Posted in

AKU HAMIL TUJUH BULAN, TAPI PERNIKAHANKU MASIH BELUM JUGA TERLAKSANA. Orang-Orang di Kampung Mulai Bergunjing Bahwa Aku Sengaja Memanfaatkan Kehamilan Ini untuk Mengikat Tunanganku.*

*AKU HAMIL TUJUH BULAN, TAPI PERNIKAHANKU MASIH BELUM JUGA TERLAKSANA. Orang-Orang di Kampung Mulai Bergunjing Bahwa Aku Sengaja Memanfaatkan Kehamilan Ini untuk Mengikat Tunanganku.**

Untuk ketiga puluh kalinya aku meminta gaun pengantinku diperbesar.

Penjaga butik itu menghela napas sambil melirik perutku yang semakin membesar.

“Bu, gaun ini benar-benar sudah tidak bisa dilonggarkan lagi. Mungkin Ibu perlu mencoba model yang lain?”

Aku menggenggam ponselku erat-erat.

Sudah berbulan-bulan sejak tanggal pernikahan kami pertama kali ditetapkan.

Namun setiap kali hari itu semakin dekat, selalu ada alasan baru untuk menundanya.

Kadang adik angkat tunanganku berkata bahwa dia masih belum punya pasangan.

Kadang dia ingin mengganti lokasi acara.

Dan kadang dia ingin menunggu waktu yang dianggap lebih baik.

Setiap kali itu terjadi…

Akulah yang selalu diminta untuk mengerti.

Aku menelepon Miguel Santos.

Butuh waktu lama sebelum dia akhirnya mengangkat telepon.

Nada kesal langsung terdengar dari suaranya.

“Lagi-lagi soal pernikahan?”

“Sampai kapan kita harus menunggu?”

“Pernikahan, pernikahan, pernikahan! Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu pikirkan?”

Nada bicaranya dingin.

“Aku sudah bilang, kita harus menunggu Bianca Reyes menyelesaikan rencananya dulu.”

Hatiku langsung terasa membeku.

Bianca adalah adik angkat Miguel.

Dia selalu terlibat dalam setiap rencana kami.

Tiba-tiba aku mendengar suaranya yang manja dari seberang telepon.

“Kak Miguel, baju pasangan kita bagus banget!”

Mataku membelalak.

Lalu terdengar suara tawa beberapa orang.

“Ada juga ya yang belum menikah tapi perutnya sudah besar.”

“Dia juga tidak akan ke mana-mana. Sebentar lagi melahirkan.”

“Jadi tidak perlu buru-buru menikah.”

Mereka tertawa tanpa rasa sungkan.

Aku menutup telepon tanpa berkata apa-apa.

Lalu aku menghubungi sebuah nomor yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kugunakan.

Telepon itu langsung dijawab.

“Aku menerima tawaran pekerjaan itu.”

Malam harinya, ibuku mengirim pesan.

【Satu kampung sedang membicarakanmu.】

【Ayahmu sangat marah sampai tidak mau keluar rumah.】

【Nak, sampai kapan kamu akan terus menunggu?】

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Kemudian aku membuka email dari perusahaan yang dulu pernah kutolak.

Sebuah perusahaan besar di luar negeri kembali menawarkan posisi yang sama kepadaku.

Dulu aku menolaknya karena ingin membangun keluarga.

Sekarang…

Aku berubah pikiran.

Saat perjalanan pulang, hujan deras tiba-tiba turun.

Sebuah mobil yang katanya dikirim Miguel sudah menungguku.

Namun begitu naik ke dalam mobil, aku langsung merasa ada yang tidak beres.

Mobil itu terus melaju kencang lalu mengerem mendadak berulang kali.

Aku memegangi perutku.

“Bisa pelan sedikit?”

Sopir itu menyeringai.

“Ada yang memerintahkan saya untuk mengantar Anda secepat mungkin.”

Lalu dia kembali menginjak gas.

Aku pusing dan hampir muntah.

Saat itu juga aku mengerti.

Ini pasti ulah Bianca lagi.

Dia selalu senang melihatku kesulitan.

Melihatku menangis.

Melihat bahwa dirinya lebih penting bagi Miguel dibandingkan aku.

Aku memaksa sopir menghentikan mobil.

Dia pura-pura tidak mendengar.

Sampai akhirnya aku mengancam akan memanggil polisi.

Barulah dia berhenti.

Aku turun di tengah hujan deras.

Perutku terasa sangat sakit.

Aku terus menelepon Miguel, tetapi dia tidak pernah mengangkatnya.

Pada akhirnya aku pergi ke rumah sakit sendirian.

Empat jam kemudian Miguel baru datang.

Begitu melihatku, dia langsung marah.

“Tidak bisakah kamu berhenti membuat drama?”

“Kenapa semua hal harus dibesar-besarkan?”

Aku menatapnya.

Pakaianku masih basah kuyup.

Infus masih terpasang di lenganku.

Namun hal pertama yang dia pikirkan bukanlah keadaanku.

Melainkan waktu yang menurutnya terbuang sia-sia karena aku.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun…

Aku merasa lelah.

Sangat lelah.

Malam itu aku tidak pulang.

Aku menginap di hotel kecil dekat rumah sakit.

Saat berbaring di tempat tidur, aku membuka media sosial.

Hal pertama yang kulihat adalah unggahan terbaru Bianca.

Dia mengenakan gaun pengantin putih.

Miguel berdiri di sampingnya.

Mereka sedang berlatih bertukar cincin.

Di bawah foto itu tertulis:

*”Cuma mencoba merasakan jadi pengantin.”*

Ratusan orang memberikan ucapan selamat.

Tidak ada yang tahu bahwa tunangan Miguel yang sedang hamil justru berbaring sendirian di kamar rumah sakit.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Lalu diam-diam memesan tiket pesawat.

Tinggal satu minggu lagi sebelum aku pergi.

Keesokan paginya, saat keluar dari hotel, aku melihat Miguel menungguku di lobi.

Dia membawa tas berisi perlengkapan untuk ibu hamil.

Dia menghampiriku.

Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar sedikit lebih lembut.

“Aku sudah tahu yang sebenarnya.”

“Kejadian kemarin bukan salah Bianca.”

“Sopir itu yang bersalah.”

“Nanti pulanglah ke rumah.”

Aku belum sempat menjawab ketika sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan hotel.

Seorang pria berjas turun dari mobil.

Dengan sopan dia menghampiriku dan menyerahkan sebuah map.

“Nona Angela Cruz.”

“Semua dokumen yang Anda minta sudah selesai dipersiapkan.”

“Jet pribadi untuk keberangkatan Anda minggu depan juga sudah siap.”

Miguel langsung terpaku.

Matanya bergantian menatap map itu dan pria yang membungkuk hormat kepadaku.

Wajahnya mendadak pucat.

“Jet pribadi?”

“Apa maksud semua ini?”

Aku menerima map itu dengan tenang.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan…

Aku tersenyum.

Lalu aku mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tas.

Di atasnya tertulis empat kata:

**PERJANJIAN PERPISAHAN**

Saat aku hendak menyerahkannya kepada Miguel, ponselnya tiba-tiba berdering.

Kami mendengar teriakan panik Bianca dari seberang telepon.

“Kak Miguel! Cepat pulang!”

“Ada yang mengirim video ke rumah!”

“Itu video dari resort tahun lalu!”

“Ada aku dan—”

Suaranya tiba-tiba terputus.

Miguel langsung pucat pasi.

Sementara aku…

Hanya menggenggam amplop itu semakin erat.

Karena aku tahu persis isi video tersebut.

Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap…

Semua kebohongan yang selama ini mereka sembunyikan akan runtuh dalam sekejap.

Tangan Miguel yang memegang ponsel gemetar hebat. Ia mencoba menghubungi Bianca kembali, namun panggilannya dialihkan. Ketakutan yang amat sangat kini tercetak jelas di wajah pria yang biasanya selalu meremehkanku itu.

Video dari resort tahun lalu.

Mereka mengira rahasia menjijikkan itu terkubur rapat di bawah nama “kasih sayang saudara angkat”. Mereka lupa bahwa aku adalah seorang analis sistem sebelum melepaskan karierku demi pria di hadapanku ini. Memulihkan file kamera pengawas resort yang sempat dihapus Miguel setahun lalu bukanlah hal yang sulit bagiku. Video berdurasi sepuluh menit yang memperlihatkan keintiman mereka yang melampaui batas batas moral di dalam kamar resort, kini telah terkirim ke seluruh layar televisi di rumah keluarga besar Santos, juga ke grup obrolan warga kampung.

“Angela… apa yang kamu lakukan?” suara Miguel bergetar, matanya membelalak menatapku dengan tatapan tak percaya. “Kamu… kamu sengaja menjebak Bianca?”

“Menjebak?” Aku tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang sarat akan kebebasan. “Aku tidak menjebak siapa pun, Miguel. Aku hanya mengembalikan kebenaran ke tempat yang seharusnya.”

Aku melangkah maju, menyodorkan amplop putih bersimbol PERJANJIAN PERPISAHAN itu tepat ke dadanya.

“Ambil ini. Batalkan semua rencana pernikahan konyol itu. Lagipula, gaun pengantin putih di butik itu memang tidak pernah ditakdirkan untukku. Gaun itu dari awal disiapkan untuk adik kesayanganmu, bukan?”

“Nggak, Angela! Kamu salah paham! Aku dan Bianca hanya—” Miguel mencoba meraih tanganku, namun asisten pria berjas yang berdiri di sampingku dengan sigap menepis tangan Miguel dan memasang barikade tubuh yang kokoh.

“Tolong jaga jarak Anda dari Nona Angela Cruz, Tuan Santos,” ucap pria berjas itu dengan nada dingin yang penuh otoritas. “Mulai detik ini, segala hal yang berkaitan dengan Nona Angela dan calon bayinya akan diurus oleh tim hukum korporasi kami di London.”

Miguel terkesiap. Nama London dan jet pribadi seolah menghantam harga dirinya hingga hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini mengira aku tidak punya tempat bersandar, pria yang membiarkan ibuku dan orang-orang kampung mencemoohku sebagai wanita yang “mengemis pernikahan karena hamil”, kini menyadari bahwa akulah yang memegang kendali penuh.

“Kamu… kamu mau pergi ke luar negeri?” Miguel menatapku dengan mata memerah, mulai panik. “Lalu bagaimana dengan anak kita? Dia darah dagingku, Angela! Kamu tidak bisa membawanya pergi!”

“Darah dagingmu?” Aku mengusap perutku yang berusia tujuh bulan dengan lembut.

“Di saat anak ini hampir mati di dalam kandungan karena sopir suruhan Bianca, kamu di mana, Miguel? Kamu sedang tertawa, berlatih bertukar cincin dengannya. Di saat satu kampung menudingku memanfaatkan kehamilan ini, kamu justru menyuruhku berhenti membuat drama. Anak ini… tidak akan pernah memiliki ayah seorang pengecut yang membiarkan darah dagingnya sendiri dihina.”

Ponsel Miguel kembali berdering. Kali ini dari ibunya. Suara sang ibu terdengar histeris bahkan tanpa perlu mengaktifkan pengeras suara.

“Miguel! Cepat pulang! Video apa yang tersebar ini?! Ayahmu pingsan! Rumah kita dikerumuni warga! Bianca… Bianca mencoba memotong nadinya di kamar!”

Miguel menatapku dengan pandangan memohon, terpecah antara kehancuran keluarganya di kampung dan wanita di hadapannya yang siap terbang tinggi meninggalkannya.

“Pergilah, Miguel,” kataku tenang, berbalik arah menuju mobil hitam mewah yang sudah membukakan pintu untukku. “Selamatkan pengantin sejatimu. Urusan kita sudah selesai.”

Satu Minggu Kemudian — Bandara Internasional Manila

Hujan gerimis membasahi landasan pacu saat aku berjalan perlahan menuju jet pribadi yang akan membawaku memulai hidup baru di Eropa. Kontrak kerja sebagai kepala divisi teknologi sudah kutandatangani. Rumah sakit terbaik untuk persalinanku bulan depan pun sudah dipersiapkan oleh perusahaan.

Sebelum mematikan ponsel untuk penerbangan, sebuah pesan masuk dari ibuku di kampung:

【Nak, Miguel dan Bianca sudah diusir oleh warga kampung. Pernikahan mereka dibatalkan total. Keluarga Santos menanggung malu luar biasa sampai harus menjual rumah mereka untuk membayar denda adat dan utang-utang Miguel. Miguel mencarimu seperti orang gila, dia menangis di depan rumah kita setiap hari.】

Aku tidak membalas pesan itu. Aku hanya tersenyum tipis, mengeluarkan kartu SIM dari ponselku, dan mematungkannya menjadi dua sebelum membuangnya ke tempat sampah bandara.

Saat jet pribadi mulai lepas landas menembus awan hitam, aku merasakan tendangan kecil yang kuat dari dalam perutku.

“Kita akan baik-baik saja, Sayang,” bisikku di dalam kabin yang sunyi dan hangat.

Tujuh bulan aku hidup dalam bayang-bayang kebohongan dan hinaan, mengemis ruang pada hati pria yang tidak pernah menghargaiku. Namun hari ini, di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki, aku akhirnya mengerti: kebahagiaan tidak perlu mengemis pada pernikahan yang cacat. Aku dan anakku, sudah lebih dari cukup untuk menulis akhir cerita kami sendiri.