Posted in

Tiga tahun setelah perceraian kami, aku hanya menyuruh asistenku mencari tahu bagaimana kehidupan mantan istriku sekarang. Namun hanya satu jam kemudian, laporan yang dibawanya membuatku terpaku di tempat.*

*Tiga tahun setelah perceraian kami, aku hanya menyuruh asistenku mencari tahu bagaimana kehidupan mantan istriku sekarang. Namun hanya satu jam kemudian, laporan yang dibawanya membuatku terpaku di tempat.**

Ternyata mantan istriku bukan hanya meninggalkan Manila tanpa sepatah kata pun.

Diam-diam, dia juga telah melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan untukku.

“Anak-anak itu sekarang berusia dua setengah tahun, Pak.”

Miguel menyerahkan sebuah foto.

“Foto ini baru saja diambil di BGC. Kedua anak itu… sangat mirip dengan Anda. Mustahil untuk salah mengenali.”

Gabriel Santiago tidak langsung mengambil foto itu.

Ia bersandar di kursi mewah kantornya di lantai lima puluh sebuah gedung di Makati.

Jarinya mengetuk meja perlahan.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tangan Miguel masih terulur.

Ia tidak berani menariknya kembali.

Apalagi berbicara.

Ruangan itu sunyi.

Hanya suara lembut pendingin udara yang terdengar.

“Yakin?”

Butuh waktu lama sebelum Gabriel akhirnya berbicara.

Suaranya rendah.

Seolah setiap kata dipaksakan keluar.

“Belum ada tes DNA, Pak.”

Miguel meletakkan foto itu di atas meja.

“Tapi Anda cukup melihatnya sendiri.”

Perlahan Gabriel menundukkan pandangannya.

Matanya berhenti pada foto itu.

Di bawah pepohonan rindang di Bonifacio High Street, seorang wanita sedang mendorong stroller kembar.

Tubuhnya lebih kurus dibanding dulu.

Rambutnya juga lebih pendek.

Wajahnya tampak lebih dewasa.

Namun hanya dengan sekali lihat—

ia langsung mengenalinya.

Itu Isabella Reyes.

Wanita yang pernah menjadi istrinya.

Tiga tahun yang lalu.

Dua anak di dalam stroller mengenakan topi putih.

Wajah mereka sedikit tertutup.

Hanya tangan dan kaki kecil mereka yang terkena sinar matahari.

“Kapan dia meninggalkan Manila?”

“Pada hari perceraian itu sendiri.”

Gabriel langsung menoleh.

“Pada hari yang sama?”

“Iya, Pak.”

Miguel membuka map.

“Proses perceraian selesai di Balai Kota Quezon pada pagi hari.”

“Setelah itu dia pulang untuk berkemas.”

“Sekitar pukul tiga sore, dia naik pesawat menuju Cebu.”

Gabriel masih mengingat hari itu dengan jelas.

Setelah keluar dari balai kota.

Ia langsung kembali ke perusahaan.

Ada kontrak besar yang harus diselesaikan.

Di depan gedung.

Isabella hanya menatapnya.

Lalu mengucapkan satu kata.

“Selamat tinggal.”

Namun ia bahkan tidak menoleh.

Ia masuk ke mobil.

Dan pergi.

Saat itu ia mengira.

Seperti biasanya.

Isabella hanya akan marah beberapa hari.

Lalu kembali lagi.

Namun kali ini…

ia benar-benar menghilang.

“Kapan anak-anak itu lahir?”

“Tujuh bulan setelah perceraian.”

Jawab Miguel.

“Di Rumah Sakit Universitas Cebu.”

“Satu laki-laki dan satu perempuan.”

“Anak laki-lakinya lahir lima menit lebih dulu.”

“Keduanya sehat.”

Jari Gabriel tiba-tiba berhenti bergerak.

Tujuh bulan setelah perceraian.

Artinya…

Isabella sudah hamil ketika mereka masih menikah.

Ia memejamkan mata.

Kenangan yang selama ini terkubur kembali muncul.

Dulu Isabella sering muntah-muntah.

Ia mengira hanya masalah lambung biasa.

Pernah Isabella berkata ingin pergi ke dokter.

Namun saat itu ia harus menghadiri rapat penting dewan direksi.

Jawabannya hanya:

“Kamu bisa pergi sendiri.”

Pernah juga Isabella keluar dari kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan.

Namun saat itu ia sedang berbicara dengan klien dari Singapura.

Ia menyuruh Isabella menunggu.

Lalu…

ibunya datang.

Berkali-kali menyalahkan Isabella karena setelah dua tahun menikah mereka belum memiliki anak.

Ibunya memaksa Isabella memeriksakan diri.

Isabella hanya duduk diam di sofa.

Tidak membela diri sedikit pun.

Dan Gabriel…

menganggap itu sebagai pengakuan bersalah.

Sejak saat itu.

Ibunya setiap hari memaksa Isabella meminum berbagai ramuan herbal.

Rasanya sangat pahit.

Kadang Isabella sampai menangis saat meminumnya.

Namun tidak sekali pun.

Gabriel bertanya:

“Apa kamu baik-baik saja?”

“Pak Gabriel?”

Suara Miguel membuyarkannya dari lamunan.

“Apakah penyelidikan akan dilanjutkan?”

Gabriel membuka matanya.

Ia mengambil foto itu.

Memperbesarnya.

Kini ia bisa melihat sisi wajah anak perempuan itu dengan jelas.

Pipi bulat.

Hidung mancung.

Bibir yang sedikit tersenyum.

Mirip Isabella.

Namun juga sangat mirip dirinya saat kecil.

“Lanjutkan.”

Ia meletakkan foto itu.

“Aku ingin tahu semuanya.”

“Bagaimana dia hidup selama tiga tahun terakhir.”

“Di mana dia tinggal.”

“Siapa saja yang dia kenal.”

“Semuanya.”

“Baik, Pak.”

Miguel mengangguk.

“Tunggu.”

Gabriel menghentikannya.

“Jangan sampai ibuku mengetahui hal ini.”

“Saya mengerti, Pak.”

Setelah pintu tertutup.

Gabriel kembali sendirian.

Ia menatap foto itu lama sekali.

Di belakang foto tertulis:

**15/09/2025 — Cebu Business Park**

Ia mengambil ponselnya.

Lalu mencari penerbangan berikutnya dari Manila ke Cebu.

Hanya sekitar satu jam perjalanan.

Ternyata anak-anaknya selama ini begitu dekat.

Gabriel membatalkan semua jadwal rapatnya hari itu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Santiago Group, sang CEO meninggalkan gedung di Makati sebelum matahari terbenam, bukan demi bisnis miliaran peso, melainkan demi tiket penerbangan satu arah ke Cebu.

Sepanjang penerbangan yang memakan waktu satu jam, dada Gabriel terasa dihantam godam yang tak kasat mata. Penyesalan adalah racun yang lambat, dan malam ini, racun itu membakar seluruh pembuluh darahnya. Dia mengingat kembali ramuan pahit yang dipaksakan ibunya kepada Isabella, tangisan istrinya yang dia abaikan, dan kalimat “Selamat tinggal” di Balai Kota Quezon yang ternyata adalah sebuah ucapan perpisahan abadi.

Isabella tidak sedang merajuk. Dia sedang menyelamatkan anak-anak mereka dari cengkeraman keluarga Santiago.

Cebu Business Park, 19:30 WITA

Langkah kaki Gabriel terasa berat saat menyusuri area luar sebuah kondominium di kawasan Cebu Business Park. Berdasarkan laporan instan dari anak buah Miguel, di sinilah Isabella tinggal.

Dari kejauhan, di dekat taman bermain yang mulai sepi, Gabriel melihatnya.

Isabella sedang berlutut di atas rumput, merapikan jaket seorang balita laki-laki yang sedang asyik memegang mainan mobil-mobilan. Tak jauh dari sana, seorang balita perempuan dengan rambut dikucir dua sedang tertawa riang sambil mengejar gelembung sabun.

“Mateo, Mia, ayo sayang, sudah malam. Kita harus pulang dan makan malam,” suara lembut Isabella terdengar di antara desir angin malam Cebu. Suara yang tiga tahun ini dirindukan Gabriel, namun ego selalu menepisnya.

Gabriel melangkah mendekat. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar perlahan menutupi cahaya lampu taman yang mengarah pada Isabella.

Isabella mendongak, hendak meminta maaf karena mengira telah menghalangi jalan seseorang. Namun, begitu matanya menangkap siluet wajah pria di hadapannya, seluruh tubuh Isabella menegang. Sinar di matanya seketika meredup, digantikan oleh kilat ketakutan dan luka lama yang kembali menganga.

“Gabriel…” bisik Isabella, suaranya bergetar. Dia langsung berdiri tegak, secara insting merentangkan kedua tangannya di belakang tubuh untuk menyembunyikan Mateo dan Mia dari pandangan mantan suaminya. “Mau apa kamu di sini?”

Gabriel terpaku. Melihat cara Isabella melindunginya anak-anak mereka seolah-olah dirinya adalah monster, hati Gabriel hancur berkeping-keping.

“Bella…” Suara Gabriel serak, tercekat di tenggorokan. Matanya beralih ke bawah, menatap dua pasang mata bulat yang kini menatapnya penuh rasa ingin tahu. Anak laki-lakinya memiliki garis rahang yang tegas mirip dengannya, sementara anak perempuannya memiliki mata persis seperti Isabella.

“Jangan sebut namaku,” potong Isabella tajam, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. “Kita sudah selesai tiga tahun lalu. Kamu sudah menandatangani surat itu. Aku tidak meminta sepeser pun harta dari keluarga Santiago. Tolong, pergi.”

“Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku, Bella?” Gabriel maju satu langkah, suaranya bergetar menahan luapan emosi. “Kamu hamil anakku. Mereka anak-anakku! Kenapa kamu menyembunyikannya?”

Isabella tertawa, sebuah tawa getir yang sarat akan rasa sakit.

“Anakmu? Sekarang kamu menyebut mereka anakmu?” air mata Isabella akhirnya luruh. “Di mana kamu saat aku muntah-muntah darah karena stres? Di mana kamu saat ibumu mencaci maki aku mandul dan mencekokiku dengan ramuan sialan itu? Kamu sibuk dengan investasimu, Gabriel! Kamu bahkan tidak punya waktu lima menit untuk melihat alat tes kehamilan yang kupegang!”

Setiap kata yang keluar dari bibir Isabella bagaikan pisau yang menguliti kesombongan Gabriel. Pria yang biasanya ditakuti di dunia bisnis Manila itu kini berdiri tak berdaya, wajahnya pucat pasi oleh rasa bersalah yang teramat sangat.

“Aku salah, Bella… Aku tahu aku bajingan,” ucap Gabriel, suaranya melemah. Ia berlutut di atas rumput, menyamakan tingginya dengan kedua anak balita itu, membuat Isabella tersentak mundur. Gabriel menatap Mateo dan Mia dengan pandangan penuh cinta dan penyesalan mendalam. “Aku tidak ke sini untuk merebut mereka darimu. Aku tidak akan membiarkan ibuku atau siapa pun menyentuh kalian.”

Gabriel mendongak menatap Isabella, matanya merah berkaca-kaca.

“Aku hanya ingin menebus dosaku. Beri aku kesempatan… bukan sebagai suamimu jika kamu belum bisa memaafkanku, tapi sebagai ayah yang akan melindungi mereka dengan seluruh hidupku.”

Mia, sang anak perempuan, perlahan melangkah keluar dari balik perlindungan ibunya. Dengan kepolosan anak-anak, dia mendekati Gabriel dan mengulurkan tangan kecilnya yang hangat, menyentuh pipi Gabriel yang basah oleh air mata.

“Om kenapa nangis?” tanya suara cadel itu polos.

Gabriel memejamkan mata, merasakan sentuhan jemari kecil putrinya. Di bawah langit malam Cebu, Gabriel berjanji dalam hati: dia akan meruntuhkan seluruh egonya, meninggalkan kejayaannya di Manila, dan melakukan apa pun demi mendapatkan kembali kepercayaan wanita dan anak-anak yang tanpa sadar telah menjadi seluruh pusat dunianya.

Dan selama tiga tahun.

Ia tidak tahu apa-apa.