Posted in

AKU SELALU MENGIRA SUAMIKU PERGI KE MANILA UNTUK MENCARI NAFKAH BAGI KELUARGA. SAMPAI AKU MENDENGAR ANAKKU BERTANYA: “KALAU AYAH SANGAT MEMBENCI IBU, KENAPA TIDAK CERAI SAJA?” SATU JAWABAN SUAMIKU MEMBUAT SELURUH TUBUHKU MEMBEKU: “KARENA DIA MASIH HARUS MERAWAT KAKEK DAN NENEKMU, DAN DIA MASIH HARUS MENANDATANGANI DOKUMEN GANTI RUGI RUMAH ITU.”**

AKU SELALU MENGIRA SUAMIKU PERGI KE MANILA UNTUK MENCARI NAFKAH BAGI KELUARGA. SAMPAI AKU MENDENGAR ANAKKU BERTANYA: “KALAU AYAH SANGAT MEMBENCI IBU, KENAPA TIDAK CERAI SAJA?” SATU JAWABAN SUAMIKU MEMBUAT SELURUH TUBUHKU MEMBEKU: “KARENA DIA MASIH HARUS MERAWAT KAKEK DAN NENEKMU, DAN DIA MASIH HARUS MENANDATANGANI DOKUMEN GANTI RUGI RUMAH ITU.”**

### BAGIAN 1

Aku berdiri di luar dapur.

Jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam.

Seragam call center masih melekat di tubuhku. Pakaianku masih berbau AC kantor di Ortigas. Bahuku terasa nyeri setelah menyelesaikan shift panjang. Sebelum pulang, aku masih sempat mampir ke apotek untuk membeli insulin ayah mertuaku, obat rematik ibu mertuaku, dan susu untuk anakku yang kini sedang duduk di dapur.

Namanya Miguel.

Usianya enam belas tahun.

Anak yang dulu pernah kugendong di kamar kontrakan sempit dan panas di Pasig, saat aku menangis kelelahan karena suamiku berada jauh di kota lain dan hanya mampu mengirim beberapa ribu peso setiap bulan.

Aku selalu berpikir bahwa anak itulah alasan mengapa aku mampu bertahan menghadapi semuanya.

Sampai malam itu.

Miguel membelakangiku.

Di atas meja ada segelas Milo yang belum habis diminum.

Ponselnya bersandar di meja dengan layar yang terang.

Ia sedang melakukan panggilan video dengan ayahnya, Ramon Dizon.

Aku sebenarnya ingin masuk dan menanyakan kenapa mereka belum tidur.

Namun langkahku terhenti ketika mendengar Miguel tertawa.

“Dad, kapan kita bisa tinggal terang-terangan bersama Tante Celeste?”

Aku membeku.

Tanganku mencengkeram kantong plastik berisi obat-obatan begitu kuat hingga gagangnya menekan kulitku.

Beberapa detik kemudian, Ramon menjawab.

“Sedikit lagi. Bersabarlah.”

Miguel mengeluh.

“Aku nggak ngerti. Bukannya Ayah bilang Ayah sudah muak melihat Ibu? Ayah bilang dia selalu bau balsem, bau masakan, bau rumah sakit. Ayah juga bilang rasanya seperti tinggal dengan pembantu tua.”

Seakan ada sesuatu yang menghantam dadaku.

Tetapi Ramon tidak menegurnya.

Ia hanya menghela napas.

“Jangan terlalu keras bicaranya. Kalau dia dengar, dia pasti menangis lagi. Menyebalkan.”

Miguel tertawa.

“Aku mau membelikan Tante Celeste tas putih di Greenbelt. Harganya 38.000 peso. Pasti cocok banget buat dia. Tapi aku nggak punya uang.”

Jawaban Ramon terdengar begitu alami.

“Minta saja pada ibumu.”

“Nanti dia tanya untuk apa.”

“Katakan saja untuk kelas robotik lanjutan. Bilang sekolah minta dibayar segera. Seumur hidup dia cuma kerja dan menabung. Pasti dia masih punya simpanan.”

Miguel terdiam sesaat.

Lalu bertanya,

“Bukannya itu keterlaluan?”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku hampir menangis karena mengira masih ada sedikit hati nurani di dalam diri anakku.

Namun Ramon menghancurkan harapan terakhirku.

“Keterlaluan apanya? Dia makan di rumah itu. Dia memakai nama keluarga kita. Dia yang merawat kakek dan nenekmu. Dia yang mengurusmu. Dia yang memasak dan mencuci. Bukankah itu memang kewajibannya?”

Miguel mengangguk.

“Benar juga. Tante Celeste terlalu cantik untuk mencuci piring atau mengganti popok Kakek.”

Ramon tertawa kecil.

“Itulah alasan Ayah belum menikahinya sekarang. Ayah tidak mau dia susah. Celeste itu harus dimanja.”

Dan aku?

Untuk apa aku dilahirkan?

Untuk pulang jam sepuluh malam setelah berdesakan di jeepney, lalu membersihkan tubuh ayah mertua yang lumpuh akibat stroke?

Untuk bangun jam empat pagi demi memasak bubur bagi ibu mertua yang hampir tidak bisa berjalan karena rematik?

Untuk menghabiskan gaji bulananku yang hanya 28.000 peso untuk biaya sekolah, listrik, obat-obatan, beras, makanan, dan atap rumah yang selalu bocor saat hujan?

Di dalam dapur, Miguel kembali bertanya.

“Dad, hadiah apa yang Ayah kasih ke Tante Celeste untuk ulang tahunnya?”

Suara Ramon langsung berubah lembut.

“Ayah sudah pesan suite mewah di Tagaytay. Seluruh kamar akan dipenuhi anggrek putih dari Davao, lampu-lampu cantik, dan wine. Totalnya sekitar 120.000 peso.”

Miguel bersiul kagum.

“Wow. Tante pasti menangis terharu.”

“Tentu saja. Dia pantas mendapatkannya.”

Aku hanya berdiri di luar pintu.

Aku tidak masuk.

Malam itu, aku meletakkan kantong obat di rak lalu berjalan menuju kamar mertuaku.

Ayah mertua tertidur miring dengan satu tangan yang masih bergetar.

Ibu mertua tertidur sambil duduk karena lututnya yang bengkak tidak bisa diluruskan.

Aku menatap mereka lama.

Sejujurnya, mereka tidak selalu baik kepadaku.

Pernah ibu mertua menyindirku karena hanya memiliki satu anak.

Pernah ayah mertua meremehkanku karena penghasilanku lebih kecil daripada laki-laki.

Namun saat mereka sakit…

Akulah yang mengganti popok mereka.

Akulah yang mengurus kartu kesehatan.

Akulah yang menandatangani semua dokumen rumah sakit.

Sementara anak kandung mereka berada di Manila, menghabiskan hasil “tabungan lima tahun” untuk menaburkan bunga kepada perempuan lain.

Keesokan harinya, Miguel meletakkan selembar kertas di depanku.

“Mom, sekolah mengadakan kelas robotik musim panas. Biayanya 38.000 peso. Transfer saja ke GCash Dad.”

Nada suaranya seperti memberi perintah.

Ramon duduk di sampingnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Aku tidak melihat kertas itu.

Sebaliknya, aku mengeluarkan dua map berisi hasil pemeriksaan rumah sakit.

“Ini hasil pemeriksaan Papa. Kata dokter, efek strokenya semakin parah. Bahkan sudah ada tanda-tanda awal demensia. Dia membutuhkan perawat tetap.”

Aku meletakkan map kedua.

“Ini hasil pemeriksaan Mama. Lututnya sudah mengalami deformasi karena arthritis. Jika tidak dioperasi, kemungkinan besar dia tidak akan bisa berjalan lagi dalam beberapa bulan.”

Ramon mengerutkan dahi.

“Lina, jangan mulai lagi.”

Aku menatapnya.

“Kamu anak mereka. Kamu harus tahu.”

Ia melempar ponselnya ke meja.

“Semua orang tua pasti sakit! Rumah sakit cuma pandai menakut-nakuti orang supaya dapat uang. Cara bicaramu seperti kiamat sudah dekat.”

Miguel memandangku dengan kesal.

“Mom, kamu selalu berlebihan. Aku cuma minta uang sekolah, tapi kamu malah bicara soal penyakit Kakek dan Nenek. Mau bikin aku merasa bersalah?”

Aku bertanya pelan.

“Kamu benar-benar butuh uang itu untuk sekolah?”

Matanya bergerak gelisah sesaat.

Namun Ramon langsung menyela.

“Pertanyaan macam apa itu? Anakmu mau belajar, malah kamu curigai? Ibu yang baik pasti akan mencari cara, bahkan kalau harus berutang.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tertawa di depan Ramon.

“Rumah ini tidak punya uang.”

Miguel langsung berdiri.

“Mustahil! Mom kerja setiap hari!”

“Gajiku 28.000 peso. Obat Kakek dan Nenek bulan lalu 11.400. Biaya sekolahmu 9.000. Listrik, air, beras, makanan, transportasi. Tahukah kamu berapa yang tersisa?”

Mata Miguel memerah.

“Jangan pura-pura miskin. Kamu memang tidak pernah sayang padaku.”

Ramon berkata dingin.

“Lina, jangan berpikiran sempit. Hanya 38.000 peso. Masa untuk anak sendiri saja kamu pelit?”

Aku memandang mereka berdua.

Lelaki yang pernah kucintai.

Dan anak yang pernah kuperjuangkan dengan seluruh hidupku.

Kini mereka berdiri di hadapanku seperti satu tim.

Dan aku hanyalah mesin ATM yang bisa memasak.

Mereka tidak tahu bahwa rumah kami di Pasig akan dibebaskan pemerintah untuk proyek pelebaran jalan.

Rumah itu adalah warisan dari orang tuaku.

Sertifikat tanah dan bangunannya hanya atas namaku.

Nilai kompensasinya mencapai sekitar **Rp11 miliar**, ditambah dua unit apartemen relokasi.

Ramon hanya mendengar sedikit kabar tentang proyek itu.

Dia mengira sebagai suamiku, ia berhak atas semuanya.

Padahal sebelum ayahku meninggal, pengacaranya sudah memastikan seluruh dokumen hukum tersusun dengan sangat kuat.

Sore itu Ramon dan Miguel pergi meninggalkan rumah.

Sebelum keluar, Miguel menoleh.

“Kalau Mom tidak kirim uang itu, aku tidak akan memanggil Mom lagi.”

Aku menjawab tenang.

“Coba saja.”

Ia terdiam.

Mungkin untuk pertama kalinya ia melihat bahwa ibunya yang selalu mengalah akhirnya berhenti menyerah.

Malam harinya, kamera keamanan di kamarku mengirim notifikasi.

**Gerakan terdeteksi.**

Aku segera membuka rekaman.

Di layar terlihat Ramon menggunakan kunci duplikat untuk membuka laci kayuku.

Miguel berdiri di sampingnya sambil membawa ransel.

Ramon mengambil sebuah kotak kaleng berwarna biru.

Di dalamnya tersimpan cincin pernikahan ibuku, kalung emas berbentuk bunga sampaguita miliknya, dan salinan sertifikat rumah.

Miguel bertanya,

“Dad, barang-barang itu bisa dijual mahal?”

Ramon menjawab tanpa ragu.

“Cukup untuk membuat Tante Celeste bahagia.”

Aku menatap layar itu tanpa berkedip.

Darahku terasa membeku.

Lalu kulihat mereka membawa kotak kaleng itu keluar dari kamarku.

BAGIAN 2 (TAMAT)

Aku duduk di kegelapan ruang tamu, hanya ditemani cahaya redup dari layar ponselku yang masih memutar rekaman CCTV. Tubuhku tidak lagi gemetar. Rasa sakit yang semalam mencabik dadaku kini telah mengkristal menjadi kemarahan yang dingin dan mutlak.

Mereka baru saja mencuri kenangan terakhir dari mendiang ibuku. Dan mereka melakukannya demi wanita lain.

“Lina…” Sebuah suara serak memecah keheningan.

Aku menoleh. Ibu mertuaku berdiri di ambang pintu kamarnya, bertumpu rapuh pada dinding. Di belakangnya, ayah mertuaku mengerang pelan di atas ranjang, tidak mampu menggerakkan sisi kanan tubuhnya.

“Lina, ke mana Ramon dan Miguel? Ibu haus, tapi tidak ada orang di dapur,” bisiknya dengan mata rabun yang menatapku penuh harap.

Aku berdiri, berjalan mendekatinya, lalu menuntunnya kembali ke tempat tidur. Aku mengambilkan segelas air, membantunya minum, lalu membetulkan posisi selimut ayah mertuaku. Ini adalah terakhir kalinya aku melakukan ini. Bukan karena aku membenci mereka, tapi karena aku menolak menjadi martir bagi keluarga yang membusuk dari dalam.

“Bu, Yah,” kataku pelan, menatap kedua orang tua yang wajahnya dipenuhi kerutan penuaan. “Ramon dan Miguel pergi. Dan aku juga akan pergi.”

Ibu mertuaku terperangah, tangannya yang keriput mencoba mencengkeram lenganku. “Pergi? Lalu siapa yang mengurus kami? Ramon tidak tahu cara mengganti popok ayahnya! Dia bahkan tidak tahu jadwal obat kami!”

“Tanyakan pada Celeste,” jawabku datar. “Ramon bilang dia wanita yang sangat cantik. Mungkin kecantikannya bisa menyembuhkan kalian.”

Tanpa memedulikan tangisan bising ibu mertuaku, aku masuk ke kamar, mengemas satu koper berisi pakaianku, dan membawa seluruh dokumen asli pembebasan lahan yang selama ini kusembunyikan di tempat yang tak akan pernah bisa mereka tebak: di dalam lipatan bantal tua mendiang ayahku.

Keesokan harinya, aku mengambil cuti dari kantor call center. Aku tidak pergi ke Ortigas, melainkan ke kantor pengacara keluarga yang ditunjuk almarhum ayahku sejak bertahun-tahun lalu, Atty. Ramos.

Di hadapannya, aku meletakkan flashdisk berisi rekaman video Miguel yang meminta uang palsu, percakapan Ramon tentang rencana liburan mewah di Tagaytay, serta rekaman CCTV saat mereka berdua membongkar laciku dan mencuri perhiasan ibuku.

Atty. Ramos berkacamata tebal itu menggelengkan kepala demi melihat bukti-bukti tersebut. “Mrs. Dizon, ini sudah lebih dari cukup. Tindakan suami Anda adalah pencurian dalam rumah tangga, dan untuk urusan tanah warisan, hukum Filipina sangat ketat melindungi hak milik murni (paraphernal property) yang berasal dari warisan orang tua kandung Anda. Suami Anda tidak punya hak satu sen pun.”

“Saya ingin prosesnya dipercepat, Atty,” kataku, suaraku terdengar asing, begitu dingin dan tegas. “Tanda tangani dokumen ganti rugi dengan pemerintah. Alihkan seluruh dana senilai Rp11 miliar itu ke rekening baru atas nama saya sendiri. Dan tolong siapkan surat gugatan cerai beserta tuntutan pidana pencurian.”

“Bagaimana dengan anak Anda, Miguel?” tanya Atty. Ramos ragu. “Dia terlibat dalam pencurian ini.”

Aku memejamkan mata sesaat. Bayangan bayi yang dulu kutangisi di kamar kontrakan panas di Pasig melintas. Namun, bayangan remaja enam belas tahun yang menyebutku “pembantu tua” dan berkomplot untuk memeras darahku demi tas mewah selingkuhan ayahnya langsung menghapus sisa-sisa keibuanku.

“Dia sudah memilih ayahnya,” jawabku mantap. “Biarkan hukum yang mendidiknya, karena saya telah gagal.”

Dua minggu berlalu tanpa sepatah kata pun dari mereka. Ramon dan Miguel memblokir nomorku, mengira mereka telah menang besar setelah berhasil menjual perhiasan ibuku yang dihargai sekitar 50.000 peso di pegadaian ilegal. Uang yang persis cukup untuk membelikan tas putih di Greenbelt dan uang saku Miguel.

Sampai hari itu tiba.

Hari di mana tim eksekusi dari departemen pekerjaan umum pemerintah (DPWH) datang ke rumah kami di Pasig bersama beberapa petugas polisi dan Atty. Ramos.

Aku berdiri di halaman depan, mengenakan pakaian terbaik yang kupunya.

Ramon keluar dengan kaos kutang, wajahnya tampak kuyu karena baru bangun tidur. Di belakangnya, Miguel tampak panik. Di dalam rumah, terdengar suara lenguhan ayah mertuaku yang kelaparan karena tidak ada yang mengurusnya dengan benar selama dua minggu ini. Rumah itu sudah berbau pesing dan kotoran.

“Lina! Apa-apaan ini?! Kenapa ada polisi?” teriak Ramon berang.

Atty. Ramos maju, menyerahkan sebendell dokumen. “Mr. Ramon Dizon. Ini adalah surat perintah pengosongan rumah. Proyek pelebaran jalan akan dimulai besok pagi. Dan ini,” Atty. Ramos menyerahkan selembar kertas lagi, “adalah gugatan cerai atas tuduhan perzinaan, penelantaran, serta laporan pidana atas pencurian properti milik Mrs. Lina.”

Ramon tertawa getir, matanya liar. “Cerai? Hah! Kamu pikir kamu bisa mengusirku? Rumah ini akan diganti rugi miliaran peso! Aku suamimu, aku berhak atas setengah dari uang itu! Aku tidak akan menandatangani dokumen ganti ruginya kalau aku tidak dapat bagian!”

Aku melangkah maju, menatap langsung ke bola matanya yang dipenuhi keserakahan.

“Ramon, kamu benar-benar bodoh,” kataku tenang. “Aku sudah menandatanganinya dua hari yang lalu. Uang Rp11 miliar dan dua unit apartemen relokasi itu sudah mutlak menjadi milikku. Pemerintah tidak butuh tanda tanganmu, karena sejak awal, namamu tidak pernah ada di sertifikat tanah ini.”

Wajah Ramon langsung memucat. Seluruh darah seolah tersedot dari wajahnya. “T-tidak mungkin… Kamu bohong! Sifat tanah itu…”

“Sertifikat yang kamu curi dari kotak kaleng itu?” aku tersenyum sinis. “Itu hanya salinan fotokopi yang sengaja kubuat agar terlihat asli. Yang asli ada di bank.”

Miguel, yang berdiri di belakang ayahnya, mendadak gemetar. Ia menatapku dengan mata melotot. “Mom… Jadi uangnya sudah cair? Sebelas miliar? Kita kaya, Mom! Kita bisa beli rumah baru di Bonifacio Global City! Aku tidak usah ikut kelas robotik lagi, aku mau mobil!”

Aku menatap anak kandungku sendiri dengan rasa asing yang teramat sangat. “Tidak ada ‘kita’, Miguel. Kamu bilang seumur hidupku aku hanya tahu cara bekerja dan menabung, kan? Sekarang, nikmatilah hasil tabunganmu bersama ayahmu dan Tante Celeste-mu yang cantik itu.”

“Mom! Aku anakmu!” Miguel berteriak, air mata kepanikan mulai mengalir di pipinya. “Kamu tidak bisa egois begini! Lalu bagaimana dengan sekolahku? Bagaimana dengan Kakek dan Nenek?!”

“Bukankah Tante Celeste terlalu cantik untuk mencuci piring dan mengganti popok Kakek?” aku membalikkan kalimat yang diucapkannya malam itu. “Sekarang pergilah panggil dia. Suruh dia merawat kakek dan nenekmu. Biarkan dia membuktikan apakah tas seharga 38.000 peso yang kamu belikan dari hasil mencuri perhiasan nenekmu bisa memberi mereka makan.”

“Lina! Jangan keterlaluan! Aku ini suamimu!” Ramon mencoba menerjangku, namun dua petugas polisi langsung menjatuhkannya ke tanah dan memborgol kedua tangannya.

“Ramon Dizon, Anda ditahan atas tuduhan pencurian dan kekerasan finansial dalam rumah tangga,” ujar polisi tegas.

Miguel menjerit melihat ayahnya diringkus. Ia menatapku, berlutut di tanah yang berdebu, mencoba menggapai ujung sepatuku. “Mom, maafkan aku… Aku cuma bercanda malam itu! Aku sayang Mom! Tolong jangan tinggalkan aku…”

Aku menarik kakiku mundur, menghindari tangannya yang kotor. Tidak ada air mata yang menetes dari mataku. Hatiku sudah mati untuk mereka semenjak malam di luar dapur itu.

“Petugas, tolong bantu evakuasi dua orang tua di dalam ke rumah sakit pemerintah terdekat. Biaya perawatan darurat mereka hari ini akan saya tanggung untuk terakhir kalinya sebagai bentuk kemanusiaan. Setelah itu, hubungi dinas sosial atau biarkan anak dan cucu mereka yang mengurusnya,” perintahku kepada petugas medis yang sudah bersiap di ambang pintu.

Aku membalikkan badan, berjalan menuju mobil taksi yang sudah menungguku di ujung jalan. Di dalam tas tanganku, sebuah paspor baru dan tiket penerbangan menuju Singapura sudah siap. Aku akan memulai hidup baru, hidup yang sepenuhnya milikku, tanpa harus menjadi pembantu tua bagi orang-orang yang tidak tahu cara bersyukur.

Saat taksi mulai melaju, aku menoleh ke belakang melalui kaca jendela. Kulihat rumah tua penuh kenangan pahit itu mulai dirobohkan oleh alat berat, bersamaan dengan runtuhnya keserakahan dua lelaki yang kini meratapi nasib mereka di atas tanah yang tak lagi milik mereka.