Putriku yang berusia empat tahun ingin memeluk neneknya, tetapi ibuku mundur dan mendorongnya menjauh dengan tumitnya. “Jangan mengotori gaunku dengan kemiskinanmu!” teriaknya. Ketika gadis-gadis yang menangis itu menatapku dan bertanya, “Bu…apakah aku anak nakal?”, aku bersumpah dalam hati bahwa mereka akan berlutut di hadapan kami.
Yang Manja dan yang Terbuang
Namaku Clara. Dalam keluarga kami, aku selalu menjadi bayangan adik perempuanku, Beatrice. Beatrice adalah putri kesayangan ibu kami, Doña Carmela. Ketika Beatrice menikah dengan seorang pengusaha kaya, statusnya di mata ibu kami semakin tinggi. Sebaliknya, dia meninggalkanku ketika aku memilih untuk menikahi Anton, seorang pria sederhana yang meninggal dalam kecelakaan tiga tahun lalu, meninggalkanku sendirian untuk membesarkan putriku, Lily.
Malam ini adalah pesta ulang tahun Doña Carmela yang mewah ke-65 di ballroom eksklusif di hotel bintang lima. Semua kerabat kaya diundang. Aku tidak berencana untuk pergi, tetapi Lily memohon. “Mama, aku ingin bertemu Nenek. Mungkin dia akan memberiku kue dan pelukan,” pinta malaikat kecilku yang berusia empat tahun dengan polos.
Jadi kami berdandan sebaik mungkin. Meskipun bukan pakaian desainer, kami terlihat bersih dan rapi. Yang tidak diketahui keluargaku adalah bahwa putri mereka yang “miskin” itu sudah lama tidak miskin lagi. Berkat kerja keras dan investasi cerdas dengan uang asuransi jiwa yang ditinggalkan suamiku, aku sekarang menjadi CEO rahasia dan pemilik tunggal Aegis Capital, perusahaan investasi terbesar di negara ini. Aku merahasiakan kekayaanku karena aku tidak ingin mereka mendekatiku hanya untuk uang.
Penolakan terhadap yang Polos
Saat kami memasuki ruang dansa yang megah, kesombongan Doña Carmela dan Beatrice terlihat jelas. Mereka mengenakan gaun berkilauan dan dikelilingi oleh para tamu. Ketika Lily melihat neneknya, matanya berbinar. Dia melepaskan tanganku dan berlari ke arah neneknya dengan gembira.
“Nenek! Nenek, selamat ulang tahun!” sapa Lily dengan gembira, merentangkan kedua tangannya yang kecil, siap memeluknya.
Namun ketika Doña Carmela melihat putriku mendekat, matanya membelalak jijik. Bukannya menyapa anak yang polos itu, Doña Carmela malah langsung mundur. Ia mendorong Lily dengan sepatunya!
BRAK! Lily jatuh ke lantai marmer yang keras.
“Jauhkan dirimu dariku!” teriak ibuku, suaranya melengking dan penuh jijik. Ia mengibaskan gaunnya sebelum Lily menyentuhnya. “Jangan mengotori gaun mahalku dengan kemiskinanmu! Bau busukmu akan menempel padaku!”
Seluruh tubuhku gemetar. Aku hendak melangkah maju ketika aku melihat apa yang dilakukan Doña Carmela selanjutnya. Ia dengan cepat menyapa dan memeluk kedua anak Beatrice, yang mengenakan pakaian desainer mahal.

“Nah, ini cucu-cucuku! Mereka berbau harum dan sangat kaya!” kata ibuku dengan bangga, tersenyum dan mencium anak-anak saudara perempuanku.
Lily menatapku, air mata mengalir di pipinya. Ia memegang lututnya, yang merah karena jatuh.
“Ibu…” bisik putriku sambil terisak, suaranya dipenuhi kebingungan dan kesedihan. “Mengapa Nenek tidak menginginkanku? Ibu… apakah aku nakal? Apakah aku jelek?”
02
Pertanyaan polos dari bibir kecil Lily bagaikan belati yang menghujam tepat di jantungku. Rasa sakitnya begitu hebat hingga membuatku sempat kesulitan bernapas.
Aku langsung berlutut di atas lantai marmer dingin itu, merengkuh tubuh mungil Lily ke dalam pelukanku. Kuhapus air matanya dengan jemariku yang gemetar menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.
“Tidak, Sayang. Lily anak yang sangat cantik, sangat baik, dan paling berharga di dunia ini,” bisikku di telinganya, berusaha menjaga agar suaraku tidak pecah. “Nenek hanya sedang sakit mata, jadi tidak bisa melihat betapa istimewanya Lily. Sekarang, Lily tunggu di sini sebentar bersama Om handal ini, ya?”
Aku memberi isyarat kepada seorang pria berstelan jas rapi yang sejak tadi berdiri berjaga di dekat pintu masuk ballroom. Dia adalah Damian, kepala pengawal pribadi sekaligus tangan kananku di Aegis Capital. Damian segera melangkah maju, membungkuk hormat kepadaku, lalu menggendong Lily dengan sangat hati-hati.
“Jaga putriku. Pastikan dia mendapatkan es krim terbaik di restoran hotel,” perintahku dingin.
“Baik, Ibu CEO,” jawab Damian tegas sebelum membawa Lily keluar dari ruangan yang penuh dengan manusia berhati busuk ini.
Setelah Lily aman, aku berdiri. Perlahan, aku merapikan gaun sederhanaku. Seluruh rasa sedih dan minder yang sengaja kupelihara selama bertahun-tahun di depan keluarga ini menguap tanpa sisa. Yang tertinggal hanyalah Clara sang pimpinan tertinggi Aegis Capital—dingin, tak tersentuh, dan mematikan.
Aku melangkah mendekati panggung utama, tempat Doña Carmela dan Beatrice sedang tertawa sombong bersama para sosialita.
03
“Clara? Kamu masih berani berdiri di sini setelah mempermalukan keluarga kita?” Beatrice menegurku dengan nada meremehkan, memutar bola matanya malas. “Harusnya kamu tahu diri. Datang ke pesta megah seperti ini dengan baju murah… kamu sengaja ingin membuat Mama malu di depan rekan bisnisnya?”
Doña Carmela mendengus, membersihkan sisa-bisa debu imajiner di gaun sutranya. “Sudahlah, Beatrice. Orang miskin memang tidak tahu sopan santun. Clara, bawa anak harammu itu keluar sekarang sebelum aku memanggil sekuriti untuk mengusir kalian seperti anjing kurap!”
Para tamu di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, melayangkan tatapan sinis dan tawa mengejek ke arahku. Mereka mengira aku akan menangis dan lari ketakutan seperti biasanya.
Namun, yang mereka dapatkan adalah senyuman tipis dariku. Sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Beatrice tiba-tiba merinding.
“Mengusirku, Mama?” suaraku bergema tenang, namun memiliki penekanan yang kuat. “Kalian yakin ingin melakukan itu di malam perayaan yang… katanya menjadi penyelamat bisnis keluarga Beatrice?”
Beatrice mengerutkan kening, wajahnya menegang. “Apa maksudmu?!”
Tepat pada saat itu, lampu di dalam grand ballroom mendadak redup selama dua detik sebelum kembali menyala. Layar proyektor besar di belakang panggung yang tadinya menampilkan foto-foto narsistik Doña Carmela tiba-tiba berganti menjadi sebuah logo emas yang sangat ditakuti sekaligus dihormati di dunia bisnis: Aegis Capital.
Suasana ruangan langsung senyap.
“Ada apa ini? Siapa yang mengganti layarnya?!” seru Doña Carmela panik, menoleh ke arah pihak manajemen hotel yang justru berdiri tegak di belakangku.
Ponsel Beatrice tiba-tiba berdering keras. Ketika melihat nama yang tertera di layar—suaminya yang merupakan direktur utama perusahaan keluarga—Beatrice buru-buru mengangkatnya dengan tangan gemetar.
— “Halo, Sayang? Ada apa—”
Suara suaminya terdengar begitu kencang dan histeris dari seberang telepon, hingga bisa didengar oleh orang-orang di sekitar kami.
— “BEATRICE! KITA HANCUR! Investor utama kita, Aegis Capital, baru saja menarik seluruh dana investasi sebesar dua ratus miliar rupiah dari perusahaan kita secara sepihak! Mereka juga membatalkan kontrak kerja sama dan menuntut kita atas gagal bayar! Kita bangkrut, Beatrice! Rumah, mobil, bahkan pesta ibumu malam ini… semuanya akan disita besok pagi!”
04
Prang!
Gelas anggur di tangan Beatrice jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai. Wajahnya seketika memucat, sekuning kain kafan.
Doña Carmela yang mendengar hal itu langsung memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal. “Tidak… tidak mungkin! Suamimu bilang malam ini perwakilan dari pemilik Aegis Capital akan datang untuk menandatangani perpanjangan kontrak! Mana orangnya?!”
Aku melangkah maju satu demi satu, mendekati panggung pelaminan mereka. Setiap ketukan sepatu flatku terdengar bagaikan lonceng kematian bagi kesombongan mereka.
“Orang yang kalian tunggu sudah ada di sini sejak tadi, Doña Carmela,” kataku sambil mengeluarkan sebuah stempel resmi berlambang Aegis Capital dan dokumen pemutusan hubungan kerja sama dari dalam tas kecilku, lalu melemparnya tepat ke depan wajah ibuku.
Beatrice membaca nama pemilik tunggal yang tertera di atas dokumen tersebut dengan mata yang hampir keluar dari rongganya.
“C-Clara… Villanueva? Pemilik tunggal Aegis Capital… adalah KAMU?!” pekik Beatrice, suaranya melengking karena syok yang teramat sangat.
Doña Carmela menggelengkan kepalanya dengan histeris, menatapku seolah-olah melihat hantu. “Tidak! Kamu hanyalah janda miskin! Suamimu cuma buruh pabrik! Bagaimana mungkin?!”
“Uang asuransi dan peninggalan Anton kuinvestasikan dengan benar, sesuatu yang tidak akan pernah dipahami oleh otak serakah kalian,” jawabku dengan tatapan sedingin es. “Selama ini aku diam dan mengalah karena aku masih menghargaimu sebagai ibu yang melahirkanku. Tapi malam ini… saat tangan dan sepatu mahalamu itu mendorong putri kecilku yang tidak berdosa…”
Aku menjeda kalimatku, menatap tajam ke arah hak sepatu Doña Carmela yang tadi digunakan untuk menyakiti Lily.
“…kamu tidak hanya kehilangan menantu dan cucu kayamu, tapi kamu juga telah memastikan bahwa sisa hidupmu akan dihabiskan di jalanan yang kumuh, tempat yang paling kamu benci di dunia ini.”
05
“Clara… tolong, ini pasti salah paham! Aku ini ibumu!” Doña Carmela tiba-tiba melangkah turun dari panggung, mengabaikan gaun mahalnya yang kini terseret di lantai. Air mata ketakutan mulai membanjiri wajah keriputnya. “Mama mengaku salah! Mama tadi tidak sengaja! Tolong jangan tarik investasi itu… perusahaan adikmu bisa hancur!”
Beatrice juga ikut berlari mendekat, langsung berlutut di depanku tanpa memedulikan tatapan ratusan tamu undangan yang kini memandang mereka dengan pandangan jijik dan muak.
“Clara, aku mohon! Demi hubungan darah kita! Maafkan aku… maafkan Mama!” ratap Beatrice sambil mencoba meraih ujung celanaku.
Aku mundur selangkah, menatap ibu dan adik kandungku yang kini bersujud di bawah kakiku—persis seperti sumpah yang kuucapkan di dalam hati beberapa menit yang lalu.
“Jangan kotori sepatuku dengan kemiskinan moral kalian,” kataku menirukan kalimat Doña Carmela dengan nada sarkasme yang sempurna.
Aku membalikkan badan, berjalan dengan langkah mantap meninggalkan ballroom yang kini dipenuhi oleh suara tangisan histeris dan penyesalan yang terlambat dari Doña Carmela dan Beatrice.
Di luar hotel, Damian sedang menemani Lily yang asyik memakan es krim cokelatnya di dalam mobil limosin mewah milikku. Begitu melihatku masuk, wajah polos Lily kembali berbinar.
“Mama! Es krimnya enak sekali! Nenek sudah tidak sakit mata lagi?” tanyanya dengan riang.
Aku merengkuh putri kecilku ke dalam pelukan, mencium puncak kepalanya dengan penuh rasa syukur. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi orang yang bisa merendahkannya. Duniaku, kekayaanku, dan seluruh hidupku adalah miliknya.
“Sudah, Sayang. Mulai sekarang, Nenek dan Tante Beatrice tidak akan pernah mengganggu kita lagi,” jawabku lembut sambil tersenyum. “Ayo kita pulang. Rumah baru kita yang besar sudah menunggu.”