Posted in

Paolo meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja. Di dalamnya ada dokumen pinjaman dari BDO dan salinan izin usaha toko laundry yang diwariskan ibuku. Dengan tenang dia berkata, “Tinggal tanda tangan saja. Minggu depan acara lamaran resmi Bianca.” Namun ketika aku melihat halaman terakhir, seluruh tubuhku langsung membeku. Di sana sudah ada tanda tangan. Namaku.

Paolo meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja. Di dalamnya ada dokumen pinjaman dari BDO dan salinan izin usaha toko laundry yang diwariskan ibuku. Dengan tenang dia berkata, “Tinggal tanda tangan saja. Minggu depan acara lamaran resmi Bianca.” Namun ketika aku melihat halaman terakhir, seluruh tubuhku langsung membeku. Di sana sudah ada tanda tangan. Namaku.

**Bagian 1**

Begitu Paolo masuk ke kondominium sewaan kami di Quezon City, dia langsung menjatuhkan sebuah amplop cokelat ke atas meja.

Saat itu aku sedang merapikan seragam pelanggan dari toko laundry. Tanganku masih berbau pelembut pakaian.

Dia melepas sepatunya dan berbicara seolah hanya mengingatkanku untuk membeli telur.

“Besok mampir ke BDO. Tinggal tanda tangani konfirmasi pinjamannya.”

Tanganku langsung terhenti.

“Pinjaman apa?”

Paolo duduk dan mendorong amplop itu ke arahku.

“Hanya sekitar **Rp180 juta** saja.”

“Minggu depan acara pertemuan keluarga untuk lamaran Bianca. Keluarga calon suaminya dari Tagaytay cukup terpandang. Kita tidak boleh mempermalukan mereka.”

Aku menatapnya.

“Adikmu?”

Dia mengernyit.

“Kamu kan kakak iparnya. Kalau keluarga sedang membutuhkan bantuan besar, siapa lagi yang harus membantu?”

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya ada fotokopi izin usaha **Lucky Spin Laundry** di Pasig.

Toko laundry itu adalah peninggalan terakhir ibuku sebelum beliau meninggal dunia.

Saat berada di rumah sakit, berulang kali beliau menggenggam tanganku dan berkata:

“Mira, apa pun yang terjadi, kamu masih punya toko ini. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya darimu.”

Aku menepati janji itu.

Empat tahun aku bangun pukul lima pagi untuk membuka toko.

Aku yang memperbaiki mesin pengering yang rusak.

Aku yang memasang iklan di Facebook.

Aku yang mencatat setiap kuitansi, setiap pemasukan, dan setiap pengeluaran.

Paolo?

Bahkan satu kali gajinya pun tidak pernah kusentuh.

Setiap kali aku bertanya tentang uangnya, dia selalu berkata bahwa ibunya sakit punggung, Bianca butuh biaya kuliah, atau atap rumah keluarga mereka di Pasig harus diperbaiki.

Aku percaya.

Aku memilih diam.

Aku yang membayar sewa rumah.

Aku yang membayar listrik.

Aku bahkan yang membeli obat tekanan darah tinggi untuk ibu mertuaku.

Aku pikir pernikahan adalah kerja sama.

Malam itu aku akhirnya mengerti.

Dari awal sampai akhir, ternyata hanya aku yang memikul semuanya.

Aku meletakkan dokumen itu di atas meja.

“Jadi kamu ingin menjadikan toko laundry peninggalan ibuku sebagai jaminan untuk Bianca?”

Paolo menghela napas panjang seolah pertanyaanku sangat bodoh.

“Tidak akan hilang. Hanya jaminan sementara.”

“Setelah pernikahan selesai dan keluarga calon suaminya memberi bantuan, utangnya juga akan dibayar.”

Aku tertawa.

“Bianca memesan hotel mewah untuk pertunangannya, membeli gaun desainer, bahkan menyewa penata gaya dari Makati. Dia kekurangan uang karena ingin pamer, bukan karena kelaparan.”

Wajah Paolo langsung berubah muram.

“Cara bicaramu keterlaluan.”

“Dia adikku. Kenapa kamu menghitung setiap peso yang keluar?”

Aku menatap lurus ke arahnya.

“Bianca membeli tas seharga **Rp23 juta**. Kamu yang membayarnya dengan kartu kredit.”

“Ibumu ingin sofa baru. Kamu menyuruhku mentransfer uang.”

“Ketika kulkas kita rusak dan aku meminta kita berbagi biaya, kamu bilang tidak punya uang.”

“Tapi saat adikmu ingin uang muka kondominium di Mandaluyong sebagai hadiah pernikahan, tiba-tiba kamu teringat toko peninggalan ibuku.”

Paolo menghantam meja.

“Dia adikku!”

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu bertanya perlahan:

“Kalau aku?”

Dia tertegun.

Beberapa saat kemudian dia mengalihkan pandangan.

“Jangan berlebihan. Aku sudah bicara dengan pihak pemberi pinjaman. Dokumennya hampir selesai.”

Dadaku langsung terasa sesak.

“Hampir selesai?”

Dia tidak menjawab.

Aku buru-buru membalik halaman demi halaman dalam amplop itu.

Ketika sampai di halaman terakhir, darahku seakan membeku.

Di kolom tanda tangan pemilik usaha sudah ada sebuah tanda tangan.

Namaku.

**Mira Santos.**

Goresannya sedikit miring, tetapi cukup mirip untuk menipu orang lain.

Di bawah tanda tangan itu bahkan ada hasil pindai kartu identitasku.

Aku langsung menatap Paolo.

“Paolo.”

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

Dia berdiri. Kesabarannya sudah habis.

“Aku melakukan ini demi keluarga.”

“Kamu tinggal tanda tangan lagi supaya prosesnya bersih.”

Tanganku gemetar saat memegang dokumen itu.

“Dari mana kamu mendapatkan kartu identitasku?”

“Dari laci.”

“Dan tanda tangannya?”

Bibirnya sedikit terbuka.

“Waktu kamu menandatangani kontrak internet, aku memotretnya.”

Aku menatap pria yang sudah empat tahun tidur di sampingku.

Untuk pertama kalinya, dia terasa seperti orang asing.

Aku belum sempat berkata apa-apa ketika ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

Suara seorang staf bank terdengar di seberang sana.

“Selamat malam, Ibu Mira Santos. Kami menghubungi Anda untuk mengonfirmasi pinjaman usaha sebesar **Rp180 juta** yang saat ini berada dalam tahap persetujuan awal. Penjamin bersama adalah Bapak Paolo Reyes, dan penerima manfaat yang tercatat adalah Ibu Bianca Reyes. Apakah Anda menyetujui pencairan dana tersebut?”

Rumah langsung sunyi.

Aku menatap Paolo.

Wajahnya pucat.

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Tunggu sebentar.”

“Siapa yang Anda katakan sebagai penerima manfaat?”

Bagian 2 (Selesai)

Staf bank di seberang telepon mengulangi dengan suara ramah namun formal.

“Penerima manfaat langsung yang tercatat dalam sistem kami adalah Ibu Bianca Reyes, Ibu Mira. Rekening tujuannya adalah rekening pribadi beliau di bank yang sama. Apakah data ini sudah sesuai dan Anda menyetujui pencairan dana besok pagi?”

Paolo menatapku dengan mata memohon, mengatupkan kedua tangannya di depan dada seolah meminta belas kasihan. Dia memberikan isyarat bibir: “Katakan ya, Mira. Tolong, katakan ya.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh rasa sakit yang mengiris hatiku, lalu menjawab dengan suara yang sangat jernih dan tegas.

“Tidak. Saya tidak pernah mengajukan pinjaman tersebut. Seseorang telah memalsukan tanda tangan saya dan mencuri data identitas saya untuk jaminan usaha Lucky Spin Laundry. Tolong batalkan pengajuan ini sekarang juga dan catat sebagai indikasi penipuan berat.”

“M-Mira?!” Paolo memekik panik.

“Baik, Ibu Mira,” suara staf bank langsung berubah serius dan profesional. “Kami akan segera membatalkan pengajuan ini dan membekukan berkasnya. Sesuai prosedur keamanan kami, rekaman panggilan ini akan disimpan sebagai bukti otentik bahwa pemilik sah menolak transaksi.”

“Terima kasih,” kataku lalu menutup telepon.

BRAK!

Paolo menendang kursi makan hingga terjungkal. Wajahnya merah padam, dipenuhi kemarahan yang meledak-ledak.

“Kamu gila, Mira! Kamu menghancurkan pernikahan Bianca! Minggu depan pertemuannya! Uang mukanya harus masuk besok atau gedung dan kateringnya akan dibatalkan! Kenapa kamu begitu tega pada keluargaku?!”

Aku menatapnya dengan pandangan paling dingin yang pernah kuberikan selama empat tahun pernikahan kami.

“Keluargamu?” tanyaku pelan, namun tajam. “Kamu memalsukan tanda tanganku, Paolo. Kamu menjaminkan keringat dan air mata ibuku demi gengsi adikmu yang tidak tahu diri. Dan kamu masih berani bertanya kenapa aku tega?”

“Aku suamimu! Hakku untuk menggunakan asetmu demi kebaikan kita!” teriaknya pongah, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai kepala keluarga yang semu.

Aku tidak membalas teriakannya. Aku mengambil dokumen dari dalam amplop cokelat itu, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam tas kerjaku. Aku juga mengambil paspor, surat kepemilikan toko laundry yang asli, dan akta nikah kami dari dalam laci rahasia yang kuncinya selalu kubawa.

“Mau ke mana kamu?!” Paolo menghadang pintu depan.

“Minggir, Paolo.”

“Tidak! Selesaikan ini sekarang! Kamu harus menelepon bank itu lagi dan bilang kamu salah bicara!”

Aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi WhatsApp, lalu memutar sebuah rekaman suara yang baru saja dikirimkan oleh sistem keamanan toko laundry-ku di Pasig. Suara Paolo terdengar jelas sedang membongkar laci mejaku di toko minggu lalu, bergumam mencari kartu identitasku.

“Aku sudah merekam semuanya. Pemalsuan dokumen, pencurian identitas, dan percobaan penipuan perbankan. Jika kamu tidak menyingkir dari pintu itu dalam tiga detik, rekaman ini, berkas pinjaman BDO, dan rekaman telepon dari bank tadi akan langsung berada di meja penyidik Kepolisian Quezon City,” ancamku tanpa keraguan sedikit pun.

Melihat kilat keseriusan di mataku, nyali Paolo mendadak ciut. Tangannya yang menghadang pintu perlahan turun. Dia tahu, sebagai pemilik usaha yang legal, aku memiliki kekuatan hukum penuh untuk menjebloskannya ke penjara.

Aku membuka pintu kondominium, melangkah keluar ke lorong yang dingin, lalu berbalik untuk menatapnya terakhir kali.

“Kontrak sewa kondominium ini habis akhir bulan ini, dan aku tidak akan memperpanjangnya. Silakan pikirkan bagaimana cara membayar sewanya sendirian, termasuk bagaimana caramu menjelaskan pada ibumu dan Bianca bahwa pesta mewah mereka resmi batal.”

Satu minggu kemudian.

Restoran mewah di Tagaytay itu tampak sangat anggun dengan dekorasi bunga putih dan kaca yang menghadap langsung ke Danau Taal. Keluarga besar Reyes duduk dengan pakaian terbaik mereka, menunggu kedatangan keluarga calon suami Bianca yang terpandang.

Namun, alih-alih suasana bahagia, meja itu dipenuhi ketegangan yang pekat. Bianca terus menangis hingga maskaranya luntur karena pihak hotel baru saja menelepon bahwa pesanan aula pernikahan mereka dibatalkan akibat uang muka yang belum dibayar. Ibu mertuaku terus-menerus memaki Paolo yang hanya bisa menunduk pasrah dengan wajah pucat.

Tepat saat itu, seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas hitam mendatangi meja mereka.

“Permisi, apakah ini keluarga Bapak Paolo Reyes dan Ibu Bianca Reyes?” tanya pria itu sopan.

Ibu mertuaku langsung berdiri dengan binar harapan. “Ya! Apakah Anda perwakilan dari bank? Uang pinjamannya sudah cair?”

Pria itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan dua buah amplop putih tebal dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Paolo dan Bianca.

“Saya adalah utusan dari firma hukum Santos & Associates, mewakili Ibu Mira Santos. Ini adalah surat gugatan cerai atas dasar penipuan dan pelanggaran hukum berat, serta surat tuntutan ganti rugi materil atas seluruh uang milik Ibu Mira yang telah Anda salah gunakan selama empat tahun terakhir.”

Pria itu menoleh ke arah Bianca yang terpaku. “Dan untuk Ibu Bianca, ini adalah surat somasi pengembalian barang-barang mewah yang dibeli menggunakan kartu kredit atas nama usaha Lucky Spin Laundry. Jika dalam 3×24 jam barang-barang tersebut tidak dikembalikan atau dilunasi, kami akan melanjutkan laporan pidana atas tuduhan penampungan barang hasil kejahatan.”

“A-Apa?!” Ibu mertuaku berteriak histeris, sementara calon mertua Bianca yang baru saja tiba di pintu restoran langsung menghentikan langkah mereka dengan wajah syok mendengar keributan tersebut.

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, di toko Lucky Spin Laundry Pasig, aku sedang duduk di meja kasir sambil memandangi mesin-mesin cuci yang berputar dengan tenang. Aroma pelembut pakaian ibuku menguar di udara, terasa begitu akrab dan menenangkan.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari pengacaraku masuk: “Surat sudah disampaikan. Mereka tidak punya pilihan selain mematuhi syarat kita jika tidak ingin Paolo memakai baju tahanan minggu depan.”

Aku tersenyum, menutup ponsel itu, dan menyandarkan punggungku ke kursi. Ibuku benar. Toko ini adalah pelindungku. Dan sekarang, setelah membuang parasit yang hampir menghancurkannya, aku siap memutar roda hidupku kembali, jauh lebih bersih dan jauh lebih kuat.