ANAKKU YANG SEDANG HAMIL TERBARING DI DALAM PETI SAAT KAMI BERDUKA — NAMUN DUNIAKU HANCUR KETIKA SUAMINYA DATANG SAMBIL TERTAWA, BERGANDENGAN TANGAN DENGAN SELINGKUHANNYA SEOLAH-OLAH MEREKA SEDANG MENGHADIRI SEBUAH PERAYAAN!
Suasana di dalam kapel terasa dingin dan sunyi. Yang terdengar hanyalah isak tangis yang tertahan dan helaan napas panjang dari keluarga yang berduka. Aku berdiri di depan sebuah peti mati putih tempat putri tunggalku, Diana, berbaring untuk terakhir kalinya.
Diana sedang hamil tujuh bulan.
Ia meninggal dalam kecelakaan tragis ketika mobil yang dikendarainya kehilangan rem dan menabrak sebuah dinding beton. Bersamaan dengan kepergian putriku, hilang pula calon cucu yang telah lama kami nantikan.
Sebagai seorang ibu, tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan rasa sakit yang kurasakan.
Rasanya seperti jiwaku dicabik-cabik setiap kali memandangi wajah Diana yang dingin dan perutnya yang membuncit—perut yang tidak akan pernah lagi melahirkan kehidupan ke dunia ini.
Namun kesedihan itu tiba-tiba berubah menjadi amarah yang membara karena sebuah kejadian yang sama sekali tidak kuduga.
Di tengah suasana duka, pintu besar kapel mendadak terbuka dengan keras.
Masuklah suami Diana, Marcus.
Aku mengira akan melihat seorang pria yang hancur, menangis, dan berduka atas kehilangan istrinya.
Namun yang muncul justru seorang pria yang tampak seperti baru memenangkan undian miliaran rupiah.
Ia mengenakan setelan biru terang, tersenyum lebar, dan tidak terlihat sedikit pun tanda kesedihan di wajahnya.
Tetapi yang lebih menghancurkan hatiku dan membuat darahku mendidih adalah wanita yang berjalan di sampingnya.
Marcus menggenggam erat tangan seorang wanita cantik yang mengenakan gaun merah pendek dan ketat dengan lipstik merah menyala.
Dia adalah Veronica, wanita yang selama ini kami dengar sebagai selingkuhan Marcus.
Tok… Tok… Tok…
Suara hak tinggi Veronica menggema di seluruh kapel saat mereka berjalan menyusuri lorong utama.

Setiap langkahnya di atas lantai marmer terasa seperti tepuk tangan yang merayakan tragedi yang merenggut nyawa putriku dan calon cucuku.
Seluruh keluarga kami langsung berdiri.
Mereka ternganga karena syok dan jijik.
“Marcus! Dasar tidak punya hati!” teriak adik Diana sambil berlari hendak memukulnya, tetapi aku segera menahannya.
Aku melangkah mendekati Marcus.
Seluruh tubuhku gemetar menahan amarah.
“Apa yang kau lakukan di sini, Marcus? Dan bagaimana mungkin kau membawa wanita itu ke pemakaman istri dan anakmu sendiri?” tanyaku dengan suara bergetar namun tegas.
Marcus terkekeh pelan.
Tawa yang penuh kesombongan dan tanpa rasa bersalah.
“Tenang saja, Mama. Tidak perlu berpura-pura lagi. Diana dan aku sudah lama tidak saling peduli. Aku datang ke sini hanya untuk mengambil akta kematiannya.”
“Akta kematian? Untuk apa?!” teriakku.
Marcus menyeringai tipis.
Dan pada saat itulah, firasat buruk mulai menyelimuti seluruh ruangan.
Karena cara pria itu tersenyum membuatku sadar…
bahwa kematian Diana mungkin bukanlah akhir dari tragedi ini.
Melainkan awal dari sebuah rahasia yang jauh lebih gelap daripada yang pernah kami bayangkan.
Marcus menyeringai tipis, lalu mengeluarkan sebuah dokumen dari balik setelan jas birunya.
“Untuk mengklaim polis asuransi jiwa Diana, tentu saja,” ucap Marcus santai, memamerkan selembar kertas bertuliskan nominal angka yang sangat fantastis—dana kompensasi kematian akibat kecelakaan. “Nilainya sepuluh miliar rupiah. Dan tebak siapa ahli waris tunggalnya? Aku.”
Veronica tertawa cekikikan di sampingnya, sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Marcus. “Kami butuh uang itu untuk biaya pernikahan kami bulan depan, Tante. Lagipula, untuk apa menangisi orang mati? Diana sudah tidak berguna lagi.”
Mendengar penghinaan itu, ruangan kapel mendadak riuh dengan makian dari pihak keluarga. Namun, aku justru terdiam. Kata-kata Marcus seperti potongan teka-teki yang tiba-tiba terjatuh dan menyatu di dalam benakku. Rem mobil yang blong… kecelakaan tunggal… kematian yang mendadak… dan polis asuransi.
“Kau…” Suaraku bergetar, bukan lagi karena sedih, melainkan karena kengerian yang teramat sangat. “Kau yang menyabotase mobilnya, Marcus. Kau yang membunuh putriku dan anakmu sendiri!”
Marcus tertawa terbahak-bahak, seolah aku baru saja menceritakan lelucon terbaik di dunia. “Tuduhan yang sangat dramatis, Tante. Tapi sayang, polisi sudah menyatakan ini kecelakaan murni. Jadi, berikan akta kematian itu sekarang, dan kami akan pergi dari tempat suram ini.”
Plot Twist: Sang Pembalas Senyap
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di dadaku perlahan menguap, digantikan oleh dinginnya tekad untuk membalas dendam. Aku menatap Marcus dengan tatapan paling tajam yang pernah kupunya.
“Kau benar, Marcus. Polisi memang sempat mengira itu kecelakaan murni,” kataku, melangkah mundur mendekati peti mati Diana. “Tapi itu sebelum aku menyerahkan rekaman CCTV dari garasi rumah kalian kepada kapolda—yang kebetulan adalah sahabat karib mendiang suamiku.”
Senyum di wajah Marcus langsung membeku. “Apa maksudmu?”
“Kau pikir aku tidak tahu kau menyelinap ke garasi malam sebelum kecelakaan? Kau pikir Diana tidak pernah bercerita bahwa kau memaksanya menandatangani polis asuransi itu sebulan yang lalu?” Aku merogoh kantong flat hitamku dan mengeluarkan sebuah ponsel yang sedang dalam panggilan aktif. “Kau begitu sombong hingga melupakan satu hal: kapel ini dilengkapi dengan sistem audio terbaik.”
Dari balik pintu masuk kapel, terdengar langkah kaki yang berat dan tegas. Bukan lagi suara hak tinggi Veronica, melainkan sepatu bot laras milik aparat kepolisian. Enam orang polisi bersenjata lengkap masuk, dipimpin oleh seorang detektif senior.
“Marcus Adijaya, Anda ditahan atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Diana Putri dan calon anak Anda, serta konspirasi penipuan asuransi,” ujar detektif itu dengan lantang.
Kehancuran yang Instan
Wajah Marcus yang tadinya merona penuh kemenangan seketika berubah pucat pasi seperti mayat. “Tidak! Ini jebakan! Veronica, katakan pada mereka kalau aku bersamamu malam itu!” teriak Marcus panik.
Namun, Veronica—si wanita egois yang hanya mencintai uang—langsung melepaskan gandengan tangannya. Ia melangkah mundur dengan panik. “Jangan bawa-bawa aku! Dia yang merencanakan semuanya, Pak Polisi! Dia yang memotong kabel rem itu! Aku tidak ikut campur!”
“Kau jalang sialan!” jerit Marcus, hendak menerkam Veronica, namun polisi dengan sigap membanting tubuh Marcus ke lantai marmer yang dingin.
Suara klik borgol yang mengunci pergelangan tangan Marcus menggema di dalam kapel, terdengar seperti musik paling indah di telingaku. Pria yang beberapa menit lalu tertawa di atas penderitaanku, kini merangkak dan memohon ampun saat diseret keluar kapel, menyisakan Veronica yang juga digiring sebagai saksi kunci sekaligus kaki tangan.
Peristirahatan Terakhir yang Damai
Suasana kapel kembali hening. Kejahatan telah disingkap, dan keadilan telah ditegakkan tepat di hadapan jasad putriku.
Aku berjalan mendekati peti mati putih Diana. Kusentuh permukaan kaca di atas wajahnya yang cantik dan tenang, lalu mengusap bagian perutnya yang membuncit. Air mataku menetes, namun kali ini bukan air mata keputusasaan.
“Tidurlah dengan damai, Diana sayang… bersama malaikat kecilmu,” bisikku lirih. “Iblis yang menyakitimu sudah menerima balasannya. Ibu berjanji, dunia tidak akan pernah melupakan keadilan untukmu.”
Hari itu, kami mengantarkan Diana dan bayinya ke tempat peristirahatan terakhir mereka dengan penghormatan yang layak. Duniyaku memang sempat hancur, namun dari puing-puing kehancuran itu, aku memastikan bahwa kebenaran tetap berdiri kokoh.