Posted in

Suamiku Meninggalkan Putri Kami yang Sedang Demam Tinggi Demi Menyambut Mantan Kekasihnya…*

*Suamiku Meninggalkan Putri Kami yang Sedang Demam Tinggi Demi Menyambut Mantan Kekasihnya…**

Namun yang paling mengejutkannya bukanlah air mataku.

Melainkan kata-kata putri kami yang membuatnya mengejar kami sampai ke seluruh Bandara Manila…

Di Jakarta ada sebuah ungkapan:

> “Orang yang paling menakutkan bukanlah orang yang mengkhianatimu…
> melainkan orang yang terus berkata bahwa dia mencintaimu, sementara hatinya masih tertinggal di masa lalu.”

Dulu aku tidak percaya.

Sampai hari ketika aku menyadari bahwa suamiku ternyata belum pernah melupakan cinta pertamanya.

Wanita itu bernama **Sofia Mendoza**.

Dia adalah cinta pertama suamiku saat kuliah.

Kemudian Sofia menikah dengan seorang pengusaha dari Surabaya, memiliki seorang putra, lalu berakhir dengan perceraian.

Sedangkan aku menjadi istri **Miguel Ramirez** — pria yang dikagumi banyak orang.

Semua orang berkata aku sangat beruntung.

Tetapi hanya aku yang tahu…

Dalam pernikahan ini, akulah yang selalu datang terlambat.

## 01

Semuanya bermula pada malam ketika putri kami mengalami demam tinggi.

Hujan turun deras di luar.

Keheningan di rumah besar kami terasa menyesakkan.

Aku menggendong putri kami yang tubuhnya panas membara dan hendak menelepon sopir untuk membawanya ke rumah sakit ketika ponsel Miguel tiba-tiba berdering.

Nama Sofia muncul di layar.

Miguel menatapku sesaat sebelum berbalik menjawab telepon.

Dari seberang sana terdengar suara tangisan Sofia.

— “Miguel… Marco kambuh asmanya lagi…”

— “Dia terus memanggil namamu…”

— “Aku tidak tahu harus bagaimana…”

Marco adalah putra Sofia.

Bukan anak Miguel.

Tetapi Miguel memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.

Dia menggenggam ponselnya erat.

Diam beberapa detik.

Lalu menoleh kepadaku.

— “Aku hanya akan ke sana sebentar.”

Aku menatap putri kami yang menggigil karena demam di pelukanku.

Dengan suara lemah dia memanggil:

— “Papa…”

Miguel menghampirinya dan mengusap kepalanya.

— “Jadilah anak baik, ya. Papa akan segera kembali.”

Aku tidak menghentikannya.

Aku juga tidak menangis.

Aku hanya menyentuh dahi putriku lalu berkata pelan:

— “Lucas…”

— “Ucapkan selamat tinggal kepada Om.”

Seluruh ruang tamu mendadak sunyi.

Miguel menatapku dengan tidak percaya.

— “Apa yang kamu katakan?”

Aku memandangnya dengan tenang.

— “Bukankah kamu bilang Sofia dan anaknya lebih membutuhkanmu?”

— “Kalau begitu… mulai sekarang kamu cukup menjadi Om saja.”

Putriku membeku.

Mata merahnya menatap Miguel cukup lama.

Lalu dengan suara bergetar dia berbisik:

— “S-selamat tinggal, Om…”

Miguel tetap pergi malam itu.

Pintu tertutup.

Disusul suara mobilnya yang segera ditelan derasnya hujan.

Putriku menangis terisak di pelukanku.

— “Mama…”

— “Papa sudah tidak sayang aku lagi ya?”

Aku memeluknya erat.

Tetapi aku tidak bisa menjawab.

Karena aku juga tidak tahu.

## 02

Sejak saat itu, setiap kali Miguel meninggalkan kami demi Sofia, aku meminta putriku memanggilnya “Om”.

Bukan karena aku marah.

Tetapi karena aku ingin anakku belajar melepaskan sebelum dia terluka lebih dalam.

Miguel mengajak Sofia makan malam?

— “Halo, Om.”

Dia tidak datang ke pertemuan orang tua murid karena menghadiri ulang tahun Marco?

— “Terima kasih, Om.”

Bahkan ketika ulang tahun putri kami sendiri, dia pulang terlambat karena sedang memperbaiki keran bocor di apartemen Sofia.

Aku tetap berkata dengan tenang:

— “Lucas, ucapkan terima kasih kepada Om.”

Awalnya putriku menolak memanggil Miguel seperti itu.

Setiap kali hendak mengucapkannya, matanya memerah.

Pernah dia menangis keras.

— “Aku tidak mau!”

— “Dia Papaku!”

Rasanya seperti jantungku disobek.

Tetapi aku tahu…

Kalau ini terus berlanjut, luka yang akan datang akan jauh lebih menyakitkan.

## 03

Sebulan kemudian, Miguel mengajak kami pergi ke taman hiburan di Bandung.

Putri kami sudah ingin pergi ke sana selama dua tahun.

Karena terlalu bahagia, dia tidak bisa tidur semalaman.

Dia sendiri yang menyiapkan tasnya.

Bahkan diam-diam menyelipkan kartu kecil ke saku Miguel.

Tulisan di dalamnya:

> “Aku sangat mencintai Papa.”

Pagi itu, sudah lama aku tidak melihat Miguel mengenakan kaus keluarga.

Dia berdiri di dekat pintu sambil tersenyum.

— “Ayo, keluarga. Kita berangkat.”

Untuk sesaat…

Aku benar-benar mengira dia akan kembali kepada kami.

Sampai ponselnya kembali berdering.

Sofia lagi.

Begitu mengangkat telepon, wajah Miguel langsung berubah.

— “Miguel…”

— “Hari ini Family Day di sekolah Marco…”

— “Semua teman sekelasnya datang bersama ayah dan ibu mereka…”

— “Dia menangis…”

— “Aku tahu aku tidak seharusnya mengganggumu, tapi aku kasihan pada anak itu…”

Miguel terdiam.

Putri kami juga terdiam.

Perlahan jemarinya menggenggam erat tali tasnya.

Lalu Miguel berjongkok di hadapannya.

— “Lucas…”

— “Bisakah hari ini—”

Namun putri kami tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat.

Dia mundur satu langkah.

Lalu tersenyum.

Senyum yang begitu baik hingga hampir menghancurkan hatiku.

— “Tidak apa-apa, Om.”

— “Pergilah bersama keluargamu.”

Miguel membeku.

Aku juga.

Perlahan putriku melepas jam tangan kartun yang diberikan Miguel tahun lalu.

Dengan hati-hati dia meletakkannya di tangan pria itu.

— “Aku sudah besar.”

— “Aku tidak membutuhkannya lagi.”

## 04

Putriku tidak menangis selama perjalanan pulang.

Dia hanya menatap lampu-lampu kota melalui jendela mobil.

Sesampainya di rumah, barulah dia berbicara.

— “Mama…”

— “Kalau Papa benar-benar tidak ada lagi dalam hidup kita…”

— “Mama akan sedih?”

Aku terdiam.

Matanya yang memerah menatapku dengan serius.

— “Aku tidak mau melihat Mama menangis lagi.”

— “Mulai sekarang…”

— “Biar aku yang melindungi Mama, ya?”

Aku langsung memeluknya erat.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku menangis di depan anakku.

Malam itu, aku memesan tiket pesawat ke Surabaya.

Tiga hari lagi kami akan meninggalkan Jakarta.

Aku tidak berniat memberi tahu Miguel.

Karena aku sudah lelah.

05

Hari keberangkatan itu tiba.

Jakarta sedang mendung, seolah meratapi akhir dari enam tahun kesetiaanku yang sia-sia. Aku sudah mengemas dua koper besar—hanya membawa pakaian dan barang-barang berharga milikku dan Lucas. Rumah mewah ini, perhiasan yang pernah Miguel belikan, semua kutinggalkan di atas meja rias. Bersama dengan selembar surat gugatan cerai yang sudah kutandatangani.

Saat kami bersiap melangkah keluar rumah, ponselku berdering. Nama Miguel tertera di sana. Aku mengangkatnya, mengaktifkan pengeras suara agar Lucas bisa mendengar.

— “Elena, kalian di mana? Aku baru saja pulang ke rumah dan mendapati lemari pakaianmu kosong,” suara Miguel terdengar panik, napasnya terengah-engah. “Apa maksud dari surat cerai ini? Elena, tolong jangan kekanak-kanakan. Kemarin itu situasi darurat, Marco menangis histeris karena merindukan sosok ayah—”

Aku memotong kalimatnya dengan nada sedatar air di dalam gelas. “Kami sedang di jalan menuju bandara, Miguel.”

— “Bandara?! Kamu mau membawa putriku ke mana?!” teriaknya, frustrasi. “Aku akan menyusul kalian sekarang! Jangan berani-berani melangkah pergi sebelum kita bicara!”

Aku tidak menjawab. Aku langsung mematikan sambungan telepon dan memblokir nomornya. Aku menoleh ke arah Lucas yang duduk di sampingku di dalam taksi. Wajahnya tenang, tidak ada lagi air mata atau ketakutan. Dia hanya menggenggam jemariku dengan tangan kecilnya yang hangat.

Namun, yang tidak kuketahui adalah Miguel benar-benar menjadi gila hari itu. Pria yang biasanya selalu menjaga reputasi dan ketenangannya, kini mengendarai mobilnya seperti orang kesurupan menembus kemacetan Jakarta demi mengejar kami.

06

Terminal Keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta sangat ramai siang itu. Aku melangkah menuju konter check-in dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Beban tak kasat mata yang selama enam tahun ini menggelayuti pundakku perlahan luruh.

“Elena! Lucas!”

Sebuah teriakan lantang memecah kebisingan bandara. Aku berbalik dan melihat Miguel berlari terengah-engah dari arah pintu masuk. Pakaian kerjanya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya merah karena panik. Beberapa orang di sekitar mulai menoleh menatapnya.

Dia langsung mencengkeram kedua bahuku, napasnya memburu. “Elena… tolong, jangan lakukan ini. Aku minta maaf. Aku bersumpah akan berubah. Aku akan membatasi hubunganku dengan Sofia. Tapi tolong, jangan bawa Lucas pergi dariku. Jangan hancurkan keluarga kita.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat air mata jatuh dari mata suamiku. Pria yang begitu kukagumi, kini memohon-mohon di depanku. Namun, hatiku sudah mati rasa. Kebohongan dan penolakannya selama bertahun-tahun telah membakar habis seluruh sisa cintaku.

“Keluarga kita sudah hancur sejak lama, Miguel. Tepatnya sejak kamu memutuskan bahwa tangisan anak Sofia lebih penting daripada nyawa putri kandungmu yang sedang demam tinggi,” kataku dengan suara bergetar namun tajam. “Lepaskan aku. Biarkan aku pergi dengan sisa martabat yang masih kupunya.”

“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!” Miguel beralih berlutut di depan Lucas. Dia mencoba meraih tangan putri kami. “Lucas… ini Papa, Nak. Tolong katakan pada Mama agar kita pulang. Papa janji, weekend ini kita akan pergi ke taman hiburan di Bandung. Papa akan mengosongkan jadwal Papa hanya untukmu. Jangan panggil Papa ‘Om’ lagi, Papa mohon…”

Miguel menangis tergugu di lantai bandara, memandangi putri kecilnya dengan tatapan memelas, berharap sebuah keajaiban atau naluri seorang anak akan luluh melihat air matanya.

Namun, respons Lucas justru menjadi pukulan paling mematikan bagi Miguel.

07

Lucas tidak mundur karena takut, tidak juga menangis. Dia hanya berdiri tegak, memandang pria yang berlutut di depannya dengan tatapan yang teramat dewasa untuk anak seusianya. Tatapan yang kosong dari rasa benci, namun juga kosong dari rasa cinta.

Lucas perlahan menarik tas kecilnya, lalu berbicara dengan suara yang sangat jernih, bergema di antara kerumunan orang yang menonton mereka:

— “Om… kenapa Om menangis?”

— “Dulu saat aku demam tinggi dan memohon agar Om tidak pergi, Om tetap pergi sambil tersenyum.”

— “Saat aku menunggu di hari ulang tahunku sampai ketiduran di sofa, Om juga tidak menangis saat menemani anak Tante Sofia.”

Lucas menghela napas pendek, lalu mengulas sebuah senyuman—senyuman tulus yang paling menyakitkan yang pernah Miguel lihat seumur hidupnya.

— “Om tidak perlu meminta maaf. Karena sejak awal, aku tidak pernah merebut Om dari keluarga Tante Sofia.”

— “Sekarang, aku mengembalikan Om kepada mereka dalam keadaan utuh. Tolong sampaikan pada Marco, mulai hari ini… dia tidak perlu berbagi ayahnya lagi denganku.”

Mendengar kata-kata itu, Miguel membeku seketika. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Kalimat Lucas bukan sekadar penolakan, melainkan sebuah pernyataan bahwa di dalam hati putri kandungnya sendiri, sosok “Papa” telah mati dan dikubur dalam-dalam. Lucas telah sepenuhnya melepaskannya.

“N-tidak… Lucas… Papa mohon…” suara Miguel tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar.

“Selamat tinggal, Om Miguel,” ucap Lucas final.

Lucas membalikkan badannya, menggandeng tanganku, dan menarikku berjalan menuju gerbang pemeriksaan dokumen. Aku tidak menoleh lagi ke belakang. Aku tahu, di belakang sana, Miguel jatuh terduduk di lantai bandara, menangis histeris tanpa memedulikan pandangan menghina dari orang-orang di sekitarnya. Dia mengejar kami ke seluruh bandara hanya untuk menyadari bahwa dia telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya yang tidak akan pernah bisa ia beli kembali dengan air mata.

Saat kami berjalan menyusuri lorong menuju pesawat, Lucas mendongak menatapku.

“Mama, sekarang kita sudah aman, kan?” tanyanya.

Aku tersenyum, menyeka setitik air mata kebahagiaan yang jatuh di pipiku, lalu memeluk bahu kecilnya erat-erat.

“Iya, Sayang. Kita sudah aman. Mulai sekarang, hanya ada Mama dan kamu.”

Di atas langit Jakarta yang mulai ditinggalkan pesawat kami, aku akhirnya melepaskan masa laluku. Di Surabaya, sebuah lembaran baru telah menunggu. Dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku tahu bahwa masa depanku akan dipenuhi oleh cinta yang nyata—bukan lagi bayang-bayang dari masa lalu orang lain.

Sangat lelah.