Posted in

“AKU HAMIL LIMA BULAN SAAT DITABRAK OLEH PENGEMUDI OJEK DI DEPAN RUMAH SAKIT. SAAT DIA MENANGIS DI TELEPON DAN MEMANGGIL ‘KUYA RAF’, AKU TIDAK PERNAH MENYANGKA BAHWA PRIA YANG DATANG TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN ADALAH SUAMIKU YANG BILANG SEDANG DI CEBU UNTUK BEKERJA.”

“AKU HAMIL LIMA BULAN SAAT DITABRAK OLEH PENGEMUDI OJEK DI DEPAN RUMAH SAKIT. SAAT DIA MENANGIS DI TELEPON DAN MEMANGGIL ‘KUYA RAF’, AKU TIDAK PERNAH MENYANGKA BAHWA PRIA YANG DATANG TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN ADALAH SUAMIKU YANG BILANG SEDANG DI CEBU UNTUK BEKERJA.”

**Bagian 1**

Malam itu, hujan di Quezon City sangat deras.

Saking tebalnya hujan, lampu jalan di depan rumah sakit pun tampak redup, seperti diusap tangan dingin yang tak terlihat.

Aku berdiri di bawah atap di depan rumah sakit swasta, memegang tas kecil berisi obat kehamilanku.

Satu tanganku menahan perutku.

Janin dalam kandunganku sudah lima bulan.

Sore tadi, dokter mengatakan detak jantung bayi normal. Aku hanya disuruh tidak begadang, tidak stres, dan tidak berjalan sendirian terlalu jauh.

Aku bahkan sempat tersenyum pada dokter.

“Aku akan hati-hati. Suamiku sedang di Cebu untuk pekerjaan. Dua hari lagi baru pulang.”

Saat itu, aku masih sepenuhnya percaya pada Rafael.

Pagi harinya dia sudah mengirim pesan.

“Aku masih di Cebu. Ada saksi untuk kasus baru. Setelah ini aku langsung pulang. Makan yang benar ya, jangan sampai kamu yang mengingatkan bayi kita.”

Kami sudah punya satu anak perempuan, Mika, usia enam tahun.

Sebelum berangkat, Rafael mencium keningnya dan berjanji akan membawakan dried mango.

Mika memeluknya sambil tersenyum.

“Papa, pulang sebelum hari Sabtu ya. Aku mau Papa antar Mama USG.”

Rafael mengusap rambutnya.

“Janji.”

Aku percaya.

Terlalu percaya.

Sampai saat aku menyeberang jalan di depan rumah sakit, aku masih sempat berpikir akan mengirim foto USG besok.

Tapi sebelum sampai ke seberang, sebuah motor ride-hailing muncul tiba-tiba dari tikungan.

Sorot lampunya langsung menusuk mataku.

Lalu suara rem yang tajam.

Tubuhku terpental ke jalan basah.

Isi tasku berhamburan.

Botol vitamin terguling ke selokan.

Dari perut bagian bawah, rasa sakit menyebar seperti tangan dingin yang meremas seluruh tubuhku.

“Ada yang menabrak ibu hamil!”

“Panggil keamanan!”

“Jangan digerakkan!”

Aku terbaring di jalan, hujan menghantam wajahku.

Aku hanya bisa memegang perutku erat-erat.

“Anakku… jangan tinggalkan Mama…”

Pengemudi itu juga terjatuh tidak jauh dariku.

Seorang gadis muda.

Ia gemetar, wajahnya pucat, lututnya berdarah.

“Aku tidak sengaja… aku benar-benar tidak sengaja…”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku segera dibawa ke IGD.

Dokter mengatakan bayi masih stabil, tapi aku harus observasi semalaman.

Aku akhirnya bisa bernapas.

Tapi air mataku jatuh.

Aku mencoba menelepon Rafael.

Satu kali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Tidak diangkat.

Sampai panggilan ke-27, hanya suara panjang yang tidak tersambung.

Rafael selalu bilang teleponku pasti diangkat.

Tapi malam ini tidak.

Aku dibawa ke bangsal dengan dua tempat tidur.

Dan kebetulan… pengemudi itu juga dirawat di sana.

Dia duduk di ranjang seberang, menangis sambil memegang ponsel pinjaman.

“Aku takut… aku menabrak ibu hamil…”

“Kuya Raf… tolong jangan tinggalkan aku…”

Aku membeku.

Kuya Raf.

Nama itu seperti jarum dingin yang menusuk telingaku.

Aku menoleh perlahan.

Dia masih menangis.

“Aku tahu kamu marah padaku… aku tahu aku yang pergi dulu… tapi sekarang aku benar-benar tidak sanggup…”

Dadaku mulai sesak.

Aku mencoba menelepon Rafael lagi.

Kali ini… sibuk.

Dan beberapa saat kemudian—

Langkah cepat terdengar di lorong.

Pintu bangsal terbuka.

Angin dingin masuk bersama aroma hujan dan parfum cedar yang sangat kukenal.

Rafael.

Suamiku.

Yang katanya ada di Cebu.

Aku hampir memanggilnya.

Hampir menangis.

Tapi dia bahkan tidak menoleh padaku.

Dia langsung berjalan ke ranjang seberang.

“Lira… sakitnya masih terasa?”

Dan di saat itu—

Duniamu berhenti.

Suamiku yang tidak menjawab 27 panggilanku kini berdiri di depan wanita yang menabrakku.

Dan aku… hanya tiga langkah darinya.

Tapi dia tidak melihatku sama sekali…

Bagian 2 (Selesai)

Lira menangis tersedu-sedu, langsung menghambur ke pelukan suamiku. Rafael memeluknya erat, mengusap punggung wanita itu dengan kelembutan yang biasanya hanya ia berikan padaku dan Mika.

“Aku takut, Raf… Aku tidak tahu jalanan licin. Ibu hamil itu… dia terluka karena aku,” isak Lira, suaranya parau memenuhi bangsal rumah sakit yang sunyi.

“Ssh, tenang. Kamu aman sekarang. Aku di sini,” bisik Rafael. Suaranya terdengar begitu cemas, jenis kecemasan yang membuat seluruh persendianku mendadak mati rasa.

Aku menatap punggung tegap pria yang telah kunikahi selama tujuh tahun itu. Kemejanya agak basah karena hujan. Sepatu kulitnya meninggalkan jejak air di lantai rumah sakit. Pria yang kutangisi setengah mati beberapa menit lalu, pria yang kukira sedang berada di Cebu memperjuangkan masa depan kami, kini ada di sini. Menjadi pahlawan bagi wanita lain.

Air mataku berhenti menetes. Rasa sakit di perutku mendadak kalah oleh hantaman tak kasat mata yang meremukkan dadaku.

“Rafael,” panggilku. Suaranya pelan, serak, namun sanggup membelah keheningan di antara mereka.

Tubuh Rafael menegang seketika. Bahunya kaku. Perlahan, sangat perlahan, dia melepaskan pelukannya dari Lira dan membalikkan badannya.

Begitu matanya bertemu dengan mataku yang terbaring pucat di ranjang seberang, warna di wajah Rafael lenyap seketika. Dia membelalak, mulutnya sedikit terbuka, seolah-olah baru saja melihat hantu. Tatapannya beralih dari wajahku, turun ke perutku yang membuncit lima bulan, lalu ke papan nama pasien di ujung ranjangku.

“K-Katrina?” suaranya bergetar hebat. “Kenapa… kenapa kamu di sini?”

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman mati rasa yang paling menyakitkan dalam hidupku. “Aku korban tabrak lari dari wanitamu, Rafael. Wanita yang membuatmu mengabaikan 27 panggilan darurat dari istri sahmu yang sedang bertaruh nyawa.”

Rafael melangkah mundur, menggelengkan kepalanya dengan panik. “Katrina, ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Lira… Lira adalah mantan kekasihku sebelum kita menikah. Dia baru kembali dari luar negeri dan mengalami kesulitan, aku hanya—”

“Kamu membohongiku,” potongku dingin, menatapnya lurus tanpa sebutir pun air mata tersisa. “Kamu membohongi Mika. Kamu bilang kamu di Cebu. Tapi kamu ada di kota yang sama, melindungi wanita yang hampir membunuh anak kandungmu sendiri.”

Lira di ranjang seberang menutup mulutnya, menatap Rafael dan aku bergantian dengan wajah pucat pasi. “Raf… dia… dia istrimu?”

Rafael tidak memedulikan Lira. Dia mencoba mendekatiku, tangannya yang gemetar terulur ingin menyentuh wajahku. “Katrina, demi Tuhan, maafkan aku. Aku bersumpah aku tidak tahu kalau korban itu adalah kamu… Aku akan urus semuanya, tolong jangan seperti ini…”

“Jangan sentuh aku,” desisku tajam. “Dan jangan pernah sebut nama anak-anakku lagi.”

Malam itu, di tengah badai Quezon City, aku meminta perawat memindahkan ranjangku ke ruangan lain. Aku menolak kehadiran Rafael. Biarlah dia tetap di sana, menjadi pelindung bagi masa lalunya.

Dua hari kemudian, aku keluar dari rumah sakit dengan kondisi janin yang syukurnya masih bisa diselamatkan. Aku tidak pulang ke rumah kami. Bersama Mika, aku mengemas seluruh pakaian kami dan memesan tiket sekali jalan menuju rumah ibuku di Davao.

Sebelum naik ke pesawat, aku mengirimkan satu pesan terakhir kepada nomor yang kini sudah kuubah namanya menjadi ‘Asing’. sebuah foto surat gugatan cerai yang sudah kutandatangani, bersama dengan botol vitamin yang sempat retak malam itu.

“Mika tidak butuh mangga kering dari Cebu, dan bayi ini tidak butuh ayah yang hidup dalam kebohongan. Tetaplah menjadi ‘Kuya Raf’ untuknya, karena bagiku dan anak-anak, kamu sudah tidak ada.”

Saat pesawat lepas landas menembus awan Manila, aku memeluk Mika di sisi kananku dan mengusap perutku di sisi kiri. Aku tahu jalanku ke depan akan berat, tetapi setidaknya, aku tidak akan pernah lagi berjalan di bawah bayang-bayang pria yang mematikan teleponnya saat duniamu sedang hancur.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.