Posted in

SUAMI SERAKAH MENCABUT SELANG OKSIGEN ISTRI KAYANYA DEMI MENGUASAI HARTA DAN HIDUP BERSAMA SELINGKUHANNYA—NAMUN SAAT MENYENTUH PASIEN ITU, IA TERKEJUT MENGETAHUI BAHWA ORANG YANG TELAH DIBUNUHNYA ADALAH IBUNYA SENDIRI!**

SUAMI SERAKAH MENCABUT SELANG OKSIGEN ISTRI KAYANYA DEMI MENGUASAI HARTA DAN HIDUP BERSAMA SELINGKUHANNYA—NAMUN SAAT MENYENTUH PASIEN ITU, IA TERKEJUT MENGETAHUI BAHWA ORANG YANG TELAH DIBUNUHNYA ADALAH IBUNYA SENDIRI!**

### RENCANA GELAP DI BALIK KESERAKAHAN

Hector adalah pria yang berasal dari keluarga miskin dan hidupnya berubah setelah menikahi Valerie, satu-satunya pewaris sebuah perusahaan pelayaran besar di Filipina. Valerie memberinya kehidupan mewah—mobil mahal, jabatan tinggi di perusahaan, dan akses tanpa batas ke uang.

Namun bukannya bersyukur, Hector justru menjadi semakin serakah.

Ia tergila-gila pada kekuasaan dan diam-diam menjalin hubungan dengan Cindy, seorang model berusia dua puluh dua tahun. Hector ingin menguasai seluruh kekayaan Valerie tanpa harus berbagi dengan siapa pun, sehingga ia mulai merancang sebuah “kecelakaan”.

Ia menyuruh seseorang merusak rem mobil Valerie.

Mobil itu akhirnya menabrak tiang jalan dan membuat Valerie koma. Ia dirawat di ruang VIP paling eksklusif sebuah rumah sakit swasta, terhubung dengan alat bantu hidup, sementara wajahnya dibalut perban akibat luka parah dari pecahan kaca.

“Berapa lama lagi kita harus menunggu istrimu mati?” gerutu Cindy suatu malam ketika mereka berada di sebuah hotel mewah. “Aku sudah tidak sabar punya mansion sendiri. Aku juga ingin belanja di Paris memakai uangnya!”

Hector memeluk wanita itu sambil tersenyum dingin.

“Tenang saja, Sayang. Dokter bilang peluang hidupnya cuma lima puluh persen. Dan kalau minggu ini dia belum meninggal… aku sendiri yang akan mengakhirinya. Masuk ke ruang VIP itu saat dini hari sangat mudah. Tinggal cabut selang oksigennya, lalu miliaran rupiah itu menjadi milik kita.”

### RAHASIA DI BALIK PINTU TERTUTUP

Yang tidak diketahui Hector, tiga hari setelah kecelakaan, Valerie diam-diam telah sadar dari komanya.

Saat berpura-pura tidak sadar, ia mendengar percakapan Hector dengan salah satu anak buahnya di dalam kamar. Dalam percakapan itu, Hector secara terang-terangan mengakui bahwa dialah yang memerintahkan perusakan rem mobil.

Hati Valerie hancur.

Namun ia tidak kehilangan akal.

Ia segera menghubungi dokter kepercayaannya dan kepala keamanan pribadinya untuk melakukan penyelidikan diam-diam. Mereka memasang kamera tersembunyi di kamar VIP dan memindahkan Valerie ke ruang rahasia lain agar bisa pulih dengan aman.

Di saat yang sama, ibu Hector yang bernama Rosa—seorang wanita tua sederhana yang sering dipermalukan dan dibentak oleh putranya sendiri karena dianggap kampungan—mengalami serangan jantung setelah mendengar kabar tentang kecelakaan Valerie.

Rosa sangat menyayangi menantunya.

Baginya, Valerie adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya dengan kasih sayang dan hormat.

Ketika Rosa dibawa ke rumah sakit yang sama dalam kondisi kritis, Valerie meminta para dokter menempatkannya di kamar VIP yang sebelumnya ia tempati agar wanita tua itu mendapatkan perawatan terbaik menggunakan seluruh fasilitas yang ia biayai.

Karena postur tubuh mereka hampir sama, dan wajah Rosa juga tertutup masker oksigen, perban, serta berbagai selang medis, tidak seorang pun dari luar ruangan dapat menyadari bahwa pasien di tempat tidur itu bukan lagi Valerie.

Sementara itu, Hector tetap percaya bahwa wanita yang terbaring tak berdaya di kamar tersebut adalah istrinya…

Dan ketika malam yang telah lama ia rencanakan akhirnya tiba, ia melangkah masuk ke ruangan itu tanpa menyadari bahwa takdir sedang menyiapkan hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada penjara.

MALAM YANG MEMATIKAN

Tepat pukul dua dini hari, ketika koridor rumah sakit sudah sepi dan para perawat sedang berganti sif, sebuah bayangan berjas hitam menyelinap masuk ke dalam kamar VIP 404. Itu adalah Hector. Wajahnya tertutup masker medis, dan matanya memancarkan keserakahan yang teramat sangat.

Ia mengunci pintu kamar dari dalam.

Di atas tempat tidur, sesosok tubuh terbaring lemah dengan bunyi monitor jantung yang berdetak konstan. Wajah pasien itu tertutup perban di bagian dahi, sementara mulut dan hidungnya tertutup rapat oleh masker oksigen yang tebal.

Hector berjalan mendekat tanpa ragu. Ia menatap tubuh itu dengan senyum seringai yang keji.

“Selamat tinggal, Valerie,” bisik Hector dingin. “Terima kasih atas semua hartamu. Mulai besok, akulah pemilik tunggal dari semua yang kamu miliki.”

Tanpa belas kasihan, tangan Hector bergerak cepat. Ia mencengkeram selang oksigen utama yang terhubung ke mesin penopang hidup, lalu menariknya dengan paksa hingga terlepas. Tidak hanya itu, ia juga menekan tombol untuk mematikan aliran obat penenang dan cairan infus.

Mesin monitor langsung mengeluarkan bunyi peringatan yang melengking. Beeeep… Beeeep…

Tubuh di atas ranjang itu mulai kejang. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar demi meraup udara yang kini telah terputus. Hector berdiri tegak, bersedekap dada sambil menghitung detik-detik kematian istrinya dengan kepuasan.

Setelah tiga menit yang menyiksa, tubuh itu akhirnya melemas. Bunyi monitor berubah menjadi satu nada panjang yang statis.

Beeeeeeeeeeeeeeeeeeeep.

Garis di layar menjadi lurus. Pasien itu telah tiada.

SENTUHAN YANG MEMBEKUKAN DARAH

Hector tersenyum puas. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Cindy: “Semua sudah selesai. Besok kita kaya.”

Sebelum melangkah pergi, Hector berniat merapikan kembali selang-selang itu agar kematian istrinya terlihat seperti kegagalan medis murni. Namun, saat ia mendekat dan tangannya tidak sengaja menyentuh telapak tangan pasien yang sudah mendingin, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Di jari manis tangan itu, tidak ada cincin berlian pernikahan mereka yang bernilai jutaan peso.

Sebaliknya, kulit tangan itu terasa kasar, kapalan, dan penuh dengan bekas luka bakar—seperti tangan seorang wanita tua yang menghabiskan seluruh hidupnya sebagai buruh cuci.

Jantung Hector mendadak berdegup kencang karena firasat buruk.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ujung perban dan masker oksigen yang menutupi wajah jenazah tersebut. Ia menariknya lepas.

Cahaya temaram dari lampu tidur menyinari wajah kaku di atas bantal.

Hector mundur tiga langkah hingga punggungnya menghantam tembok. Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga, dan seluruh badannya mendadak kaku seolah dialiri listrik ribuan volt.

Itu bukan Valerie.

Wanita yang baru saja ia cekik udaranya hingga tewas adalah Ibu Rosa… ibu kandungnya sendiri. Wanita yang melahirkannya, wanita yang selama ini ia maki-maki karena miskin, kini terbujur kaku menjadi korban dari keserakannya sendiri.

“I-Ibu…?” suara Hector bergetar hebat. Ia merangkak kembali ke ranjang, mengguncang-guncang tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa. “Ibu! Bangun, Bu! Ini Hector! Kenapa Ibu ada di sini?! Di mana Valerie?!”

Hector menjerit histeris, air matanya tumpah dalam rasa penyesalan yang terlambat. Ia memeluk jasad ibunya yang mulai mendingin, menyadari bahwa ia telah menjadi pembunuh dari darah dagingnya sendiri.

JEBAKAN YANG SEMPURNA

Tepat pada saat itu, lampu utama kamar VIP menyala terang benderang.

Pintu kamar terbuka.

Hector menoleh dengan panik, berharap ada dokter yang bisa menyelamatkan ibunya. Namun, langkah kakinya langsung membeku saat melihat siapa yang berjalan masuk ke dalam ruangan.

Valerie berdiri di sana. Ia mengenakan pakaian kasual yang rapi, tampak sehat sepenuhnya tanpa ada luka parah di tubuhnya. Di sampingnya, berdiri kepala keamanan keluarga Dizon beserta lima orang petugas kepolisian yang menonongkan senjata api ke arah Hector.

“Mencari aku, Hector?” tanya Valerie dengan suara yang teramat dingin.

Hector menunjuk Valerie dengan jari gemetar, lalu melihat ke arah ibunya. “K-kamu… kamu menjebakku! Kamu membunuh ibuku!”

“Tidak, Hector. Kamulah yang membunuhnya,” jawab Valerie, matanya menatap tajam penuh kejijikan. “Aku memindahkan Ibu Rosa ke kamar ini agar dia mendapat perawatan terbaik dari dokter-dokter terbaik milik keluargaku. Aku merawatnya karena kamu menelantarkannya!”

Valerie memberi isyarat kepada kepala keamanannya. Sebuah layar tablet dinyalakan, menampilkan rekaman kamera tersembunyi yang menangkap dengan sangat jelas detik-demi-detik saat Hector masuk, memaki Valerie, dan mencabut selang oksigen milik ibunya sendiri demi harta.

“Rekaman ini sudah terhubung langsung ke server kepolisian,” lanjut Valerie. “Kamu tidak hanya akan kehilangan seluruh akses ke hartaku, Hector. Tapi kamu juga akan menghabiskan sisa hidupmu di balik jeruji besi dengan bayang-bayang wajah ibumu yang kamu bunuh dengan tanganmu sendiri.”

Polisi segera maju, memborgol tangan Hector yang sudah lemas kehilangan seluruh kekuatannya. Pria serakah itu tidak lagi melawan. Sambil diseret keluar dari kamar rumah sakit, ia terus menangis histeris, meneriakkan nama ibunya di tengah koridor yang sunyi.

Di luar gedung rumah sakit, Cindy yang sedang menunggu di dalam mobil mewah langsung ditangkap atas tuduhan persekongkolan pembunuhan berencana.

Hector mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan. Keserakahannya tidak membawanya ke Paris atau ke dalam mansion mewah, melainkan ke dalam sel penjara yang gelap—di mana setiap malam ia harus terjaga, dihantui oleh napas terakhir ibunya yang ia cabut demi uang yang tak pernah ia miliki.