Posted in

SEORANG IBU BERUSIA 70 TAHUN DI FILIPINA MEMINTA UANG KEPADA ANAKNYA AGAR BISA MAKAN—NAMUN SANG ANAK HANYA MENYURUHNYA PULANG DENGAN MEMBAWA SEKARUNG BERAS, DAN APA YANG DITEMUKANNYA SETELAH TIBA DI RUMAH MEMBUAT SELURUH TUBUHNYA GEMETAR…

SEORANG IBU BERUSIA 70 TAHUN DI FILIPINA MEMINTA UANG KEPADA ANAKNYA AGAR BISA MAKAN—NAMUN SANG ANAK HANYA MENYURUHNYA PULANG DENGAN MEMBAWA SEKARUNG BERAS, DAN APA YANG DITEMUKANNYA SETELAH TIBA DI RUMAH MEMBUAT SELURUH TUBUHNYA GEMETAR…

Menjelang senja, Rosa Santos tiba di jalan utama Barangay San Miguel, Batangas. Gerimis turun perlahan, dan lumpur di jalan menempel pada sandal tuanya. Ia berjalan pelan sambil bertumpu pada tongkat, sementara tas anyaman tua yang tergantung di bahunya hanya berisi beberapa keping uang receh yang berdering pelan.

Di usia tujuh puluh tahun, setiap langkah terasa jauh lebih berat dibandingkan dulu. Lututnya nyeri, punggungnya kaku, dan rasa lapar seolah mencengkeram perutnya. Namun ia tetap melangkah—karena tidak ada lagi tempat lain untuk meminta bantuan.

Putranya, Marco Reyes, adalah pemilik toko bahan bangunan besar di pinggir jalan raya. Ia memiliki rumah luas dengan pagar besi dan sebuah mobil pikap baru yang terparkir di halaman. Dalam perjalanan ke sana, Rosa terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa anak kandungnya tidak mungkin membiarkannya kelaparan.

Saat gerbang dibuka, menantunya, Lara Reyes, keluar lebih dulu. Ia memandang Rosa dari ujung kepala hingga kaki, alisnya terangkat ketika melihat ujung gaun tua yang basah oleh hujan.

“Kenapa Ibu datang ke sini?” tanyanya dingin.

“Nak…” jawab Rosa lirih sambil memaksakan senyum. “Ibu ingin bertemu Marco… Ibu sudah tidak punya makanan di rumah. Kalau bisa, Ibu ingin meminjam sedikit uang untuk membeli makan.”

Lara tidak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah, dan beberapa saat kemudian Marco keluar. Ponsel masih berada di tangannya, pakaiannya rapi, seolah tak ada masalah yang membebaninya.

“Ada apa, Bu? Saya sedang sibuk bekerja,” katanya.

Rosa menggenggam erat tas anyamannya agar putranya tidak melihat tangan tuanya yang gemetar.

“Nak… Ibu sudah tidak punya makanan. Kalau bisa, tolong beri sedikit bantuan. Nanti Ibu akan berusaha menggantinya.”

Mata Marco sempat berkedip ragu. Namun sesaat kemudian keraguan itu menghilang. Ia melirik ke arah Lara yang berdiri di belakangnya lalu menghela napas panjang.

“Penjualan sedang sepi, Bu. Banyak tagihan yang harus dibayar. Saya tidak bisa memberi uang.”

Kata-kata itu terasa lebih berat daripada hujan yang turun.

Rosa menundukkan kepala, malu dengan keadaannya sendiri.

“Sedikit saja, Nak…”

Marco berbalik, mengambil satu karung beras dari belakang mobil pikapnya, lalu menyerahkannya kepada sang ibu.

“Bawa ini saja. Pulanglah sebelum hujan semakin deras.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada ajakan masuk ke rumah. Bahkan tidak ada pertanyaan tentang bagaimana keadaan ibunya.

Gerbang pun ditutup.

Rosa berdiri sendirian di luar sambil memeluk karung beras itu. Air hujan bercampur dengan air matanya. Namun di dalam hati, ia masih berusaha memahami putranya.

“Mungkin memang sedang sulit baginya sekarang…,” gumamnya sambil berjalan pulang. “Setidaknya dia masih memberi sesuatu.”

Saat tiba di rumah kecilnya, hari sudah gelap. Ia meletakkan karung beras di atas meja, menyalakan lampu, lalu mengambil panci untuk memasak. Tubuhnya masih gemetar karena lapar ketika ia membuka karung itu dengan sangat hati-hati agar tidak ada sebutir beras pun yang terbuang.

Namun benda pertama yang disentuhnya bukanlah beras.

Ada sesuatu yang keras di dalamnya.

Keningnya berkerut. Perlahan ia mengorek bagian tengah karung itu hingga menemukan sebuah paket plastik yang dibungkus rapi, kering, dan tersembunyi di antara beras.

Tangannya gemetar saat membuka paket tersebut.

Sebuah amplop.

Dan di dalamnya terdapat setumpuk uang tunai sebesar Rp50.000.000, sebuah kunci kecil, dan sepucuk surat dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

Pandangan Rosa mulai kabur saat membaca isi surat itu.

“Ibu, jangan beri tahu Lara tentang ini. Sekarang aku sudah mengetahui semuanya. Maaf karena baru sekarang aku melihat kebenaran. Simpan uang itu baik-baik. Kunci pintu rumah. Aku akan datang malam ini… dan aku akan menjelaskan siapa sebenarnya yang selama ini mengambil hak yang seharusnya menjadi milikmu…”

Rosa membaca surat itu berulang kali dengan air mata yang menetes membasahi kertas di tangannya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Uang sebesar 50 juta rupiah (sekitar ₱180.000) adalah jumlah yang sangat besar bagi seorang ibu tua yang hidup serba kekurangan. Namun, yang membuat jantungnya berdegup kencang bukanlah uang itu, melainkan kalimat terakhir putranya.

Siapa yang selama ini mengambil hak yang seharusnya menjadi milikmu…

Tepat pukul sembilan malam, di tengah suara rintik hujan yang masih membasahi atap seng rumahnya, terdengar ketukan pelan di pintu belakang.

Rosa berjalan dengan gemetar, membuka selot pintu, dan menemukan Marco berdiri di sana dengan jas hujan yang basah. Wajahnya tidak lagi dingin seperti sore tadi di depan istrinya. Matanya merah dan sembap, memancarkan penyesalan yang teramat dalam. Begitu pintu ditutup, Marco langsung berlutut di hadapan ibunya, memeluk kaki rentan Rosa, dan menangis tersedu-sedu.

“Ibu… maafkan aku. Maafkan anakmu yang bodoh ini,” ucap Marco dengan suara parau.

“Marco, ada apa ini, Nak? Kenapa kamu menyembunyikan uang ini di dalam karung beras? Dan apa maksud suratmu?” tanya Rosa sambil membantu putranya berdiri.

Marco menuntun ibunya duduk di kursi kayu. Ia mengambil kunci kecil yang ada di dalam paket plastik tadi.

“Ibu ingat setiap bulan aku selalu mengirimkan uang bulanan sebesar ₱20.000 (sekitar Rp5,5 juta) lewat transfer bank ke rekening yang Ibu buat bersama Lara tiga tahun lalu?” Marco memulai penjelasannya dengan tangan yang mengepal menahan amarah. “Ibu juga selalu bilang lewat telepon bahwa uangnya cukup dan Ibu baik-baik saja.”

Rosa tertegun. “Transfer? Rekening bersama? Ibu tidak pernah tahu ada rekening itu, Marco. Selama tiga tahun ini, Lara selalu bilang bahwa tokomu sedang bangkrut dan kamu tidak bisa mengirimkan uang sepeser pun. Setiap kali Ibu meneleponmu, Lara yang selalu mengangkatnya dan melarang Ibu mengganggumu karena kamu sedang stres terlilit utang.”

Air mata Marco kembali tumpah. “Itulah kebohongannya, Bu. Lara memalsukan tanda tangan Ibu untuk membuat rekening bersama itu. Setiap bulan, uang yang kukirim langsung ditarik olehnya untuk kebutuhan pribadinya dan keluarganya. Dia sengaja memblokir nomor Ibu dari ponselku, dan setiap kali Ibu menelepon ke rumah, dia yang mengangkatnya lalu menghapus riwayat panggilan agar aku tidak tahu.”

“Lalu… bagaimana kamu akhirnya tahu, Nak?”

“Dua hari lalu, aku tidak sengaja menemukan buku tabungan rahasia milik Lara di laci riasnya. Di sana tercatat semua transaksi penarikan uang dari rekening yang atas nama Ibu. Aku juga menemukan surat-surat dari Ibu yang sengaja dia sembunyikan dari kotak pos depan rumah. Di dalam surat-surat itu, Ibu menulis betapa kelaparan dan sepinya Ibu di sini,” kata Marco dengan suara bergetar karena murka.

Marco sengaja berpura-pura dingin sore tadi di depan Lara karena dia tahu istrinya itu sedang mengawasinya dengan ketat. Uang 50 juta di dalam karung beras itu adalah seluruh akumulasi uang bulanan Rosa yang berhasil Marco tarik kembali dari rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Lara.

“Kunci kecil ini,” lanjut Marco sambil menyerahkan kunci tersebut ke tangan ibunya, “adalah kunci brankas kecil di dalam lemari kamar Ibu yang dulu. Di dalamnya ada akta tanah atas nama Ibu untuk toko bahan bangunan itu. Lara berniat memalsukan tanda tangan Ibu minggu depan untuk menjual tanah itu kepada pengembang.”

Rosa membekap mulutnya, tidak percaya bahwa menantu yang selama ini ia perlakukan seperti anak sendiri tega berbuat sekeji itu demi harta.

“Malam ini, aku sudah mengemas semua barang-barang Lara dan mengusirnya dari rumah. Pengacaraku sedang memproses gugatan cerai dan laporan kepolisian atas tindakan penipuan serta penggelapan uang milik Ibu,” tegas Marco, menggenggam erat tangan ibunya yang mulai hangat.

Marco berdiri, lalu berjalan ke dapur kecil ibunya. Dia menyalakan kompor, mengambil panci, dan mulai menanak beras yang dibawanya sore tadi.

“Mulai malam ini, tidak akan ada lagi hari di mana Ibu kelaparan. Aku akan tinggal di sini bersamamu, menjaga Ibu seperti Ibu menjagaku dulu,” kata Marco sambil tersenyum tulus di sela sisa air matanya.

Rosa menatap punggung putranya yang sedang sibuk di dapur. Beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dadanya mendadak sirna bersama hangatnya aroma nasi yang mulai matang. Di usianya yang ke-70, Rosa akhirnya tahu bahwa doa-doanya di tengah malam yang sunyi tidak pernah sia-sia.