Posted in

Aku pikir setelah diusir dari rumah orang tuaku, istri dan kedua anakku akan jadi gelandangan di jalanan, tapi ternyata mereka malah tinggal di hotel mewah. Dari mana ia punya uang sebanyak itu?!

“Fin, itu beneran Ratmi?” tanya Sulastri, suaranya serak dan penuh kecurigaan. Ibunya mendekat, matanya mengikuti arah kepergian mobil itu dengan pandangan tajam, seperti elang yang kehilangan mangsa. “Kayaknya ada yang nggak beres, deh, Fin. Masa dia tiba-tiba glowing kayak tadi, punya mobil, terus apa katanya tadi? Grosir di empat tempat sekaligus? Nggak mungkin! Ini pasti ada yang ditutup-tutupi!”

Arifin membuang napas berat, merasakan beban kepala yang berdenyut. “Aku nggak tahu, Bu. Dengar sendiri ‘kan tadi dia jawab apa? Bukannya ngasih tahu dia dapat dari mana, malah ngerendahin aku! Dia sengaja, Bu! Sengaja mau pamer!”

Arifin berjalan dengan langkah gontai. Sesekali ia menghentakkan kakinya ke aspal, melampiaskan kekesalan yang tak tertahankan. Di belakangnya, Sulastri berlari menyusul, napasnya terengah-engah, tetapi mulutnya tak henti menggerutu. Kali ini, ia tak hanya menyalahkan Ratmi, tetapi juga Arifin secara langsung.

“Pokoknya Ibu nggak mau tahu! Kamu harus selidiki semuanya! Ini nggak mungkin rezeki halal, Fin. Dulu dia cuma ibu rumah tangga, nggak punya modal, nggak punya relasi! Ibu kenal Ratmi luar-dalam! Ini pasti ada settingan! Dia nggak mungkin kayak mendadak. Ini pasti ada yang salah!” Desakan ibunya kali ini terasa lebih menusuk dan menuntut. Sulastri mencengkeram lengan putranya dengan paksa. “Kamu jangan diam saja! Kalau kamu diam, berarti kamu membenarkan dia lebih hebat dari kamu! Kamu harus cari tahu, Fin! Pasti ada Om-om kaya di belakangnya!”

Arifin hanya berdehem pelan. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan ibunya. Namun, kali ini ia tak hanya mendengar, ia mulai terpancing. Rasa malu dan harga diri yang terluka menjadi bahan bakar baru. Ratmi yang dulu bergantung, kini melompat jauh ke atas. Rasa penasaran itu kini berubah menjadi kebutuhan untuk membuktikan kecurangan.

Mereka pun bergegas meninggalkan pelataran pengadilan.

Arifin menarik tuas gas motornya dengan kasar. Di sepanjang perjalanan pulang, ia bisa merasakan kemarahan ibunya yang tidak tertahankan. Sulastri menyumpah-serapah Ratmi habis-habisan, menyebut mantan menantunya itu curang, pembohong, perempuan murahan, dan berbagai macam tuduhan lain.

“Kurang ajar! Dia sengaja, Fin! Dia sengaja mau mempermalukan kita! Dulu waktu sama kamu dia biasa aja, pakai daster butut! Sekarang sok-sokan kaya! Mobilnya saja lebih mahal dari harga rumah kita!” Sulastri mencubit lengan Arifin yang sedang mengendarai motor dengan keras, membuatnya seketika meringis pelan. “Makanya Ibu bilang, kamu itu jangan lembek! Coba kamu waktu itu tegas! Pasti dia nggak akan berani macam-macam dan punya kesempatan punya simpanan!”

Arifin memilih diam, fokus pada jalanan. Kepalanya pusing, tetapi ia mulai mengatur strategi. Ia tahu, berdebat dengan ibunya hanya akan menambah masalah baru. Ia sendiri terlalu sibuk mencerna kenyataan yang baru saja ia saksikan. Ratmi yang dulu ia anggap remeh, yang ia pikir tidak akan sanggup hidup tanpa nafkah darinya, kini memiliki segalanya. Itu adalah penghinaan terbesar.

Malam harinya, Arifin tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamarnya yang terasa sempit. Bayangan Alphard hitam itu terus menghantuinya. Ia membuka ponselnya, mencari akun media sosial Ratmi, tetapi tidak menemukan apa-apa. Semuanya tertutup, seolah perubahan Ratmi adalah misteri yang disiapkan untuk menghancurkannya.

Keesokan harinya, Arifin mendapatkan pesan dari Linda. Kekasihnya itu akan pulang dari kota dan menyuruh Arifin menunggunya di restoran. Sebelum ke rumah, Linda ingin berbicara banyak hal dengan Arifin. Termasuk tentang tuntutan Ratmi, kemunculannya yang ‘menggila’, dan juga video pertengkarannya dengan Ratmi yang sempat menghebohkan.

“Mau ke mana, kamu sepagi ini?!” tanya Sulastri begitu Arifin menyalakan motor di halaman. Suara ibunya terdengar serak, mungkin baru bangun, tetapi nadanya sudah penuh tuntutan.

Arifin menoleh sekilas ke arahnya. Kali ini, ia menjawab tanpa jeda. “Aku mau ketemu Linda. Dia baru mau pulang dari kota. Ada yang harus kami bicarain buat nyelesaiin masalah ini. Ibu nggak usah banyak ngomel bisa, nggak? Ibu yang dulu dukung aku sama Linda. Jadi, ya, sudah. Semuanya sudah terjadi. Sekarang biar aku yang urus.”

Sulastri mendengus kesal, tetapi Arifin tidak peduli. Ia mengendarai motornya, meninggalkan pekarangan rumah dengan pikiran penuh perhitungan. Linda adalah harapan barunya, satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa pilihannya meninggalkan Ratmi tidak salah.

Beberapa menit kemudian, Arifin tiba di restoran yang dijadikan tempat untuk mereka bertemu. Ia memilih meja di teras luar, dekat pagar pembatas, agar bisa memantau. Arifin membuat pesanan, lantas duduk. Udara pagi masih segar, tetapi pikirannya terasa panas.

Setelah pesanan datang, ia menyeruput kopi pahitnya perlahan, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang karena bayangan Ratmi terus muncul.

Saat matanya mengedar ke arah parkiran, sebuah pemandangan yang tak terduga terjadi. Sebuah mobil berwarna hitam mengilap, persis seperti yang digunakan Ratmi kemarin, terparkir rapi di sana. Alphard hitam. Kali ini, ia tidak salah lagi.

Jantung Arifin mendadak terhenti, kopi di tenggorokannya terasa dingin. Ia langsung berdiri, meninggalkan cangkir kopinya begitu saja. Pandangannya terpaku pada mobil itu. Benar saja, beberapa saat kemudian, dari pintu restoran, Dewi dan Rahayu, kedua anaknya, keluar.

Mereka tampak jauh lebih bersih, berpakaian bagus, bahkan gaya rambut mereka pun terlihat terawat, mencerminkan kehidupan yang lebih baik. Senyum kecil terukir di wajah mereka. Namun, Arifin tidak melihat Ratmi. Kedua anaknya didampingi oleh seorang pria berbadan besar yang ia duga adalah sopir pribadi mereka, mengenakan seragam rapi.

Arifin berjalan cepat menghampiri mereka yang baru saja hendak masuk ke dalam mobil. Langkahnya terburu-buru, dipicu oleh campuran rasa ingin tahu, kecemburuan, dan amarah.

“Dewi! Rahayu!” panggil Arifin dengan suara yang sedikit bergetar, lebih seperti bisikan yang dipaksakan.

Kedua anak itu sontak menoleh. Raut wajah mereka langsung berubah, dari ceria menjadi datar dan dingin. Dewi, si sulung, memandang ayahnya tanpa ekspresi, seolah menatap orang asing.

“Mau apa lagi, Yah?” tanya Dewi dingin, memegang tas sekolahnya erat-erat. Nada suaranya menusuk, jauh lebih dewasa dari usianya.

Arifin mengabaikan sopir yang kini berdiri siaga di samping kedua anak itu. Ia memegang lengan Dewi dengan kuat, sorot matanya menuntut jawaban.

“Kalian dari mana? Di mana Ibu kalian? Jawab Ayah dengan jujur! Dari mana Ibu kalian dapat semua ini? Dia selingkuh, kan? Ratmi punya om-om kaya, makanya dia bisa kayak gini? Iya?!”

Arifin langsung menuduh tanpa henti, memproyeksikan keraguan dan tuduhan ibunya ke anak-anaknya sendiri.

Rahayu, yang lebih muda, langsung mundur selangkah, menatap ayahnya dengan sorot mata terluka dan sedikit ketakutan.

Dewi menepis tangan Arifin dari lengannya. Ia menatap tajam, tatapannya memancarkan kepahitan.

“Ibu nggak selingkuh! Jangan memutarbalikkan fakta, Yah! Kami baru selesai makan di sini, baru pulang sekolah,” balas Dewi lantang. Ia menunjuk ke arah tas punggung sekolah yang ia bawa sebagai bukti.

“Pergilah, Yah. Bukannya selama ini Ayah nggak peduli sama kita? Kami sering kelaparan waktu sama Ayah! Sekarang kita sudah hidup enak. Kami tinggal di hotel mewah, nggak perlu repot lagi! Jadi, jangan pernah hubungi kami lagi!”