Posted in

Karena aku sudah bosan dengan kencan buta yang terus berulang, aku bercanda saja bilang bahwa aku akan menikahi anak pemilik kos kami.

Karena aku sudah bosan dengan kencan buta yang terus berulang, aku bercanda saja bilang bahwa aku akan menikahi anak pemilik kos kami.

Baru sepuluh menit berlalu, aku sudah duduk di mobil seorang pria dengan aura sedingin CEO di drama.
Tapi pesan yang dia terima di lift… justru itu yang benar-benar membuat seluruh tubuhku membeku.

Aku sudah dua bulan dipaksa ikut kencan buta oleh Aling Rosa—pemilik tempat kos tempat aku tinggal.

Tidak kurang dari dua pria setiap minggu.

Manajer bank yang sombong.
Pria yang baru bertanya apakah aku mengirim uang ke kampung halaman.
Bahkan ada yang membawa kakaknya untuk “membantu memilih” calon pacar.

Sampai-sampai setiap kali mendengar suara sandal Aling Rosa di lorong, aku ingin mematikan lampu dan berpura-pura tidak ada di kamar.

Malam itu, aku baru pulang kerja setelah hampir 12 jam berdiri di mall.

Begitu membuka pintu kamar, aku langsung jatuh ke kursi monoblock tua.

Tapi belum lima menit—

Tok. Tok. Tok.

“Isabel, buka pintunya.”

Aku memejamkan mata.

Sudah selesai.

Kencan buta lagi.

Begitu aku membuka pintu, benar saja Aling Rosa berdiri di sana membawa bubur hangat.

Bahkan masih tersenyum.

“Besok kamu kosong? Aku punya kenalan engineer kapal laut, gajinya besar.”

Aku akhirnya meledak.

“Aling Rosa!”

Aku memegang kepalaku.

“Kalau memang mau menjodohkan saya, sekalian saja nikahkan saya dengan anak Ibu!”

Tiba-tiba suasana jadi hening.

Senyumnya hilang.

Dia menatapku lurus.

Tiga detik kemudian…

Dia berlari ke kamarnya.

Aku terpaku.

Tak lama kemudian terdengar suara laci dibuka dan ditutup.

Lalu dia kembali membawa amplop tebal.

“Ayo!”

“H-Hah?”

“Kita temui anakku!”

Mataku membesar.

“Aling Rosa… itu cuma bercanda…”

“Aku sudah lama menunggumu!”

Dia langsung menarik lenganku seperti takut aku kabur.

Aku hampir diseret turun dari kos tua itu.

Tapi begitu keluar gang—

Aku langsung berhenti.

Ada SUV mewah hitam terparkir di bawah lampu jalan.

Mobilnya sangat mulus, tidak cocok sama sekali dengan lingkungan kami.

Pelan-pelan pintu terbuka.

Seorang pria turun.

Lengan kemeja hitamnya dilipat.
Tinggi.
Wajahnya dingin.
Tipe orang yang hanya dengan satu tatapan membuatmu tidak berani mendekat.

Begitu dia keluar, suasana sekitar seperti langsung diam.

Aku belum sempat bereaksi saat Aling Rosa menunjukku.

“Itu dia!”

Pria itu menatapku.

Tatapannya dalam.

Dingin.

Seperti orang yang sudah terbiasa berada di puncak dunia.

“Dia?” suaranya rendah.

Aling Rosa mengangguk cepat.

“Kalau kamu masih menolak, semua resor milikmu akan aku jual dan aku donasikan!”

Aku hampir tersedak.

Resor?

Aku menoleh ke Aling Rosa.

Pemilik kos yang setiap bulan menagih uang sewa dan listrik…

punya anak pemilik resort?

Pria itu diam beberapa detik.

Lalu dia mendekatiku.

Sangat dekat sampai aku bisa mencium parfum dinginnya.

“Nama kamu?”

“… Isabel.”

“Aku Rafael.”

“Ah… aku sudah tahu…”

“Tidak.” Dia menatap mataku langsung. “Maksudku, mulai sekarang, ingat baik-baik namaku.”

Dadaku berdebar keras.

Aku tidak mengerti kenapa.

Di belakang kami, Aling Rosa hampir menangis bahagia.

“Ayo! Kalian bicara di mobil!”

Aku belum sempat bereaksi sudah didorong masuk.

Aku duduk di samping Rafael di kursi belakang.

Mobilnya sangat luas.

Sementara aku hampir tidak bisa bernapas karena gugup.

Dia… tenang saja.

Sibuk dengan tablet membaca dokumen bahasa Inggris.

Aku meliriknya diam-diam.

Hidungnya tegas.
Rahangnya kuat.
Bibirnya tipis.

Tampan.

Tapi auranya terlalu jauh.

Seperti orang yang lahir di dunia yang tidak akan pernah bisa aku sentuh.

Perjalanan sekitar 40 menit.

Sampai kami berhenti di depan sebuah apartemen mewah di tepi laut.

Aku terpaku melihat para satpam membungkuk saat gerbang dibuka.

Rafael turun lebih dulu.

Aku tidak bisa bergerak.

“Kenapa kita di sini?”

“Pulang.”

“… Rumah siapa?”

“Rumahku.”

Aku menatap gedung tinggi itu.

Kakiku lemas.

“Kamu tinggal di sini?”

“Mm.”

“Lalu Aling Rosa?”

“Dia punya tiga unit di sini.”

Otakku seperti berhenti.

Tiga?

Pemilik kos yang setiap hari pakai daster dan sandal…

punya tiga unit apartemen mewah di tepi laut?

Rafael menekan tombol lift privat.

Tapi saat pintu terbuka, ponselnya bergetar.

Dia melihat layar.

Dan ekspresinya langsung berubah.

Tanpa sengaja aku melihat pesan pertama.

【Hasil tes terbaru dari rumah sakit sudah keluar.】

Lalu pesan berikutnya.

【Tumor otak Ibu semakin parah.】

Sebelum aku sempat bereaksi, dia mematikan layar.

Tapi saat itu—

Aku melihat tangannya sedikit bergetar.

Sangat kecil.

Tapi nyata.

Lift terbuka.

Dia berdiri di bawah cahaya kuning, punggungnya tetap tegak.

Tapi suaranya lebih berat.

“Isabel.”

“… Ya?”

“Kalau kamu mau mundur, sekarang masih sempat.”

Aku menatapnya bingung.

Dan tepat saat itu—

Pintu apartemen di depan kami tiba-tiba terbuka.

Seorang wanita sekitar 50-an tahun berlari sambil menangis.

“Pak Rafael… Ibu pingsan lagi!”

Wajah Rafael langsung berubah.

Dia berlari masuk.

Dan aku…

Tertinggal berdiri di lorong mewah itu seperti kehilangan arah.

Sampai sebelum pintu benar-benar tertutup—

Aku melihat ke dalam ruang tamu.

Ada foto pernikahan.

Di dalamnya, seorang pria bersetelan jas yang hampir sama persis dengan Rafael.

Seperti kembar.

Tapi di bawah bingkai…

Ada altar kecil.

Dan pria di foto memorial itu—

Adalah suami Aling Rosa.

Aku terpaku di ambang pintu. Jantungku berhantam dada begitu keras hingga telingaku berdenging.

Pria di foto itu… adalah suami Aling Rosa yang sudah meninggal. Dan wajahnya benar-benar mirip dengan Rafael. Pintu apartemen yang terbuka lebar memperlihatkan kepanikan di dalam. Langkah kaki para pelayan terdengar terburu-buru, dan suara berat Rafael yang terdengar cemas memanggil ibunya memecah keheningan lorong mewah itu.

“Isabel! Masuk, Nak!”

Suara lemah itu mengejutkanku. Bukan Rafael, melainkan Aling Rosa yang baru saja sadar dari pingsannya di atas sofa beludru besar. Wajahnya yang biasa segar dan galak saat menagih uang kos, kini pucat pasi tanpa riasan.

Rafael berlutut di samping ibunya, menggenggam tangan wanita itu. Guratan frustrasi dan kesedihan yang mendalam meruntuhkan aura CEO dingin yang ia tunjukkan di mobil tadi. Di sinilah aku melihat sisi rapuhnya. Pria ini tidak sedang mencari istri; dia sedang berpacu dengan waktu demi kebahagiaan terakhir ibunya.

Aku melangkah masuk dengan ragu, mendekati mereka. Begitu melihatku, mata Aling Rosa berbinar samar.

“Kamu tidak bohong kan, Isabel? Kamu mau menikah dengan anakku?” bisik Aling Rosa, suaranya parau. “Aku… aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku hanya ingin melihat Rafael memiliki seseorang yang tulus bersamanya sebelum aku pergi menyusul ayahnya.”

Aku menatap Aling Rosa, lalu beralih pada Rafael. Pria itu mendongak, menatapku lurus. Tidak ada lagi tatapan mengintimidasi. Yang ada hanyalah sorot mata memohon yang disembunyikan di balik ketegaran seorang anak laki-laki. Tangan Rafael yang tadi bergetar kini terkepal kuat di sisi celananya.

Semua kencan buta konyol itu, sikap hematnya yang ekstrem sampai memakai daster robek di kosan tua… itu semua adalah cara Aling Rosa mencari wanita yang mau hidup sederhana, bukan wanita yang mengincar harta warisan putranya yang melimpah. Dan candaan asalku di kamar kos tadi, ternyata adalah jawaban dari doa-doa malamnya.

Aku menarik napas panjang. Pilihan ada di tanganku. Aku bisa berbalik, keluar dari apartemen ini, dan kembali ke kehidupan mall-ku yang melelahkan namun aman. Atau, aku bisa melangkah masuk ke dalam takdir tak terduga ini.

Aku berjalan mendekat, lalu berlutut di sisi lain sofa, menggenggam tangan Aling Rosa yang terasa dingin.

“Saya tidak bohong, Aling Rosa,” kataku tegas, meski suaraku sedikit bergetar. “Saya akan menikah dengan Rafael.”

Aling Rosa tersenyum lega, air matanya menetes, sebelum akhirnya beliau tertidur kembali karena pengaruh obat.

Suasana ruangan menjadi hening. Rafael berdiri, merapikan selimut ibunya, lalu memberi isyarat padaku untuk mengikutinya ke balkon yang menghadap langsung ke hamparan laut malam. Angin laut yang dingin menerpa wajahku, menerbangkan rasa lelah setelah 12 jam berdiri di mall.

Rafael berdiri di sampingku, menumpu kedua tangannya di pembatas balkon.

“Kamu tahu apa artinya ini, Isabel?” tanyanya tanpa menoleh. “Ini bukan pernikahan drama yang indah. Ibu sakit keras. Aku butuh pernikahan secepatnya, dan aku tidak punya waktu untuk romansa.”

“Aku tahu,” jawabku tenang, menatap lurus ke lampu-lampu kapal di kejauhan. “Aku juga tidak butuh romansa instan. Aku hanya ingin berhenti dari kencan buta, dan sepertinya… ibumu benar-benar membutuhkan ini.”

Rafael terdiam cukup lama. Perlahan, dia menoleh ke arahku. Semburat senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya yang kaku.

“Terima kasih,” suaranya melembut, kehilangan seluruh keangkuhannya. Dia mengulurkan tangan kanannya. “Kontrak atau bukan, mulai hari ini, mari kita lalui ini bersama.”

Aku menyambut uluran tangannya. Genggamannya hangat dan kokoh.

Malam itu, hidupku berubah total. Aku datang ke tempat ini sebagai seorang anak kos yang frustrasi, namun aku akan pulang sebagai calon istri dari anak pemilik kosku sendiri. Sebuah akhir dari pelarianku, dan awal dari cerita baru yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.