Posted in

MILIARDER BERPURA-PURA TIDUR DENGAN PERHIASAN EMAS DI DADANYA UNTUK MENGUJI KEJUJURAN ANAK DARI PEMBANTUNYA. IA MENGIRA ANAK ITU AKAN MENCURINYA, TETAPI APA YANG DILAKUKAN SANG ANAK JUSTRU MEMBUATNYA MENANGIS DAN MEMBALIKKAN SEMUA PRASANGKANYA!**

MILIARDER BERPURA-PURA TIDUR DENGAN PERHIASAN EMAS DI DADANYA UNTUK MENGUJI KEJUJURAN ANAK DARI PEMBANTUNYA. IA MENGIRA ANAK ITU AKAN MENCURINYA, TETAPI APA YANG DILAKUKAN SANG ANAK JUSTRU MEMBUATNYA MENANGIS DAN MEMBALIKKAN SEMUA PRASANGKANYA!**

Don Gustavo adalah seorang miliarder yang telah kehilangan kepercayaan kepada orang lain. Terlalu banyak orang yang pernah mencurinya—pegawai, teman, bahkan kerabatnya sendiri. Ia yakin bahwa semua orang miskin akan melakukan apa saja, termasuk mencuri, demi mendapatkan uang.

Baru-baru ini, ia mempekerjakan Bu Rosa sebagai tukang cuci pakaian. Bu Rosa tinggal bersama putrinya yang berusia 7 tahun, Nita.

“Awasi ibu dan anak itu,” perintah Don Gustavo kepada kepala pelayannya. “Aku yakin mereka akan berbuat macam-macam begitu melihat barang-barang mahal.”

Untuk membuktikan kecurigaannya, Don Gustavo merancang sebuah ujian.

### JEBAKAN

Suatu sore, ketika Bu Rosa sedang mencuci di halaman belakang dan Nita bermain di ruang tamu, Don Gustavo berbaring di sofa.

Ia berpura-pura tertidur lelap. Bahkan ia sengaja mendengkur keras.

Namun sebelum memejamkan mata, ia meletakkan kalung emas tebal dan jam tangan bertabur berlian di atas dadanya. Ia juga mengeluarkan dompetnya yang penuh uang tunai dan membiarkannya terlihat mencuat dari saku, seolah-olah akan jatuh kapan saja.

*Mari kita lihat,* pikir Don Gustavo sambil mengintip sedikit. *Begitu anak itu melihat emas ini, pasti dia tergoda. Dia akan mengambilnya lalu kabur.*

Tak lama kemudian, Nita masuk ke ruang tamu untuk mengambil sapu…

SANGKAAN YANG SALAH

Langkah kaki mungil Nita terhenti tepat di depan sofa. Don Gustavo menahan napas, memperketat akting dengkurannya, sementara matanya sedikit mengintip melalui celah kelopak mata yang menyipit.

Ia melihat Nita menatap kalung emas dan jam tangan berlian di dadanya. Jantung sang miliarder berdegup kencang. “Nah, sebentar lagi tangan kecil itu akan meraba dadaku dan mengambil semuanya,” bisik Don Gustavo dalam hati, siap untuk melompat dan menangkap basah anak pembantunya itu.

Nita melangkah mendekat. Tangan mungilnya terulur ke arah dada Don Gustavo.

Namun, alih-alih merampas perhiasan berkilau itu, jemari Nita dengan sangat hati-hati memegang ujung kalung emas dan jam tangan tersebut. Tanpa menimbulkan suara, ia memindahkannya ke atas meja kopi di samping sofa. Setelah itu, ia berlutut, mengambil dompet yang mencuat dari saku celana Don Gustavo, dan meletakkannya dengan rapi di samping perhiasan tadi.

Don Gustavo bingung. Kenapa dia tidak memasukkannya ke dalam saku? Apakah dia takut ketahuan dan ingin menyembunyikannya dulu?

Tetapi apa yang dilakukan Nita selanjutnya benar-benar meruntuhkan semua prasangka buruk di kepala sang miliarder.

KETULUSAN SEORANG ANAK

Nita berjalan jinjit menuju lemari di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah selimut rajut tipis yang biasa tergeletak di sana. Dengan gerakan yang sangat lembut—seolah takut membangunkan raksasa yang sedang tidur—Nita membentangkan selimut itu ke atas tubuh Don Gustavo, menutupi dadanya hingga sebatas leher.

Setelah memastikan Don Gustavo tertutup selimut dengan baik, Nita berbisik lirih pada dirinya sendiri, “Paman kaya pasti sangat lelah bekerja sampai lupa merapikan barangnya. Kalau tidak diselimuti, nanti Paman bisa masuk angin seperti Ibu.”

Anak perempuan berusia 7 tahun itu kemudian mengambil kembali sapunya, lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai dengan riang, seolah baru saja melakukan hal paling biasa di dunia.

Don Gustavo terpaku di sofanya. Air mata hangat perlahan menetes dari sudut matanya yang masih terpejam. Dadanya terasa sesak, bukan karena beban perhiasan emas yang tadi ia letakkan di sana, melainkan karena rasa malu yang luar biasa yang menghantam lubuk hatinya.

Ia, seorang pria dewasa dengan tumpukan uang di bank, telah menggunakan kekayaannya untuk menjebak seorang anak kecil yang polos. Sementara anak kecil yang ia tuduh sebagai calon pencuri itu, justru hanya memikirkan kenyamanan dan kesehatan dirinya.

SEBUAH PELAJARAN BERHARGA

Don Gustavo perlahan “terbangun” dari tidurnya. Ia duduk di sofa, menatap perhiasan dan dompetnya yang utuh di atas meja, lalu memanggil Nita yang sedang menyapu.

“Nita,” panggil Don Gustavo, suaranya agak serak karena menahan haru.

Nita menoleh dengan wajah cemas, takut jika ia telah melakukan kesalahan. “I-iya, Paman? Maaf kalau Nita berisik dan membuat Paman bangun.”

Don Gustavo menggeleng kuat-kuat. Ia tersenyum—sebuah senyuman tulus yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul di wajah kaku itu. “Tidak, Nita. Kamu tidak berisik. Paman hanya ingin bertanya… kenapa kamu memindahkan barang-barang Paman ke atas meja dan menyelimuti Paman?”

Nita tersenyum polos. “Ibu selalu bilang, kalau ada barang orang lain yang jatuh atau tergeletak, kita harus mengamankannya di tempat yang terlihat agar tidak hilang atau rusak. Dan Ibu juga bilang, kalau ada orang yang tertidur tanpa selimut, kita harus menutupinya dengan kasih sayang supaya mereka merasa hangat.”

Mendengar jawaban itu, Don Gustavo langsung memanggil Bu Rosa untuk masuk ke dalam rumah. Bu Rosa datang dengan wajah pucat, mengira putrinya telah berbuat ulah yang membuat majikannya marah.

“Nyonya Rosa,” kata Don Gustavo sambil berdiri dari sofanya. “Hari ini, putri Anda telah mengajarkan saya sebuah pelajaran yang tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan saya.”

Don Gustavo menyadari bahwa tidak semua orang di dunia ini dikendalikan oleh keserakahan. Di dalam kemiskinan Bu Rosa dan Nita, terdapat kekayaan moral dan kejujuran yang jauh lebih berkilau daripada emas dan berlian miliknya.

Sejak hari itu, Don Gustavo berubah. Ia tidak lagi memandang orang lain dengan penuh curiga. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekagumannya atas kejujuran mereka, Don Gustavo mengangkat Bu Rosa menjadi kepala pengelola rumah tangganya dengan gaji yang sangat layak, serta membiayai seluruh pendidikan Nita hingga ke jenjang tertinggi.

Ujian yang ia rancang untuk menjebak seorang anak, justru menjadi jalan bagi Don Gustavo untuk menemukan kembali kedamaian dan kepercayaannya pada kemanusiaan.