Posted in

EMPAT HARI SETELAH AKU MELAHIRKAN, IBU MERTUAKU DAN SELINGKUHAN SUAMIKU DATANG KE RUMAH SAKIT. MEREKA MELEMPARKAN SURAT PEMBATALAN PERNIKAHAN KE ATAS SELIMUT BAYIKU DAN MENYURUHKU PERGI KARENA AKU DIANGGAP TIDAK BERGUNA. AKU HAMPIR MENANDATANGANINYA, KETIKA TIBA-TIBA PINTU TERBUKA KERAS DAN KEPALA SPESIALIS RUMAH SAKIT MASUK SAMBIL MEMBAWA SEBUAH DOKUMEN YANG LANGSUNG MENGHANCURKAN KESOMBONGAN MEREKA.*

*EMPAT HARI SETELAH AKU MELAHIRKAN, IBU MERTUAKU DAN SELINGKUHAN SUAMIKU DATANG KE RUMAH SAKIT. MEREKA MELEMPARKAN SURAT PEMBATALAN PERNIKAHAN KE ATAS SELIMUT BAYIKU DAN MENYURUHKU PERGI KARENA AKU DIANGGAP TIDAK BERGUNA. AKU HAMPIR MENANDATANGANINYA, KETIKA TIBA-TIBA PINTU TERBUKA KERAS DAN KEPALA SPESIALIS RUMAH SAKIT MASUK SAMBIL MEMBAWA SEBUAH DOKUMEN YANG LANGSUNG MENGHANCURKAN KESOMBONGAN MEREKA.**

## Hati Seorang Ibu yang Terkoyak

Namaku Clara, 26 tahun.

Empat hari yang lalu, aku melahirkan putraku, Leo, melalui operasi caesar darurat. Luka jahitanku masih terasa sangat sakit, wajahku masih pucat, dan aku bahkan hampir tidak mampu bangun dari tempat tidur rumah sakit.

Aku sedang menatap bayi kecilku yang tertidur lelap ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Aku mengira suamiku, Troy, yang datang membawa makanan untukku.

Namun yang masuk justru ibu mertuaku, Doña Carmela, dan di belakangnya berdiri Stella—wakil presiden baru perusahaan Troy yang terkenal sombong.

“M-Mama? Kenapa dia ada di sini?” tanyaku dengan suara serak sambil refleks melindungi bayiku karena firasat buruk yang tiba-tiba muncul.

Doña Carmela tidak menjawab.

Ia berjalan mendekati tempat tidurku lalu tanpa belas kasihan melempar sebuah amplop cokelat tebal.

Amplop itu jatuh tepat di atas selimut biru yang menutupi bayiku yang sedang tidur!

“Apa ini?!” tanyaku sambil menangis, buru-buru mengambil amplop itu agar tidak mengenai anakku.

“Surat pembatalan pernikahan,” jawab ibu mertuaku dengan dingin.

Ia menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan penuh penghinaan.

“Tandatangani sekarang juga. Troy akan mengakhiri pernikahan kalian.”

## Suami yang Berkhianat

Pintu kembali terbuka.

Troy masuk.

Kepalanya tertunduk, dan saat mata kami bertemu, ia langsung mengalihkan pandangan.

“T-Troy… sayang? Apa ini benar? Aku baru saja melahirkan anak kita…” pintaku sambil terisak. Aku mencoba meraih tangannya, tetapi ia malah mundur.

Stella tertawa sinis lalu memeluk lengan Troy dengan manja.

“Sadarlah, Clara!” katanya mengejek. “Kamu bukan siapa-siapa. Hanya yatim piatu miskin yang tidak membawa keuntungan apa pun bagi keluarga Imperial.”

“Aku juga sedang hamil, dan Troy akan menikah denganku karena keluargaku akan menginvestasikan miliaran rupiah ke perusahaannya. Jadi tanda tangani surat itu, kemas barang-barangmu, dan keluar dari rumah sakit bersama anakmu! Kami juga tidak akan membayar tagihan rumah sakitmu lagi!”

“Stella benar,” sambung Doña Carmela tegas. “Kamu tidak berguna bagi keluarga ini. Kamu hanya aib besar.”

Dadaku terasa seperti dihantam ledakan.

Aku baru saja mempertaruhkan nyawaku demi keluarga ini.

Namun mereka ingin membuangku dan bayiku seperti sampah.

Air mataku berhenti mengalir.

Rasa sakit berubah menjadi keputusasaan.

Aku mengambil pena.

Tanganku gemetar hebat.

Jika mereka tidak menginginkan kami, aku juga tidak akan memaksa anakku tumbuh di tengah orang-orang sekejam ini.

Aku menempelkan ujung pena ke atas dokumen.

## Kedatangan Sang Dokter

“TUNGGU! JANGAN TANDATANGANI ITU!”

Suara keras itu menggema di seluruh ruangan.

Semua orang langsung menoleh ke arah pintu.

Di sana berdiri Kepala Spesialis rumah sakit dengan napas memburu, sambil menggenggam sebuah map berisi dokumen penting.

Wajahnya tampak serius.

Dan apa yang dibawanya sebentar lagi akan mengubah segalanya.

Berikut adalah kelanjutan dan akhir (ending) dari kisah tersebut:

Rahasia yang Terbongkar

Kepala Spesialis itu, Dr. Wijaya, melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di belakangnya, dua orang pengacara berpakaian rapi dan beberapa petugas keamanan rumah sakit ikut masuk, langsung menutup pintu dan mengunci ruangan.

“Siapa Anda?! Berani-beraninya mengganggu urusan keluarga kami!” bentak Doña Carmela dengan angkuh, merasa privasinya diusik.

Dr. Wijaya tidak memedulikan wanita tua itu. Ia langsung berjalan ke arahku, mengambil pena dari tanganku, dan menatapku dengan pandangan penuh hormat serta penyesalan.

“Maafkan keterlambatan kami, Nona Clara,” ucap Dr. Wijaya sambil membungkuk hormat. “Kami baru saja menerima hasil tes DNA darurat dan konfirmasi identitas resmi dari pusat.”

Troy mengerutkan kening, mencoba bersuara. “Tes DNA? Untuk apa? Clara, apa kamu berselingkuh?!” tuduh Troy, mencoba mencari pembenaran atas kebusukannya sendiri.

Dr. Wijaya menatap Troy dengan pandangan jijik. “Bukan untuk bayi ini, Tuan Troy. Tapi untuk istri Anda, Nona Clara. Dan dokumen satu lagi…” Dr. Wijaya membuka mapnya, “…adalah laporan medis rahasia mengenai Anda.”

Dr. Wijaya melemparkan selembar kertas pertama tepat ke wajah Troy.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan kesuburan yang Anda lakukan bulan lalu di rumah sakit ini, Tuan Troy… Anda dinyatakan mandul total akibat komplikasi masa kecil. Anda tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.”

Ruangan itu seketika hening. Senyum di wajah Stella langsung lenyap. Wajahnya berubah pucat pasi seputih kertas.

“A-apa? Mandul? Tidak mungkin! Aku ini lelaki normal!” teriak Troy histeris. Ia menoleh ke arah Stella. “Stella… kamu bilang kamu hamil anakku?! Anak siapa yang ada di dalam kandunganmu?!”

Stella gemetar hebat, melangkah mundur hingga menabrak dinding. “Troy… a-aku… pemeriksaan itu pasti salah!” ralat Stella terbata-bata, namun kepanikan di matanya tidak bisa disembunyikan. Rahasianya untuk menjebak Troy demi menguras harta keluarga Imperial runtuh seketika.

Identitas yang Sesungguhnya

Belum sempat Troy memproses pengkhianatan selingkuhannya, Dr. Wijaya mengeluarkan dokumen kedua, sebuah sertifikat kepemilikan dan surat wasit legal.

“Lalu, mengenai status Nona Clara yang Anda sebut ‘yatim piatu miskin’…” Dr. Wijaya tersenyum tipis, penuh kemenangan. “Rumah Sakit Internasional ini, bersama dengan 60% saham Vanderbilt Group—konglomerat yang selama ini menjadi investor tunggal di perusahaan Anda—adalah milik mendiang Tuan Arthur Vanderbilt.”

Doña Carmela mengerutkan kening. “Apa hubungannya dengan jalang ini?!”

“Tuan Arthur menghabiskan sisa hidupnya mencari putrinya yang hilang setelah kecelakaan 20 tahun lalu. Dan empat hari lalu, saat Nona Clara melahirkan, golongan darah langka dan tes DNA bayinya memicu sistem kecocokan data kami,” jelas Dr. Wijaya dengan suara lantang.

“Nona Clara adalah Clara Vanderbilt, pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga Vanderbilt yang bernilai ratusan triliun rupiah. Dan sebagai tambahan… gedung rumah sakit tempat Anda berdiri saat ini adalah milik Nona Clara.”

Mendengar hal itu, Doña Carmela langsung memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal karena syok yang luar biasa. Troy memandangku dengan tatapan tidak percaya, lututnya lemas hingga ia berlutut di lantai rumah sakit.

Orang yang baru saja mereka injak-injak, orang yang ingin mereka usir seperti sampah, ternyata adalah pemilik dari tali hidup perusahaan mereka sendiri.

Pembalasan yang Sempurna

Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di tubuhku seolah sirna, digantikan oleh kekuatan baru yang mengalir di dalam darahku. Aku menatap surat pembatalan pernikahan di atas selimut Leo, lalu beralih menatap tiga orang di depanku yang kini gemetar ketakutan.

“Troy, Ibu,” panggilku dengan suara tenang, namun dingin bak es.

“Clara… sayang… maafkan aku. Aku dijebak oleh Stella! Aku mencintaimu, Clara! Tolong, demi anak kita…” ratap Troy, mencoba merangkak untuk menyentuh kakiku.

“Anak kita?” aku terkekeh sinis. “Kamu lupa dokumen medis tadi? Leo bukan anakmu. Aku menjalani program inseminasi buatan dengan donor sperma setahun lalu karena kamu selalu gagal, Troy. Aku merahasiakannya untuk menjaga harga dirimu sebagai suami. Tapi ternyata, kamu justru mengkhianatiku.”

Aku mengambil surat pembatalan pernikahan itu, lalu menandatanganinya dengan coretan yang tegas. Aku melemparkannya tepat ke wajah Troy.

“Pernikahan ini selesai. Dan mulai detik ini, hidup kalian juga selesai,” kataku tajam.

Aku menoleh ke arah pengacara keluarga Vanderbilt yang berdiri di dekat pintu. “Pengacara sampaikan pesan saya ke direksi Vanderbilt Group. Tarik seluruh investasi kita dari perusahaan keluarga Imperial sekarang juga. Pastikan perusahaan Troy bangkrut sebelum matahari terbenam.”

“Baik, Nona Clara,” jawab sang pengacara dengan patuh.

“Dan untuk wanita ini,” aku menunjuk Stella yang sedang menangis ketakutan. “Laporkan dia atas dugaan penipuan. Serta serahkan bukti perselingkuhan mereka ke publik. Biar dunia tahu menjijikkannya keluarga Imperial.”

“Clara! Kamu tidak bisa melakukan ini pada kami! Kami ini keluargamu!” jerit Doña Carmela, keangkuhannya telah berubah menjadi keputusasaan yang menyedihkan.

“Keamanan, usir mereka dari rumah sakit saya. Mereka mengotori udara di kamar anak saya,” perintahku dingin.

Petugas keamanan segera maju, menyeret Troy yang menangis meraung-raung, Doña Carmela yang hampir pingsan, dan Stella yang terus memohon ampun. Suara teriakan histeris mereka perlahan menjauh dan menghilang di koridor rumah sakit.

Ruangan kembali tenang. Aku menatap Leo kecil yang menggeliat lembut di dalam selimutnya. Aku mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.

Mereka mengira telah membuang sebutir debu, tanpa menyadari bahwa debu yang mereka buang adalah pemilik dari seluruh dunia yang mereka agungkan. Kini, aku dan putraku akan memulai hidup baru, jauh di atas tempat mereka merangkak meminta ampun.