Posted in

KATA SUAMIKU, RUMAH SAKIT SUDAH PENUH.

KATA SUAMIKU, RUMAH SAKIT SUDAH PENUH.

Tidak ada lagi tempat tidur. Tidak ada lagi obat. Tidak ada lagi harapan.

Karena itu, dia membiarkanku terbaring di atas kasur tua di ruang tamu, tubuhku lemah karena penyakit, menunggu kapan napasku akan berhenti.

Namun satu panggilan dari St. Raphael Private Medical Center menghancurkan semua kebohongan itu.

“Bu, bagaimana kondisi Anda setelah suntikan pertama terapi target terbaru? Apakah ada reaksi penolakan yang berat?”

Tanganku yang memegang ponsel langsung membeku.

“Suntikan… apa?” tanyaku lirih.

Di seberang telepon, perawat itu terdiam sesaat.

“Bu? Anda Marian Salvador, benar? Anda terdaftar sebagai pasien di VIP Suite 1701. Dosis pertama sudah diberikan kemarin.”

Seolah ada air es yang disiramkan ke punggungku.

Aku memang Marian Salvador.

Tapi aku tidak berada di VIP Suite.

Aku tidak menerima obat apa pun.

Aku tidak mendapat perawatan apa pun selain obat pereda nyeri murah yang dibelikan Carlo di apotek dekat rumah.

Saat Carlo pulang, aku langsung menunjukkan riwayat panggilan itu.

“Carlo,” kataku dengan suara gemetar, “kenapa St. Raphael menelepon? Kenapa mereka bilang aku sudah menerima suntikan obat itu?”

Dia sempat terdiam.

Hanya sepersekian detik.

Mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.

Tapi dia suamiku.

Aku mengenal setiap perubahan ekspresinya.

Lalu dia mendekat dengan tatapan pura-pura penuh kasih.

“Sayang, mungkin mereka salah nomor. Kamu tahu sendiri betapa mahal obat itu. Satu suntikan hampir Rp350 miliar. Dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”

Dia mengusap rambutku yang hampir habis karena kemoterapi.

“Bersabarlah dulu dengan obat pereda nyeri itu. Aku akan mencari pekerjaan tambahan. Aku akan melakukan apa saja demi operasimu.”

Kalau itu terjadi di hari lain, mungkin aku akan menangis dalam pelukannya.

Mungkin aku masih akan percaya.

Tapi saat itu yang kurasakan bukan belas kasih.

Melainkan dingin yang menusuk.

Karena dia tidak tahu bahwa direktur St. Raphael, Dr. Adrian Villareal, adalah kakakku.

Kakak yang kutinggalkan tujuh tahun lalu karena aku memilih Carlo—seorang pria miskin yang saat itu tidak memiliki apa-apa, tetapi aku percaya memiliki hati yang tulus.

Aku sendiri yang berlutut di hadapan kakakku.

Aku sendiri yang memohon, menelan semua harga diriku, demi mendapatkan satu dosis obat baru itu karena aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit kanker yang menggerogoti tubuhku.

Dan sekarang, orang lain menerima obat itu menggunakan namaku.

Aku tidak mengatakan apa pun kepada Carlo.

Aku berbalik dan menelepon Kak Adrian.

“Kak,” bisikku, “tolong periksa siapa yang ada di VIP Suite 1701. Siapa yang memakai obatku?”

Kurang dari lima menit kemudian, jawabannya datang.

Sebuah tangkapan layar.

Di catatan pasien tertulis:

Marian Salvador.

Tanggal lahirku.

Nomor BPJS kesehatanku.

Riwayat medis milikku.

Tapi foto pasien itu bukan aku.

Kulitnya putih.

Rambutnya berkilau hingga bahu.

Bibirnya merah merona.

Di pergelangan tangan kirinya terpasang gelang giok hijau yang berkilau terkena cahaya.

Aku memegang dadaku.

Bukan karena kanker.

Melainkan karena gelang itu.

Itu adalah kenang-kenangan terakhir dari Mama.

Setahun lalu Carlo mengatakan bahwa ia menjualnya untuk biaya pengobatanku.

Bahkan dia menangis saat berkata,

“Maaf, Sayang. Hanya laku Rp900 ribu. Tapi apa pun akan kulakukan agar kamu tetap hidup.”

Rp900 ribu.

Padahal aku tahu gelang itu bernilai miliaran rupiah.

Dan sekarang gelang itu dipakai oleh wanita yang menerima obatku.

Kak Adrian mengirim pesan suara.

Suaranya dipenuhi amarah.

“Marian! Berapa kali kami memperingatkanmu tentang pria itu? Dulu kamu melawan keluarga demi dia. Sekarang bahkan obat yang bisa menyelamatkan hidupmu dia curi untuk wanita lain? Sampai kapan kamu membiarkan dirimu diinjak?”

Aku tidak menjawab.

Aku berdiri meski pandanganku berputar.

Berpegangan pada dinding, mengenakan cardigan lama, lalu naik taksi menuju St. Raphael.

Saat tiba, sopir hampir harus menggendongku masuk ke lobi.

Lututku gemetar.

Kepalaku terasa berat.

Tapi aku tetap berjalan menuju meja resepsionis.

“Saya Marian Salvador,” kataku sambil menunjukkan kartu identitasku. “Tolong periksa VIP Suite 1701. Saya pasien yang terdaftar di sana.”

Resepsionis itu melihat kartu identitasku.

Lalu layar komputernya.

Kemudian menatapku lagi.

Ekspresinya perlahan berubah aneh.

“Bu,” katanya dingin, “itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Pasien di kamar 1701 kami lihat setiap hari. Masih muda, cantik, berambut panjang, dan selalu memakai gelang giok. Itu bukan Anda.”

Seolah ada pisau menusuk perutku.

“Siapa namanya?”

“Maaf, Bu. Itu informasi rahasia.”

Aku menggenggam meja resepsionis lebih erat.

“Saya Marian Salvador yang sebenarnya.”

Dia tersenyum tipis.

Tatapannya turun ke tubuhku yang kurus.

Ke bibirku yang kering.

Ke syal yang menutupi kepalaku yang hampir botak.

“Maaf, Bu. Tapi kalau menurut saya, Anda lebih terlihat seperti baru keluar dari kamar jenazah daripada pasien VIP.”

Beberapa orang mendengar.

Ada yang tertawa kecil.

Aku menelan rasa pahit di tenggorokanku.

“Panggil kepala perawat.”

Tapi yang dipanggilnya justru petugas keamanan.

Dua pria berseragam datang dan memegang kedua lenganku.

“Bu, jangan membuat keributan,” kata salah satunya. “Itu lantai VIP. Tidak semua orang bisa naik ke sana dan mengaku sebagai pasien.”

“Mengaku?” teriakku. “Saya pasiennya!”

Namun mereka menyeretku pergi.

Sepatuku bergesekan dengan lantai marmer.

Orang-orang di lobi menatapku seperti tontonan.

Ada yang merekam video.

Ada yang berbisik.

Ada yang menggelengkan kepala.

Dan tepat saat mereka hendak mendorongku keluar dari pintu, lift pribadi di belakangku terbuka.

Seorang wanita keluar.

Dia mengenakan jubah pasien sutra berwarna krem yang mahal.

Kulitnya sehat.

Riasannya sempurna.

Dan di pergelangan tangannya terpasang gelang giok milik Mama.

Dia adalah Bea Ramos.

Wanita yang dulu kubiayai kuliahnya.

Wanita yang kubantu lulus karena aku kasihan mendengar kisahnya yang mengaku yatim piatu dan tidak punya apa-apa.

Saat melihatku, Bea tertegun.

“Kak Marian?” serunya.

Namun hanya dalam satu detik, wajahnya berubah.

Keterkejutannya berganti menjadi rasa kesal.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya tajam. “Bukankah kamu seharusnya di rumah? Apa kamu mengikuti kami?”

Carlo mendekat dengan wajah pucat.

Dia menarikku ke samping dan berbisik dengan nada marah.

“Marian, kamu sudah gila? Kenapa kamu datang ke sini?”

Aku menepis tangannya.

“Kenapa?” Aku tertawa pelan. “Karena aku ingin melihat siapa yang menerima obat yang seharusnya menyelamatkan hidupku.”

Orang-orang saling berpandangan.

Rahang Carlo menegang.

Sebelum dia sempat berbicara, aku berbalik ke seluruh lobi dan berteriak:

“Dengarkan semuanya! Pria ini adalah suamiku! Dan wanita yang berada di VIP Suite 1701 adalah selingkuhannya! Mereka menggunakan namaku, identitasku, rekam medis milikku, dan mencuri obatku!”

Seluruh lobi mendadak sunyi.

Namun Carlo justru tersenyum.

Bukan senyum ketakutan.

Melainkan senyum seseorang yang sudah menyiapkan jebakan.

Dia melangkah mendekat lalu berkata keras:

“Maaf, Bu. Saya tidak mengenal Anda. Kami sudah lama meminta wanita ini berhenti mengganggu kami. Sepertinya dia mengalami gangguan mental.”

Mata Bea langsung memerah dan ia bersembunyi di belakang Carlo.

“Kak,” katanya sambil menangis, “aku tahu kamu sakit dan bingung. Tapi jangan memfitnah kami. Aku juga mengidap kanker hati stadium tiga. Kenapa kamu terus mengganggu kami?”

Pandangan orang-orang langsung berubah.

“Kasihan perempuan itu. Mungkin memang ada masalah kejiwaan.”

“Lihat saja penampilannya. Seperti orang yang berhalusinasi.”

Pegangan petugas keamanan di lenganku semakin kuat.

Dan saat seorang dokter dari departemen psikiatri berjalan mendekat, terdengar langkah kaki tegas dari arah pintu masuk.

Sebuah suara dingin, keras, dan penuh amarah menggema di seluruh lobi.

“Kalau ada satu orang yang seharusnya dibawa ke bangsal psikiatri di sini…”

Semua orang menoleh.

Di pintu masuk berdiri Kak Adrian dengan jas dokter putihnya.

Di sampingnya ada dua pengacara rumah sakit dan kepala keamanan.

Tatapannya tertuju pada Carlo seolah ia siap menguburnya hidup-hidup.

“…orang itu adalah pria yang mengira dia bisa mencuri hidup adik saya.”

Kak Adrian berjalan mendekat, setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi Carlo dan Bea. Aura otoritas yang dipancarkannya sebagai direktur utama rumah sakit membuat dua petugas keamanan yang memegangiku langsung melepaskan cengkeraman mereka dan membungkuk hormat dengan wajah pucat.

“Dokter Adrian…” resepsionis yang tadi menghinaku mendadak gemetar, menyadari kesalahannya.

Kak Adrian mengabaikan mereka semua. Dia langsung menghampiriku, melepas jas dokter putihnya yang mahal, lalu menyampirkannya ke bahuku yang kurus dan kedinginan. Mata Kakak yang biasanya sedingin es kini berkaca-kaca saat melihat kondisiku.

“Maafkan Kakak, Marian,” bisiknya dengan suara serak, penuh penyesalan. “Kakak terlambat melindungimu.”

Aku menggeleng lemah, mencengkeram jas putihnya. “Aku tidak apa-apa, Kak…”

Kak Adrian membantuku berdiri tegak, lalu berbalik menghadapi Carlo dan Bea. Tatapannya berubah menjadi sangat mematikan.

Carlo berusaha menguasai rasa paniknya. Dia memaksakan senyum sopan, mencoba mendekati Kak Adrian. “Dokter, ada kesalahpahaman di sini. Wanita ini… dia tiba-tiba datang dan mengamuk, mengaku-ngaku sebagai—”

PLAK!

Satu tamparan keras dari tangan Kak Adrian mendarat di wajah Carlo hingga pria itu tersungkur ke lantai lobi. Bea menjerit histeris dan langsung mundur ketakutan.

“Jangan berani-berani kamu menyebut nama adikku dengan mulut kotor itu, Carlo!” geram Kak Adrian. Suaranya yang menggelegar membuat seluruh lobi menahan napas. “Kesalahpahaman? Kamu memalsukan dokumen, mencuri identitas adikku, dan menggunakan hak pengobatan VIP-nya untuk membiayai selingkuhanmu ini?!”

“D-Dokter… saya punya bukti rekam medis! Bea yang sakit!” Carlo membela diri sambil memegangi pipinya yang memar, mencoba mencari simpati dari orang-orang di lobi yang mulai berbisik-bisik.

“Rekam medis?” Kak Adrian mendengus muak. Dia menjentikkan jarinya ke arah pengacara di sampingnya.

Pengacara itu maju dan membuka sebuah dokumen tebal. “Atas nama pihak St. Raphael Private Medical Center, kami menyatakan bahwa seluruh data medis atas nama Marian Salvador di VIP Suite 1701 adalah hasil pemalsuan yang dilakukan oleh Saudara Carlo. Berdasarkan tes DNA pra-terapi dan sampel darah yang diambil kemarin, pasien di kamar 1701 sama sekali tidak mengidap kanker hati stadium tiga. Wanita ini…” Pengacara itu menunjuk Bea dengan dingin, “…sepenuhnya sehat.”

Seluruh lobi langsung riuh oleh bisikan tajam. Kamera ponsel yang tadinya diarahkan kepadaku sebagai ‘wanita gila’, kini berbalik menyorot Carlo dan Bea.

“S-Sehat?!” aku tertegun, menatap Bea dengan tidak percaya. “Bea… kamu tidak sakit?”

Bea mematung, wajahnya yang tadinya merona kini seputih kertas. Dia melangkah mundur, mencoba menyembunyikan tangannya, tetapi aku bergerak lebih cepat dari rasa sakit di tubuhku. Aku maju dan mencengkeram pergelangan tangan kirinya, memaksa gelang giok hijau milik Mama terlihat di depan semua orang.

“Kamu menipu suamiku? Atau kalian berdua yang bekerja sama untuk membunuhku secara perlahan?!” tanyaku dengan suara bergetar menahan amarah yang meluap. “Kamu memakai gelang ibuku, memakai namaku, dan menyuntikkan obat terapi target seharga ratusan miliar yang merupakan hak hidupku… padahal kamu tidak sakit?!”

“K-Kak Marian… aku… Carlo yang bilang kalau obat itu bisa membuat kulitku awet muda dan tetap cantik… Aku tidak tahu kalau itu obat kanker…” Bea menangis histeris, rahasia busuknya terbongkar di depan umum.

Mendengar alasan menjijikkan itu, rasanya jantungku berhenti berdetak. Mereka mencuri obat penyelamat nyawaku hanya untuk ritual kecantikan seorang selingkuhan.

Carlo yang melihat situasinya sudah tidak menguntungkan, langsung merangkak mendekati kakiku. Dia mencoba meraih ujung celandanku sambil menangis buaya. “Marian! Maafkan aku! Aku khilaf! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, aku takut kehilanganmu, jadi aku… aku bingung…”

Aku mundur selangkah, menepis tangannya dengan rasa muak yang teramat sangat. Tujuh tahun lalu, aku mengorbankan segalanya untuk pria ini. Hari ini, aku melihatnya tidak lebih dari seekor ulat bulu yang menjijikkan.

“Jangan pernah sebut namaku lagi, Carlo,” kataku, suaranya sangat tenang, namun sarat akan keputusan mutlak. “Hari ini, hubungan kita selesai. Dan kamu akan membusuk di penjara bersama selingkuhanmu.”

Kak Adrian maju dan memberi isyarat kepada kepala keamanan. “Bawa mereka berdua ke ruang pengamanan dan serahkan langsung ke tim penyidik kepolisian yang sudah menunggu di luar. Tuntut mereka dengan pasal berlapis: penipuan publik, pemalsuan dokumen medis, pencurian aset, dan percobaan pembunuhan berencana terhadap Marian Salvador.”

“Tidak! Carlo, tolong aku! Aku tidak mau dipenjara!” Bea menjerit-jerit saat petugas keamanan menyeretnya dengan paksa. Gelang giok di tangannya terlepas dan terjatuh ke lantai.

Aku membungkuk, mengambil gelang milik Mama yang telah kembali ke tangan yang tepat. Aku mengusapnya perlahan, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang.

Carlo terus berteriak memohon ampun, namun suaranya perlahan menghilang seiring pintu lobi yang tertutup rapat.

Kak Adrian kembali merangkul bahuku, tatapannya melembut dan penuh perlindungan. “Mari kita pulang ke kamar perawatanmu yang sebenarnya, Marian. Dosis obat yang baru sudah disiapkan. Kamu akan sembuh. Kakak berjanji.”

Aku menatap Kakak, lalu melihat bayangan diriku di dinding kaca lobi. Aku memang kurus, pucat, dan lemah karena penyakit. Namun hari ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat binar kehidupan kembali di mataku.

Penyakit ini mungkin telah menggerogoti tubuhku, tetapi kebohongan Carlo tidak lagi bisa menggerogoti jiwaku. Aku melangkah masuk ke dalam lift pribadi bersama Kakak, meninggalkan masa lalu yang busuk di belakang. Perjuanganku untuk hidup baru saja dimulai, dan kali ini, aku akan menang.