Posted in

AKU MENYAMAR MENJADI PEMBANTU RUMAH TANGGA UNTUK MELARIKAN DIRI DARI PERNIKAHANKU. AKU TAK PERNAH MENYANGKA AKAN BERTEMU LAGI DENGAN PRIA YANG DULU BERJANJI AKAN MENIKAHIKU.*

*AKU MENYAMAR MENJADI PEMBANTU RUMAH TANGGA UNTUK MELARIKAN DIRI DARI PERNIKAHANKU. AKU TAK PERNAH MENYANGKA AKAN BERTEMU LAGI DENGAN PRIA YANG DULU BERJANJI AKAN MENIKAHIKU.**

Malam itu, aku melarikan diri dari pesta pertunanganku sendiri.

Bukan karena aku tidak ingin menikah.

Melainkan karena pria yang akan menjadi suamiku telah mengkhianatiku hanya beberapa hari sebelum pernikahan kami.

Kami saling mencintai selama tiga tahun.

Bertunangan selama dua tahun.

Dan semua itu berakhir hanya dengan satu kalimat sederhana:

*”Itu hanya sedikit kesenangan saja.”*

Aku tidak membuat keributan.

Aku juga tidak menangis di hadapannya.

Aku hanya diam-diam mengambil koperku dan meninggalkan apartemen yang dulu kami impikan sebagai rumah masa depan kami.

Agar keluargaku tidak dapat menemukanku, aku mengikuti saran seorang teman dan pergi ke sebuah rumah besar di tepi laut.

Mereka membutuhkan seseorang untuk membantu merawat nenek pemilik rumah.

Gajinya tidak terlalu besar.

Namun cukup untuk membuatku menghilang selama beberapa bulan.

Pada hari pertamaku bekerja di sana, aku mengenakan seragam putih sederhana.

Rambutku diikat rapi.

Kacamata tebal menutupi hampir setengah wajahku.

Yang kuinginkan hanyalah hidup tenang.

Namun saat aku melangkah masuk ke ruang tamu, tubuhku seakan membeku.

Pria yang sedang duduk di sofa perlahan mengangkat kepalanya.

Dalam sekejap.

Kami sama-sama terdiam.

Itu dia.

Pria yang pernah kucintai secara online empat tahun lalu.

Pria yang kutinggalkan tanpa penjelasan.

Pria yang pernah berjanji bahwa jika suatu hari ia menemukanku, ia tidak akan membiarkanku menghilang lagi.

Namun yang lebih mengejutkan adalah…

Ia tampaknya tidak mengenaliku.

Atau setidaknya itulah yang kupikirkan.

“Apa namamu?” tanyanya dingin.

“Mai.”

Aku menunduk.

Ia menatapku cukup lama.

Lalu hanya mengangguk.

“Kerjakan tugasmu dengan baik.”

“Aku tidak suka orang yang terlalu ingin tahu urusan orang lain.”

Aku diam-diam menghela napas lega.

Syukurlah.

Dia tidak mengenaliku.

Empat tahun lalu kami bertemu melalui sebuah game online.

Saat itu aku baru lulus sekolah menengah.

Sedangkan dia sudah bekerja.

Aku berbohong tentang usiaku.

Namaku.

Foto-fotoku.

Alamatku.

Hampir semuanya adalah kebohongan.

Kecuali perasaanku kepadanya.

Namun ketika kusadari bahwa dia jauh lebih serius daripada yang kubayangkan, aku ketakutan.

Takut semua kebohonganku terbongkar.

Takut keluargaku menentang hubungan kami.

Takut menyakitinya saat mengetahui kebenaran.

Karena itulah aku memilih menghilang.

Aku memblokir semua kontaknya.

Menghapus semua akun yang berhubungan dengannya.

Dan selama empat tahun, aku percaya kami tidak akan pernah bertemu lagi.

Namun takdir rupanya memiliki rencana lain.

Malam itu, saat mengantar obat untuk sang nenek, aku mendengar percakapan dari ruang kerja.

“Masih mencarinya?” tanya seorang pria.

Hening beberapa saat.

Lalu dia menjawab.

Dengan suara rendah.

Dingin.

Namun penuh kelelahan.

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Karena dia masih berutang penjelasan padaku.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Tanganku mencengkeram nampan yang kubawa.

“Luar biasa,” sahabatnya tertawa kecil.

“Dia meninggalkanmu empat tahun lalu.”

“Kau masih belum bisa melupakannya?”

Beberapa saat kemudian terdengar suara korek api.

Lalu dia berbicara lagi.

Tidak keras.

Namun sangat jelas.

“Aku tidak membutuhkan dia untuk kembali.”

“Aku hanya ingin tahu…”

“Kesalahan apa yang sebenarnya pernah kulakukan.”

Aku merasa hampir tidak bisa bernapas.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Aku menyadari bahwa akulah yang bersalah.

Sejak hari itu, aku berusaha menghindarinya.

Namun seolah takdir menolak membiarkanku pergi.

Setiap kali aku keluar.

Dia selalu ada.

Di ruang makan.

Di taman.

Di perpustakaan.

Di mana-mana.

Suatu hari aku sedang mengganti lampu.

Tiba-tiba kursi yang kupijak tergelincir.

Aku memejamkan mata, bersiap jatuh.

Namun sebuah lengan kuat menangkapku.

Tubuhku terjatuh tepat ke dadanya.

Aku langsung mengenali aroma parfumnya yang dulu begitu akrab.

“Aku sudah bilang,” katanya pelan.

“Jangan melakukan hal berbahaya sendirian.”

Aku segera menjauh.

“Maaf, Tuan.”

Dia tidak menjawab.

Hanya menatapku.

Dan untuk pertama kalinya.

Aku merasa gugup.

Hingga akhirnya tiba malam yang mengubah segalanya.

Aku sedang membereskan gudang tua di belakang rumah.

Sebuah kotak jatuh dari rak paling atas.

Isinya berserakan di lantai.

Buku catatan.

Dokumen.

Dan setumpuk foto yang sangat tebal.

Aku refleks membungkuk untuk mengambilnya.

Namun saat melihat foto pertama.

Aku langsung membeku.

Itu adalah tangkapan layar percakapan kami dulu.

Aku dan dia.

Setiap pesan.

Setiap kata.

Dicetak dan disimpan dengan rapi.

Tanganku mulai gemetar ketika membuka lembar berikutnya.

Lalu berikutnya lagi.

Dan lagi.

Ratusan halaman.

Semuanya disimpannya selama empat tahun.

Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakangku.

“Apa yang sedang kau cari?”

Duniaku serasa berhenti berputar.

Perlahan aku menoleh.

Dia berdiri di ambang pintu.

Menatap kertas-kertas yang ada di tanganku.

Diam.

Terlalu diam.

Sebelum aku sempat mencari alasan, dia melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Hingga berhenti tepat di depanku.

Lalu tangannya menarik kalung yang selama ini kusembunyikan di balik seragamku.

Sebuah liontin kecil berbentuk bintang.

Hadiah yang pernah ia kirimkan kepadaku empat tahun lalu.

Dan yang diam-diam masih kusimpan hingga hari ini.

Tangannya langsung membeku.

Matanya terpaku pada liontin itu.

Kemudian perlahan ia menatap wajahku.

Suaranya serak.

“…Kamu?”

Aku merasa seluruh dunia runtuh di sekelilingku.

Karena setelah empat tahun.

Akhirnya.

Dia mengenaliku.

Dan tatapan di matanya kini bukan lagi tatapan seorang asing.

Melainkan tatapan seorang pria yang tidak pernah berhenti mencari wanita yang pernah menghilang dari hidupnya.

BAGIAN 2 (TAMAT)

Air mataku menetes tanpa bisa kutahan, membasahi tumpukan kertas tangkapan layar di pangkuanku. Keheningan di gudang tua itu terasa begitu mencekik. Aku ingin berlari, ingin menghilang seperti yang kulakukan empat tahun lalu, tetapi sepasang matanya yang mengunci pandanganku membuat kakiku terasa seberat timah.

“Tuan… aku…” Suaraku bergetar hebat, kehilangan seluruh kata-kata yang sudah kususun di dalam kepala.

Dia tidak melepaskan liontin bintang itu. Ibu jarinya yang hangat tidak sengaja menyentuh kulit leherku, membuat seluruh tubuhku meremang. Perlahan, dia menarik kacamata tebal yang bertengger di hidungku, lalu melepas ikat rambutku hingga rambut panjangku terurai bebas.

Pria itu memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa sakit yang teramat dalam. Ketika dia membuka matanya kembali, kilatan amarah dan kerinduan bercampur menjadi satu.

“Mai? Jadi itu nama aslimu?” tanyanya, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya. “Empat tahun, Alena… empat tahun aku hidup seperti orang bodoh, mempertanyakan di mana letak kesalahanku hingga wanita yang berjanji akan menemuiku tiba-tiba lenyap ditelan bumi.”

Aku tersentak saat dia menyebut nama Alena—nama samaran yang kugunakan di dunia maya dulu.

“Maafkan aku, Aris… maafkan aku,” bisikku sambil terisak, menyembunyikan wajahku di balik kedua telapak tanganku. “Aku ketakutan. Aku membohongimu tentang banyak hal. Aku bukan wanita dari keluarga biasa, keluargaku menuntutku menikah dengan pria pilihan mereka. Aku merasa kita tidak akan punya masa depan, jadi aku memilih memutus semuanya sebelum kita melangkah terlalu jauh.”

Aris tertawa, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di telingaku.

“Kau memutus semuanya secara sepihak untuk melindungiku? Atau untuk melindungi dirimu sendiri dari rasa takut?” Aris mencengkeram kedua bahuku, memaksaku untuk menatapnya. “Kau tahu apa yang kulakukan setelah kau memblokirku? Aku bekerja siang dan malam, membangun bisnis properti ini dari nol agar ketika aku menemukanmu, aku bisa menjadi pria mapan yang layak bersanding denganmu! Aku tidak peduli siapa dirimu, seberapa banyak kebohonganmu, aku hanya peduli pada perasaanmu!”

Aku menggeleng kuat-kuat, hatiku hancur melihat luka yang kutorehkan di hati pria setulus ini. “Aku tahu aku salah, Aris. Aku bodoh. Dan sekarang… aku mendapatkan balasanku. Pernikahan yang kupikir akan menyelamatkanku justru berakhir dengan pengkhianatan.”

Aris terdiam. Cengkeramannya di bahuku perlahan mengendur. Matanya menatap seragam pembantu yang kukenakan, lalu beralih ke koper kecil di sudut kamar pelayan yang terlihat dari pintu gudang.

“Jadi, kau menyamar menjadi pelayan di rumahku untuk melarikan diri dari pernikahanmu?” tanyanya, memastikan.

Aku mengangguk pelan sambil menghapus sisa air mata. “Calon suamiku berselingkuh beberapa hari sebelum pernikahan. Aku tidak punya tempat bersandar. Temanku merekomendasikan pekerjaan ini untuk merawat nenekmu. Aku bersumpah, Aris, aku tidak tahu kalau ini rumahmu. Jika aku tahu, aku tidak akan pernah berani mengusik hidupmu lagi.”

Aku mulai membereskan kertas-kertas di lantai, berniat memasukkannya kembali ke dalam kotak. “Aku akan pergi malam ini juga. Aku akan mencari pekerjaan lain agar tidak mengganggu ketenanganmu.”

Namun, sebelum aku sempat berdiri, Aris menahan pergelangan tanganku. Kekuatan di tangannya begitu tegas, menolak untuk membiarkanku melangkah pergi sekali lagi.

“Siapa yang mengizinkanmu pergi?” ucap Aris, matanya menatapku lurus-lurus.

“Aris, aku hanya seorang pembantu di sini—”

“Empat tahun lalu kau pergi tanpa penjelasanku, dan sekarang setelah kau masuk ke rumahku, kau pikir bisa pergi begitu saja?” Aris menarik tubuhku mendekat, hingga jarak di antara kami kembali mengikis. Kemarahan di wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh tatapan posesif yang begitu akrab dari masa lalu.

“Nenek sangat menyukaimu, dan gajimu sebagai pembantu rumah tangga sudah dibayar di muka untuk tiga bulan ke depan,” lanjutnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius. “Kau punya utang penjelasan yang sangat panjang padaku, Mai. Dan kau harus membayarnya setiap hari.”

Dua bulan berlalu sejak malam di gudang tua itu.

Statusku di rumah itu masih sebagai perawat nenek, tetapi segalanya telah berubah. Aris tidak lagi bersikap dingin. Setiap malam setelah nenek tertidur, dia akan membawakan segelas susu hangat ke dapur, duduk menemaniku, dan mendengarkan seluruh ceritaku tentang masa lalu, tentang ketakutanku, dan tentang betapa hancurnya aku saat dikhianati oleh mantan tunanganku.

Dia tidak pernah mendesakku, tidak pula mengambil kesempatan dari kerapuhanku. Dia hanya ada di sana, menjadi pelindung yang paling kokoh di saat duniaku sedang runtuh.

Hingga suatu sore, sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang rumah. Mantan tunanganku, bersama dengan kedua orang tuaku, turun dari mobil dengan wajah geram. Tampaknya mereka berhasil melacak keberadaanku melalui rekening bank temanku.

“Mai! Apa-apaan kamu ini?!” bentak ibuku saat melihatku keluar dengan seragam putih sederhana. “Melarikan diri dari pernikahan demi menjadi pembantu di rumah orang? Kamu memalukan keluarga!”

Mantan tunanganku maju, mencoba menarik paksa tanganku. “Mai, lupakan soal malam itu. Aku cuma khilaf. Ayo pulang, pernikahan kita harus tetap berjalan, semua kolega bisnis ayahmu sudah diundang!”

“Lepaskan dia.”

Sebuah suara bariton yang berwibawa memecah ketegangan. Aris berjalan keluar dari pintu utama. Kali ini, dia tidak memakai pakaian santai rumahannya, melainkan setelan jas formal yang biasa ia kenakan saat memimpin rapat miliaran rupiah. Aura kepemimpinannya langsung mengintimidasi semua orang di halaman.

Mantan tunanganku mengernyit. “Siapa kau? Jangan ikut campur urusan keluarga kami. Aku calon suaminya!”

Aris berjalan mendekat, lalu dengan santai merangkul pinggangku di depan orang tuaku. Ia menatap mantan tunanganku dengan pandangan penuh penghinaan.

“Aku Aris Setiawan, pemilik rumah ini, sekaligus pria yang akan menikahi Mai,” ucap Aris dengan nada tenang namun sarat akan penekanan.

“Apa?! Menikah?!” Ibuku terperangah.

“Nona Mai tidak akan pulang ke rumah kalian, dan dia jelas tidak akan menikahi pria peselingkuh ini,” lanjut Aris sambil mengeluarkan sebuah dokumen dari kantung jasnya dan melemparkannya ke atas kap mobil mereka. “Itu adalah dokumen pemutusan seluruh kontrak kerja sama antara perusahaan propertiku dengan perusahaan keluarga kalian. Anggap saja itu hadiah kecil dariku karena kalian telah menelantarkan mutiara berharga ini.”

Wajah mantan tunanganku dan ayahku seketika pucat pasi. Kontrak dengan perusahaan Aris adalah urat nadi bisnis mereka.

“Aris, tolong, kita bisa bicarakan ini—”

“Satu menit dari sekarang, jika kalian tidak pergi dari tanah milikku, aku akan meminta sekuriti menyeret kalian atas tuduhan masuk tanpa izin dan percobaan penculikan,” potong Aris dingin.

Melihat kilat keseriusan di mata Aris, mereka tidak punya pilihan lain selain masuk kembali ke dalam mobil dan pergi dengan kepanikan yang luar biasa.

Aku menengadah, menatap profil samping wajah Aris yang tegas. “Aris… kamu tidak perlu melakukan sejauh itu. Bisnismu bisa terpengaruh.”

Aris membalikkan badannya menghadapku. Ia meraih kedua tanganku, lalu mengecupnya dengan lembut. Di jari manisku, ia menyematkan sebuah cincin emas putih dengan mata berlian berbentuk bintang kecil—sangat mirip dengan liontin kalung yang kusimpan.

“Empat tahun lalu aku kehilanganmu karena aku belum cukup kuat untuk melindungimu dari tekanan keluargamu,” bisik Aris, matanya memancarkan ketulusan yang membuat hatiku menghangat. “Tapi sekarang, aku punya segalanya untuk memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa membawamu pergi dari sisiku. Jadi, Mai… maukah kamu berhenti menyamar, dan menjadi nyonya di rumah ini?”

Aku tersenyum di balik sisa air mataku, mengangguk perlahan, lalu memeluknya erat. Pelarian yang kupikir akan membawaku ke dalam kesunyian, justru menuntunku kembali ke rumah yang sesungguhnya—ke dalam pelukan pria yang tidak pernah menyerah pada takdir untuk menepati janjinya.