Posted in

Judul: Saat Suamiku Sedang Mandi, Aku Mengirim Pesan kepada Ibu Mertuaku untuk Meminjam Rp8 Juta. Tapi Dia Mengirim Rp140 Juta, dan Sebuah Rahasia Membuat Duniaku Berhenti Berputar*

*Judul: Saat Suamiku Sedang Mandi, Aku Mengirim Pesan kepada Ibu Mertuaku untuk Meminjam Rp8 Juta. Tapi Dia Mengirim Rp140 Juta, dan Sebuah Rahasia Membuat Duniaku Berhenti Berputar**

## Bagian 1: Pesan yang Kukirim Saat Air Masih Mengalir dari Kamar Mandi

Sudah tiga tahun aku menikah, tetapi aku selalu merasa bahwa ibu mertuaku tidak pernah benar-benar menyukaiku.

Bu Ratna tinggal di Surabaya, sedangkan aku dan suamiku, **Dimas Pratama**, tinggal di sebuah apartemen kecil di Jakarta Selatan.

Setiap kali kami bertemu, beliau selalu sopan.

Terlalu sopan.

Hampir terasa dingin.

Beliau tidak pernah memelukku.

Tidak banyak bertanya.

Tidak pernah menelepon hanya untuk mengobrol seperti ibu mertua kebanyakan.

Biasanya, kalimat-kalimatnya sangat singkat.

— Sudah makan?

— Hati-hati di jalan.

— Kalau capek, tidur lebih awal.

Hanya itu.

Namaku **Alya**.

Aku dibesarkan di keluarga sederhana di daerah Bekasi.

Ayahku meninggal ketika aku masih kecil, dan ibuku berjualan nasi uduk di depan sebuah sekolah dasar.

Ketika menikah dengan Dimas, aku tidak membawa harta, tidak punya rumah sendiri, dan tidak berasal dari keluarga terpandang.

Dimas mengatakan bahwa ia hanyalah seorang manajer gudang di perusahaan alat kesehatan.

Gajinya sekitar Rp12 juta per bulan.

Tidak kecil.

Tetapi juga tidak cukup untuk hidup mewah di Jakarta.

Ia memiliki mobil tua yang masih dicicil.

Setiap pagi, ia sendiri yang mengendarainya ke kantor.

Setiap malam, ia masih sempat mampir ke pasar membeli ikan, sayuran, dan beras sesuai anggaran kami.

Dulu aku berpikir hidup seperti itu sudah cukup.

Tidak kaya.

Tapi tenang.

Namun, justru dari ketenangan itulah luka kecil di hatiku mulai tumbuh.

Karena setiap kali ada acara keluarga, kakak iparku, **Maya**, selalu punya cara untuk membanggakan ibu mertuanya.

Malam itu, Maya mengirim foto ke grup keluarga.

Sebuah SUV putih baru.

Lengkap dengan tulisan:

*”Hadiah dari ibu mertuaku. Katanya, yang penting kami aman saat bepergian.”*

Ucapan selamat langsung membanjiri grup.

Bahkan ibuku ikut menulis.

*”Beruntung sekali kalau disayang ibu mertua.”*

Aku memandangi kalimat itu lama.

Lalu Maya menandai namaku.

*”Alya, bagaimana denganmu? Ibu mertuamu di Surabaya pasti juga sangat sayang, kan? Kalian sudah tiga tahun menikah. Apa hadiah terbesar yang pernah beliau berikan?”*

Aku memegang ponsel, tetapi tenggorokanku terasa tercekat.

Hadiah?

Setiap Lebaran, Bu Ratna selalu mengirim tepat Rp2 juta.

Setiap ulang tahunku pun begitu.

Tidak kurang.

Tidak lebih.

Seolah beliau hanya menjalankan kewajiban.

Aku memang bukan orang yang matre.

Tetapi perasaan dibanding-bandingkan, seolah aku hanyalah menantu yang tidak dianggap, sungguh menyakitkan.

Malam itu, Dimas sedang mandi.

Suara air mengalir deras dari kamar mandi.

Bahkan ia masih bernyanyi lagu lama dengan nada yang berantakan.

Ponselnya ada di atas meja.

Tanpa kata sandi.

Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tetapi aku mengambil ponsel itu dan membuka percakapannya dengan ibunya.

Pesan terakhir dari Bu Ratna hanya singkat.

*”Belikan obat lambung untuk Alya.”*

Dan Dimas menjawab:

*”Sudah, Bu.”*

Aku sempat terdiam.

Tetapi rasa kecewa di dadaku lebih besar.

Maka aku mengetik pesan.

*”Bu, kami sedang agak kesulitan bulan ini. Bolehkah saya meminjam Rp8 juta? Saya akan mengembalikannya akhir bulan.”*

Aku menatap layar.

Terbaca.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tiba-tiba ponsel itu bergetar.

Notifikasi transfer masuk.

**Rp140 juta.**

Aku pikir aku salah melihat.

Aku bahkan mengucek mata.

Tetapi angkanya tetap sama.

Rp140 juta.

Lalu sebuah pesan baru muncul dari Bu Ratna.

*”Nak, kenapa baru sekarang bilang kepada Ibu?”*

*”Pakai dulu uang itu. Kalau masih kurang, bilang saja.”*

*”Toko roti di Bandung dan tabungan senilai Rp3,5 miliar sudah atas nama Alya sejak tahun lalu. Jangan biarkan anak itu hidup terlalu hemat sampai membuat Ibu kasihan melihatnya.”*

Aku terpaku di sofa.

Suara air dari kamar mandi masih terus mengalir.

Tetapi pikiranku tiba-tiba kosong.

**Toko roti apa?**

**Tabungan Rp3,5 miliar?**

**Dan kenapa semuanya atas namaku?**

Bagian 2: Kebenaran di Balik Dinding Kamar Mandi

Ponsel di tanganku terasa mendingin, seolah seluruh energiku tersedot oleh angka-angka yang berkedip di layar. Otakku berputar keras, mencoba menyatukan kepingan teka-teki yang sama sekali tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin seorang manajer gudang berwajah lelah yang setiap malam menghitung uang kembalian dari pasar adalah anak dari seorang wanita yang bisa mentransfer Rp140 juta dalam hitungan detik? Dan yang lebih gila lagi, kenapa ada aset miliaran rupiah yang terdaftar atas namaku—gadis Bekasi anak penjual nasi uduk—tanpa aku pernah menandatangani satu berkas pun?

Klik.

Suara pintu kamar mandi terbuka memecah keheningan. Dimas keluar dengan rambut basah yang acak-acakan, handuk melilit lehernya, dan senyuman khasnya yang selalu berhasil membuatku tenang setelah seharian bekerja.

“Wah, wangi minyak telonnya kecium sampai dalam, Sayang. Kamu sudah minum obat lambungmu?” tanya Dimas santai sambil berjalan menuju lemari pakaian.

Aku tidak menjawab. Tanganku yang gemetar meletakkan ponselnya di atas meja dengan ketukan yang cukup keras.

Dimas berbalik, alisnya bertaut melihat mataku yang sudah berkaca-kaca. “Alya? Kamu kenapa? Ada masalah di kantor?”

“Dimas,” suaraku bergetar, hampir berupa bisikan. “Siapa Bu Ratna sebenarnya? Dan siapa… kamu yang sebenarnya?”

Langkah Dimas terhenti. Matanya turun melihat ponselnya yang masih menyala, menampilkan ruang obrolan WhatsApp dengan ibunya beserta notifikasi mutasi rekening bank. Dalam sekejap, ekspresi santai di wajah suamiku runtuh. Ia menelan ludah, bahunya mendadak tegang.

“Kamu… memegang ponselku?” tanyanya pelan.

“Aku meminjam uang Rp8 juta kepada ibumu lewat ponselmu,” aku berdiri, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah. “Karena aku lelah dibanding-bandingkan oleh Maya! Aku lelah dianggap menantu buangan! Tapi istrimu yang bodoh ini malah dikirimi Rp140 juta. Dan ibumu bilang… aku punya toko roti di Bandung dan tabungan Rp3,5 miliar?!”

Dimas memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seolah ia baru saja melepaskan topeng berat yang dipakainya selama tiga tahun ini.

Ia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur, menunduk dalam-dalam.

“Maaf, Alya. Maafkan aku,” ucapnya dengan nada suara yang sangat rendah, penuh penyesalan. “Aku tidak bermaksud menipumu. Aku hanya… ingin melindungi kita.”

“Melindungi dari apa, Dimas? Hidup berkecukupan?!”

Dimas mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang ikut berkaca-kaca. “Ibuku bukan sekadar pensiunan di Surabaya, Al. Beliau adalah pendiri dan pemilik tunggal Ratama Bakery & Confectionery, jaringan toko kue terbesar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dan aku… aku bukan manajer gudang. Aku adalah pewaris tunggalnya.”

Aku terperangah. Ratama Bakery. Aku tahu merek itu. Toko kue legendaris yang cabangnya ada di mana-mana.

“Lalu kenapa kita hidup seperti ini?” tanyaku, memandang sekeliling apartemen tipe studio kami yang sempit. “Kenapa kamu harus pura-pura mencicil mobil tua yang sering mogok itu?”

“Karena sebelum bertemu denganmu, aku hampir menghancurkan hidupku sendiri,” jawab Dimas getir. “Lima tahun lalu, aku bertunangan dengan seorang wanita dari kalangan sosialita. Aku memanjakannya dengan semua kemewahan milik keluargaku. Tapi saat perusahaan Ibu mengalami krisis hebat karena masalah internal, wanita itu pergi membawa sisa aset yang bisa dia ambil, bahkan berselingkuh dengan mantan rekan bisnisku. Aku hancur, Alya. Aku sadar, semua orang di sekelilingku hanya mencintai uang dan namaku.”

Dimas berdiri, melangkah mendekat dan menggenggam kedua tanganku yang dingin.

“Aku memutuskan pergi ke Jakarta, melepaskan semua fasilitas Ibu, dan bekerja dari bawah menggunakan nama belakang yang berbeda. Aku bersumpah tidak akan pernah menceritakan kekayaan keluargaku kepada wanita mana pun, sampai aku menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku apa adanya.”

“Dan orang itu adalah aku,” bisikku, mulai memahami segalanya.

“Iya. Kamu wanita yang menemaniku makan mie instan di akhir bulan. Kamu yang ikut mendorong mobil tuaku saat mogok di tol penuh asap. Kamu tidak pernah mengeluh meski cincin pernikahan kita hanya perak murah,” mata Dimas memancarkan ketulusan yang murni. “Aku sangat mencintaimu, Alya. Justru karena aku sangat mencintaimu, aku takut. Aku takut jika kamu tahu tentang uang itu, ketulusan di antara kita akan berubah. Aku terlalu trauma.”

“Lalu kenapa ibuku bersikap begitu dingin padaku?” tanyaku lagi, teringat sikap kaku Bu Ratna setiap kali berkunjung.

Dimas terkekeh kecil di sela air matanya. “Ibu tidak dingin, Al. Ibu itu sangat menyukaimu sejak hari pertama! Tapi Ibu adalah orang yang paling tidak bisa berbohong. Dia takut kalau dia terlalu dekat dan memelukmu, dia akan keceplosan membongkar rahasia ini. Sifat kaku itu hanya aktingnya demi mendukung rencanaku.”

Dimas mengambil ponselnya, lalu membuka sebuah dokumen legal yang dikirim oleh pengacara keluarganya tahun lalu.

“Ibu sangat kasihan melihatmu bekerja keras sampai lambungmu sering kambuh. Jadi, tanpa sepengetahuanku awalnya, Ibu membeli toko roti besar di Bandung dan membuka akun rekening atas namamu menggunakan data kartu keluarga kita. Ibu bilang: ‘Kalau Dimas macam-macam atau bangkrut lagi, Alya tidak boleh sengsara. Dia harus punya jaminan hidupnya sendiri.’ Uang Rp2 juta setiap Lebaran dan ulang tahun itu? Itu hanya formalitas di depan umum agar kerabat lain tidak curiga.”

Aku menatap layar ponsel itu. Nama lengkapku tertulis di sana sebagai pemilik mutlak aset senilai miliaran rupiah. Ibu mertua yang selama ini kukira membenciku karena status sosialku, ternyata diam-diam telah mengamankan masa depanku dengan cara yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh ibu kandungku sendiri. Beliau melindungiku dari balik layar, menjagaku agar tetap mandiri tanpa memanjakanku secara berlebihan.

Tepat saat itu, ponsel Dimas kembali bergetar. Sebuah panggilan video masuk dari Bu Ratna.

Dimas menggeser tombol hijau, dan wajah anggun Bu Ratna muncul di layar. Di latar belakangnya, terlihat ruang tamu rumah megahnya di Surabaya, bukan rumah kecil yang biasa ia pamerkan di foto keluarga besar.

“Alya… menantu Ibu,” suara Bu Ratna terdengar sangat lembut, jauh dari kesan kaku yang biasanya ia tunjukkan. “Kamu sudah membaca pesannya, Nak?”

“Ibu…” suaraku tercekat, air mataku mengalir lagi. “Kenapa Ibu repot-repot melakukan semua ini untukku?”

Bu Ratna tersenyum hangat, matanya berbinar penuh kasih sayang. “Karena kamu adalah satu-satunya wanita yang memperlakukan anakku seperti manusia, bukan seperti dompet berjalan. Maafkan Ibu kalau selama tiga tahun ini harus pura-pura cuek ya, Nak. Ibu tersiksa sekali tidak bisa membelikanmu baju-baju bagus setiap kita bertemu.”

Beliau menghela napas lega, seolah sebuah beban besar juga baru saja terangkat dari pundaknya.

“Sekarang rahasianya sudah terbongkar. Dimas, cepat kemasi barang-barang kalian. Minggu ini bawa Alya dan ibunya ke Surabaya. Ibu sudah memesankan tiket pesawat tim utama untuk kalian. Kita harus merayakan ini, dan Ibu ingin memeluk menantu Ibu tanpa perlu pura-pura lagi.”

“Baik, Bu,” jawab Dimas sambil tersenyum lebar, menatapku dengan tatapan penuh kelegaaan.

Malam itu, di apartemen kecil kami di Jakarta Selatan, duniaku memang sempat berhenti berputar karena kejutan yang luar biasa. Namun saat roda kehidupan itu berputar kembali, aku tahu aku tidak perlu lagi merasa kecil di hadapan Maya atau siapa pun.

Bukan karena aku mendadak menjadi wanita kaya raya, melainkan karena aku tahu, di dunia yang penuh kepalsuan ini, aku telah mendapatkan dua hal yang paling mewah dan langka: cinta tulus dari seorang suami yang rela hidup sederhana bersamaku, dan kasih sayang tak bersyarat dari seorang ibu mertua yang meratratiku layaknya putri kandungnya sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.