KETIKA PERUT ISTRIKU BERGERAK DI DALAM RUMAH KREMASI, AKU MENGHENTIKAN PROSES KREMASI—DAN SAAT ITULAH AKU MENEMUKAN KEBOHONGAN YANG INGIN MEREKA BAKAR BERSAMANYA**
### BAGIAN 2
Kata-kata Carlo membuat seluruh ruangan membeku.
“Karena kalau mereka membukanya… mereka akan tahu bahwa ini bukan kecelakaan.”
Hening.
Bahkan suara hujan di luar seolah menghilang.
Adrian menatap adik iparnya tanpa berkedip.
“Apa yang baru saja kamu katakan?”
Wajah Carlo memucat.
Ia tampak menyesali kata-kata yang sudah terlanjur keluar.
Namun sudah terlambat.
Dua petugas medis yang baru masuk ke ruangan langsung saling berpandangan.
Salah seorang dari mereka mendekat.
“Pak, kami perlu membawa jenazah ke rumah sakit sekarang juga.”
“Tidak!” teriak Carlo.
Semua orang menoleh.
Keringat mulai membasahi dahinya.
“Sudah terlambat. Tidak ada gunanya lagi.”
Adrian langsung mencengkeram kerah bajunya.
“Jawab aku!”
“Apa maksudmu bukan kecelakaan?”
Carlo berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan aku!”
“Jawab!”
Mata Carlo bergerak gelisah ke arah ibunya.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Adrian melihat sesuatu yang aneh.
Aling Marites tidak tampak terkejut.
Tidak tampak bingung.
Tidak tampak penasaran.
Sebaliknya…
Ia terlihat ketakutan.
Ketakutan karena sebuah rahasia akan terbongkar.
Paramedis segera meminta semua orang mundur.
Dengan cepat mereka membuka kembali pemeriksaan terhadap tubuh Bianca.
Salah seorang memasang alat pemantau.
Yang lain menempelkan alat pendeteksi detak.
Beberapa detik kemudian…
Terdengar suara pelan.
**Duk… duk… duk…**
Sangat lemah.
Tetapi nyata.
Jantung bayi itu masih berdetak.
“Ya Tuhan…” bisik seorang petugas.
Adrian hampir jatuh berlutut.
Air matanya mengalir tanpa henti.
“Anakku…”
Paramedis segera menghubungi rumah sakit.
“Kami membutuhkan ruang operasi darurat sekarang juga!”
“Pasien perempuan, usia kehamilan sekitar tujuh bulan!”
“Detak janin masih terdeteksi!”
Ruangan langsung berubah menjadi kacau.
Namun di tengah kekacauan itu, Carlo justru mencoba pergi diam-diam.
“Berhenti!”
Seorang petugas keamanan menahannya.
Carlo semakin panik.
“Aku harus pergi!”
“Aku tidak melakukan apa-apa!”
Kalimat terakhir itulah yang membuat semua orang semakin curiga.
Tak lama kemudian polisi yang sebelumnya menangani kasus kecelakaan Bianca tiba di lokasi.
Mereka langsung meminta semua orang tetap berada di tempat.
Sementara itu, Bianca dibawa ke ambulans.
Adrian ikut naik.
Sepanjang perjalanan ia menggenggam tangan istrinya yang dingin.
“Bertahanlah…” bisiknya.
“Kalau kamu bisa mendengarku, bertahanlah.”
Sesampainya di rumah sakit, tim dokter langsung melakukan operasi darurat.
Tiga jam.
Empat jam.
Lima jam.
Setiap menit terasa seperti penyiksaan.
Akhirnya seorang dokter keluar dari ruang operasi.
Adrian langsung berdiri.
“Dokter?”
Wajah dokter tampak lelah.
Namun ada sedikit senyum.
“Bayinya selamat.”
Kaki Adrian langsung lemas.
Ia menangis sambil menutupi wajahnya.
“Laki-laki?”
Dokter mengangguk.
“Laki-laki.”
“Beratnya kecil, tetapi peluang hidupnya sangat baik.”
“Dan istriku?”
Senyum dokter perlahan menghilang.
“Maaf… kami tidak bisa menyelamatkan ibunya.”
Dunia Adrian kembali runtuh.
Namun sebelum ia jatuh lebih dalam, dokter menambahkan sesuatu.
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada hal yang sangat tidak biasa.”
Adrian mengangkat kepala.
“Apa?”
Dokter menarik napas.
“Cedera yang dialami istri Anda tidak sepenuhnya sesuai dengan laporan kecelakaan.”
Jantung Adrian berdegup kencang.
“Apa maksudnya?”
“Kami menemukan bekas suntikan pada lengannya.”
“Dan ada indikasi zat penenang dalam tubuhnya.”
Tubuh Adrian membeku.
“Penenang?”
Dokter mengangguk.
“Kami sudah melaporkannya kepada polisi.”
Malam itu juga penyelidikan dibuka kembali.
Dan hasilnya jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkan siapa pun.
Rekaman CCTV dari sebuah SPBU menunjukkan Bianca berhenti sekitar tiga puluh menit sebelum kecelakaan.
Di sana ia bertemu seseorang.
Seseorang yang sangat dikenalnya.
Seseorang yang naik ke mobilnya.
Seseorang yang terekam jelas oleh kamera.
Orang itu adalah Carlo.
Ketika polisi menunjukkan rekaman tersebut, Carlo langsung runtuh.
Dalam waktu dua belas jam, semuanya terungkap.
Ternyata Bianca beberapa minggu sebelumnya menemukan dokumen rahasia.
Dokumen yang membuktikan bahwa Carlo menggunakan nama ibunya untuk melakukan penipuan investasi bernilai jutaan peso.
Lebih buruk lagi, sebagian uang itu digunakan untuk membayar utang perjudian.
Bianca mengancam akan melaporkannya.
Carlo panik.
Pada malam kecelakaan, ia meminta bertemu dengan Bianca.
Mereka bertengkar di dalam mobil.
Menurut pengakuannya, ia hanya ingin membuat Bianca takut.
Ia mencampurkan obat penenang ke dalam minumannya.
Namun efeknya jauh lebih kuat dari yang ia duga.
Bianca kehilangan kesadaran saat mengemudi.
Mobilnya keluar jalur dan menabrak pembatas jalan.
Dan karena Carlo tahu apa yang sebenarnya terjadi…
Ia berusaha keras memastikan tubuh Bianca segera dikremasi.
Agar tidak pernah ada autopsi.
Agar tidak pernah ditemukan bekas suntikan.
Agar rahasianya ikut terbakar bersama jasad Bianca.
Tetapi ia tidak memperhitungkan satu hal.
Seorang bayi yang menolak menyerah.
Dan seorang ayah yang melihat gerakan kecil di balik kain hitam sebuah peti mati.
Enam bulan kemudian, Adrian duduk di dekat jendela rumah mereka sambil menggendong Miguel kecil.
Anaknya tertidur pulas di dadanya.
Di atas meja terdapat foto Bianca yang sedang tersenyum sambil memegang perutnya yang hamil.
Adrian memandang foto itu lama.
Lalu menatap putranya.
“Kamu menyelamatkan ibumu dari dilupakan,” bisiknya.

“Meskipun kami tidak bisa menyelamatkannya, kamu membawa kebenaran keluar dari kegelapan.”
Di luar, hujan turun perlahan.
Sama seperti malam itu.
Epilog: Cahaya di Balik Kegelapan
Keadilan berjalan dengan semestinya, meski harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
- Carlo dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas tindakan pembunuhan berencana, penipuan, dan percobaan pelenyapan bukti pidana.
- Aling Marites, sang ibu yang bersongkol demi melindungi putra kesayangannya, dinyatakan bersalah sebagai kaki tangan kejahatan. Ia harus menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi, dihantui oleh rasa bersalah karena telah mengorbankan putri kandungnya sendiri demi menutupi borok putranya.
Rumah kremasi yang awalnya hampir menjadi tempat terkuburnya sebuah kebenaran, kini menjadi saksi bisu sebuah keajaiban yang tak terbantahkan.
Adrian mengusap pipi lembut Miguel kecil yang menggeliat pelan dalam tidurnya. Gerakan kecil di perut Bianca malam itu bukan sekadar refleks biologis biasa. Bagi Adrian, itu adalah lambaian tangan terakhir dari Bianca—sebuah pesan tak bersuara dari istrinya yang meminta tolong agar kebenaran diungkap, dan agar putra mereka diselamatkan.
“Tidur yang nyenyak, jagoanku,” bisik Adrian seraya mengecup kening putranya.
Bianca mungkin telah pergi, tetapi cintanya, keberaniannya, dan kebenaran yang dipertahankannya, akan selalu hidup dan mengalir di dalam darah Miguel kecil. Kegelapan malam itu telah usai, dan fajar yang baru telah tiba untuk Adrian dan putranya.