seluruh ruangan langsung terdiam.

Pak Fernandez membuka sebuah map terpisah, lalu mengeluarkan sebuah amplop merah tua yang tersegel.

Ia meletakkannya tepat di depanku.

Tatapan Anton dan Stella berubah bingung.

Dan dalam beberapa detik, isi amplop itu akan mengubah segalanya.

Aku menatap amplop merah tua di depanku dengan tangan gemetar. Di atasnya, tertulis namaku dengan tulisan tangan Ayah yang sangat kukenali: “Untuk Gabriel, putraku yang sesungguhnya.”

Dengan perlahan, aku merobek segel amplop itu. Di dalamnya terdapat selembar surat resmi dari bank internasional, sebuah dokumen kepemilikan saham utama, dan sebuah flashdisk hitam. Saat aku membaca baris demi baris dokumen tersebut, mataku melebar.

Melihat ekspresiku, Anton mendengus tidak sabar. “Apa itu? Surat utang? Atau dokumen yang menyatakan kamu harus membayar sewa kamar selama tinggal di sini?” ejeknya.

Pak Fernandez tidak memedulikan Anton. Ia mengambil flashdisk dari tanganku, mencolokkannya ke laptop, dan menghubungkannya ke layar proyektor besar di ruang rapat. Layar menyala, menampilkan video Ayah yang direkam sebulan sebelum beliau wafat. Wajahnya pucat, namun tatapannya sangat tajam dan sadar.

“Jika kalian menonton video ini, artinya aku sudah tiada, dan Anton serta Stella pasti sudah menunjukkan belang mereka,” suara Ayah menggema, membuat Anton dan Stella langsung menegakkan duduk mereka.

“Anton, Stella… kalian pikir kalian cerdas? Selama lima tahun aku sakit, kalian tidak pernah sekalipun menjengukku. Kalian hanya sibuk menguras kas perusahaan di luar negeri. Kalian mengira aku buta? Aku tahu semua penggelapan uang yang kalian lakukan,” lanjut Ayah dalam video itu. Wajah Anton mulai memucat.

Ayah kemudian tersenyum lembut ke arah kamera, seolah menatapku langsung. “Gabriel, anakku. Kamu mungkin bukan darah dagingku, tapi kamulah satu-satunya yang memiliki jiwa seorang Arturo. Kamu merawatku tanpa pamrih. Oleh karena itu, bagian terbaik telah kusiapkan untukmu.”

Ayah dalam video itu memberi isyarat kepada Pak Fernandez di layar, dan Pak Fernandez di dunia nyata langsung membacakan dokumen yang ada di genggamanku dengan suara lantang.

“Berdasarkan dokumen resmi pemegang saham utama: Don Arturo telah memindahkan 85% saham seluruh perusahaan keluarga ke atas nama Gabriel, efektif sejak tiga bulan lalu. Selain itu, seluruh dana di rekening luar negeri (offshore account) senilai 45 juta dolar diwariskan mutlak kepada Gabriel.”

Ruangan itu seketika membisu. Keheningan yang mencekam mencengkeram atmosfer. Anton dan Stella membeku, mulut mereka menganga dalam ketakutan dan keterkejutan yang luar biasa.

Tapi kejutan belum berakhir. Pak Fernandez melanjutkan dengan nada dingin.

“Mengenai mansion yang diwariskan kepada Anton, dan uang tunai lokal serta mobil mewah yang diwariskan kepada Stella… Perlu dicatat bahwa seluruh aset tersebut telah dijaminkan atas nama perusahaan. Dan karena Gabriel kini adalah pemilik sah 85% saham perusahaan, maka secara hukum…” Pak Fernandez menatap kedua kakakku dengan senyum tipis, “…mansion, mobil, dan seluruh sisa uang kalian adalah milik Gabriel. Kalian hanya memiliki hak guna, yang bisa dicabut oleh Gabriel kapan saja.”

“T-tidak mungkin! Ini palsu! Pengacara sialan, kamu pasti disuap oleh anak pungut ini!” teriak Stella histeris, berlian di jemarinya bergetar hebat.

“Aku akan menuntut ini ke pengadilan!” raung Anton, wajahnya yang tadi merah karena anggur kini putih seperti kertas. Keangkuhannya runtuh total.

“Silakan, Pak Anton,” jawab Pak Fernandez tenang. “Tapi sebelum Anda melakukannya, ada satu hal lagi. Di dalam amplop merah itu, ada juga dokumen bukti penggelapan pajak dan korupsi yang Anda dan Ibu Stella lakukan di cabang luar negeri. Klien saya, Don Arturo, meminta saya menyerahkannya ke pihak berwajib jika kalian bertindak semena-mena pada Gabriel.”

Mendengar kata ‘pihak berwajib’, lutut Anton lemas. Ia terduduk kembali ke kursinya dengan tatapan kosong. Stella mulai menangis histeris, menyadari bahwa dalam sekejap mata, mereka telah jatuh miskin dan terancam hukuman penjara.

Aku memasukkan kembali surat Ayah ke dalam amplop merah dengan hati-hati. Aku berdiri, lalu menatap kedua kakak tiriku yang kini gemetar ketakutan di hadapanku. Tidak ada rasa dendam di hatiku, hanya rasa lega karena keadilan Ayah telah ditegakkan.

“Satu bulan lalu, kalian melemparkan pakaianku ke tengah hujan deras dan mengusirku seperti anjing,” kataku dengan suara tenang namun penuh penekanan. “Hari ini, aku tidak akan mengusir kalian. Aku memberikan waktu 24 jam bagi kalian untuk mengemas barang-barang kalian dan mengosongkan mansion milikku.”

“Gabriel… tolong, kami kakakmu…” ratap Stella, mencoba meraih tanganku dengan wajah memelas yang menjijikkan.

Aku menarik tanganku kembali. “Sandiwaranya sudah berakhir, Stella. Dan mengenai bukti korupsi kalian…” Aku menoleh ke Pak Fernandez. “Pak Fernandez, serahkan dokumen itu ke kepolisian sekarang juga. Biarkan hukum yang mengurus sisanya.”

Aku membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruang rapat tanpa menoleh lagi. Di belakangku, suara tangisan frustrasi dan saling menyalahkan antara Anton dan Stella terdengar bersahut-sahutan.

Saat melangkah keluar dari gedung perkantoran, matahari bersinar cerah menerpa wajahku. Air mata kerinduan pada Ayah menetes di pipiku, namun kali ini, aku melangkah dengan kepala tegak. Korban keserakahan itu kini telah menjadi penguasa yang sesungguhnya.