Posted in

SUAMIKU BERSIKERAS MEMBAWA ASISTEN WANITANYA KE PERAYAAN ULANG TAHUN PERNIKAHAN KAMI — PADA MALAM KETIGA, AKU DIAM-DIAM MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN**

SUAMIKU BERSIKERAS MEMBAWA ASISTEN WANITANYA KE PERAYAAN ULANG TAHUN PERNIKAHAN KAMI — PADA MALAM KETIGA, AKU DIAM-DIAM MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN**

Aku menghabiskan hampir satu tahun penuh untuk merencanakan perjalanan perayaan ulang tahun pernikahan kami yang keenam.

Aku sendiri yang memilih setiap hotel, setiap restoran, dan setiap aktivitas dalam itinerary.

Aku ingin memberi pernikahan kami satu kesempatan terakhir.

Karena selama dua tahun terakhir, kami semakin menjauh satu sama lain.

Namun sehari sebelum keberangkatan, dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku benar-benar berat.

“Aku ingin mengajak Lara.”

Awalnya aku mengira salah dengar.

Lara adalah asisten pribadinya.

Seorang wanita muda yang bahkan belum genap satu tahun bekerja di perusahaannya.

“Kenapa?”

Aku menatapnya langsung.

Dia menjawab dengan tenang.

“Ada kontrak besar yang sedang dipersiapkan perusahaan. Lara terlibat dalam proyek ini sejak awal. Kalau ada masalah, dia bisa langsung menanganinya.”

Aku tersenyum pahit.

“Ini liburan atau perjalanan bisnis?”

Dia mengernyit.

“Jangan dibesar-besarkan.”

Pada akhirnya, Lara tetap datang ke bandara bersama kami.

Lucunya, warna pakaian yang dikenakannya hampir sama dengan pakaian suamiku.

Kalau orang lain melihat mereka, mungkin mereka akan mengira keduanya adalah pasangan.

Sepanjang perjalanan, ponsel suamiku tidak pernah lepas dari tangannya.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah pekerjaannya.

Melainkan cara dia memandang Lara.

Saat Lara tersenyum, dia ikut tersenyum.

Saat Lara terlihat lelah, dia langsung khawatir.

Perhatian-perhatian kecil yang dulu hanya diberikan kepadaku.

Pada hari kedua perjalanan, aku memesan meja di sebuah restoran tepi laut.

Aku menunggu tiga bulan untuk mendapatkan reservasi itu.

Aku mengenakan gaun favoritnya.

Menghabiskan lebih dari satu jam untuk berdandan.

Aku pikir, akhirnya kami akan memiliki waktu berdua.

Namun saat tiba di restoran, Lara sudah ada di sana.

Bahkan tasnya sudah diletakkan di kursi kosong.

“Dunia memang sempit ya,” katanya sambil tersenyum lembut.

“Aku juga berhasil mendapat reservasi di sini.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Karena aku tahu itu bukan kebetulan.

Ada begitu banyak restoran di pulau itu.

Tidak mungkin hal seperti itu terjadi secara tidak sengaja.

Sepanjang makan malam, mereka hanya membicarakan pekerjaan.

Suamiku mendengarkan setiap kata Lara dengan penuh perhatian.

Sedangkan aku?

Aku hanya seperti orang asing yang duduk di ujung meja.

Saat hidangan penutup disajikan, aku berdiri.

“Aku lelah.”

Dia hanya mengangguk.

“Pergilah istirahat lebih dulu.”

Tidak ada satu kata pun untuk menahanku.

Malam itu, aku duduk sendirian di balkon hotel.

Di kejauhan, di sepanjang pantai, aku melihat dua sosok berjalan berdampingan.

Aku tidak perlu mendekat untuk mengetahui siapa mereka.

Pria yang selama enam tahun kupanggil suami.

Dan asisten yang selalu memanggilnya “Pak”.

Hari ketiga tiba.

Aku mulai membereskan barang-barang.

Bukan untuk pulang.

Melainkan untuk meninggalkan pernikahan ini selamanya.

Malam itu dia kembali ke kamar.

Mungkin baru kali ini dia menyadari betapa diamnya aku.

“Ada apa denganmu?”

Aku menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.

Dia membukanya.

Dan wajahnya langsung berubah.

Surat perceraian.

“Serius?”

Seolah dia tidak percaya.

Aku mengangguk.

“Sangat serius.”

Dia tertawa kaku.

“Hanya karena Lara?”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Karena kamu.”

“Dan juga karena diriku sendiri.”

“Aku lelah harus bersaing dengan wanita lain hanya untuk mendapatkan perhatian dari suamiku sendiri.”

Ruangan itu menjadi sunyi.

Tepat saat itu, ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuatku tidak terkejut.

Lara.

Dia melihat layar ponsel.

Lalu menatapku.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Beberapa detik kemudian, telepon itu berdering lagi.

Kedua.

Ketiga.

Keempat.

Seolah ada sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi.

Akhirnya dia mengangkatnya.

Aku tidak mendengar seluruh percakapannya.

Namun aku melihat perubahan ekspresi di wajahnya.

“Apa?”

“Kamu di mana?”

“Jangan menangis.”

“Aku akan datang sekarang juga.”

Dia langsung berdiri.

Aku menatapnya.

“Kamu pergi?”

Dia terdiam.

Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti.

Aku memandangi pria yang berdiri di hadapanku.

Pria yang pernah berjanji akan mencintaiku dan melindungiku seumur hidup.

Pria yang mengatakan bahwa keluarga adalah hal terpenting di dunia.

Kini dia berdiri di antara dua pilihan.

Di satu sisi, istrinya selama enam tahun.

Di sisi lain, asistennya yang mampu membuatnya kehilangan akal hanya dengan satu panggilan telepon.

Perlahan aku membuka pintu kamar.

Suaraku dingin.

Begitu dingin hingga aku sendiri hampir tidak mengenalinya.

“Kalau malam ini kamu keluar lewat pintu itu…”

“…maka saat kamu kembali besok, bukan lagi surat perceraian yang akan menunggumu.”

Tangannya menggenggam gagang pintu erat-erat.

Di luar kamar terdengar suara lift yang terbuka.

Ponselnya terus bergetar di tangannya.

Keringat mulai muncul di dahinya.

Dan aku…

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan kami…

Aku tidak memohon.

Aku tidak meminta.

Aku tidak menangis.

Aku hanya memandangnya dalam diam saat dia membuat keputusan terpenting dalam hidupnya.

Dan kemudian…

Perlahan… dia melangkah mundur, lalu berbalik dan membuka pintu kamar tanpa memandangku lagi.

“Maaf, ini darurat. Lara ketakutan, ada orang asing yang mencoba mendobrak kamar hotelnya,” ucapnya terburu-buru, melempar alasan klise yang bahkan tidak ingin kusaring lagi di dalam kepala.

Pintu tertutup dengan dentuman keras. Suara langkah kakinya yang berlari koridor hotel perlahan menjauh, tenggelam bersama sisa-sisa rasa sakit yang selama ini mengikat dadaku.

Anehnya, air mataku tidak jatuh.

Beban berat yang menghimpit hatiku selama dua tahun terakhir mendadak sirna, digantikan oleh rasa hampa yang melegakan. Detik itu juga, aku tahu pernikahan enam tahun ini telah benar-benar mati. Bukan karena kehadiran Lara, melainkan karena suamiku yang telah lama memilih untuk pergi, jauh sebelum malam ini.

Langkah Terakhir di Malam Ketiga

Aku berjalan mendekati meja rias. Di sana, surat perceraian itu tergeletak pasrah. Menggunakan pena hotel yang tintanya berwarna hitam pekat, aku menggoreskan tanda tanganku di atas kertas putih tersebut.

Tegas. Tanpa ragu.

Setelah itu, aku melakukan beberapa hal dengan ketenangan yang luar biasa:

  • Mengemas Koper: Aku memasukkan sisa pakaianku, menyisakan gaun favorit yang kupakai kemarin di atas tempat tidur—sebuah simbol bahwa wanita bodoh yang mengemis cintanya telah tiada.
  • Memesan Tiket: Aku membeli tiket penerbangan paling awal ke Jakarta, yang akan berangkat dalam tiga jam ke depan.
  • Meninggalkan Cincin: Aku melepas cincin pernikahan emas putih di jari manisku, meletakkannya tepat di atas dokumen perceraian yang sudah kutandatangani.

Sebelum menarik koperku keluar, aku mengirimkan satu pesan singkat terakhir kepadanya:

“Pintu sudah tertutup, dan aku sudah selesai. Jangan cari aku lagi. Hubungi pengacaraku jika kamu sudah siap menandatanganinya.”

Aku memblokir nomornya, menghapus kontak Lara, dan melangkah keluar dari kamar hotel itu dengan kepala tegak. Untuk pertama kalinya dalam itinerary yang kurancang setahun penuh ini, aku akhirnya merasa benar-benar bebas.

Penyesalan yang Terlambat

Keesokan paginya, suamiku kembali ke kamar dengan wajah lelah dan rasa bersalah yang mulai menggerogoti jiwanya. Alasan “darurat” semalam ternyata hanyalah ketakutan berlebih Lara yang salah melihat staf hotel.

Namun, saat dia membuka pintu kamar, yang menyambutnya hanyalah keheningan yang mencekam.

  • Tidak ada aroma parfumku.
  • Tidak ada koperku di sudut ruangan.
  • Hanya ada gaun favoritku yang terhampar dingin di atas kasur yang rapi.

Pandangannya terpaku pada meja. Di sana, berkas perceraian itu berkilau tertimpa cahaya matahari pagi, bersanding dengan cincin pernikahan yang dulu kami sematkan dengan janji suci. Di lembar terakhir, tanda tanganku sudah tertera dengan mutlak.

Dia panik. Dia mencoba meneleponku berkali-kali, namun hanya suara operator yang menjawab. Dia menghubungi teman-temanku, keluargaku, namun semua akses telah tertutup rapat. Saat itu, kesadaran menghantamnya seperti godam yang keras: dia tidak sedang membagi fokusnya antara pekerjaan dan istri; dia telah kehilangan istrinya selamanya.

Tiga Bulan Kemudian…

Di sebuah kafe di pusat kota Jakarta, aku duduk menyesap kopi sambil menatap ke luar jendela. Langit cerah, secerah hatiku yang perlahan mulai sembuh.

Pria yang kini berstatus sebagai mantan suamiku duduk di hadapanku. Wajahnya tampak jauh lebih tua dan kusam. Tidak ada lagi wibawa seorang bos besar yang dulu kupuja. Di sampingnya, tidak ada Lara—yang kudengar langsung mengundurkan diri begitu rumor perselingkuhan mereka merusak reputasi perusahaan.

Dia menyodorkan map dokumen yang sama dengan yang kutinggalkan di pulau itu. Kini, sudah ada tanda tangannya di sana.

“Aku minta maaf,” suaranya serak, penuh penyesalan. “Aku baru sadar… Lara hanya ego sesaat. Kamu adalah duniaku.”

Aku menerima dokumen itu, tersenyum tipis—bukan senyum pahit seperti tiga bulan lalu, melainkan senyum penuh keikhlasan.

“Duniamu tidak pernah kekurangan ruang untukku, Kamu saja yang memilih untuk mengisinya dengan orang lain. Terima kasih sudah menandatanganinya. Selamat tinggal.”

Aku berdiri, menjabat tangannya untuk terakhir kali, dan berjalan keluar menuju kehidupan baruku. Tanpa menoleh ke belakang lagi.

Perlahan…