Posted in

BARU TIGA HARI MENIKAH, MERTUANYA MENYIRAMKAN KARE-KARE MENDIDIH KE TUBUHNYA—TAPI SAAT MEREKA MENYURUHNYA BERLUTUT DAN MEMINTA MAAF, TIBA-TIBA SEBUAH PINTU TERBUKA DI BELAKANG MEREKA*

*BARU TIGA HARI MENIKAH, MERTUANYA MENYIRAMKAN KARE-KARE MENDIDIH KE TUBUHNYA—TAPI SAAT MEREKA MENYURUHNYA BERLUTUT DAN MEMINTA MAAF, TIBA-TIBA SEBUAH PINTU TERBUKA DI BELAKANG MEREKA**

“Berlututlah dan minta maaf kepada ibuku.”

Itulah yang dikatakan Carlo sementara istrinya yang baru menikah menggeliat kesakitan di lantai.

Mereka baru tiga hari menikah.

Namun dalam hitungan detik, Lia menyadari bahwa ia tidak masuk ke dalam sebuah rumah tangga.

Ia masuk ke dalam sebuah jebakan.

Tiga hari setelah pernikahan mereka yang berlangsung di sebuah taman kecil namun elegan di Antipolo, Lia Reyes bangun pagi-pagi di unit kondominiumnya di Kapitolyo, Pasig.

Itu bukan hadiah dari orang tuanya.

Bukan milik Carlo.

Dan tentu saja bukan pemberian keluarga suaminya.

Kondominium itu sepenuhnya milik Lia.

Selama delapan tahun, ia bekerja sebagai supervisor keuangan di sebuah rumah sakit swasta di Ortigas. Ia menabung dari bonus, uang lembur, dan hampir seluruh keuntungan dari bisnis kue online kecil yang ia jalankan setiap akhir pekan.

Unit itu tidak mewah.

Namun setiap barang di dalamnya adalah hasil kerja kerasnya.

Setiap piring.

Setiap tirai.

Setiap perabot.

Setiap cicilan bank.

Karena itu, saat bangun pukul enam pagi, ia langsung menyiapkan sarapan.

Ia memasak nasi goreng bawang putih, longganisa, telur, dan cokelat panas. Ia juga mengeluarkan set peralatan makan baru yang merupakan hadiah pernikahan dari rekan-rekan kerjanya.

Ia ingin minggu pertama kehidupan pernikahannya berjalan baik.

Ia ingin percaya bahwa komentar-komentar aneh dari mertuanya, Mercy, saat pesta pernikahan hanyalah bentuk perlindungan seorang ibu terhadap anaknya.

“Anakku istimewa.”

“Carlo tidak terbiasa dengan makanan biasa.”

“Kalau kamu menikahi anakku, kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan seluruh keluarga kami.”

Saat itu Lia hanya tersenyum.

Ia tidak ingin merusak kebahagiaan pernikahannya karena hal-hal kecil.

Namun pukul tujuh lewat tiga puluh pagi, ketika ia sedang menuangkan cokelat panas ke dalam cangkir, ia mendengar suara kunci elektronik di pintu.

**Bip.**

Lalu pintu terbuka.

Lia menoleh.

Mercy masuk seolah-olah dialah pemilik tempat itu.

Di tangannya ada dua tas belanja dari pasar dan sebuah panci besar yang dibungkus handuk tua.

Ia tidak mengetuk.

Ia tidak mengirim pesan.

Bahkan tidak mengucapkan salam.

“Sepertinya Anda datang pagi sekali,” kata Lia hati-hati. “Bagaimana Anda bisa masuk?”

Wanita itu meletakkan tas-tasnya di meja dapur.

“Anakku memberiku kode akses.”

Tubuh Lia langsung menegang.

“Carlo memberi Anda kode tanpa memberitahu saya?”

“Memangnya aku harus minta izin kepadamu?” jawab Mercy dingin. “Anakku tinggal di sini. Aku berhak memastikan kamu merawatnya dengan baik.”

Lia menarik napas panjang.

“Ini kondominium saya, Tante Mercy.”

Meski sudah menikah, ia masih belum bisa memanggil mertuanya dengan sebutan “Mama”.

“Tidak masalah kalau Anda ingin berkunjung. Tapi setidaknya beri tahu dulu. Saya tidak suka ada orang masuk tanpa izin.”

Mercy tersenyum sinis.

“Kondominiummu?”

Ia berjalan perlahan ke ruang tamu.

Membuka laci.

Memeriksa isi lemari.

Menyibakkan tirai.

Mengamati sofa seolah sedang mencari kesalahan.

“Cukup bagus,” katanya. “Tapi rumah yang bagus tidak ada artinya kalau wanita yang tinggal di dalamnya terlalu tinggi hati.”

Sebelum Lia sempat menjawab, Carlo keluar dari kamar.

Rambutnya berantakan dan kaus yang dipakainya kusut.

Lia memandang suaminya.

Ia tidak meminta banyak.

Hanya satu kalimat sederhana.

*”Ma, lain kali beri tahu dulu sebelum datang.”*

Namun Carlo justru tersenyum saat melihat panci itu.

“Ma, kamu masak kare-kare?”

“Tentu saja, Nak. Siapa tahu istrimu cuma memberimu telur dan longganisa setiap hari.”

Carlo langsung duduk di meja makan.

Seolah tidak ada masalah.

Seolah ibunya tidak baru saja masuk ke rumah orang lain tanpa izin.

Seolah Lia bukan pemilik rumah itu.

Mercy membuka tutup panci.

Kare-kare itu masih panas.

Uap masih mengepul.

“Makanlah, Nak,” katanya sambil menyendokkan makanan ke piring Carlo. “Ini namanya makanan sungguhan. Bukan sarapan seadanya dari perempuan yang lebih mementingkan pekerjaan daripada suaminya.”

Lia duduk diam.

Carlo mencicipi kare-kare itu lalu tersenyum.

“Tidak ada yang bisa mengalahkan masakan Mama.”

Kemudian ia menoleh ke Lia.

“Sayang, kamu harus belajar dari Mama. Mungkin lain kali aku bisa pulang dan menemukan makan malam yang layak.”

Lia perlahan meletakkan sendoknya.

“Carlo, makanan sudah tersedia di meja. Aku bangun pagi untuk menyiapkannya.”

“Aku cuma bercanda,” jawab Carlo. “Kamu terlalu sensitif.”

Namun Lia tidak tertawa.

Ada yang salah.

Bukan hanya cara bicara suaminya.

Tetapi juga cara Mercy duduk di hadapannya seperti seorang ratu yang hendak menetapkan hukum baru.

Dari dalam tas, Mercy mengeluarkan sebuah buku catatan kecil.

“Agar tidak ada kesalahpahaman, aku sudah menuliskan beberapa aturan.”

Lia mengernyit.

“Aturan?”

“Ya. Setiap hari Minggu kalian makan di rumah kami. Pakaian Carlo harus dicuci terpisah. Kamu tidak boleh pergi dengan teman-temanmu tanpa izin darinya. Kalau aku datang ke sini, jangan menyambutku dengan wajah masam.”

Ia terus membaca isi catatan itu.

“Kalau kalian punya anak, aku yang menentukan siapa yang mengasuhnya. Dan jangan berpikir hanya karena kamu punya pekerjaan, kamu bisa mengabaikan suamimu.”

Lia mengambil buku catatan itu dan menutupnya.

Suaranya tetap tenang.

Tetapi senyumnya sudah hilang.

“Saya bukan pembantu.”

Dapur langsung sunyi.

Carlo perlahan meletakkan sendoknya.

“Lia, jangan mulai.”

“Saya tidak memulai apa pun. Ibumu masuk ke kondominium saya tanpa izin. Dia membuka laci-laci saya. Dan sekarang dia memberi saya daftar perintah seolah saya pegawainya.”

Wajah Mercy memerah.

“Kondominiummu lagi? Apa perempuan yang punya sedikit tabungan memang selalu sombong? Kalau bukan karena anakku, siapa kamu?”

Lia menatap mertuanya.

Ia tidak berteriak.

Ia tidak menghina.

“Saya minta dengan baik. Tolong pulang dulu.”

Mercy langsung berdiri.

“Kamu mengusirku?”

“Ya. Karena Anda tidak menghormati rumah saya.”

Wanita tua itu mendekati panci.

Kare-kare itu masih panas.

Masih mengepul.

Dan sebelum Lia menyadari apa yang akan dilakukannya, Mercy memegang kedua sisi panci tersebut.

“Kalau kamu ingin menjadi istri anakku,” katanya dingin, “belajarlah menempatkan diri.”

Satu gerakan cepat.

Satu teriakan.

Kare-kare mendidih itu langsung tumpah ke paha dan kaki Lia.

Lia menjerit kesakitan.

Cangkir di tangannya terlepas.

Pecah berkeping-keping di lantai.

Kursi terjatuh saat ia berusaha mundur, tetapi ia sudah tidak mampu berdiri dengan baik.

“Carlo!” teriaknya. “Tolong aku!”

Suaminya berdiri.

Selama satu detik, Lia percaya bahwa Carlo akan menolongnya.

Bahwa ia akan memanggil ambulans.

Bahwa ia akan membelanya.

Namun bukannya menolong, Carlo justru menamparnya dengan keras.

Kepala Lia terhempas ke samping.

Ia merasakan darah di bibirnya.

“Minta maaf kepada ibuku,” kata Carlo dingin.

Di belakangnya, Mercy berdiri dengan dagu terangkat tinggi.

“Benar,” kata wanita itu. “Berlututlah. Biar kamu belajar.”

Tubuh Lia gemetar.

Kulitnya terasa terbakar.

Ia kesulitan bernapas.

Tetapi sebelum ia benar-benar jatuh, mereka mendengar suara dari ruang tamu.

**Bip.**

Pintu kondominium terbuka.

Dan dari belakang mereka terdengar suara yang sangat dikenal.

“Jangan ada yang bergerak.”

Mata Carlo membelalak.

Mercy perlahan berbalik.

Karena wanita yang berdiri di ambang pintu itu tidak datang sendirian.

Ia ditemani dua petugas keamanan.

Seorang polisi.

Dan di tangannya terdapat ponsel yang jelas-jelas menampilkan rekaman langsung dari dalam kondominium.

Wanita yang berdiri di ambang pintu itu adalah Ramona Reyes, kakak kandung Lia, sekaligus salah satu pengacara litigasi paling ditakuti di firma hukum terkemuka di Makati.

Di tangannya, ponsel pintar masih menyala, menampilkan layar aplikasi smart-home yang terhubung langsung dengan kamera pengawas tersembunyi di sudut langit-langit dapur—kamera yang dipasang Ramona sebagai hadiah pindahan rumah untuk memastikan keamanan adiknya.

“R-Ramona…” Carlo terbata, langkahnya otomatis mundur hingga menabrak ujung meja makan. Wajahnya yang semula penuh keangkuhan mendadak pias.

Ramona tidak membuang waktu untuk berdebat. Wajahnya sedingin es, namun matanya memancarkan kemarahan yang mematikan. Ia menoleh ke arah petugas medis yang rupanya sudah bersiaga di koridor belakang bersama polisi. “Bawa adik saya ke rumah sakit sekarang. Amankan semua luka bakar untuk visum.”

“Baik, Pengacara Reyes,” jawab petugas medis cekatan, segera menghampiri Lia yang meringis menahan perih luar biasa di paha dan kakinya.

Saat Lia dipapah melewati kakaknya, Ramona menggenggam tangan Lia lembut. “Kamu aman sekarang, Dek. Biar Kakak yang mengurus sampah-sampah ini.”

Begitu Lia dibawa pergi, Ramona melangkah masuk ke dalam dapur. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang mencekam, melewati tumpahan kare-kare dan pecahan kaca cangkir.

Mercy, yang baru sadar dari keterkejutannya, mencoba membangun kembali pertahanannya. Ia berkacak pinggang, meski suaranya sedikit bergetar. “Heis! Kau tidak bisa membawa polisi ke sini! Ini urusan rumah tangga anakku! Perempuan sialan itu tidak sopan pada mertuanya, aku hanya memberinya pelajaran—”

“Satu kata lagi keluar dari mulut Anda,” potong Ramona dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat ancaman, “dan saya pastikan Anda membusuk di sel penjara tanpa jaminan.”

Ramona mengangkat ponselnya, memutar ulang rekaman video beberapa menit lalu dengan volume penuh. Suara jeritan sakit Lia, makian Mercy, hingga hantaman tamparan Carlo menggema di ruangan itu.

“Penyerangan dengan senjata tajam atau cairan berbahaya yang mengakibatkan luka fisik berat, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelanggaran hak milik tanpa izin,” kata Ramona datar, menyebutkan pasal-pasal hukum seolah sedang membacakan menu sarapan. “Semuanya terekam jelas. Live-streaming ini juga otomatis tersimpan di server firma hukum saya.”

Carlo mencoba mendekati Ramona, tangannya gemetar. “Ramona, tolong, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku… aku hanya emosi. Aku suaminya, aku punya hak—”

“Suami? Baru tiga hari menikah dan kamu sudah bertindak seperti kriminal, Carlo?” Ramona menatap Carlo dengan pandangan paling menjijikkan yang bisa ia berikan. “Hak apa yang kamu punya? Kondominium ini dibeli atas nama Lia sebelum pernikahan. Secara hukum, ini properti eksklusif milik adik saya. Kamu dan ibumu masuk ke sini, merusak barang, dan menyiksa pemiliknya.”

Ramona menoleh ke arah petugas polisi yang berdiri di belakangnya. “Sersan Bautista, silakan lakukan tugas Anda. Tahan kedua orang ini atas tuduhan berlapis. Saya sendiri yang akan menjadi jaksa penuntutnya.”

“Tunggu! Tidak bisa begitu!” Mercy berteriak panik saat petugas polisi melangkah maju dan mengeluarkan borgol besi. “Carlo, lakukan sesuatu! Kamu kan laki-laki! Jangan diam saja!”

Namun Carlo sudah tidak bisa berpikir. Lututnya lemas. Pria yang tadi menyuruh istrinya berlutut, kini justru jatuh berlutut di lantainya sendiri, di samping tumpahan makanan yang mendidih, menangis meratapi kebodohannya.

“Penyesalan kalian tidak akan menyembuhkan kulit adik saya,” ucap Ramona dingin sambil melangkah mundur, membiarkan polisi menyeret Carlo dan ibunya keluar dari unit tersebut dalam keadaan terborgol.

Sebelum menutup pintu, Ramona menatap pemandangan dapur yang berantakan itu untuk terakhir kali. Pernikahan tiga hari itu sudah berakhir, dan bagi keluarga Carlo, neraka hukum yang sesungguhnya baru saja dimulai.