Posted in

“SEORANG MILITER PULANG KE RUMAHNYA DI BASE MILITER QUEZON CITY DAN MENEMUKAN ANAKNYA SUDAH MENINGGAL… SEMENTARA ISTRINYA ADA DI ULANG TAHUN ANAK WANITA YANG PERNAH DIA CINTAI. TUJUH HARI KEMUDIAN, ISTRINYA PERGI… DAN DIA MULAI GILA MENCARI KEHILANGANNYA.”

“SEORANG MILITER PULANG KE RUMAHNYA DI BASE MILITER QUEZON CITY DAN MENEMUKAN ANAKNYA SUDAH MENINGGAL… SEMENTARA ISTRINYA ADA DI ULANG TAHUN ANAK WANITA YANG PERNAH DIA CINTAI. TUJUH HARI KEMUDIAN, ISTRINYA PERGI… DAN DIA MULAI GILA MENCARI KEHILANGANNYA.”

**Bagian 1**

Setelah Miggy meninggal, hanya tiga hal yang kulakukan.

Pada hari pertama, aku menulis surat perceraian kami dan memasukkannya ke dalam folder dokumen keluarga—folder yang bahkan tidak pernah dibuka dengan benar oleh Arman.

Pada hari ketiga, aku berhenti dari pekerjaan kecilku di toko jahit dekat perumahan militer dan mengembalikan kunci kiosku.

Pada hari ketujuh, aku memeluk abu kecil anakku, menyeret koper lamaku, dan naik bus malam dari Cubao menuju Iloilo.

Sejak bus itu bergerak keluar terminal, aku dan Arman Dela Cruz bukan lagi suami istri.

Dia adalah perwira yang dihormati di unitnya, pria yang selalu berkata bahwa tentara harus mengutamakan tugas di atas kehidupan pribadi.

Tapi malam saat anaknya sendiri terbakar demam tinggi, dia mematikan teleponnya untuk meniup lilin ulang tahun Mica—anak Clarisse, wanita yang dulu ia cintai sebelum aku.

Miggy terbaring di ruang gawat darurat rumah sakit militer di Quezon City malam itu. Tubuhnya panas seperti api.

Usianya baru delapan tahun, tapi dia sudah terlalu dewasa untuk usianya sendiri.

Dia menggenggam tanganku. Bibirnya kering, suaranya gemetar.

—Ma, Papa belum datang?

Aku menggigit bibir agar tidak menangis di depannya.

—Papa sedang dalam perjalanan, Nak. Sebentar lagi sampai.

Miggy menggeleng pelan.

—Kalau Papa sibuk di kamp, jangan marah ya, Ma. Dia tentara. Dia harus melindungi banyak orang.

Aku memalingkan wajah, dan air mataku jatuh di punggung tanganku.

Aku menelepon Arman sembilan belas kali.

Pada panggilan pertama, dia masih mengangkat.

Aku bilang Miggy demam tinggi, dokter curiga infeksi berat, dan perlu dirujuk segera.

Tapi jawabannya dingin.

—Liza, hampir semua anak di Filipina demam. Jangan dramatis.

Aku hampir berlutut di lorong rumah sakit.

—Arman, ini bukan demam biasa. Dokter bilang ini berbahaya. Tolong pulang dan tanda tangani dokumennya.

Di belakangnya, aku mendengar lagu ulang tahun dan tawa anak-anak.

Lalu suara lembut Clarisse.

—Arman, Mica sudah menunggu untuk tiup lilin.

Dia diam sebentar.

—Hari ini ulang tahun Mica. Aku akan datang sebentar, lalu kembali.

Duniamu seakan berhenti.

—Miggy juga punya satu permintaan. Dia ingin bertemu ayahnya.

Dia menarik napas.

—Jangan manipulasi aku dengan anak kita. Miggy harus belajar kuat. Mica tidak punya ayah di sisinya.

Lalu dia menutup telepon.

Tiga jam kemudian, dokter memberikan surat kondisi kritis.

Aku menandatanganinya dengan tangan gemetar.

Miggy dibawa kembali ke ruang gawat darurat.

Dia masih menatapku.

—Ma… nanti jangan ketiduran lagi waktu masak arroz caldo ya.

Aku mengangguk.

—Iya, Nak. Aku janji.

—Jangan juga berdiri lama di depan gerbang kamp sambil nunggu Papa. Hujan di Manila dingin.

Aku tidak bisa bicara.

Dia tersenyum kecil.

—Kalau Papa terlambat, bilang aku tidak marah ya.

Itulah kata-kata terakhirnya.

Ketika monitor di samping tempat tidur menjadi garis lurus, aku memeluknya, tapi tubuh kecil itu sudah tak hangat lagi.

Aku memanggil namanya sampai suaraku habis.

Tidak ada jawaban.

Malam itu aku memeluk Miggy di rumah duka kecil di belakang rumah sakit.

Di luar, suara tawa anak-anak masih terdengar dari area perumahan militer.

Aku melihat keluar jendela. Anak-anak membawa permen, berlari dengan bahagia.

Miggy suka program seperti itu.

Dia pernah bilang dia ingin mainan jeepney merah.

Arman bilang mainan murah bisa merusak disiplin, jadi dia tidak pernah membelikannya.

Tapi untuk Mica, dia membeli gaun putri dan boneka mahal.

Tiga hari setelah kremasi, Arman pulang.

Dia masuk siang hari, membawa makanan hangat dan balon pink.

Dia melihatku di ruang tamu—mata bengkak, wajah pucat.

Dia mengernyit.

—Aku cuma pergi beberapa hari. Kenapa kamu seperti ini? Ini drama apa?

Aku menatapnya.

Dia masih rapi, seragam sempurna, ada pita pink di pergelangan tangannya.

Dia melihat sekeliling.

—Di mana Miggy? Masih di klinik?

Aku tidak menjawab.

Foto anak kami ada di meja, bersama abu kecilnya.

Tapi dia tidak melihatnya.

Dia masuk ke dapur.

—Clarisse bilang setelah demam, anak harus makan sup.

Dia memasak.

Sembilan tahun menikah, dia tidak pernah memasakkan apa pun untuk kami.

Aku menyerahkan folder perceraian.

Dia menandatangani tanpa membaca.

Setelah itu dia pergi lagi untuk Mica.

Aku sendirian.

Aku membuka abu Miggy.

—Miggy… Papa akhirnya mau belikan jeepney.

Bagian 2 (Selesai)

Tujuh hari setelah kepergianku, Arman kembali ke rumah dinas di pangkalan militer Quezon City.

Langkah sepatunya terdengar tegas di lantai koridor, seperti biasa. Dia membawa sebuah kantong plastik berisi obat vitamin anak yang dia minta dari dokter peleton. Dalam pikirannya, drama istrinya sudah keterlaluan. “Hanya karena demam, sampai harus mogok bicara,” gumamnya dalam hati.

Namun, begitu dia mendorong pintu rumah, keheningan yang tidak biasa langsung menyergapnya.

Rumah itu bersih. Terlalu bersih. Tidak ada aroma minyak telon. Tidak ada mainan plastik yang biasanya berserakan di dekat sofa. Dan yang paling membuat dadanya mendadak sesak: tidak ada suara tawa kecil Miggy yang menyambutnya.

“Liza?” panggil Arman, suaranya menggema di ruang tamu yang kosong.

Tidak ada jawaban.

Dia berjalan ke kamar utama. Lemari pakaian terbuka setengah. Sisi lemari milik Liza telah kosong melompong. Hanya menyisakan beberapa gantungan baju yang bergoyang pelan ditiup angin dari jendela. Di atas meja rias, folder dokumen keluarga tergeletak rapi.

Arman mendekat, lalu membukanya. Di lembar paling atas, sebuah surat perceraian resmi telah ditandatangani oleh Liza. Dan di bawahnya, ada tanda tangannya sendiri—tanda tangan yang ia torehkan tanpa membaca seminggu lalu, saat pikirannya penuh dengan urusan Clarisse dan Mica.

Tepat di samping folder itu, ada selembar kertas memo kecil dengan tulisan tangan Liza yang bergetar:

“Aku sudah menandatangani dokumen izin kremasi malam itu, Arman. Maaf tidak bisa membuat Miggy ‘belajar kuat’ seperti maumu. Dia sudah menyerah. Aku membawa abunya pulang ke Iloilo. Jangan pernah cari kami lagi.”

Dokumen izin kremasi? Kremasi?

Jantung Arman seakan berhenti berdetak. Seluruh pasokan oksigen di parunya lenyap seketika. Surat memo itu terlepas dari tangannya.

Dengan tubuh yang mendadak lemas, dia berlari keluar rumah menuju rumah sakit militer pangkalan yang terletak beberapa blok dari rumahnya. Sepanjang jalan, para prajurit bawahannya memberi hormat, tetapi Arman tidak melihat mereka. Pandangannya mengabur.

Begitu sampai di bagian administrasi rumah sakit, dia mencengkeram meja perawat. “Pasien atas nama Miggy Dela Cruz! Di mana dia?!” bentaknya dengan napas memburu.

Perawat itu terkejut, melihat papan nama di seragam Arman, lalu menatapnya dengan pandangan penuh simpati sekaligus ngeri. “Kapten Dela Cruz… Putra Anda… sudah meninggal tujuh hari yang lalu karena syok sepsis akibat infeksi berat. Jenazahnya sudah dibawa oleh Ibu Liza malam itu juga.”

Tujuh hari yang lalu. Malam saat dia mematikan telepon. Malam saat dia tertawa meniup lilin ulang tahun Mica. Malam saat dia berkata, “Jangan manipulasi aku dengan anak kita.”

Arman melangkah mundur. Telinganya berdenging hebat. Lorong rumah sakit yang putih bersih itu mendadak runtuh di matanya. Kata-kata terakhir Miggy yang pernah diucapkan lewat telepon lama terngiang-ngiang: “Papa, kalau pulang, belikan jeepney merah ya?” Dan dia selalu menjawab, “Jangan cengeng, Miggy. Anak tentara harus disiplin.”

Sejak hari itu, Kapten Arman Dela Cruz kehilangan akalnya.

Dia tidak lagi masuk dinas. Perwira yang dulunya dikenal sangat rapi dan disiplin itu kini terlihat berjalan luntang-lantung di sekitar Cubao dan pangkalan militer dengan seragam yang kotor dan kancing yang lepas.

Clarisse pernah datang ke rumahnya membawa Mica, mencoba menghiburnya. Namun, begitu Arman melihat boneka mahal yang dipegang Mica—boneka yang dia belikan menggunakan uang yang seharusnya bisa membiayai ambulans rujukan Miggy—Arman mengamuk. Dia melempar boneka itu dan mengusir Clarisse sambil berteriak histeris, membuat wanita itu ketakutan dan tidak pernah berani kembali lagi.

Setiap sore, saat hujan Manila mulai turun dengan dingin, Arman akan berdiri di depan gerbang kamp militer. Persis seperti yang sering dilakukan Liza dulu saat menunggunya pulang.

Dia memegang sebuah mainan jeepney plastik berwarna merah yang baru dibelinya dari pasar. Pakaiannya basah kuyup, tubuhnya menggigil, tetapi matanya menatap kosong ke jalanan, mencari-cari bus atau angkutan yang mungkin membawa istri dan anaknya kembali.

“Liza… Miggy…” bisiknya di tengah deru hujan, air matanya bercampur dengan air hujan yang mengalir di pipinya. “Papa sudah belikan jeepney merahnya. Miggy tidak usah kuat lagi… Papa yang gagal. Tolong pulang…”

Namun, jalanan Quezon City malam itu tetap dingin dan sepi. Tidak ada lagi anak laki-laki berusia delapan tahun yang menunggunya dengan sabar, dan tidak ada lagi istri yang memasakkannya sup hangat di dapur.

Arman Dela Cruz telah memberikan seluruh kesetiaannya pada tugas dan masa lalunya, hingga dia terlambat menyadari bahwa dia telah mengubur masa depannya sendiri dengan tangannya yang dingin.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.