Posted in

ALTAR NERAKA: SATU JAM SEBELUM PERNIKAHAN, AKU MENEMUKAN RAHASIA GELAP TUNANGANKU YANG BERNIAT MEREBUT KEKAYAANKU SENILAI MILIARAN RUPIAH. AKU PUN MENGUBAH MOMEMEN MASUK KE PELAMINAN MENJADI AWAL KEHANCURANNYA DI DEPAN SELURUH DUNIA!**

ALTAR NERAKA: SATU JAM SEBELUM PERNIKAHAN, AKU MENEMUKAN RAHASIA GELAP TUNANGANKU YANG BERNIAT MEREBUT KEKAYAANKU SENILAI MILIARAN RUPIAH. AKU PUN MENGUBAH MOMEMEN MASUK KE PELAMINAN MENJADI AWAL KEHANCURANNYA DI DEPAN SELURUH DUNIA!**

### BAB 1: SURGA PALSU DAN KENYATAAN YANG MEMBEKUKAN

Mansion keluarga Madrigal dipenuhi aroma mawar putih dan anggrek mahal. Hari itu disebut-sebut sebagai **“Pernikahan Abad Ini”** antara aku, Clarissa Madrigal, satu-satunya pewaris **Madrigal Shipping Lines**, dan Ethan Salvador, seorang arsitek terkenal yang berasal dari keluarga terhormat namun hidup sederhana.

Kami telah berpacaran selama tiga tahun.

Selama tiga tahun itu, aku memperlakukannya seperti seorang pangeran.

Aku memberinya segalanya.

Mobil-mobil mewah.

Modal untuk membangun perusahaannya sendiri.

Dan yang paling berharga, seluruh kepercayaanku.

Satu jam sebelum upacara dimulai, aku sudah mengenakan gaun pengantin rancangan desainer ternama dari Paris.

Aku hendak keluar dari ruang VIP pengantin untuk mencari Ethan ketika aku melihat pintu sebuah ruangan di ujung koridor terbuka sedikit.

Itu adalah ruangan tempat Ethan bersiap-siap.

Aku mendekat dengan senyum di wajah.

Namun langkahku mendadak terhenti ketika mendengar suara Ethan berbicara dengan ibunya, Diana.

“Kau yakin, Ethan? Bagaimana kalau Clarissa sadar kalau kau sebenarnya tidak mencintainya? Gadis itu sangat pintar,” kata ibunya.

Lalu terdengar tawa dingin dan pahit dari Ethan.

Suara yang selama ini terdengar lembut saat berbicara denganku kini terasa seperti suara iblis.

“Tenang saja, Bu. Clarissa selalu percaya setiap kali aku bersikap manis padanya. Aku tidak pernah mencintainya. Yang aku inginkan hanya hartanya.”

Jantungku seolah berhenti berdetak.

“Yang kubutuhkan hanya tanda tangannya setelah menikah. Begitu semua dokumen selesai, seluruh Madrigal Shipping Lines akan menjadi milik kita. Dia mengira aku akan menjadi suami yang patuh. Tapi setelah aku mendapatkan kekuasaan, aku akan mengurungnya di sebuah mansion dan membiarkannya membusuk di sana sementara kita menikmati miliaran rupiahnya.”

Duniaku runtuh saat itu juga.

Hatiku yang sebelumnya menantikan masa depan yang indah terasa tercabik menjadi ribuan keping.

Tubuhku gemetar.

Air mata yang hampir jatuh mengering sebelum sempat menetes.

Digantikan oleh amarah yang membara.

Dia tidak tahu…

Altar yang dia impikan sebagai pintu menuju kekayaan akan berubah menjadi awal dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya.

### BAB 2: SEKUTU RAHASIA DAN RENCANA BALASAN

Alih-alih masuk dan membuat keributan, aku perlahan mundur.

Aku memaksa diriku untuk tetap tenang.

Aku tidak akan menangisi pria sampah seperti dia.

Jika yang dia inginkan adalah uang dan kekuasaan, maka aku akan memberinya pertunjukan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

Aku segera menelepon Alexander Sy, miliarder paling berpengaruh di negeri ini sekaligus rival utama keluarga Salvador dalam berbagai proyek besar pemerintah.

Alexander adalah sahabat dekat mendiang ayahku.

“Alexander, aku membutuhkan bantuanmu,” kataku dengan suara tegas.

“Ada seseorang yang sedang mencoba merampok kerajaan keluarga Madrigal.”

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, berkat jaringan luas yang dimilikinya—mulai dari bank, penyelidik swasta, hingga aparat berwenang—Alexander mengirimkan sebuah berkas tebal ke tabletkku.

Dan di situlah aku menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan.

Ethan ternyata memiliki seorang anak rahasia dari mantan kekasihnya.

Bukan hanya itu.

Ia dan keluarganya juga menggunakan dokumen perusahaan palsu untuk mengalihkan sebagian dana perusahaanku ke rekening boneka di luar negeri bahkan sebelum pernikahan berlangsung.

Rahangku menegang menahan amarah.

Tanganku mengepal begitu kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan sendiri.

“Ethan…” bisikku pelan.

“Kau mengira aku lemah?”

“Sekarang lihatlah bagaimana aku akan menguburmu hidup-hidup dengan permainanmu sendiri.”

BAB 3: MAWAR PUTIH DI ATAS MEJA EKSEKUSI

Lonceng gereja katedral bergema dengan agung, memanggil ratusan tamu undangan kelas atas yang telah memadati ruangan. Kilatan kamera dari puluhan media nasional tak henti-hentinya menerangi altar yang dihias megah. Di ujung karpet merah, Ethan Salvador berdiri dengan setelan tuksedo putihnya yang tampak sempurna. Senyumnya begitu menawan, menyembunyikan seringai serigala yang siap menerkam mangsanya.

Di sampingnya, Diana, sang ibu, menatap barisan kursi VIP dengan pandangan penuh kemenangan. Mereka merasa selangkah lagi akan menggenggam takdir sebagai penguasa baru Madrigal Shipping Lines.

Pintu besar katedral terbuka.

Seluruh ruangan mendadak hening ketika aku melangkah masuk. Gaun pengantin Paris-ku menyapu lantai dengan anggun, tetapi tidak ada senyum malu-malu di wajahku. Tatapanku lurus, dingin, dan tajam menghujam tepat ke manik mata Ethan.

Ethan mengulurkan tangannya saat aku tiba di altar. “Kau cantik sekali, Clarissa,” bisiknya lembut, mencoba memainkan perannya seperti biasa.

Aku hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang seharusnya membuatnya waspada. “Terima kasih, Ethan. Hari ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah kau lupakan.”

Pendeta mulai membacakan khotbah pernikahan, namun pikiranku sudah berada di tempat lain. Aku melirik ke barisan depan, di mana Alexander Sy duduk dengan tenang sambil memegang tabletnya. Ia memberi anggukan kecil padaku.

Semua sistem sudah siap. Jaring-jaring jebakan telah terkunci rapat.

“Ethan Salvador, apakah kau bersedia menerima Clarissa Madrigal sebagai istrimu, mencintainya dalam suka dan duka, serta berjanji untuk setia kepadanya seumur hidupmu?” tanya Pendeta.

Ethan menatapku dengan binar mata yang dibuat-buat, penuh kepura-puraan yang memuakkan. “Saya bersedia.”

Pendeta kemudian berbalik kepadaku. “Clarissa Madrigal, apakah kau bersedia—”

“Saya TIDAK bersedia,” potongku lantang, memutus ucapan Pendeta bahkan sebelum kalimat itu selesai.

BAB 4: HANCUR DALAM SATU KLIK

Suara bisik-bisik langsung pecah di dalam katedral bagai lebah yang terusik. Pendeta terperangah, sementara wajah Ethan membeku seketika.

“Clarissa? Apa yang kau katakan? Ini lelucon, kan?” Ethan mencoba meraih tanganku, tawanya terdengar gugup. “Jangan bercanda di depan kamera, Sayang.”

“Aku tidak pernah sebertekad ini seumur hidupku, Ethan,” kataku, suaranya menggema tegas melalui mikrofon yang terpasang di gaunku. “Sebelum kita mengikat janji, aku punya hadiah pernikahan yang jauh lebih pantas untukmu dan ibumu.”

Aku menjentikkan jariku ke arah operator multimedia di bagian belakang gereja.

Layar proyektor raksasa yang semula menampilkan kolase foto-foto romantis kami mendadak berubah gelap. Sedetik kemudian, sebuah rekaman audio dengan visual grafik gelombang suara berputar dengan volume maksimal, membahana ke setiap sudut katedral:

“Tenang saja, Bu. Clarissa selalu percaya setiap kali aku bersikap manis padanya. Aku tidak pernah mencintainya. Yang aku inginkan hanya hartanya… setelah aku mendapatkan kekuasaan, aku akan mengurungnya di sebuah mansion dan membiarkannya membusuk di sana…”

“Matikan! Matikan layarnya! Ini sabotase!” teriak Diana, ibu Ethan, yang langsung berdiri dari kursinya dengan wajah pucat pasi.

Namun tidak ada yang mendengarkannya. Semua mata tamu undangan, termasuk para jurnalis, melotot menatap layar yang kini berganti menampilkan dokumen-dokumen internal perbankan.

“Itu adalah bukti transfer ilegal senilai ratusan miliar rupiah yang kau alihkan dari rekening perusahaanku ke rekening cangkangmu di Swiss, Ethan,” ujarku, melangkah mundur menjauh darinya. “Dan jika itu belum cukup untuk meruntuhkan kesombonganmu…”

Layar proyektor kembali berganti. Kali ini menampilkan foto seorang wanita muda yang sedang menggandeng anak laki-laki berusia empat tahun, lengkap dengan akta kelahiran yang menunjukkan nama Ethan Salvador sebagai ayah kandungnya.

“Perkenalkan, ini adalah rahasia kecil yang kau sembunyikan selama empat tahun ini dari wanita yang katanya kau cintai,” lanjutku dengan nada menghina.

BAB 5: ALTAR YANG MENJADI PENJARA

Ethan tampak seperti baru saja dihantam badai. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin bercucuran merusak riasan wajahnya. “Clarissa… tolong, dengarkan aku dulu… ini semua fitnah! Seseorang menjebakku!”

“Menjebakmu?”

Dari barisan depan, Alexander Sy berdiri dan melangkah maju ke altar bersama dua orang pria tegap berjas hitam. “Semua bukti ini telah diverifikasi oleh firma hukumku dan divisi investigasi perbankan, Ethan. Perusahaan arsitekturmu resmi dinyatakan menyalahgunakan dana dan melakukan penipuan dokumen.”

Bersamaan dengan itu, pintu katedral kembali terbuka kasar. Empat petugas kepolisian berseragam lengkap masuk dengan langkah tegap, memecah kerumunan tamu yang masih syok.

“Saudara Ethan Salvador dan Ibu Diana Salvador,” ucap petugas kepolisian sambil mengeluarkan surat perintah penangkapan. “Anda berdua ditahan atas dakwaan pencucian uang, pemalsuan dokumen korporasi, dan penipuan terencana.”

Diana menjerit histeris saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya yang dihiasi gelang berlian hasil curian dari uangku. Sementara Ethan jatuh berlutut di atas karpet merah, menatapku dengan pandangan memohon yang menjijikkan.

“Clarissa, maafkan aku! Aku mencintaimu! Tolong cabut tuntutannya!” ratapnya sambil mencoba menggapai ujung gaunku.

Aku menatapnya dari atas dengan pandangan paling dingin yang pernah ada di dunia. Aku melepaskan cincin pertunangan berlian dari jariku, lalu menjatuhkannya tepat di depan wajahnya yang berlumur air mata.

“Kau ingin mengurungku di mansion dan membiarkanku membusuk, Ethan?” bisikku tajam, memastikan hanya dia yang mendengar kalimat terakhirku. “Nikmati mansion barumu di sel tahanan. Tempat itu jauh lebih cocok untuk iblis sepertimu.”

Aku berbalik, mengangkat ekor gaun pengantinku, dan berjalan meninggalkan altar neraka itu dengan kepala tegak. Di belakangku, kilatan kamera media terus menyala, merekam kehancuran total keluarga Salvador yang disiarkan langsung ke seluruh penjuru negeri.

Pernikahan ini memang batal, tetapi Madrigal Shipping Lines tetap berdiri kokoh—dan aku baru saja melenyapkan parasit terbesar dalam hidupku.