Setelah aku mengetahui bahwa aku hamil anak dari musuh terbesarku, aku diam-diam melarikan diri dari kota di tengah malam yang hujan.
Namun tiga bulan kemudian, dia menemukanku di sebuah pegunungan terpencil…
Setelah melihat dua garis merah pada test kehamilan, aku diam-diam memesan tiket bus untuk meninggalkan kota.
Bukan karena aku tidak ingin anak ini memiliki kehidupan yang baik.
Tapi karena aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menghadapi pria itu.
Pria yang sudah lebih dari dua puluh tahun kuanggap sebagai musuh bebuyutan.
Tiga bulan kemudian.
Sebuah SUV yang tertutup debu merah berhenti di depan rumah kayu kecil di pegunungan terpencil di utara.
Dari sana turun seorang pria dengan kaus hitam kusut, matanya merah seolah sudah berhari-hari tidak tidur.
Dia berdiri di halaman dan menatapku tajam.
“Anika… kamu hebat sekali membuat orang yang mencarimu jadi gila.”
Suaranya serak.
Lalu perlahan matanya turun ke perutku yang sudah sedikit membuncit di balik pakaian longgar.
Seluruh tubuhnya menegang.
Beberapa detik kemudian, dia melangkah cepat dan mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kamu bawa anakku lalu kamu menghilang begitu saja?”
Aku adalah Anika Reyes.
Sejak kecil, aku dan Damon Villanueva tidak pernah akur.
Saat kami masih kecil di pemukiman lama dekat pelabuhan, apa pun mainan yang dia inginkan, aku selalu berusaha merebutnya.
Dan apa pun yang penting bagiku, dia selalu berusaha menghancurkannya.
Aku menyembunyikan sandalnya di kolam ikan.
Dia malah menuangkan satu kotak penuh cat ke pakaianku tepat di hari foto kelas.
Saat SMA, kalau aku peringkat satu, dia nomor dua.
Dan kalau dia peringkat satu, aku akan melakukan apa saja untuk menjatuhkannya.
Kami bersaing dari kelas sampai lapangan basket, dan seluruh sekolah mengenal kami seperti anjing dan kucing.
Setelah lulus kuliah, Damon resmi memimpin perusahaan keluarganya.
Dan seperti lelucon takdir, perusahaan keluargaku adalah salah satu pesaing terbesar mereka.
Dan lebih lucu lagi…
Aku juga satu-satunya pewaris keluargaku.
Di situlah perang sebenarnya dimulai.
Aku merebut kontraknya.
Dia mengambil klienku.
Aku meluncurkan promo, dia langsung menurunkan harga dua kali lipat.
Dia membeli tanah di depanku.
Dan aku membeli tanah di sebelahnya.
Di dunia bisnis, semua orang tahu betapa kami saling membenci, seolah tinggal sedikit dorongan lagi kami akan saling membunuh di ruang rapat.
Sampai malam itu.
Malam pesta ulang tahun seorang ketua perusahaan kaya terkenal di kota.
Hotel itu bersinar di bawah lampu gantung mahal.
Suara biola bergema di seluruh aula besar.
Begitu aku masuk, aku langsung mendengar suara yang sangat familiar di belakangku.
“Sudah lama tidak melihatmu berpakaian layak.”
Aku menoleh.
Damon berdiri di sana memakai jas hitam, memegang gelas anggur dengan senyum menyebalkan di bibirnya.
“Lebih baik daripada orang yang terlihat seperti penagih hutang sepanjang tahun,” jawabku dingin.
Dia tertawa pelan.
“Mulutmu masih tajam.”
“Aku tidak pernah sopan pada musuh.”
“Kebetulan sekali.” Dia mendekat sedikit. “Aku juga.”
Kami sangat dekat sampai aku bisa mencium parfumnya yang dingin dan beraroma kayu.
Berbahaya.
Tapi anehnya…
sangat mudah membuat hati goyah.
Aku merasa ada yang tidak beres setelah minum koktail kedua.
Pandanganku mulai berputar.
Seluruh tubuhku tiba-tiba panas.
Musik di sekitarku terdengar jauh dan kabur.
Aku mencoba berdiri dan keluar dari area VIP, tapi seorang pria menghalangiku.
Dia Carlos Lim.
Seorang investor yang sudah beberapa kali kutolak bekerja sama.
“Nona Reyes, kamu tidak baik-baik saja?”
Dia tersenyum palsu sambil meletakkan tangannya di pinggangku.
Aku langsung mendorongnya.
“Menjauh.”
Tapi tubuhku sudah lemah dan hampir tidak ada tenaga.
Carlos menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Aku sudah memesan kamar di atas. Kita bisa bicara privat di sana.”
Setelah berkata itu, dia menarikku paksa ke arah lift.
Aku menggigit bibirku keras-keras agar tetap sadar.
Begitu pintu lift terbuka, aku mengumpulkan sisa tenagaku untuk mendorongnya dan lari.
Aku mendengar umpatan dari belakang.
Aku terhuyung di koridor panjang berkarpet merah.
Detak jantungku kacau.
Napasku panas.
Sampai akhirnya aku menabrak dada seseorang yang keras.
Aku langsung diselimuti aroma kayu yang dingin dan familiar.
“Tch.”
Suara rendah terdengar di atas kepalaku.
“Kenapa setiap kali aku melihatmu, kamu selalu dalam keadaan menyedihkan?”
Aku mendongak.
Damon.
Carlos juga datang menyusul.
“Tuan Damon, ini hanya salah paham. Dia mabuk jadi aku ingin membawanya ke kamar untuk istirahat…”
Damon tidak menjawab.
Dia hanya menarikku ke belakangnya.
Tatapannya dingin sampai suhu di lorong terasa turun.
“Aku akan memberimu tiga detik.”
Carlos membeku.
“Ini urusan pribadi kami.”
“Satu.”
“Jangan keterlaluan.”
“Dua.”
Wajah Carlos pucat dan akhirnya pergi dengan tangan mengepal.
Aku bersandar ke dinding sambil terengah-engah.
Tubuhku semakin panas.
Damon menoleh ke arahku.
Begitu melihat keadaanku, ekspresinya langsung berubah.
“Sial…”
Dia mengatupkan rahangnya kuat.
“Siapa yang memberimu obat di minumanmu?”
Aku sudah terlalu tidak sadar untuk menjawab.
“Dingin…”
Tanpa sadar aku memegang pakaiannya.
“Tolong… sandaran saja…”
Dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku.
“Anika, lihat aku.”
Aku menatapnya.
Matanya sedalam malam di luar jendela.
“Kamu sadar apa yang kamu lakukan?”
Aku tersenyum lemah.
“Sadar…”
“Apa yang kamu sadari?”
“Kalau… kamu lebih wangi daripada semua pria menjengkelkan di luar sana…”
Ekspresi Damon membeku.
Dia mengumpat pelan, lalu tiba-tiba mengangkatku.
Pintu suite tertutup keras di belakang kami.
Dia meletakkanku di sofa dengan hati-hati lalu berbalik untuk menelepon dokter.
Tapi aku memegang tangannya.
Telapak tangannya dingin.
Dan terasa begitu nyaman sampai aku tidak mau melepaskannya.
“Jangan pergi…”
kataku hampir menangis.
“Aku tidak enak badan…”
Damon memejamkan mata beberapa detik, seperti menahan diri.
“Anika.”
“Hmm…”
“Kalau kamu terus menarikku…

”
Dia membungkuk mendekat.
Suaranya sangat rendah, hampir menakutkan.
“…aku tidak akan bisa tetap bersikap seperti pria baik malam ini.”
Malam itu, semua batas pertahanan yang kami bangun selama dua puluh tahun runtuh berkeping-keping. Pertarungan bisnis, dendam masa kecil, dan ego yang setinggi langit meleleh dalam kehangatan yang tak terkendali.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuh yang remuk dan pikiran yang langsung disergap kepanikan. Di sampingku, Damon masih tertidur pulas dengan satu tangan merangkul pinggangku erat, seolah takut aku akan menghilang. Wajahnya saat tidur terlihat begitu tenang, jauh dari sosok musuh bebuyutan yang biasa kutemui di ruang rapat.
Aku panik. Aku melepaskan pelukannya perlahan, memakai pakaianku, dan melarikan diri dari hotel itu sebelum dia terbangun. Selama beberapa minggu setelahnya, aku mengabaikan semua panggilannya, membatalkan semua rapat dengannya, dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Hingga akhirnya, mual di pagi hari dan dua garis merah pada test pack mengubah seluruh hidupku.
Tiga Bulan Kemudian, di Pegunungan Utara
Kembali ke masa sekarang, di halaman rumah kayu kecilku yang dikelilingi kabut dingin.
Cengkeraman tangan Damon di pergelangan tanganku terasa begitu kuat, namun anehnya, ada getaran halus yang menandakan betapa dia sedang menahan emosi yang meluap-luap. Matanya yang merah menatapku dengan campuran rasa marah, lega, dan kerinduan yang mendalam.
“Lepaskan, Damon. Sakit,” ucapku, mencoba menarik tanganku kembali, namun dia justru mempererat genggamannya, meski berhati-hati agar tidak melukaiku.
“Sakit?” Damon tertawa hambar, suara tawanya terdengar serak dan menyakitkan. “Bagaimana dengan hatiku, Anika? Tiga bulan… tiga bulan aku seperti mayat hidup mencarimu ke seluruh penjuru negeri. Aku memeriksa setiap manifes penerbangan, setiap hotel, setiap CCTV jalanan. Dan di sini kamu, bersembunyi di atas gunung, merawat anakku sendirian?!”
Aku membuang muka, tidak berani menatap matanya yang membara. “Ini bukan anakmu. Ini urusanku.”
“Jangan bohong padaku!” bentak Damon, maju satu langkah hingga jarak di antara kami mengikis habis. Nafasnya yang hangat menerpa keningku. “Malam itu… aku tahu persis apa yang terjadi. Dan bentuk perutmu itu tidak bisa membohongiku. Berapa usianya? Tiga bulan, kan?”
Aku terdiam. Air mata yang sejak tadi kutahan mulai mengalir di pipiku, bercampur dengan udara pegunungan yang dingin. Ego yang selama ini kubanggakan mendadak runtuh di hadapannya.
“Kenapa, Anika?” suara Damon tiba-tiba melunak, berubah menjadi bisikan yang dipenuhi keputusasaan. Dia melepaskan pergelangan tanganku, lalu perlahan—dengan sangat lembut, seolah takut aku akan hancur—kedua telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup pipiku. “Kenapa kamu harus lari? Apakah menjadi ayah dari anakmu adalah hal yang begitu menjijikkan bagimu? Apakah kamu begitu membenciku?”
Aku menggelengkan kepala, air mataku semakin deras. “Karena kita adalah musuh, Damon! Sejak kecil kita selalu menghancurkan satu sama lain. Bagaimana mungkin dua orang yang saling membenci bisa membesarkan seorang anak bersama? Aku tidak ingin anak ini tumbuh di tengah peperangan kita!”
Damon menatapku lama, matanya melembut, memancarkan ketulusan yang belum pernah kulihat selama dua puluh tahun mengenalnya. Dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya.
“Kamu bodoh,” ucapnya pelan, sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya. “Dua puluh tahun kita bersaing, apa kamu benar-benar berpikir itu karena aku membencimu?”
Aku tertegun, menatapnya dengan bingung.
“Kalau aku membencimu, aku tidak akan membiarkan perusahaanku mengalah di beberapa kontrak besar agar perusahaan keluargamu tetap bertahan. Kalau aku membencimu, aku tidak akan menghajar Carlos Lim sampai dia masuk rumah sakit keesokan harinya setelah malam itu,” Damon menarik napas dalam-dalam, menatapku dengan tatapan paling intens yang pernah kurasakan.
“Aku mengusikmu sejak kecil karena itu satu-satunya cara agar matamu hanya tertuju padaku, Anika. Di dunia ini, musuh terbesarku bukanlah kamu, melainkan ketakutanku kalau suatu hari kamu akan menatap pria lain selain aku.”
Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Pengakuan yang tidak pernah kubayangkan akan keluar dari mulut seorang Damon Villanueva.
Damon perlahan berlutut di depanku, di atas tanah pegunungan yang dingin. Dia meletakkan telinga dan telapak tangannya di atas perutku yang membuncit, memejamkan mata dengan penuh khidmat.
“Perang kita sudah selesai, Anika. Aku menyerah. Mulai hari ini, aku kalah total di tanganmu,” ucap Damon sambil mendongak menatapku, matanya berkaca-kaca. “Kembalilah bersamaku. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai istriku. Biarkan aku menjaga kalian berdua.”
Di tengah kesunyian pegunungan yang berkabut, aku akhirnya mengangguk. Musuh bebuyutanku kini telah berubah menjadi pelindung terbaikku, dan babak baru kehidupan kami yang sebenarnya baru saja dimulai.
Untuk memvisualisasikan momen emosional saat Damon menemukan Anika di pegunungan, berikut adalah video yang menggambarkan adegan tersebut.