DI PERNIKAHAN SAHABAT TERBAIKKU, BUKAN BUNGA PENGANTIN YANG KUTUNGGU.
Melainkan dia.
Paman mempelai pria yang pendiam, tampan seperti tokoh utama drama mahal—tinggi, tatapannya dingin, dan memiliki wajah pria yang dari awal sudah terlihat berbahaya untuk dicintai.
Kupikir aku bisa membuatnya jatuh cinta dengan tingkah konyolku.
Sampai aku membaca sebuah pesan yang menghancurkan semua rasa percaya diriku.
“Bukannya dia mengganggumu? Setiap hari dia mengikuti kamu. Bahkan sering datang ke kantormu. Cara berpakaiannya berlebihan, dan dia juga berisik.”
Jawabannya?
“Lumayan.”
Hanya satu kata.
Tapi rasanya seperti palu yang menghantam dadaku.
Lumayan.
Lumayan terganggu olehku.
Aku meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, tepat seperti saat pertama kali kulihat.
Seolah jika ponsel itu tidak bergerak, hatiku juga tidak akan bergerak.
Tapi ternyata bergerak.
Dan jatuh.
Ketika rapat Matteo Salazar selesai dan dia kembali ke kantornya, aku masih duduk di sofa sambil memeluk tasku, seperti tamu asing di tempat yang dulu kuanggap wilayahku sendiri.
Biasanya aku datang membawa es kopi.
Kadang roti manis.
Kadang hanya membawa wajahku dan keberanianku.
“Aku pulang dulu,” kataku sambil memaksa tersenyum.
Dia menatapku dan sedikit mengernyit.
“Bukannya perutmu sakit?” tanyanya. “Tadi kamu bilang ingin kupijat.”
Biasanya, hanya dengan kalimat itu saja aku sudah menempel di lengannya sambil bermanja-manja.
Tapi kali ini aku menarik tanganku sebelum dia sempat menyentuhnya.
“Aku sudah lebih baik, Om Matteo. Mungkin cuma salah makan.”
Udara seakan berhenti.
Aku bisa melihat perubahan kecil di wajahnya.
Tidak akan terlihat oleh orang lain.
Tapi aku sudah terlalu mengenalnya.
Rahangnya sedikit mengeras.
Matanya menggelap.
Alisnya terangkat tipis seperti mendengar nada yang salah dalam lagu favoritnya.
“Apa panggilanmu tadi?”
“Om Matteo,” ulangku tenang. “Om adalah paman Paolo. Paolo suami sahabatku. Jadi rasanya memang lebih sopan memanggil Om. Aku tidak mungkin terus-terusan kurang ajar.”
Dia menatapku lama.
Saat pertama kali kami bertemu di pernikahan Lianne, aku tidak sesopan ini.
Hari itu, di sebuah resepsi di Puncak, aku melihatnya masuk ke aula taman dengan polo hitam sederhana dan celana panjang.
Tidak berlebihan.
Tidak mencolok.
Tapi dia terlihat paling mahal di seluruh ruangan.
Dia duduk di sebelahku.
Dan sebagai perempuan yang tidak takut malu, aku langsung tersenyum.
“Hai, masih jomblo?”
Dia hampir tersedak air minumnya.
“Matteo Salazar,” jawabnya beberapa detik kemudian. “Dua puluh delapan tahun. Jomblo.”
“Bagus sekali,” kataku sambil langsung mengeluarkan ponsel. “Aku Camila Reyes. Dua puluh empat tahun. Jomblo juga. Tambahkan aku sebelum aku menyesal tidak mengejarmu.”
Dia tidak tersenyum.
Tapi dia menambahkan akunku.
Ketika Lianne dan Paolo kembali ke meja, aku baru tahu siapa dirinya.
“Om Matteo,” panggil Paolo.
Aku langsung menoleh ke arah Lianne.
“Sekarang aku keluarga kalian,” bisikku.
Lianne hampir tersedak.
Lalu dia menarikku ke samping.
“Mila, kata Paolo dia memang dingin. Tidak suka hubungan serius. Tidak pernah menunjukkan minat kepada siapa pun. Umurnya sudah dua puluh delapan, tapi pengendalian dirinya seperti motivator seminar.”
Aku justru semakin tertarik.
Kupikir dia adalah tantangan.
Maka setelah pernikahan itu, dimulailah semua tingkah gilaku.
“Mas Matteo, aku pusing. Bisa berhenti berputar-putar di pikiranku tidak?”
Balasannya:
“Aku sudah kirim wedang jahe lewat aplikasi. Minum.”
“Sayang, malam ini dingin. Boleh peluk?”
“Pakai jaket.”
“Cinta, aku merasa tuli. Boleh telepon supaya bisa dengar suaramu?”
Dia mengirim pesan suara.
“Tidak boleh.”
Hanya dua kata.
Dingin seperti AC kantor kawasan Sudirman.
Tapi aku mendengarkannya hampir dua puluh kali sambil tersenyum ke bantal.
Kupikir memang seperti itulah sifatnya.
Ternyata tidak.
Mungkin selama ini dia hanya menahanku.
Mungkin setiap kali aku datang ke kantornya.
Setiap candaan.
Setiap rayuan yang kukira lucu.
Bagi dirinya hanyalah gangguan.
Kebisingan.
Masalah.
Lumayan mengganggu.
Saat keluar dari gedung, langit terasa berat.
Aku berada di tengah Jalan Sudirman, tetapi rasanya seperti satu-satunya orang yang tersisa di antara kemacetan, hujan, dan rasa malu.
Malam harinya Lianne menelepon.
“Aku dan Paolo mau cerai!”
Aku memejamkan mata.
“Apa lagi yang dia lakukan?”
“Dia tidak mencintaiku.”
“Lianne, tadi malam saja dia mengunggah foto kalian dengan caption: istriku, ketenanganku, selamanya.”
“Itu palsu. Ayo minum.”
Saat itu aku mengerti.
Dia hanya ingin mengajakku keluar.
Sebenarnya aku malas.
Tapi aku lebih malas lagi mengurung diri di apartemen sambil mengulang kata “lumayan” di kepalaku.
Jadi aku pergi ke sebuah bar di kawasan Senopati.
Lianne ada di sana.
Paolo juga.
Beberapa teman kampus.
Dan beberapa orang yang bahkan tidak yakin kukenal atau hanya figuran dalam kekacauan hidup kami.
Aku duduk di sudut ruangan sambil memegang koktail yang lebih manis daripada kuat.
Dulu, saat berada di bar seperti ini, hanya satu orang yang selalu kucari.
Matteo.
Bahkan pernah aku membujuk Lianne menyuruh Paolo memanggil pamannya.
Matteo datang malam itu dengan kaus abu-abu sederhana.
Tenang.
Seolah tidak cocok dengan keramaian tempat itu.
Aku langsung memeluk lengannya.
“Mas, kenapa dingin sekali? Sudah punya gadis lain ya?”
“Belum.”
“Aku baru periksa ke dokter.”
Dia menoleh.
“Kamu sakit?”
“Iya. Dokter bilang aku insomnia. Katanya aku harus tidur di dada kamu.”
Dia mendorong dahiku dengan satu jari.
“Kasur lebih nyaman daripada dadaku.”
Dulu kupikir dia malu.
Sekarang aku berpikir dia hanya berusaha menyuruhku pergi dengan sopan.
Ketika ponselku bergetar, nama yang muncul membuat dadaku sesak.
**Matteo Salazar — Versi Om**
Baru siang tadi kuganti nama kontak itu agar aku berhenti berkhayal.
“Camila, kamu di rumah?”
Aku melihat lantai dansa yang ramai lalu membalas.
“Di rumah, Om. Kenapa?”
Dia mengetik cukup lama.
“Bukannya kamu takut gelap?”
Aku menggigit bibir.
Bulan lalu listrik di apartemenku padam.
Aku berpura-pura takut gelap agar dia datang.
Dan dia benar-benar datang.
Membawa lampu darurat.
Makanan.
Dan lampu tidur kecil berbentuk bulan.
Dia tidak memelukku.
Tapi dia duduk di samping tempat tidurku dan bercerita tentang kasus bisnis yang membosankan sampai aku tertidur.
Aku membalas.
“Iya. Lampu bulan pemberian Om masih menyala.”
Lama sekali dia mengetik.
Lalu pesan berikut muncul.
“Kalau begitu, kenapa kamarmu gelap?”
Tanganku langsung membeku.
Sebelum sempat mencari alasan, sebuah suara dingin terdengar dari belakangku.
“Camila.”
Perlahan aku menoleh.
Matteo berdiri di dekat pintu masuk bar.

Bahu kemejanya basah oleh hujan.
Ponselnya masih berada di tangannya.
Dan mata yang selama ini kukira tidak pernah peduli—
—kini menatapku dengan kilatan amarah yang tertahan, bercampur dengan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: kecemasan yang nyata.
Dia berjalan mendekat, mengabaikan dentuman musik bas yang memekakkan telinga di bar Senopati ini. Paolo dan Lianne yang menyadari kehadirannya langsung terdiam. Langkah kaki Matteo berhenti tepat di depan mejaku.
“Pulang,” katanya, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Aku menatap gelas koktail di tanganku, enggan membalas tatapannya. “Aku masih mau di sini, Om Matteo. Lagian, ada Paolo dan Lianne yang menjaga—”
Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, Matteo sudah mencengkeram pergelangan tanganku dengan lembut namun tegas, memaksaku berdiri. Dia mengambil tas milikku dari atas kursi dengan tangan satunya, lalu menarikku keluar dari kerumunan tanpa memedulikan tatapan bertanya-tuan dari teman-teman kami.
Begitu kami sampai di luar, udara malam Senopati yang dingin dan sisa hujan langsung menerpa wajahku. Matteo melepaskan genggamannya, berbalik menghadapku dengan napas yang agak memburu.
“Kenapa berbohong?” tanyanya, matanya mengunci pergerakanku. “Kamu bilang kamu di rumah. Kamu tahu aku sengaja berkendara ke apartemenmu karena kamu tidak membalas pesanku sejak siang?”
Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan harga diriku yang sudah runtuh. “Kenapa Om harus repot-repot? Aku kan cuma gadis berisik yang suka mengganggu. Bukannya Om merasa lumayan terganggu dengan semua tingkah konyolku?”
Matteo tertegun. Kerutan di dahinya semakin dalam. “Apa maksudmu, Camila?”
“Aku melihat pesan itu, Mas,” kataku, suaranya mulai bergetar. Panggilan ‘Mas’ itu lolos begitu saja, membawa kembali semua rasa sakit yang kutahan sejak siang. “Di ponselmu. Seseorang bertanya apakah aku mengganggumu karena selalu mengikutimu dengan pakaian berlebihan dan berisik. Dan kamu jawab: Lumayan.“
Satu titik air mata akhirnya jatuh, mengkhianati janjiku pada diri sendiri untuk tetap terlihat tegar.
“Aku tahu aku memulainya dengan tidak tahu malu. Aku tahu aku bukan tipemu. Tapi kalau kamu memang merasa terganggu, kenapa tidak bilang langsung dari awal? Kenapa harus berpura-pura peduli, mengirim wedang jahe, bahkan datang ke apartemenku saat mati lampu, kalau di belakangku kamu menganggapku sebagai gangguan?!” pekikku, meluapkan seluruh sesak di dada di bawah rintik gerimis.
Matteo mematung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah aku mengenalnya, pria dengan pengendalian diri sekelas motivator itu terlihat goyah. Dia meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan tampaknya baru menyadari pesan mana yang kumaksud.
Matteo memijat pangkal hidungnya, lalu mengembuskan napas panjang. Ketika dia menatapku lagi, tatapan dinginnya yang biasa telah runtuh sepenuhnya.
“Camila, dengerin aku,” katanya, melangkah maju hingga jarak di antara kami mengikis. “Pesan itu dari sepupuku, Rachel. Dia sedang mencari asisten sekretaris baru untuk kantor cabang, dan dia bertanya tentang kinerja salah satu pelamar yang kebetulan pernah magang di departemenku.”
Aku mengerutkan kening, tangisku terhenti sesaat karena kebingungan. “Hah?”
Matteo membalikkan layar ponselnya ke hadapanku, membuka ruang obrolan yang kumaksud. Dia menggulir layarnya ke atas, memperlihatkan konteks pembicaraan yang terlewat olehku karena aku terlanjur panik dan patah hati siang tadi.
Rachel: Mas Matteo, anak magang yang namanya Cynthia itu gimana? Bukannya dia mengganggumu? Setiap hari dia mengikuti kamu. Bahkan sering datang ke kantormu. Cara berpakaiannya berlebihan, dan dia juga berisik.
Matteo: Lumayan.
Matteo menunjuk nama ‘Cynthia’ di layar itu. “Dia bicara tentang mantan anak magang bulan lalu, Camila. Bukan kamu.”
Aku mengerjap-erjapkan mata. Jantungku berdegup kencang, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat yang langsung menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.
“T-tapi… ciri-cirinya mirip aku…” bisikku pelan, mencoba membela diri. “Aku kan sering ke kantormu… pakaianku juga sering heboh…”
Matteo menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Dia mengambil satu langkah lagi yang membuatku harus mendongak untuk menatap wajahnya. Sesaat kemudian, dia melepas jaket penahan anginnya yang kering dan menyampirkannya ke bahuku yang kedinginan.
“Pakaianmu tidak berlebihan, Camila. Kamu selalu terlihat cantik dengan apa pun yang kamu pakai,” kata Matteo, suaranya melembut, jenis suara yang belum pernah dia gunakan kepada siapa pun sebelumnya. “Dan kamu tidak pernah menggangguku. Kalau aku benar-benar merasa terganggu dengan kehadiranmu, aku tidak akan pernah membiarkanmu masuk ke ruang kerjaku, apalagi memberikan nomor pribadiku.”
“Tapi kamu selalu dingin…” cicitku, merapatkan jaketnya yang beraroma kayu cendana dan parfum maskulin yang familier.
Matteo menghela napas, tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya mendarat di puncak kepalaku, mengacak rambutku pelan dengan gemas.
“Aku dua puluh delapan tahun, Camila. Aku terbiasa mengendalikan segala hal dalam hidupku, termasuk perasaanku. Tapi sejak hari pertama di Puncak, kamu datang dan mengacaukan semua kendali itu,” Matteo menatapku lekat-lekat, matanya yang gelap kini memancarkan ketulusan yang mutlak. “Aku hanya tidak tahu bagaimana menghadapi perempuan yang begitu berani dan jujur seperti kamu, tanpa membuat diriku sendiri terlihat bodoh karena terlalu cepat jatuh cinta.”
Duniaku rasanya berhenti berputar. Semua kebisingan Jalan Sudirman dan bar di belakang kami seolah senyap seketika.
“Jadi… kamu gak terganggu?” tanyaku memastikan, memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi.
Matteo akhirnya tersenyum—sebuah senyuman tipis dan langka yang membuat wajah berbahayanya berubah menjadi sangat hangat. Dia meraih tangan kananku, menggenggam jemariku yang dingin, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang hangat.
“Aku hanya terganggu kalau kamu mulai memanggilku ‘Om Matteo’ lagi,” bisiknya dengan nada mengancam yang jenaka. “Sekarang, ayo pulang. Aku tidak suka kamu minum di tempat seperti ini tanpa aku.”
Sambil berjalan menuju mobilnya di bawah rintik hujan Jakarta, aku menunduk melihat tangan kami yang bertautan di dalam saku jaketnya. Ternyata taruhanku tidak salah. Pria berbahaya ini memang sulit dikejar, tetapi begitu dia membuka pintunya, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Dan malam itu, aku tahu, lampu tidur berbentuk bulan di kamarku tidak akan menjadi satu-satunya hal yang menghangatkan malam-malamku lagi.