Posted in

Enam tahun aku tidak pernah pulang, aku malas melihat istriku yang memberiku anak ca cat. Kubiarkan saja dia menderita mengurus anak itu sendiri.

Tapi aku dibuat kaget saat bertemu kembali dengannya di IGD ketika mengantar istri baruku yang penda rahan.

Ternyata wanita yang dulu kutinggalkan sekarang ….

“Baru aja diomongin, anak itu udah nelpon kamu aja. Dia pasti kangen tuh cuman gengsi. Kalian ngobrol aja, Ibu mau langsung istirahat.” Ibu Nida tersenyum senang setelah melirik layar ponsel sang menantu, ia berpikir anak dan menantunya baik-baik saja.

Zahira membiarkan ponselnya tetap bergetar. Tidak langsung menerima panggilan. Ia menduga-duga apa yang akan dibicarakan oleh suaminya.

Ibu satu anak itu menarik napas dalam-dalam. Meraih benda pipih itu dan menempelkan di telinga.

“Assalamualaikum, Mas.” Zahira mengucap salam dengan suara lembut meski da danya bergejolak.

“Besok atau lusa kamu harus udah di Jakarta. Kalau Ibu nanya, bilang aja mau ngurus pengajuan nikah dinas. Anak itu nggak usah dibawa, titip aja ke Ibu.”

Zahira mematung, masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Firhan secara tiba-tiba. Pria itu bahkan tidak membalas salah Zahira atau basa-basi menanyakan kabar. Setelah enam tahun berlalu. Ini kali pertama Firhan menelponnya.

“Kamu denger aku ngomong nggak?”

“Iya, Mas.”

“Aku pesankan tiket.”

“Nggak usah, Mas. Aku pakai kereta aja.”

“Iya, cocoknya emang naik kereta. Kamu kan kampungan pasti nggak bisa naik pesawat, bisa-bisa mabuk udara, malu-maluin.”

Tangan Zahira mengepal, mencoba menahan diri untuk tidak memaki sang suami. Pria itu seenaknya.

“Kalau bisa secepatnya. Biar Ibu nggak ngomel terus. Awas kalau berani ngomong macem-macem ke Ibu.”

“Ak–”

Sambungan telepon terputus sebelum Zahira membalas. Ia hanya bisa menghela napas. Sikap Firhan yang tak pernah berubah membuat Zahira semakin lelah apalagi tahu suaminya mendua. Sudah tidak ada harapan untuk masa depan pernikahan mereka.

“Aku ikut saja permainanmu, Mas. Kita lihat siapa yang akan kalah nantinya.”

Setelah menghabiskan teh, Zahira beranjak. Ia butuh istirahat menenangkan hati dan pikiran yang terus berkecamuk.

Selepas bersih-bersih dan berganti pakaian, Zahira naik ke atas ran jang, dimana putranya sudah terlelap dengan wajah damai.

Didekapnya Raja dengan penuh cinta.

“Bunda akan kerja keras buat masa depan Aja. Bunda akan berusaha membuat Aja bahagia. Doain Bunda terus ya, Nak. Meskipun Ayah belum bisa sayang Aja, ada Bunda dan Oma yang sayang kamu.”

Zahira memutuskan untuk melepaskan rasa yang tak pernah berbalas. Ia tidak mau cinta sendirian pada Firhan. Mencintai pria itu hanya mendatangkan perih.

*

Citra sedang duduk di sofa ruang tamu. Di hadapannya, beberapa ibu-ibu Persit (Persatuan Istri Tentara) datang menjenguk dengan membawa keranjang buah dan makanan.

​”Sabar ya, Mbak Citra. Mungkin memang belum rezekinya,” ucap salah satu ibu senior dengan nada prihatin. “Sing sabar, nanti juga dikasih lagi sama Gusti Allah. Yang penting sekarang istirahat total dulu.”

​Citra tersenyum manis. “Iya, Bu. Terima kasih doanya. Saya juga sedih banget, Mas Firhan apalagi. Dia sangat mengharapkan anak ini.”

​Namun, di dalam hati, Citra menggerutu hebat. Sabar, sabar… kalian nggak tahu rasanya perut dikuras pasca kegu guran! Sakitnya setengah mati! Kalau bukan karena Mas Firhan yang maksa punya anak, aku ogah ha mil lagi. Males banget kalau badan jadi melar dan nggak bisa gaya lagi.

​Setelah ibu-ibu itu pulang, Citra langsung merebahkan diri di sofa tanpa peduli piring-piring kotor bekas suguhan.

​”Mas! Mas Firhan!” teriaknya.

​Firhan yang baru saja selesai mencuci motor di depan segera masuk. “Iya, Sayang? Ada apa?”

​”Tolong beresin tuh piring bekas ibu-ibu tadi. Aku capek banget dengerin ceramah mereka. Lagian, aku nggak mau ha mil dulu ya, Mas, minimal setahun dua tahun ke depan. Aku trauma.”

​Firhan terdiam sejenak. Kecewa menyelinap di hatinya. Sebagai pria, ia sangat mendambakan kehadiran seorang anak yang bisa ia pamerkan pada rekan-rekannya. Namun, melihat kondisi Citra yang baru pulih, ia mengalah lagi.

​”Iya, kalau itu mau kamu. Kita tunda dulu,” jawab Firhan pelan.

​Ia mulai membereskan piring-piring itu ke dapur. Saat tangannya menyentuh air, tiba-tiba bayangan Dokter Zahira di rumah sakit kembali muncul. Suara dokter itu terus terngiang.

“Suaranya bener mirip Zahira, nggak cuman namanya aja yang mirip. Tapi mustahil itu Zahira. Dia pasti sibuk ngurus anaknya itu. Nggak mungkin dia jadi dokter.”

Citra berdiri di belakang Firhan, keningnya berkerut mendengar suaminya bergumam dan menyebut nama Zahira.

“Ngapain sih kamu mikirin dokter itu terus? Naksir sama dia?”

Firhan terlonjak, gelas di tangan lepas dan menghan tam lantai hingga serlihannya menancap di punggung kaki.

“Aduh, Sayang. Kamu bikin kaget aja.” Firhan gelagapan.

“Aku merhatiin loh, Mas. Kamu sering lirik-lirik ke dia di RS.” Tangan Citra terlipat di dada. “Kamu jangan harap bisa dapetin dia, Mas. Dokter muda itu pasti maunya sama perwira tajir, kamu kan termasuk perwira yang golongan menengah ke bawah. Agak kere, mobil aja bukan yang keluaran terbaru.”

Firhan terbelalak. “Apa maksud kamu bilang begitu, Cit?” Ia naik pitam merasa direndahkan oleh sang istri.