Posted in

SUAMIKU MENASIHATIKU UNTUK MELEPASKAN WARISAN KARENA “KAKAK-KAKAKMU LEBIH MEMBUTUHKANNYA” — TAPI SAAT PENGACARA MEMBACAKAN WASIAT, SELURUH KELUARGANYA TERDIAM!*

*SUAMIKU MENASIHATIKU UNTUK MELEPASKAN WARISAN KARENA “KAKAK-KAKAKMU LEBIH MEMBUTUHKANNYA” — TAPI SAAT PENGACARA MEMBACAKAN WASIAT, SELURUH KELUARGANYA TERDIAM!**

Malam itu, aku baru saja meletakkan sendok setelah makan malam ketika menerima telepon dari ibuku.

Beliau mengatakan bahwa kakekku telah meninggal dunia.

Selain rasa kehilangan yang begitu besar, ada satu hal lain yang harus segera dibicarakan oleh seluruh keluarga.

Kakek meninggalkan warisan yang sangat besar.

Ada sejumlah uang.

Sebidang tanah.

Dan sebuah rumah di jalan utama yang nilainya sangat tinggi.

Setelah telepon berakhir, aku duduk terdiam cukup lama.

Ketika suamiku masuk ke dapur untuk mengambil air minum, barulah aku menceritakan kabar tersebut kepadanya.

Aku sama sekali tidak menyangka jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

“Kamu sebaiknya menolak bagian warisanmu.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia meneguk airnya lalu menjawab seolah semuanya sangat sederhana.

“Kamu punya dua kakak laki-laki.”

“Mereka punya anak dan tanggung jawab yang lebih besar.”

“Kehidupan kita sudah cukup baik. Tidak perlu berebut warisan.”

Aku sedikit terkejut.

Bukan karena nasihatnya.

Melainkan karena dia yang mengatakannya.

Pria yang selama ini selalu berusaha mendapatkan keuntungan dari apa pun yang berasal dari keluargaku.

Pria yang tidak pernah menolak bantuan atau pemberian dari mereka.

Melihat aku diam, dia melanjutkan.

“Keluarga lebih penting daripada uang.”

“Jangan sampai hubungan kalian rusak hanya karena warisan.”

Aku tersenyum tipis.

“Baiklah.”

“Kalau itu memang maumu.”

Wajahnya langsung tampak lega.

Seolah beban besar terangkat dari pundaknya.

Saat itu aku belum tahu.

Atau mungkin aku memang tidak ingin tahu.

Bahwa bukan keharmonisan keluargaku yang sebenarnya dia pikirkan.

Ternyata ada alasan lain di balik semuanya.

### BAB 2

Dua hari kemudian, keluarga kami berkumpul.

Ibu mengirim pesan dan mengatakan bahwa aku harus pulang.

Dan jangan lupa membawa suamiku.

Saat kusampaikan hal itu kepadanya, dia langsung menolak.

“Aku ada urusan.”

“Kamu pulang saja sendiri.”

Aku merasa heran.

“Urusan apa?”

Dia tidak menjawab.

Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.

“Pekerjaan.”

Aku menatap wajah yang sudah sangat kukenal.

Namun untuk pertama kalinya, rasanya aku sedang melihat orang asing.

Selama hampir enam bulan terakhir, dia memang berubah.

Lebih sering lembur.

Lebih sering pulang larut malam.

Mengganti kata sandi ponselnya.

Menghapus pesan-pesan.

Bahkan saat mandi pun selalu membawa teleponnya.

Setiap kali aku bertanya, justru aku yang dianggap berlebihan.

“Jangan terlalu curiga.”

Dulu aku mempercayainya.

Bahkan sampai merasa bersalah karena pernah meragukannya.

Tetapi hari itu…

Untuk pertama kalinya…

Aku memutuskan untuk tidak lagi mempercayainya begitu saja.

Keesokan harinya, aku pulang lebih awal dari kantor.

Aku berdiri di depan gedung tempatnya bekerja.

Sekitar pukul enam sore.

Lalu aku melihatnya keluar.

Dan dia tidak sendirian.

Ada seorang wanita muda bersamanya.

Usianya mungkin baru awal dua puluhan.

Berambut panjang.

Cantik.

Dan memiliki senyum yang cerah.

Namun yang membuat dadaku terasa sesak bukanlah kehadiran wanita itu.

Melainkan cara suamiku memandangnya.

Tatapan penuh kelembutan yang sudah lama tidak pernah kuterima.

Mereka masuk ke mobil yang sama.

Aku segera naik taksi dan mengikuti mereka.

Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan besar.

Makan malam bersama.

Duduk berhadapan.

Tertawa dan mengobrol dengan akrab.

Bahkan wanita itu sempat mengusap sudut bibir suamiku dengan tisu.

Dan dia tidak menghindar.

Sebaliknya…

Dia justru menggenggam tangan wanita itu.

Aku duduk di sudut restoran.

Merasa seolah ada tangan yang meremas jantungku.

Tiga tahun pernikahan.

Aku selalu berpikir bahwa sehebat apa pun masalah kami, dia tidak akan pernah mengkhianatiku.

Ternyata aku yang paling bodoh.

Aku berdiri.

Lalu berjalan menuju meja mereka.

Sepuluh meter.

Lima meter.

Tiga meter.

Dan ketika hanya tinggal beberapa langkah lagi…

Ponsel wanita itu tiba-tiba berdering.

Dia langsung mengangkatnya.

Dan ekspresi wajahnya berubah seketika.

“Benarkah?”

“Mereka sudah menemukannya?”

Pria di hadapannya langsung berdiri.

“Apa yang mereka temukan?”

Wanita itu tampak begitu bersemangat hingga suaranya bergetar.

“Pengacara baru saja menelepon.”

“Mereka sudah memastikan identitas satu-satunya cucu yang disebut dalam surat wasiat.”

“Minggu depan seluruh warisan akan dipindahkan kepadanya.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Karena warisan yang mereka bicarakan…

Adalah warisan keluargaku.

Dan satu-satunya cucu yang disebut dalam surat wasiat itu…

Adalah aku.

Pada saat yang sama, wanita itu menoleh.

Mata kami bertemu.

Wajahnya langsung pucat.

Ponselnya terlepas dari tangannya.

Dan suamiku yang duduk di depannya…

Perlahan ikut menoleh.

Ketika melihatku…

Semua warna seakan hilang dari wajahnya.

Dan tepat pada saat itu…

Aku melihat sebuah pesan muncul di layar ponsel yang jatuh ke lantai.

*”Setelah kamu mendapatkan warisan itu, jangan lupa membaginya dengannya seperti yang sudah kalian sepakati.”*

Perlahan aku memungut telepon itu.

Lalu menatap mereka berdua.

Dan tersenyum.

“Sepertinya…”

“Ada sesuatu yang perlu kalian jelaskan kepadaku.”

“Sepertinya…”

“Ada sesuatu yang perlu kalian jelaskan kepadaku.”

Suaraku terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi di mana seorang istri baru saja menangkap basah suaminya berselingkuh sekaligus merencanakan perampokan terhadap haknya sendiri.

Suamiku—Rian—mencoba berdiri, tangannya gemetar hebat hingga hampir menyenggol cangkir kopi di atas meja. “Sayang… ini… ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan,” gagapnya, wajahnya yang tadi cerah kini pucat pasi bak mayat.

Wanita muda di hadapannya—yang belakangan ketahui bernama Sila—hanya bisa menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu dan ketakutan.

Aku meletakkan ponsel Sila yang layarnya masih menyala di atas meja dengan ketukan pelan yang terdengar begitu mengancam di tengah keheningan mereka.

“Tidak perlu di sini,” kataku sambil menatap Rian lurus-lurus. “Kita selesaikan ini minggu depan. Di hadapan pengacara kakek, dan di depan seluruh keluargaku. Datanglah, Rian. Bukankah kamu sangat tertarik dengan warisan kakekku?”

Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan melangkah pergi. Rasa sesak di dadaku mendadak menguap, digantikan oleh kobaran api amarah dan tekad yang bulat.

Kedok yang Terbongkar

Selama hari-hari menuju pembacaan wasiat, aku tidak pulang ke rumah. Aku menyewa pengacara pribadi dan menyelidiki hubungan mereka. Kenyataan yang terungkap jauh lebih menjijikkan dari dugaan awalku.

Sila ternyata adalah keponakan jauh dari salah satu menantu di keluarga besarku, yang entah bagaimana berhasil menjalin hubungan gelap dengan Rian. Rian, yang entah bagaimana mengetahui bocoran bahwa Kakek hanya akan menunjuk satu cucu sebagai ahli waris tunggal, berasumsi bahwa cucu itu adalah salah satu dari kakak laki-lakiku.

Itulah mengapa Rian memintaku melepaskan warisan. Rencananya sangat licik:

  1. Dia menyuruhku menolak bagianku agar aku terlihat “baik” di mata keluarga.
  2. Dia dan Sila bersekongkol untuk mendekati kakakku yang mereka kira akan menerima warisan, dengan janji pembagian keuntungan di bawah tangan.
  3. Setelah berhasil memeras uang dari sana, Rian berencana menceraikanku.

Mereka tidak pernah menyangka, bahwa cucu kesayangan yang dimaksud Kakek dalam wasiat rahasianya… adalah aku.

Hari Pembacaan Wasiat

Minggu berikutnya, ruang rapat kantor pengacara keluarga penuh sesak. Kedua kakak laki-lakiku duduk di sana bersama istri mereka, wajah mereka tampak tegang namun penuh harap. Ibuku duduk di sudut, matanya sembab.

Dan di kursi paling belakang, Rian datang. Dia duduk dengan gelisah, matanya terus melirikku, mencoba mencari celah untuk meminta maaf. Sila tidak ada di sana, tentu saja, dia tidak punya hak untuk hadir.

Pengacara senior kakek, Pak Baskoro, berdeham dan membuka map tebal berwarna hitam.

“Terima kasih sudah hadir. Saya akan langsung membacakan poin utama dari surat wasiat almarhum Tuan Broto,” ujar Pak Baskoro tegas.

Kedua kakakku memajukan duduk mereka. Rian menahan napas.

“Tuan Broto menyatakan bahwa seluruh aset utama—termasuk deposito berjangka, sebidang tanah di pusat kota, dan rumah utama di jalan protokol—tidak akan dibagi rata.”

Ruangan menjadi senyap. Kakak pertamaku mengerutkan kening. “Lalu jatuh kepada siapa, Pak?”

Pak Baskoro berkacamata itu menatap seluruh ruangan, lalu pandangannya berhenti tepat padaku.

“Seluruh aset tersebut jatuh secara mutlak kepada cucu perempuan satu-satunya, yaitu Saudari Kirana.”

Kesunyian yang Mencekam

Seketika, seluruh ruangan terdiam. Bak disambar petir di siang bolong, wajah kedua kakakku dan istri mereka langsung menegang. Mereka saling pandang dengan tatapan tidak percaya dan kecewa yang mendalam. Ibu terkejut, namun tidak memprotes.

Namun, reaksi yang paling dramatis datang dari sudut ruangan.

Rian.

Dia tertegun. Mulutnya setengah terbuka. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seolah aliran darahnya berhenti mengalir. Rencana matang yang dia bangun bersama selingkuhannya runtuh berkeping-keping dalam satu detik. Uang yang dia incar, kemewahan yang dia dambakan, ternyata berada tepat di depan matanya—di tangan istri yang baru saja dia khianati dan rencanakan untuk didepak.

Dia menatapku dengan tatapan memohon, matanya berbinar serakah seolah ingin mengatakan, “Sayang, kita kaya!”

Aku berdiri dari kursiku dengan perlahan, memecah keheningan yang mencekam itu. Aku menatap kedua kakakku, lalu beralih menatap Rian.

“Pak Baskoro,” suaraku menggema di ruangan. “Saya menerima warisan ini sepenuhnya. Tanpa menolak sepeser pun.”

Rian tampak mengembuskan napas lega yang sangat kentara. Tapi senyumnya tidak bertahan lama.

Aku membuka tas jinjingku, mengeluarkan sebuah map jepit transparan, dan meletakkannya di atas meja di depan Pak Baskoro.

“Dan sekalian di hadapan keluarga saya… saya ingin mengajukan gugatan cerai terhadap suami saya, Rian.”

Akhir yang Adil

Rian langsung berdiri dari kursinya. “Kirana! Apa-apaan ini?! Jangan gila!” teriaknya panik, kehilangan seluruh harga dirinya di depan keluarga besarku.

“Aku punya bukti perselingkuhanmu dengan Sila, Rian. Termasuk chat rencana kalian untuk memanipulasi warisan keluargaku,” kataku dingin, melemparkan lembaran cetak bukti obrolan mereka ke atas meja.

Kakak-kakakku yang tadinya kecewa karena tidak mendapat warisan, mendadak langsung berdiri begitu melihat bukti tersebut. Amarah mereka beralih sepenuhnya kepada Rian yang telah berani menginjak-injak harga diri adik perempuan mereka.

“Kau keparat!” kakak pertamaku langsung mencengkeram kerah baju Rian, sementara kakak keduaku memanggil sekuriti gedung.

Rian diusir dari ruangan itu seperti tikus kotor, berteriak memanggil namaku dan memohon ampun, namun aku bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Saat dia diseret keluar, aku tahu hidupnya sudah hancur. Dia tidak akan mendapatkan Sila—karena wanita itu pasti meninggalkannya setelah tahu Rian tidak mendapatkan apa-apa. Dia juga akan menghadapi gugatan cerai tanpa sepeser pun harta gono-gini karena klausul perselingkuhan yang kuat.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kakek di atas sana pasti sedang tersenyum. Beliau tidak hanya memberiku masa depan yang terjamin lewat warisannya, tetapi secara tidak langsung, beliau telah menyelamatkanku dari pria yang salah.