“TUAN… BOLEHKAH SAYA MEMBERSIHKAN RUMAH ANDA SEBAGAI GANTI SEPIRING MAKANAN?” BISIK SEORANG ANAK GELANDANGAN KEPADA SEORANG MILIARDER — DAN APA YANG DILAKUKAN PRIA ITU AKAN MEMBUAT ANDA MENETESKAN AIR MATA**
# Hati yang Sekeras Es
Don Arturo dikenal sebagai salah satu miliarder paling kaya dan paling berpengaruh di seluruh negeri. Ia adalah CEO sebuah kerajaan properti raksasa. Namun di balik kekayaannya yang mencapai miliaran rupiah, tersembunyi seorang pria dengan hati yang sekeras es.
Sejak istrinya dan putra semata wayangnya meninggal dalam sebuah kecelakaan sepuluh tahun lalu, ia menutup hatinya dari dunia. Ia menjadi dingin, keras, dan tak mengenal belas kasihan dalam bisnis. Baginya, setiap orang memiliki maksud tersembunyi.
Pada suatu malam yang dingin dan diguyur hujan deras, Don Arturo baru saja pulang ke mansionnya yang luas dan sunyi.
Saat turun dari mobil Maybach mewahnya, para penjaga keamanan melihat sosok kecil berdiri di luar gerbang besi besar.
Seorang anak laki-laki.
Usianya mungkin sekitar tujuh tahun.
Tubuhnya basah kuyup oleh hujan dan gemetar kedinginan. Pakaiannya compang-camping dan kebesaran. Kakinya telanjang tanpa alas.
Di tangannya yang menggigil, ia memegang erat selembar kain usang.
Para penjaga hendak mengusir anak itu, tetapi Don Arturo mengangkat tangannya memberi isyarat agar mereka berhenti.
Ia mendekati gerbang.
Tatapannya dingin dan tajam.
Ia mengira anak itu akan meminta uang atau belas kasihan.
Namun ketika anak itu berbicara, Don Arturo terkejut.
> “T-Tuan…” bisik anak itu dengan bibir yang mulai membiru karena dingin. “Bolehkah saya membersihkan halaman rumah Anda? Atau mungkin mobil Anda?”
Don Arturo mengernyit.
> “Aku tidak punya uang receh.”
Anak itu menggeleng cepat.
> “Saya tidak meminta uang, Tuan,” jawabnya penuh hormat, dengan martabat yang tak pernah ia duga dari seorang anak jalanan. “B-Bahkan makanan sisa pun tidak apa-apa. Sebagai upah untuk pekerjaan saya. Tolong…”
Ada sesuatu yang tiba-tiba menyentuh hati Don Arturo yang selama ini terkunci rapat.
Mata anak itu.
Penuh kepolosan.
Penuh ketakutan.
Namun juga penuh tekad.
Mata yang sangat mengingatkannya pada putranya yang telah tiada.
Tanpa sadar, Don Arturo membuka pintu kecil di samping gerbang.
> “Masuklah.”
Perintahnya terdengar dingin, tetapi jauh lebih lembut dari biasanya.
Para pelayan mansion terkejut melihat tuan mereka yang terkenal keras masuk bersama seorang anak gelandangan yang kotor dan basah kuyup.
Don Arturo segera memerintahkan agar anak itu dimandikan dan diberi pakaian bersih serta kering.
Beberapa saat kemudian, anak itu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaus bersih yang masih terlalu besar untuk tubuhnya.
Don Arturo mempersilahkannya duduk di meja makan panjang yang mewah.
Ia memanggil koki pribadinya dan memerintahkan untuk menyiapkan makan malam terbaik.
Ayam goreng hangat.
Sup panas.

Nasi putih.
Dan berbagai macam buah segar.
> “Habiskan semuanya. Kamu tidak perlu membersihkan apa pun.”
kata Don Arturo sambil duduk di ujung meja yang lain dan memperhatikan anak itu dengan saksama.
Anak itu menatap hidangan di depannya dengan mata yang berbinar, seolah-olah sedang melihat keajaiban. Namun, ia tidak langsung menyantap makanan tersebut. Ia justru menangkupkan kedua tangan kecilnya, memejamkan mata, dan berbisik pelan, mengucap syukur kepada Tuhan atas makanan yang ada di hadapannya.
Melihat pemandangan itu, dinding es di hati Don Arturo retak sedikit demi sedikit.
Ketika anak itu akhirnya mulai makan, ia melakukannya dengan sangat sopan. Ia tidak makan dengan rakus seperti orang kelaparan pada umumnya. Setiap suapan ia nikmati dengan penuh rasa hormat. Namun, setelah menghabiskan setengah dari porsi ayam goreng dan sup hangatnya, anak itu tiba-tiba berhenti. Ia meletakkan sendoknya.
Don Arturo mengernyitkan dahi. “Kenapa berhenti? Apakah makanannya tidak enak?”
“Makanan ini sangat lezat, Tuan. Ini makanan paling enak yang pernah saya lihat seumur hidup saya,” jawab anak itu, suaranya bergetar menahan tangis.
“Lalu kenapa tidak dihabiskan?”
Anak itu menunduk, meremas ujung kaus besarnya yang bersih. “Tuan… bolehkah saya membungkus sisa makanan ini? Saya ingin membawanya pulang untuk adik perempuan saya. Dia sedang sakit di bawah jembatan, dan dia belum makan sejak kemarin. Saya berjanji akan bekerja dua kali lebih keras besok untuk membayar makanan ini.”
Mendengar kata-kata itu, jantung Don Arturo seakan berhenti berdetak. Rasa haru dan bersalah bercampur menjadi satu, menghantam dadanya dengan begitu telak. Anak sekecil ini, di tengah kelaparan dan dinginnya malam, justru lebih memikirkan adiknya daripada perutnya sendiri. Kepolosan dan ketulusan anak ini meruntuhkan seluruh keangkuhan yang selama sepuluh tahun ini Don Arturo bangun.
Air mata yang sudah satu dekade tidak pernah mengalir, perlahan menggenang di mata sang miliarder.
Don Arturo bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati anak itu, lalu berlutut di sampingnya agar tinggi mereka sejajar—sebuah tindakan yang belum pernah ia lakukan kepada siapa pun. Ia menggenggam tangan kecil anak itu yang kasar dan kapalan.
“Siapa namamu, Nak?” tanya Don Arturo, suaranya serak karena menahan emosi.
“Nama saya Mateo, Tuan.”
“Mateo… kamu tidak perlu membungkus sisa makanan ini,” kata Don Arturo lembut, senyuman hangat akhirnya terukir di wajahnya yang terbiasa kaku. “Habiskan makananmu sampai kenyang.”
Don Arturo kemudian menoleh ke arah kepala pelayan dan koki pribadinya yang berdiri di sudut ruangan dengan mata yang juga berkaca-kaca.
“Siapkan mobil sekarang. Bawa kotak P3K, selimut tebal, dan bungkus makanan hangat yang baru dalam jumlah banyak. Kita akan menjemput adik Mateo sekarang juga,” perintah Don Arturo tegas.
Malam itu juga, Maybach mewah milik Don Arturo membelah pekatnya malam dan derasnya hujan, menuju ke sebuah kolong jembatan yang gelap. Di sana, mereka menemukan seorang anak perempuan kecil berusia lima tahun yang sedang menggigil demam di atas tumpukan kardus basah.
Don Arturo sendiri yang turun dari mobil, mengabaikan pakaian mahalnya yang kotor terkena lumpur. Ia mengangkat tubuh rapuh anak perempuan itu ke dalam pelukannya, menyelimutinya dengan kain wol yang hangat, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Malam itu menjadi malam terakhir bagi Mateo dan adiknya hidup di jalanan.
Don Arturo membawa kedua anak itu ke rumah sakit terbaik miliknya untuk dirawat hingga sepenuhnya sembuh. Dan setelah itu, ia tidak mengizinkan mereka kembali ke jalanan ataupun mengirim mereka ke panti asuhan. Don Arturo resmi mengadopsi Mateo dan adiknya sebagai anak-anaknya sendiri.
Mansion yang selama sepuluh tahun sunyi seperti kuburan, kini kembali dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Di dalam diri Mateo dan adiknya, Don Arturo tidak hanya menemukan cara untuk menyembuhkan luka masa lalunya, tetapi ia juga menyadari bahwa kekayaan sejatinya bukan terletak pada angka di rekening banknya, melainkan pada kemampuan tangannya untuk menyelamatkan jiwa yang hampir hilang.