AKU MENGHENTIKAN PERNIKAHANKU SENDIRI DI DEPAN RATUSAN TAMU SAAT SEORANG ANAK PEREMPUAN BERUSIA ENAM TAHUN BERLARI KE ALTAR DAN MEMBERIKANKU SEBUAH KALUNG. AWALNYA AKU MENGIRA ITU HANYALAH HADIAH POLOS DARI SEORANG ANAK KECIL. NAMUN SAAT AKU MEMBUKA LOCKET DI DALAMNYA DAN MELIHAT FOTO YANG TERSEMBUNYI, WAJAH TUNANGANKU LANGSUNG PUCAT, DAN SELURUH DUNIANYA RUNTUH DALAM SEKEJAP.**
## Hari Sempurna dan Masa Lalu yang Menyakitkan
Namaku Gabriel Imperial, 35 tahun, CEO sebuah kerajaan teknologi dan properti bernilai miliaran dolar di Asia. Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Stella, seorang sosialita cantik dan terkenal yang merupakan putri seorang senator. Di mata publik, kami adalah pasangan sempurna—*power couple* yang selalu menjadi sorotan.
Namun di balik senyumku, ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Tujuh tahun lalu, istri pertamaku, Clara, dinyatakan meninggal dunia. Saat itu ia sedang mengandung anak pertama kami ketika menjadi korban tabrak lari tragis dalam perjalanan menuju rumah peristirahatan kami. Mobilnya ditemukan hangus terbakar, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan. Polisi akhirnya menyatakan Clara dan bayi yang dikandungnya telah meninggal.
Satu-satunya kenangan yang tersisa bagiku adalah kalung pemberianku saat ulang tahun pernikahan kami—sebuah liontin perak dengan inisial kami berdua. Namun bahkan kalung itu pun hilang di lokasi kecelakaan.
Karena desakan ibuku, Doña Carmela, yang ingin perusahaan memiliki pewaris, aku akhirnya setuju menikahi Stella.
## Tamu Kecil di Altar
Resepsi mewah itu diadakan di sebuah resor taman kaca eksklusif di Tagaytay. Lebih dari 500 tamu VIP hadir, termasuk para politikus, pengusaha besar, dan miliarder.
Aku berdiri di ujung altar, menunggu Stella berjalan menyusuri lorong.
Saat musik mulai dimainkan, Stella muncul mengenakan gaun pengantin berkilauan yang sangat mahal. Ia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah kamera.
Ketika sampai di altar, ia menggenggam tanganku.
“Kamu tampan sekali, sayang,” bisiknya manja. “Aku sudah tidak sabar menjadi Mrs. Imperial.”
Pastor mulai memimpin upacara.
Kami sedang berada di tengah pengucapan janji pernikahan ketika tiba-tiba keributan terjadi di ujung lorong.
Seorang anak perempuan berusia enam tahun berhasil lolos dari penjagaan keamanan hotel.
Ia mengenakan gaun sederhana yang sudah pudar warnanya, sangat kontras dengan kemewahan acara tersebut. Tubuhnya basah oleh keringat, napasnya terengah-engah saat berlari di atas karpet merah menuju altar.
“Hei! Anak jalanan! Apa yang kamu lakukan di sini?!” teriak Stella dengan suara melengking. Ia segera melepaskan tangannya dariku dan menatap anak itu dengan kesal.
“Security! Bawa anak itu pergi! Jangan sampai gaunku kotor!”
Seorang petugas keamanan hendak menangkap anak itu, tetapi aku mengangkat tangan.
“Tunggu. Biarkan dia mendekat.”
“Gabriel! Dia mempermalukan kita!” protes Stella.
Anak kecil itu akhirnya berdiri di depanku dengan tubuh gemetar.
Ia membuka telapak tangannya yang kecil dan kotor, lalu meletakkan sebuah benda tua di tanganku.
“I-Ini untuk Anda…” katanya dengan suara polos sambil menahan tangis. “Mama bilang saya harus memberikannya kepada pria yang namanya G.I. ada di foto ini…”
Saat aku membuka telapak tanganku dan melihat benda itu, seakan seluruh dunia berhenti berputar.

Udara terasa menghilang dari paru-paruku.
Kakiku melemas.
Di tanganku tergenggam sebuah liontin perak tua yang sangat kukenal…
Liontin yang hilang tujuh tahun lalu bersama Clara.
Rahasia di Balik Liontin Perak
Tangan-tanganku gemetar hebat saat menyentuh ukiran inisial G.I. di permukaan liontin yang sedikit tergores itu. Detak jantungku berpacu liar. Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku membuka locket liontin tersebut.
Di dalamnya, terdapat dua buah foto.
Foto pertama adalah foto pernikahanku dengan Clara tujuh tahun lalu—sebuah kenangan yang amat kukenal. Namun, foto kedua di sisi sebelahnya membuat duniaku bergoncang hebat. Itu adalah foto Clara yang sedang tersenyum lembut, menggendong seorang bayi perempuan yang baru lahir di sebuah kamar rumah sakit sederhana. Di latar belakang foto tersebut, terdapat kalender yang menunjukkan tahun tepat satu tahun setelah kecelakaan maut itu terjadi.
Aku menatap anak perempuan di hadapanku, lalu menatap foto bayi itu. Garis wajahnya, mata bulatnya yang jernih… dia adalah replika sempurna dari Clara.
“Siapa nama ibumu, Nak?” tanyaku dengan suara bariton yang bergetar menahan tangis, mengabaikan tatapan bingung dari ratusan tamu undangan.
“Nama Mama… Clara,” jawab anak itu polos. “Mama sedang sakit parah di rumah sakit kota. Dia melihat berita pernikahan Anda di televisi rumah sakit dan menangis semalaman. Tadi pagi, Mama memberikan kalung ini dan menyuruhku naik bus ke sini. Mama bilang… Papa harus tahu kebenaran ini.”
Mendengar kata ‘Papa’, air mataku luruh seketika. Aku berlutut di atas altar, tidak peduli dengan setelan jas mahalku, dan memeluk erat anak perempuan itu. Dia adalah putriku yang kukira telah tiada tujuh tahun lalu.
Keangkuhan yang Runtuh
“Gabriel! Apa-apaan sandiwara murahan ini?!” jerit Stella histeris, wajahnya memerah karena malu di depan para tamu VIP. “Anak jalanan ini pasti penipu yang disewa oleh saingan bisnis kita untuk merusak hari bahagia kita! Security, seret anak haram ini keluar!”
Aku berdiri perlahan, membalikkan badan, dan menatap Stella dengan pandangan sedingin es. Aura kemarahan yang pekat terpancar dari tubuhku, membuat Stella seketika menghentikan makiannya dan melangkah mundur ketakutan.
“Anak haram?” kataku dengan suara yang menggema lewat mikrofon altar, membuat seluruh ruangan membisu. “Dia adalah putri kandungku. Putri dari istri sahku, Clara.”
Ibuku, Doña Carmela, langsung berdiri dari kursi baris depan dengan wajah pucat. “Gabriel, apa yang kamu katakan? Clara sudah mati dalam kecelakaan tujuh tahun lalu! Ibu sendiri yang mengurus…”
“Ibu yang mengurusnya?” potongku tajam, menoleh ke arah ibuku. “Atau Ibu dan Stella yang merencanakan semuanya?!”
Aku memberi isyarat kepada kepala pengawal pribadiku, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. “Bawa dia masuk.”
Pintu taman kaca terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan tangan terborgol digiring masuk oleh dua agen intelijen swasta yang selama ini kubayar. Pria itu adalah mantan kepala sopir keluarga Senator, ayah Stella.
Melihat pria itu, wajah Stella yang tadinya kemerahan langsung berubah pucat pasi seputih kain kafan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat hingga buket bunga di tangannya terjatuh ke lantai.
“Tujuh tahun lalu, kecelakaan itu sengaja diatur agar posisi istri CEO Imperial bisa digantikan oleh putri seorang Senator,” ucap sang sopir dengan kepala tertunduk, suaranya terdengar jelas melalui sistem suara aula. “Namun, target ternyata selamat dan melarikan diri karena ketakutan. Doña Carmela dan Nona Stella tahu tentang hal itu, mereka membayar saya untuk membakar mobil kosong tersebut dan memalsukan laporan kematian agar Tuan Gabriel tidak pernah mencarinya lagi.”
Kehancuran Keluarga Penuh Dosa
Ratusan tamu undangan langsung riuh dalam bisik-bisik penuh keterkejutan. Para jurnalis dan fotografer yang awalnya datang untuk meliput pernikahan termewah tahun ini, langsung menghujani Stella dan Doña Carmela dengan jepretan kamera tanpa henti. Berita ini akan menjadi skandal terbesar yang menghancurkan karier politik sang Senator dan reputasi keluarga mereka dalam hitungan menit.
“Gabriel, sayang… dengarkan aku dulu… aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu!” ratap Stella, mencoba meraih lenganku dengan air mata yang mulai merusak riasan wajahnya yang mahal.
“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu,” desisku penuh rasa jijik sambil menepis tangannya dengan kasar.
Aku melepas bunga yang tersemat di jasku dan melemparnya ke lantai. “Pernikahan ini dibatalkan. Dan untuk kalian berdua…” Aku menatap Stella dan ibuku sendiri yang kini terduduk lemas di kursinya. “…aku tidak akan membiarkan kalian lolos. Kasus percobaan pembunuhan, konspirasi, dan pemalsuan dokumen ini akan langsung ditangani oleh tim pengacara terbaikku bersama pihak kepolisian.”
Beberapa petugas kepolisian yang memang sudah kuhubungi semenjak sopir itu ditangkap, langsung masuk ke dalam aula dan menggiring Stella serta Doña Carmela keluar di hadapan seluruh relasi bisnis mereka. Ratapan, teriakan, dan sumpah serapah Stella perlahan menjauh dan menghilang.
Aku tidak memedulikan kekacauan di sekitarku lagi. Aku berlutut kembali di depan putri kecilku, mengusap air mata di pipinya yang lembut.
“Siapa namamu, Sayang?” tanyaku dengan kelembutan yang belum pernah kutunjukkan pada siapa pun selama tujuh tahun terakhir.
“Luna, Papa…” jawabnya lirih.
Aku tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di wajahku. Aku menggendong Luna ke dalam pelukanku dengan erat. “Mari kita jemput Mama, Luna. Papa berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita lagi.”
Aku melangkah keluar dari taman kaca itu dengan kepala tegak, membawa putriku menuju kehidupan baru. Hari yang awalnya disiapkan untuk merayakan pernikahan palsu yang penuh dosa, justru menjadi hari di mana keadilan ditegakkan, dan takdir menuntunku kembali kepada cinta sejatiku yang sesungguhnya.