Posted in

AKU TAK SENGAJA MENGIRIM PESAN KE GRUP CHAT KANTOR BAHWA AKU INGIN MENYENTUH OTOT PERUT BOSKU. LALU, DI DEPAN SEMUA ORANG, DIA MEMANGGILKU KE RUANG KERJANYA.**

AKU TAK SENGAJA MENGIRIM PESAN KE GRUP CHAT KANTOR BAHWA AKU INGIN MENYENTUH OTOT PERUT BOSKU. LALU, DI DEPAN SEMUA ORANG, DIA MEMANGGILKU KE RUANG KERJANYA.**

**Dan akibatnya… seluruh showroom langsung heboh.**

【Ya Tuhan, tolong! Aku benar-benar ingin menyentuh perut six-pack milik Rafael De Silva. Pasti luar biasa di balik kemeja polonya itu.】

Begitu pesan itu terkirim, aku langsung membeku di depan pantry.

Tarik pesan.

Tanganku gemetar.

Jaringan tiba-tiba lag.

Gagal.

Seluruh grup chat perusahaan mendadak sunyi seperti ada yang menekan tombol pause.

Dua detik kemudian, Bea Santos, resepsionis kantor, mengirim satu tanda tanya.

【?】

Tiga detik kemudian, Juancho Cruz dari bagian akuntansi ikut menyusul.

【?】

Lalu lima detik kemudian, pria yang selama setahun terakhir hanya pernah mengirim pesan “Received” di grup kantor akhirnya mengetik sesuatu yang baru.

**Rafael De Silva:** 【Datang ke ruanganku setelah jam kerja.】

Pandangan mataku langsung menggelap.

Cangkir kopi di tanganku hampir saja menghantam wajahku sendiri.

Aku bahkan sempat berpikir untuk langsung mengundurkan diri dan menghilang dari muka bumi.

Namun beberapa detik kemudian, Rafael mengirim pesan lagi.

**Rafael De Silva:** 【Akan kubiarkan kamu menyentuhnya.】

Ponselku langsung jatuh menimpa kakiku.

Dari luar pantry terdengar rentetan napas kaget dari rekan-rekan kerja yang berusaha menahan tawa.

Seseorang berbisik pelan.

“Astaga… Maya Mendoza, kamu benar-benar legenda.”

Dengan tangan gemetar aku memungut ponselku.

Layar masih menyala.

Dan grup chat kantor sudah meledak.

【APA YANG BARUSAN KULIHAT?!】

【Itu benar-benar Pak Rafael yang membalas?!】

【AAAAAA!!!】

【Yang penting bukan Maya suka sama bosnya! Yang penting Pak Rafael menyuruhnya datang ke ruangan pribadi!】

【Apa maksud kalimat ‘akan kubiarkan kamu menyentuhnya’ itu?!】

【Aku batal pulang malam ini. Aku harus tahu ending-nya!】

Selesai sudah hidupku.

Aku memejamkan mata.

Hanya satu pikiran yang ada di kepalaku.

Kali ini aku benar-benar tamat.

Namaku Maya Mendoza.

Aku baru tiga bulan bekerja di showroom ini di kawasan BGC.

Posisiku paling bawah.

Gajiku hanya cukup untuk membayar sewa kamar dan kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari cita-citaku sederhana:

Jangan terlambat.

Jangan lembur.

Dan yang paling penting…

Jangan sampai namaku dipanggil oleh Rafael De Silva.

Namun hari ini aku tidak hanya menyebut namanya.

Aku malah mengumumkan kepada seluruh perusahaan bahwa aku ingin menyentuh perutnya.

Dan yang lebih parah lagi, pemilik perut itu sendiri menangkap basah pesanku.

Aku menarik napas panjang dan buru-buru mengetik penjelasan.

**Maya Mendoza:** 【Maaf semuanya. Itu salah kirim.】

Lalu aku mencoba menyelamatkan sisa harga diriku.

【Itu cuma permainan Truth or Dare dengan teman.】

Beberapa detik kemudian, Rafael langsung membalas.

**Rafael De Silva:** 【Oh begitu? Berarti aku juga sedang menjalankan bagian Dare-ku?】

Dan saat itulah grup chat benar-benar meledak.

【AAAAAAAAA!!!】

【Pak Rafael, tolong jangan seperti itu! Aku ikut gugup untuk Maya!】

【Ini bukan grup kerja lagi! Ini reality show percintaan!】

Telingaku terasa panas karena malu.

Padahal biasanya Rafael sama sekali tidak seperti ini.

Semua orang mengenalnya sebagai pria paling dingin dan paling sulit didekati di perusahaan.

Usianya dua puluh delapan tahun.

Manajer showroom sebuah merek ternama.

Muda.

Tampan.

Kaya.

Dan sangat perfeksionis.

Saat meninjau proposal, ia bisa menyuruh orang merevisi berkali-kali sampai mereka mempertanyakan tujuan hidup mereka sendiri.

Sepuluh menit rapat bersamanya cukup untuk membuat tiga manajer senior diam seperti murid yang sedang dihukum.

Ia jarang tersenyum.

Lebih hemat bicara daripada paket data internet.

Kancing kerahnya selalu tertutup rapi sampai paling atas.

Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.

Bahkan ketika marah, ia tidak pernah memaki siapa pun.

Aku sering diam-diam mencuri pandang kepadanya saat rapat.

Namun siapa yang menyangka bahwa karena satu pesan salah kirim hari ini, rahasia paling memalukan dalam hidupku akan diketahui lebih dari tiga ratus karyawan?

Bea Santos masuk ke pantry dan langsung menggenggam tanganku.

“Maya, kamu sudah kehilangan akal sehat?”

Aku meringis.

“Kalau aku bilang jariku terpeleset, kamu percaya?”

“Sudah tidak penting aku percaya atau tidak.”

Ia menunjuk ke luar.

“Sekarang seluruh showroom tahu kamu ingin menyentuh otot perut Rafael De Silva.”

Aku langsung menutupi wajahku karena malu.

Dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu, Bea berbisik:

“Tapi jujur saja… dari mana kamu tahu dia punya six-pack?”

Aku langsung mengangkat kepala.

“Aku tidak tahu!”

“Tidak tahu tapi kamu bilang pasti luar biasa?”

“Itu cuma hiperbola!”

“Dan kamu memilih berhiperbola tepat di depan bosmu sendiri. Maya Mendoza, mulai hari ini kamu resmi jadi legenda kantor.”

Aku benar-benar ingin membenturkan kepalaku ke tembok.

Dengan tangan gemetar aku membuka pesan pribadi Rafael.

【Pak Rafael, saya benar-benar minta maaf.

Itu sungguh salah kirim.

Saya tidak bermaksud tidak sopan kepada Anda.

Kalau perlu, saya akan membuat surat permintaan maaf sekarang juga.】

Di layar muncul tulisan:

**”sedang mengetik…”** 

Dua detik kemudian, balasan darinya masuk.

Rafael De Silva: 【Tidak perlu surat permintaan maaf. Cukup tepati pesanmu jam 5 tepat. Jangan terlambat satu menit pun.】

Ponselku hampir saja meluncur lagi dari genggamanku. Jam dinding di pantry menunjukkan pukul 16.45. Aku hanya punya waktu lima belas menit sebelum menghadapi “eksekusi mati” paling memalukan dalam sejarah karierku.

Pukul 17.00: Berjalan Menuju Altar Kematian

Tepat jam lima sore, suasana di showroom mendadak hening seketika saat aku melangkah keluar dari bilik mejaku. Biasanya, jam segini semua orang sudah bersiap-siap fingerprint untuk pulang. Tapi hari ini? Tidak ada satu pun yang beranjak dari kursinya.

Bea memberiku gestur kepalan tangan tanda “semangat”, sementara Juancho dari akuntansi pura-pura batuk sambil berbisik, “Semoga beruntung, Legenda.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, lalu mengetuk pintu kayu ek tebal bertuliskan Manager’s Office.

“Masuk,” terdengar suara berat dan familier dari dalam.

Aku membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Rafael sedang duduk di balik meja kerjanya yang rapi. Kemeja polonya yang berwarna biru tua tampak pas di tubuhnya yang tegap, dan kancing teratasnya—seperti biasa—tertutup rapat. Ia meletakkan pulpennya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku dengan sepasang mata tajam yang sulit dibaca.

“Tutup pintunya, Maya Mendozza,” perintahnya tenang.

Aku menelan ludah dan menutup pintu di belakangku. Ruangan itu mendadak terasa kekurangan oksigen.

“Pak Rafael,” aku langsung membungkuk meminta maaf sebelum dia sempat bicara. “Saya benar-benar minta maaf! Pesan itu seharusnya dikirim ke grup sahabat-sahabat saya dari kampus. Kami sedang bercanda dan… dan saya tidak sengaja memilih grup kantor. Saya bersumpah tidak punya niat buruk atau tidak sopan kepada Anda!”

Rafael tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja besar itu, dan berhenti tepat beberapa langkah di depanku. Aroma parfum kayu cendana dan mint miliknya langsung menusuk indra penciumanku.

“Oh, jadi itu cuma candaan?” Rafael melipat kedua tangannya di dada, membuat otot lengannya tercetak jelas di balik lengan kemejanya. “Tapi di grup tadi kamu bilang itu Dare. Jadi, yang mana yang benar?”

“D-dua-duanya, Pak… maksud saya, itu cuma taruhan bodoh,” cicitku, tidak berani menatap matanya.

“Tapi kalimatmu sangat spesifik, Maya,” Rafael melangkah satu babi lebih dekat. Ada kilatan jenaka yang jarang sekali—atau bahkan tidak pernah—terlihat di matanya selama ini. “Kamu bilang… pasti luar biasa di balik kemeja polonya itu.

Wajahku rasanya seperti dibakar. Aku ingin bumi tiba-tiba terbelah dan menelanku hidup-hidup sekarang juga. “Itu… itu cuma asal bicara, Pak! Saya tidak tahu apa-apa!”

“Dare” yang Menjadi Nyata

Rafael tiba-tiba menghela napas pelan. Jarinya bergerak ke kerah kemejanya, lalu dengan santai membuka dua kancing teratasnya. Sesuatu yang belum pernah dilakukan pria perfeksionis ini di dalam area kantor.

“Kamu tahu, Maya? Selama tiga bulan kamu bekerja di sini, kamu adalah satu-satunya karyawan yang selalu berusaha menghindariku,” kata Rafael, suaranya melembut, kehilangan nada dingin yang biasa ia pakai saat rapat. “Kamu selalu menunduk saat berpapasan denganku, dan langsung kabur ke pantry setiap kali aku lewat.”

“Itu karena… saya menghormati Anda, Pak,” jawabku terbata-bata.

“Atau karena kamu gugup?” tembaknya langsung.

Aku terdiam, meremas ujung kemejaku sendiri.

Rafael tersenyum tipis—sebuah senyuman yang begitu menawan hingga sanggup membuat seluruh staf penjualan di showroom pingsan masal jika melihatnya. Ia meraih tanganku, lalu perlahan menuntun jemariku yang gemetar menuju dadanya, tepat di atas kancing kemejanya yang terbuka. Melalui kain kemejanya yang berkualitas tinggi, aku bisa merasakan detak jantungnya yang kuat… dan ya, struktur otot yang sangat keras di bawahnya.

“P-Pak Rafael?!” mataku terbelalak kaget.

“Aku bukan tipe bos yang suka membiarkan karyawanku dianggap berbohong di depan umum,” bisik Rafael, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. “Grup chat kantor sudah telanjur heboh. Kalau kamu keluar dari ruangan ini tanpa membuktikan ucapanmu, mereka akan mengira kamu cuma pembual.”

“Tapi…”

“Bagaimana? Sesuai ekspektasimu?” tanyanya dengan nada menggoda yang membuat jantungku serasa mau copot.

Aku menarik tanganku dengan cepat, menyembunyikannya di balik punggungku, wajahku pasti sudah semerah tomat matang. “Pak Rafael… Anda sedang mengerjai saya, ya?”

Rafael terkekeh pelan—suara yang sangat renyah dan asing di ruangan ini. Ia kembali menegakkan tubuhnya, merapikan kembali kerah kemejanya dengan santai.

“Anggap saja ini hukuman karena kamu berani membicarakan bosmu di grup publik,” ujar Rafael sambil berjalan kembali ke balik mejanya. “Tapi, aku juga tipe pria yang adil. Karena kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan…”

Ia mengambil selembar kertas memo, menuliskan sesuatu di atasnya, lalu menyodorkannya kepadaku.

“Mulai besok, kamu dipindahkan ke timku sebagai asisten pribadi untuk proyek BGC yang baru. Dan ini…” Rafael mengetuk kertas memo itu yang ternyata berisi nomor telepon pribadinya. “…adalah kontak baruku. Mulai sekarang, kalau mau membahas tentang fisikku, kirim ke nomor ini saja. Jangan ke grup kantor lagi.”

Akhir dari Status “Karyawan Biasa”

Aku berjalan keluar dari ruang kerja Rafael dengan otak yang masih korsleting dan selembar kertas memo di genggaman tanganku.

Begitu pintu tertutup, seluruh area showroom langsung menyerbuku. Bea, Juancho, dan belasan marketing lainnya langsung mengerumuniku dengan mata berbinar-binar penuh gosip.

“Bagaimana, Maya?! Apa yang terjadi?!” tanya Bea histeris sambil mengguncang bahuku. “Kamu dipecat? Atau kamu benar-benar…”

Aku menatap kertas memo di tanganku, lalu menoleh ke arah kaca transparan ruang kerja Rafael. Dari dalam, pria itu sedang menatapku sambil mengangkat cangkir kopinya, memberikan kecupan jauh yang super tipis yang hanya bisa kulihat sendiri.

Aku menarik napas panjang, tersenyum kecil, dan menatap teman-teman kantorku yang sudah tidak sabar.

“Teman-teman,” kataku dengan nada dramatis. “Mulai besok… panggil aku Asisten Manajer.”

Showroom BGC sore itu pun meledak oleh sorak-sorai, dan hidupku yang membosankan resmi berubah menjadi drama komedi romantis yang paling dinantikan satu kantor.

✨

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.