ANAKKU MENELPON DAN MEMINTAKU JANGAN TERLALU SERING DATANG KE RUMAH MEREKA KARENA MENANTUKU MERASA TIDAK NYAMAN. DENGAN TENANG AKU MENJAWAB BAHWA AKU TIDAK AKAN MENGGANGGU MEREKA LAGI. SETELAH TELEPON DITUTUP, AKU LANGSUNG MENGHENTIKAN PEMBAYARAN CICILAN RUMAH MEREKA SEBESAR Rp15 JUTA PER BULAN—SEBUAH BEBAN YANG SELAMA TIGA TAHUN INI KUTANGGUNG SECARA DIAM-DIAM.**
Telepon berdering di rumah tua yang sunyi.
Di layar muncul nama: **”Anakku.”**
Lin Wanshu meletakkan kaus kaki bayi yang sedang dirajutnya lalu menjawab panggilan itu.
Bahkan sebelum sempat berbicara, suara tergesa-gesa Chen Hao sudah terdengar dari seberang sana.
Di latar belakang terdengar suara sendok, garpu, dan gelas beradu—jelas ia sedang berada di restoran mewah.
“Ma, akhir pekan ini jangan bawa ayam kampung ke rumah baru kami lagi.”
“Lili bilang akhir-akhir ini dia sering stres dan tidak tahan dengan bau masakan berminyak.”
“Dan satu lagi, Mama terlalu sering datang. Dia jadi merasa tidak nyaman. Bahkan di dalam rumah pun dia tidak bisa berpakaian santai.”
Chen Hao mengucapkan semuanya bertubi-tubi, seolah memerintah ibunya sendiri adalah hal yang sangat wajar.
Kalau dulu, Lin Wanshu pasti akan langsung meminta maaf.
Ia akan menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin menjaga mereka.
Bahwa ia hanya mengantarkan makanan lalu segera pulang.
Tetapi malam ini berbeda.
Pandangannya tertuju pada kaus kaki bayi kecil yang belum selesai dirajut di atas meja.
Jari-jarinya berhenti bergerak.
“Baik.”
Suaranya sangat tenang.
Tanpa emosi sedikit pun.
“Aku tidak akan mengganggu kalian lagi.”
Di ujung telepon terjadi keheningan sesaat.
Mungkin Chen Hao tidak menyangka ibunya akan setuju semudah itu.
Ia hanya menjawab singkat sebelum menutup telepon.
Bahkan tidak mengucapkan terima kasih.
Suara sambungan yang terputus masih bergema di ruang tamu.
Lin Wanshu perlahan melepas kacamatanya.
Ia memijat sudut matanya yang kering.
Ia tidak menangis.
Tidak pula menghela napas.
Ketika kekecewaan sudah mencapai batasnya, seseorang sering kali kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan emosi.
Yang tersisa hanyalah kesunyian yang dingin.
Ia berdiri lalu masuk ke kamar.
Dibukanya laci paling bawah lemari.
Di dalam sebuah kotak tahan api tersimpan sebuah map tua.
Di bagian depannya tertulis nama almarhum suaminya:
**Chen Jianguo.**
Tulisan tangannya masih terlihat tegas meski telah bertahun-tahun berlalu.
Lin Wanshu mengusap sampul map itu dengan lembut.
“Pak Tua Chen…”
“Dia gagal melewati ujian yang sudah kau siapkan selama sepuluh tahun.”
Suaranya lirih.
Sulit ditebak apakah itu kesedihan atau keikhlasan untuk melepaskan.
Ia menutup laci itu.
Kembali ke ruang tamu, ia mengambil kantong sampah hitam besar.
Ia berjalan menuju tumpukan mainan dan perlengkapan anak di sudut ruangan.
Lego edisi terbatas yang dibelinya dari luar negeri.
Boneka beruang yang membuatnya mengantre selama tiga jam.
Dan kaus kaki kuning yang belum selesai dirajut.
Dalam sekejap.
Semua benda itu masuk ke dalam kantong sampah.
Tanpa ragu.
Bersamaan dengan suara benda-benda itu jatuh, seolah dirinya yang lama ikut terkubur.
Seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya demi anak.
Seorang ibu yang percaya bahwa cinta akan selalu dibalas dengan cinta.
Hubungan darah tidak pernah dimaksudkan menjadi ATM tanpa batas.
Dan hutang yang lahir dari terlalu banyak dimanja, suatu hari pasti harus ditagih.
Ia kembali duduk di sofa.
Membuka aplikasi perbankan.
Pada bagian pembayaran otomatis tertulis:
**”Kredit Rumah – Unit 1202, Gedung A, Sunshine Garden.”**
Tanggal 15 setiap bulan.
**Rp15.000.000.**
Selama tiga tahun penuh.
Dialah yang membayarnya untuk Chen Hao dan Zhao Lili.
Karena cicilan itu dan berbagai pengeluaran lain yang juga ditanggungnya, meskipun sudah pensiun ia masih harus menawar harga di pasar agar bisa berhemat.
Jarinya berhenti di tombol merah.
**”Batalkan Pembayaran Otomatis.”**
Sesaat kemudian.
Ia menekannya.
Muncul peringatan:
*”Apakah Anda yakin ingin membatalkan? Tindakan ini dapat menyebabkan keterlambatan pembayaran kredit.”*
Ia memilih:
**”Konfirmasi.”**

Verifikasi sidik jari berhasil.
Dan hubungan itu pun terputus sepenuhnya.
Seolah seluruh dunia ikut menjadi sunyi.
Seulas senyum tipis, yang sudah lama tidak muncul di wajahnya, perlahan terukir di bibir Lin Wanshu. Beban tak kasat mata yang selama tiga tahun ini menghimpit pundaknya seolah menguap begitu saja.
Ia meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke dapur. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memasak sup ayam kampung yang awalnya berniat ia antarkan untuk anak dan menantunya, lalu menikmatinya sendiri dalam ketenangan yang mutlak.
Dua Minggu Kemudian: Badai yang Datang Tepat Waktu
Tanggal 15 telah lewat, dan tanggal 20 pun tiba.
Ponsel Lin Wanshu berdering di tengah sore yang damai saat ia sedang menikmati teh di halaman rumahnya. Di layar tertera nama “Chen Hao”. Kali ini, Lin Wanshu sengaja membiarkannya berdering hingga hampir terputus, sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Ma! Mama tahu tidak apa yang terjadi?!” Suara Chen Hao di seberang telepon tidak lagi terdengar angkuh, melainkan panik dan gemetar. “Pihak bank baru saja meneleponku! Mereka bilang cicilan rumah bulan ini belum dibayar dan kami sudah terkena denda keterlambatan! Bukankah biasanya didebit otomatis dari rekening Mama?!”
Lin Wanshu menyesap tehnya perlahan, membiarkan keheningan di seberang sana menyiksa putranya selama beberapa detik.
“Oh, itu,” jawab Lin Wanshu dengan suara yang teramat tenang. “Aku sudah membatalkannya.”
“M-membatalkannya?! Apa maksud Mama?!” Suara Chen Hao meninggi, terdengar tidak percaya. “Kalau Mama tidak bayar, dari mana aku dan Lili punya uang 15 juta bulan ini? Gaji kami berdua habis untuk cicilan mobil dan gaya hidup Lili! Ma, jangan bercanda, ini masalah rumah kami!”
“Chen Hao,” potong Lin Wanshu, nadanya sedingin es namun sangat jernih. “Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kehadiranku membuat istrimu tidak nyaman? Kau meminta aku untuk tidak terlalu sering datang, dan aku sudah menyanggupinya. Tapi kau harus tahu satu hal…”
Lin Wanshu jeda sejenak, memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya.
“Rumah yang cicilannya dibayar oleh orang lain, bukanlah sepenuhnya rumahmu. Karena aku tidak akan pernah datang lagi ke sana, untuk apa aku terus membayar tempat yang membuatku tidak diterima?”
“Tapi Ma! Kami ini anakmu! Bagaimana bisa Mama sekejam ini?!” Chen Hao berteriak egois. Di latar belakang, terdengar suara Zhao Lili yang mulai menangis histeris, menyadari bahwa kehidupan mewah yang mereka pamerkan di media sosial terancam hancur.
“Aku membesarkanmu hingga dewasa, Chen Hao. Itu tugasku sebagai ibu. Tapi aku tidak berkewajiban membiayai kesombongan menantuku dan ketidakpedulianmu,” ucap Lin Wanshu datar. “Mulai hari ini, belajarlah menjadi kepala keluarga yang sesungguhnya. Jangan hubungi aku lagi hanya untuk urusan uang.”
Klik.
Lin Wanshu mematikan sambungan telepon. Kali ini, ia langsung memblokir nomor putranya dan menantunya.
Babak Baru Kehidupan
Satu bulan kemudian, Lin Wanshu mengemas koper kecilnya. Dengan uang Rp15 juta per bulan yang kini tetap utuh di rekeningnya, ia tidak perlu lagi menawar harga sayuran di pasar. Ia tidak perlu lagi merajut kaus kaki untuk cucu yang keberadaannya bahkan belum dihargai oleh menantunya.
Ia memesan tiket penerbangan ke Yunnan, tempat yang sejak dulu ingin ia kunjungi bersama almarhum suaminya namun selalu tertunda karena ia terlalu sibuk menyisihkan uang demi masa depan anak yang tidak tahu berterima kasih.
Sebelum melangkah keluar dari pintu rumah tuanya, Lin Wanshu menatap foto suaminya, Chen Jianguo, yang tersenyum di dinding.
“Pak Tua, aku pergi melihat dunia sekarang,” bisiknya dengan hati yang lapang.
Ia mengunci pintu, berbalik, dan berjalan menyambut sinar matahari pagi. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, Lin Wanshu akhirnya hidup untuk dirinya sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.